Bab. 6 - Dilema

2912 Words
Perasaan macam apa ini? Ada lelah yang mendadak muncul di hati Entah karena terlalu lama menanti Atau memang sudah memaksa untuk berhenti.. - Dira - *** "Kamu kirim surat buatku?" "Iya. Gimana?" "Apanya gimana?" "Kamu terima apa nggak?" "Belum saatnya." "Maksud kamu?" "Tolong bersabar dulu ya, aku yang akan mengutarakannya nanti, ketika saatnya sudah tepat." Sekelebat ingatan itu kembali hadir dalam lamunan Dira. Beberapa bulan lalu, ia memberanikan diri menyatakan perasaannya pada Nathan melalui secarik kertas. Ia pikir tidak akan jelas bila hanya dengan kode-kodean saja. Ia menyukai pria itu dan jujur atas isi hatinya. Padahal, sudah diwanti-wanti oleh Nana agar tidak nekat dan tunggu waktu saja. Namun, Dira paling malas bila harus berpura-pura menahan diri. Lebih baik dikatakan sekarang atau menyesal kemudian. Begitu pikirnya. Maksudnya, sekarang atau nanti harus ada kejelasan pasti. Misal ditolak pun ia sudah siap mental. Setidaknya jiwanya tidak dirundung kegelisahan yang merajalela. Memang dasarnya Dira tak suka membuang waktu. Dan naifnya, ia malah terjebak dengan prinsipnya sendiri. Tak suka membuang waktu, faktanya malah ia digantungkan selama ini. Sudah sering Nathan memanggilnya dengan sebutan sayang, tapi belum juga ada jalan pasti untuk hubungan keduanya. Katanya, pria itu masih ingin meyakinkan diri kalau Dira sungguh-sungguh menyukainya. Tunggu, apa ini hanya permainan tarik ulur untuk membuat Dira bingung? Lagi-lagi gadis itu hanya bisa menghela napas berat. Berharap kesabarannya masih bisa diandalkan. Seumur-umur baru kali ini ia rela menunggu seorang pria demi sebuah kejelasan. Entah apa yang merasuki pikirannya. Terkadang bila terlalu dalam mencintai orang memang bisa lupa diri. Kehadiran seseorang memaksanya mengalihkan perhatian. Juna baru datang entah dari mana, lalu duduk di kursi lain dekat Dira. Mereka hendak mendiskusikan liburan besok. "Kukira kamu bawa bunga buatku," seloroh Dira. Juna menautkan alis. "Bunga?" "Tadi Alfa bilang, kamu telat karena mampir ke toko bunga dulu ambil pesanan," jelas Dira menerangkan kabar yang ia dapat dari teman sekaligus tangan kanan Juna. "Oh itu bukan buat kamu." "Ah, bilangnya nggak punya gebetan," sindir Dira tengiang ucapan pria ini beberapa waktu lalu. "Sudah fix mau ke mana?" Agaknya Juna enggan membahas, ia pun sengaja mengalihkan topik. "Ehm... ke Maratua atau Biduk-biduk masih kejauhan. Mager naik pesawat. Mending ke Balikpapan saja. Ke Lamaru atau ke mana kek, yang naik mobil lebih cepet sampai." "Kamu yakin?" "Kita kan cuma butuh momen, mau di mana pun kayaknya nggak masalah. Asal bukan di TPA atau TPU gitu." Juna hanya mengangguk sekilas. Sejak datang raut mukanya agak berbeda dari biasanya. Tampak lebih sayu dan kurang bersemangat. "Ada masalah lain?" "Masalah apa?" "Aku tanya, kamu malah balik tanya. Gimana sih?" Suasana hening beberapa saat, pria itu sibuk dengan telepon di ponselnya. Sementara Dira menunggu sembari menjelajah beranda di salah satu aplikasi sosial media. Ia menemukan postingan seseorang yang baru beberapa menit lalu diunggah. Gadis itu terhenyak beberapa detik. Mengamati foto telapak tangan menghadap ke langit. Sebuah cicin melingkar di jari manis itu. Dira yakin ini bukan foto tangan Nathan. Tapi siapa? Selagi nalarnya menerka-nerka, ia mengecek beranda di galeri Nathan. Namun anehnya, gambar yang barusan ia lihat sudah tidak ada lagi. Berulang kali gadis itu mencoba mengecek ulang. Nihil. Apa ia salah lihat? Rasanya tidak juga. Dira segera beralih mengintip story pria itu. Dan lagi-lagi ia menemukan kejanggalan. Baru saja dibuka dan terlihat sekilas wajah seseorang dari samping, mendadak postingan tersebut lenyap begitu saja. Perasaannya makin tak nyaman. Terlebih baru semalam Nathan mengatakan pagi tadi ia terbang ke Surabaya untuk mengurus sesuatu. Awalnya Dira tidak curiga sama sekali. Ia pikir Nathan tengah mengurus pekerjaan di sana. Perusahaan mereka memang sedang merencanakan untuk memperluas jaringan ekspedisi yang dijalankan. Bukan hanya di area Kalimantan saja. Ia kira Nathan sedang mengurus hal tersebut. "Sudah kupesan penginapan untuk kita. Dua kamar." Suara Juna memaksa Dira mengalihkan perhatian. Gadis itu menutup akun sosial medianya. Kembali berusaha fokus pada rencana mereka. Ia harus tetap berpikiran positif. Mengenyahkan segala kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi, terhadap hubungannya bersama Nathan. Memang keduanya belum resmi berkomitmen, jadi Dira sadar tak ada hak untuk menuntut penjelasan apapun sekarang. Lebih baik ia menetralisir lonjakan di hatinya dulu. Ia tak suka harus menguras energi dan menerka-nerka hal buruk. Keduanya melanjutkan pembahasan sambil sesekali menyantap camilan di atas piring. Di tengah-tengah obrolan, terlihat seorang pria berjalan mendekat setelah memastikan dugaannya benar. "Dira? Jadi bener kamu. Aku nggak salah orang ya." Gadis yang mengucir rambutnya ke samping itu sontak menoleh ke sumber suara, diikuti oleh Juna. Entah kenapa ekspresi di wajah Dira pun ikut berubah drastis. Seperti ada yang ia cemaskan dari caranya menatap pria tersebut. Dua orang lagi datang menghampiri pria itu dan menepuk bahunya. Mengajaknya segera pergi. Tapi, pria itu enggan dan terus memandang Dira dengan kebencian bercampur emosi tak jelas. "Siapa nih? Cowok baru lagi? Wah! Hebat banget kamu ya?! Memang cocok sih dapet predikat cewek murah! Sana sini mau! Gampangan!" "Bro, udahlah, nggak enak ribut di sini," kata salah satu temannya, berusaha menasihati dan mencoba menenangkan keadaan. Tapi ia malah ditepis kasar. "Kenapa?! Apa masalahnya?! Biar aja semua orang di sini denger! Nih cewek memang gayanya doang sok jual mahal! Aslinya kayak per*k!" Kata-k********r terus ditujukan dan diteriakan pada Dira. Gadis itu sudah berusaha menahan kesabaran. Ini bukan kali pertama ia dipermalukan di depan umum oleh pria yang sebenarnya ia kenal ini. Namanya Rizal. Dulu pernah bekerja di satu tempat yang sama dengan Dira. Dan ia juga salah satu alasan kuat gadis ini akhirnya memutuskan berhenti bekerja di sana, dan memilih menjauhkan diri dari sumber masalah yang dibuat oleh Rizal. Bila ingat perlakuan kasar dan ucapan mengerikan dulu, jujur saja masih menyisakan sekelumit trauma bagi Dira. Dimaki di hadapan banyak orang bukanlah hal yang sederhana dan mudah dimaklumi. Terlebih, ketika ia sadar bahwa dirinya tidak seperti yang dituduhkan. Menyangkal pun percuma, menghadapi orang tipikal tempramental dan sok merasa paling benar tak akan selesai hanya dengan dibalas emosi. Akhirnya Dira memilih tetap diam dan mengindar. Demi menjaga mentalnya tetap baik-baik saja. Meski segudang makian inging ia lontarkan balik, ia menahan diri. Apa bedanya ia dengan Rizal bila seperti itu? Begitu pikirnya berusaha mendewasakan diri dengan kesabaran. Terkadang seseorang harus menjadi pendiam bukan karena pengecut, justru ia merasa Rizal tak penting makanya tidak perlu diladeni. "Udahlah, Bro. Ayo balik," ajak temannya mulai tak enak hati dipandangi banyak pasang mata. "Sampah kamu, Dir! Sok kecakepan! Munafik! Aku masih belum bisa maafin kamu ya! Ingat itu baik-baik! Bangs*t!" racaunya semakin meninggikan suara. Alhasil, karena tak mempan hanya dengan kata-kata, kedua temannya langsung menarik pria itu pergi dengan ekpresi tak nyaman. Mereka yang malu dengan kelakuan kawannya. Di sisi lain, Dira sudah membuang nafas kesal, sambil satu tangan mengelus d**a. Sekuat mungkin menahan diri untuk tidak terpancing emosi. Sangking terbiasanya diperlakukan demikian oleh orang yang sama dulu, sekarang ia sudah tak begitu memasukkannya ke dalam hati. Walau masih ada sisa kejengkelan yang hampir meledak. Setidaknya, Rizal tak sampai berani main tangan. Kalau tidak, sudah pasti jurus karate andalan Dira langsung menghantam pria itu sampai kibar bendera putih. Ia menunduk sejenak guna menetralisir amarah yang tertahan, lalu mengangkat wajah begitu sadar keadaan mulai tenang kembali. Mengurut kening dan meneguk segelas air. Dan baru sadar kalau Juna menatapnya tajam entah sejak kapan. "Kenapa melihatku begitu?" Pria di hadapannya tetap bergeming. Semakin lekat dan tegas sorot matanya, seakan meminta penjelasan untuk memusnahkan segala praduga jeleknya tentang Dira. Tanpa mengatakan apapun, sepertinya Dira paham maksud dari sorot mengintimidasi tersebut. Bukan menyalahkan, akan tetapi lebih keheranan. "Temen kerjaku dulu," ujarnya memulai menjelaskan. "Lima kali kutolak. Karena dia terlalu tempramental, dan kalau bicara ya seperti yang kamu dengar barusan. Suka nyakitin hati. Belum jadian saja sudah sangat mengatur dan cemburuan banget. Serba ngelarang ini itu. Tiap ada laki-laki yang deketin aku, ujungnya malah baku hantam sama dia." Juna masih diam mendengarkan. Menelaah kisah sebenarnya yang diceritakan Dira dengan agak malas. Entah kenapa gadis itu malah semakin mendetail tanpa bermaksud membela diri. Padahal, sudah sewajarnya ia melindungi harga dirinya yang terinjak sedemikian rupa. "Terakhir kali yang masih kuingat banget, salah satu masuk rumah sakit hampir patah tangannya. Cuma karena aku minta tolong bantu bawakan barang, dibilang selingkuh. Nyatanya, jadian saja nggak. Kasihan temanku. Mereka berantem di depan umum, temanku berusaha membelaku karena nggak tahan aku dikata-katain kasar terus. Ujungnya dia yang kena getahnya. Sangking capeknya, aku milih mengundurkan diri dan pindah kerja. Gitulah ceritanya," tutup Dira seraya menghela napas dalam. "Bukannya aku takut membalas atau melawan. Cuma apa ya, males aja gitu ngeladenin orang nggak penting," imbuhnya. Barulah Juna paham duduk permasalahannya. Ia menyodorkan air minum pada gadis itu. Minuman di gelas Dira sudah habis tak bersisa. Ia menerima sodoran gelas dari tangan pria bermata legam itu. Kemudian menyeruput lemon tea dengan perlahan. "Kamu terbiasa menahan diri?" tanya Juna kemudian. "Maksudnya?" "Ada saatnya kita nggak boleh diam saja ketika orang lain menyakiti. Jika dibiarkan, artinya kamu memberi ruang orang lain melukai perasaanmu." "Aku hanya nggak ingin memperpanjang persoalan. Apa bedanya aku dengan dia kalau kata-k********r dilawan dengan hal sama? Aku nggak mau disamakan dengan orang seperti itu. Kalau aku mau, mending kulempar golok sekalian biar the end." Juna tersenyum tipis. "Mau kukasih tau caranya membalas tanpa perlu khawatir disamakan dengan orang macam itu?" Pandangan mata Juna benar-benar tegas dan dalam. Anehnya, Dira tak berani menatap terlalu lama retina mata yang seringkali membuatnya merinding. Bukan karena takut, justru ia malah merasakan keteduhan dan kenyamanan yang sulit disangkal perasaan. Dan Dira sedang mengusahakan jiwanya agar tahu diri, dan tidak melampau batas. Ia harus berpegang pada prinsip setia. Tunggu, setia? Gadis ini benar-benar mencintai Nathan, sampai lupa kalau hubungan mereka masih ditahap tanpa komitmen pasti. "Caranya?" tanya Dira setelah beberapa detik terpekur bingung. Tanpa menjawab, Juna langsung berdiri. "Mau ke mana?" "Biar kuperiksa apa si brengs*k itu masih di sini." "Tunggu! Apa maksud kamu?!" Dira ikut berdiri dan segera mengikuti langkah kaki Juna yang sudah lebih dulu berjalan. Juna melihat ke sekeliling halaman parkir. Agaknya Rizal dan kedua temannya sudah pergi. Sementara Dira kebingungan melihat tingkah Juna. Kelihatannya tenang, tapi tatapannya membuat sangsi. "Ngapain kalian di sini?" tanya Alfa baru turun dari mobil. "Mencari mangsa," balas Juna datar. "Hah? Mangsa?" Dira tak mengerti. "Mangsa?" Alfa menimbang sejenak. Ponsel Juna kembali berdering. Ia menyingkir untuk mengangkat panggilan dari ibunya. "Ada apaan sih?" Alfa menginterogasi Dira dengan rasa penasaran. Agaknya ia mengerti bila Juna sudah mengeluarkan kata 'mangsa.' Pasti sesuatu baru saja ia lewatkan. Gara-gara disuruh isi bensin, Alfa jadi merasa ketinggalan cerita. Tadinya Dira enggan menjelaskan ulang. Namun, bukan Alfa namanya kalau jiwa keponya tidak terpuaskan. Alhasil gadis itu menceritakan sedikit banyak kejadian memalukan yang barusan ia alami. "Hmm, beruntung juga tuh si Rizal atau siapalah." "Kok beruntung sih?!" "Ya gimana nggak beruntung, kalau sempet ngadepin kemarahan Juna, bukan rumah sakit lagi ujungnya nanti. Bisa-bisa tempat pembuangan sampah." Dira memicing tak paham. "Maksudnya gimana? Apa hubungannya sama tempat pembuangan sampah?" "Bersyukur aja kamu belum menyaksikan si biang kerok jadi mangsa," seloroh Alfa sambil menepuk-nepuk bahu Dira. "Apaan sih maksudnya?" Pertanyaan Dira tak digubris lagi oleh Alfa. Keduanya kembali masuk ke dalam kafe sambil menunggu Juna selesai bertelepon ria. Di tempat lain, Nathan sedang menahan kekesalan yang ditimbulkan kekasihnya. "Kamu kenapa sih? Jauh-jauh ke sini nyamperin aku, cuma mau ngajak ribut?" "Aku nggak suka kamu ganggu privasiku, Livia!" "Privasi? Mau sampai kapan hubungan kita kamu jadikan privasi begini? Sampai-sampai kayaknya kamu nggak mau orang tau tentang kita." "Buat apa? Mau kamu pamerin ke siapa lagi? Mala? Fita? Putri? Geng kamu yang mana lagi?" "Kamu kok ngomongnya gitu banget sih?!" "Bukannya selama ini memang kamu seneng jadiin aku bahan untuk terlihat lebih hebat dari temen-temen gengmu? Kalian berlomba terlihat lebih keren, sampai sering mengabaikan perasaan pasangan kalian sendiri. Apa menurut kamu aku nggak muak?" "Nathan!" Livia tersinggung. Meski pada dasarnya apa yang dikatakan Nathan adalah fakta, tetap saja Livia tak mau diperjelas sedemikian rupa. "Aku pikir kamu ngajak aku balikan supaya kita bisa membenahi semuanya lagi. Nyatanya apa, Liv? Kamu nggak berubah. Masih sama." "Nathan! Cukup! Aku nggak ngerti ya kenapa kamu bisa berpikiran buruk tentangku. Aku tulus sayang sama kamu. Aku memang minta kita balikan dan pengen lebih serius sama kamu. Tapi apa? Lima tahun kita jadian, hubungan kita stuck di sini. Aku minta putus dulu karena kamu yang nggak peka-peka! Sampai aku sadar aku nggak bisa kehilangan kamu, dan ngajak kamu balikan. Setahun aku nunggu kamu sadar. Coba hitung berapa lama aku bersabar nunggu kepekaan kamu, Nat? Enam tahun!" "Kamu mau aku peka gimana lagi?" "Kapan kamu mau lamar aku?!" tuntut Livia akhirnya to the point. Nathan memijat kening. Rasanya memusingkan menghadapi kekasihnya satu ini. Ia lelah dijadikan objek persaingan antar teman-teman Livia. Tanpa disadari, selama ini Nathan terjebak hubungan membingungkan dengan gadis ini. Sulit baginya menjadi diri sendiri tiap kali berada di samping Livia. Bahkan dari persoalan sesepele memilih gaya berpakaian saja Livia maunya Nathan menurut. Nathan pikir memberi kesempatan kedua bagi Livia mungkin bisa perlahan mengubah sifat diktatornya. Namun, harapannya pupus seketika. Livia tetaplah sama. Menginginkan sosok Nathan yang sempurna, paling menarik, dan benci ada kesalahan sekecil apapun -terlebih bila sedang berkumpul dengan teman-teman dekat Livia-. "Aku ke sini bukan untuk memperkeruh hubungan kita, Livia." "Lalu? Kenapa nggak jawab pertanyaanku barusan? Aku butuh kepastian. Kamu lihat beberapa temenku udah pada dilamar sama pacar mereka. Si Putri aja yang baru enam bulan jadian, langsung diajak nikah sama pacarnya. Masa kamu nggak kasihan sih sama aku?" Mulai lagi. Hal yang paling dihindari oleh Nathan. Seolah semua hal tentang mereka hanya demi tuntutan paling mengesankan bagi orang lain. "Kenapa kamu nggak minta Rio, Bima, Galih, atau Fariz untuk melamar kamu?" Livia terkesiap. "Apa maksud kamu nanya gitu?" "Aku tau alasan utama kamu ngajak aku balikan dulu, Liv. Hubunganmu dengan mereka nggak sesuai harapan kamu kan? Mereka nggak mudah untuk kamu atur. Aku memberi kamu kesempatan, karena waktu itu aku masih sayang sama kamu. Tapi sekarang, aku sadar kalau aku nggak bisa maksain kamu untuk berubah jadi seperti yang kuharapkan. Minimal, aku cuma ingin punya hubungan yang sehat sama kamu. Aku nyerah, Liv." "Nathan... aku nggak paham maksud kamu..." mata gadis itu berkaca-kaca. Rasa takut kehilangan itu kembali muncul seketika. "Kamu tahu kenapa selama ini aku bersabar dan nurutin kemauanmu? Karena aku sayang sama kamu, Liv. Sampai pada akhirnya aku makin sadar, ini salah. Komitmen itu dibangun dan diperjuangkan oleh dua pihak, bukan hanya salah satu. Aku nggak nemuin perjuangan kamu sampai detik ini, Liv." "Nat... please... jangan buat aku merasa bersalah..." "Aku ke sini untuk selesaikan semua secara baik-baik. Aku nggak bisa lagi bertahan sama kamu." Nathan melepas pegangan tangan Livia. Gadis itu menangis pilu. Setelah sekian lama, barulah ia menyadari keegoisannya selama ini. Ia berusaha menahan Nathan untuk tidak melangkah pergi. Namun, pria itu sudah terlalu hilang rasa. "Aku akan berubah! Aku janji!" pekik Livia putus asa. "Berubahlah demi kebaikanmu sendiri. Semoga laki-laki setelahku nggak harus menghadapi sikapmu yang selama ini berlebihan. Kita putus." Nathan melanjutkan langkahnya. Meninggalkan sang mantan yang menangis terisak menyesali kesalahan yang baru ia sadari. Dan semua mungkin sudah terlambat untuk diperbaiki. Ponsel Nathan berdering. Sudah sekali ia mengabaikan panggilan Dira tadi, itu pun karena tak sengaja. Ia menarik napas dalam dan mengembuskannya kuat-kuat. Berusaha menetralisir kecamuk batinnya yang bimbang selama ini. Kini, ia sudah memastikan untuk siapa hatinya layak diberikan. "Halo..." Terdengar suara lembut seseorang dari seberang panggilan. "Iya, maaf aku baru sempat angkat." "Kamu baik-baik saja?" "Hmm.. cuma agak capek. Besok aku langsung balik." "Kok cepet banget? Kukira kamu baru balik Minggu sore." "Lebih cepat dikelarin lebih baik." "Maksudnya?" "Bukan apa-apa. Gimana kabar kamu?" "Baik. Kamu nanyain kabarku kayak bertahun-tahun nggak ketemu." Nathan tersenyum sendiri. "I miss you so much..." "Bisa kangen juga ternyata?" "Kamu nggak kangen?" "Ehm... kangen nggak ya?" "Dira..." "Hmm? Kenapa?" "Aku sayang kamu..." Seketika jantung Dira melonjak tak karuan rasanya. Sangking girangnya, ia sampai memukul-mukul layar ponsel tanpa sadar. "Dir? Kamu masih dengerin aku kan?" "Ah iya iya," jawabnya gugup. "Mau jadian sekarang atau nanti?" "Pertanyaan kamu apa nggak kebangetan?" Nathan tertawa pelan. "Sabar sebentar lagi, bisa?" "Ehm... selalu banyak kesabaran tersedia buat kamu. Walaupun agak ngeselin sih," canda Dira berusaha mencairkan suasana. "Terimakasih..." "Untuk?" "Karena kamu masih bertahan menungguku. Dan maaf..." "Untuk?" Tak ada jawaban dari Nathan. "Nat?" "Ya?" "Aku mau tanya. Buat mastiin sesuatu." "Tentang?" "Aku sempet lihat ada postingan di beranda dan story kamu tadi. Tapi mendadak ilang gitu. Kayak ada foto dan video singkat perempuan. Apa aku salah lihat ya?" "Sebenarnya-" Kalimat Nathan terhenti. Sekelebat bayangan Nana terngiang dalam benak pria itu. Mengingatkannya pada pesan Nana beberapa waktu lalu. "Inget satu hal, Nat. Kamu cuma punya dua pilihan. Berbohong dan tetap menutup rapat semua tentang kamu dan Livia di belakang Dira. Atau jujur sejelas-jelasnya. Tapi, ada konsekuensi yang mungkin pasti kamu terima." "Konsekuensi?" "Aku tau banget gimana Dira. Dan aku yakin kamu juga tau. Temanku satu ini nggak akan bisa memaklumi yang namanya kebohongan berdasarkan pengkhianatan. Kamu memang nggak selingkuh secara nyata, karena kamu dan Dira belum jadian. Tapi dia berani jujur ke kamu selama ini tentang perasaannya, karena dia taunya kamu nggak punya pasangan. Kalau sampai dia tau, mungkin kamu akan kehilangan kepercayaan Dira setelah ini, Nat..." "Halo? Nathan? Kamu masih di situ?" Suara panggilan Dira mengembalikan kesadaran Nathan dari lamunan sesaatnya. "Ya. Aku masih di sini," balasnya. "Kamu tadi mau ngomong apa? Kok malah diam?" "Soal foto dan video yang kamu maksud, itu bukan apa-apa." "Bukan apa-apa gimana maksudnya?" "Itu ulah temenku yang iseng." Akhirnya Nathan memilih untuk menyimpan kebenaran dalam-dalam. Berharap Dira tak mengetahuinya sama sekali. "Oh gitu. Syukurlah..." "Kamu cemburu?" "Sedikit." "Dira..." "Ya?" "Besok siang kamu bisa jemput aku?" Spontan Dira kelabakan. Apa yang harus ia katakan sekarang? Ia benci dibohongi, apa pantas dirinya malah membohongi pria yang ia sayangi? Gadis itu dilanda dilema. == DHSC ==
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD