Kadang aku takut kehilangan kamu
Kadang aku juga ragu mengusahakan kamu
Apa bisa kita tetap bersama, walau nantinya ada kemungkinan terluka?
Aku hanya tak ingin menjadi asing bagimu..
- Nathan -
***
Gadis itu sedang sibuk membolak-balik lembaran notebook berwarna cokelat dengan gambar bernuansa vintage. Ia mengecek jadwal yang tersusun rapi di sana. Dira memang senang menuliskan beberapa jadwal yang menurutnya agak penting, agar tidak lupa. Ia bahkan memasang pengingat juga di ponsel. Dan betapa terkejut gadis berambut hitam sepunggung itu menyadari sesuatu.
"Bentar! Bentar! Malam Minggu kan aku sudah ada janji sama Nathan. Terus, Juna juga ngajakin liburan Sabtu Minggu ini! Gimana dong?! Argh! Aku lupa!" pekiknya frustrasi. "Kalau aku cancel janji sama Nathan, sia-sia dong penantianku selama ini? Tapi, kalau kubatalin janji sama Juna, rencana kami bisa kurang mumpuni. Ish ish! Membingungkan!" keluhnya mengacak rambut.
Dering telepon berbunyi nyaring, mendengungkan lagu milik Jin BTS berjudul Epiphany kesukaan Dira. Melihat nama yang tertera dilayar, Dira langsung semangat mengangkat.
"Halo, assalam'mulaikum?" sapanya sambil menahan senyum. Rasa kesalnya rupanya sudah sirna secepat itu.
"Wa'alaikumsalam. Kamu lagi di mana?"
"Di kamar. Kenapa?"
"Udah makan?"
"Udah tadi."
"Ehm... aku mau ngomong sesuatu, tapi kamu jangan marah ya?"
"Soal apa?"
"Rencana makan malam kita malam Minggu ini kayaknya harus diundur. Aku harus ke luar kota, ada yang musti kuurus. Minggu depan nggak apa kah?"
Sejujurnya, semangat Dira langsung lengser seketika. Ini memang bukan kali pertama pria itu membatalkan atau menunda janji mereka. Sebenarnya Dira juga tak begitu kaget. Hanya saja ia serasa dilempar ke jurang setelah diajak mendaki setinggi mungkin. Agaknya ia memang harus mengusaikan harapan-harapan yang dipupuk terlalu dalam. Seperti kata nasihat, berharap pada manusia hanya mendatangkan sumber kekecewaan terbesar. Ia pun menyadari hal itu. Dan mulai berdamai dengan perasaannya sendiri. Tidak lagi mau memaksa lebih.
Dira menghela napas perlahan. Menatap langit dari balik jendela kamar. Hatinya meminta maaf pada Sang Kuasa dan berpasrah dengan segala ketentuan-Nya. Memang benar, berharap yang terbaik dan tidak pernah menyakiti hanya pada Sang Pencipta saja.
"Iya nggak apa. Santai saja," balasnya setegar mungkin. Jauh di dasar hatinya sudah terjadi retakan-retakan yang makin meruntuhkan benteng pertahaan sabarnya. Namun, ia tak akan menyalahkan siapa pun. Karena ini adalah kesalahannya sendiri, berharap sesuatu yang belum tentu pasti.
"Aku ada keperluan di Surabaya. Kamu mau titip sesuatu?"
"Kayaknya nggak deh. Lagi nggak kepengen apa-apa."
"Yakin?"
"Iya. Oh ya, kamu masih sama Nana kah? Kok dia belum balik sampai jam segini?"
"Ini masih sama dia. Katanya dia kelaperan, makanya kami mau cari makan dulu. Mau dibungkusin sekalian?"
"Nggak usah deh. Makasih. Yasudah kalau gitu lanjutin dulu. Kebiasaan kamu pasti lagi nyetir mainan hp kan?"
"Udah minggir dari tadi. Nggak kamu nggak Nana cerewetnya sama banget ya?"
"Ya namanya juga bestiee."
Setelah berbincang beberapa saat, panggilan telepon pun ditutup. Dira hanya bisa menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya kuat-kuat. Berharap rasa kecewanya lekas mereda. Ia pun langsung mencoret jadwal yang seharusnya menjadi momen indah untuk penantiannya. Gadis itu berusaha berpikiran positif, mungkin ini cara dari Sang Kuasa membebaskannya dari kebimbangan dua pilihan. Walau agak sedikit menyesakkan.
Suara ketukan pintu terdengar bersamaan salam. Mengaburkan lamunan Dira yang mendadak lunglai hampir tak berdaya. Ia berdiri dan keluar mengecek siapa tamu yang datang. Di rumah ia hanya sendirian. Orang tua Nana sedang pulang kampung dan katanya agak lama di sana, karena harus mengawasi renovasi rumah.
Sejak sepeninggal ayah Dira, gadis ini memang diajak tinggal di rumah keluarga Nana. Ia sudah dianggap seperti anak sendiri oleh kedua orang tua sahabatnya. Perlakuan mereka juga sangat baik dan penuh perhatian. Itu sebabnya Dira lumayan betah di sini. Setidaknya, ia tak terlalu merasa sendirian lagi.
Sebelum membuka pintu, gadis yang mengenakan kaus oversized berwarna kuning muda, dipadu dengan celana pendek hitam di bawah lutut itu mengintip melalui jendela. Ia menyingkap sebagian tirai untuk memastikan siapa tamu yang datang malam-malam begini. Jauh dari ekspektasinya, ia menahan kekagetan yang mendadak mengelabui alam bawah sadarnya. Dibukanya pintu dengan pandangan aneh.
Sosok pria tinggi dengan bibir yang menurutnya seksi, bersandar di tembok sebelah pintu. Tepat menghadap ke arah Dira yang baru saja menyembulkan diri.
"Kamu ngapain ke sini jam segini? Ini hampir jam sembilan malem loh," kata Dira terheran-heran.
"Aku lapar. Ayo makan di luar."
"Hah? Ngapain ngajak aku? Nggak bisa makan sendiri? Temenmu ke mana?!" keluh Dira tak habis pikir. "Lagian aku masih kenyang."
"Aku ke sini bukan memberi tawaran atau bertanya."
"Lalu?"
"Memaksa."
Dira melotot kesal. Ini adalah hari ketiga ia mengenal Juna, dan rasanya mereka sudah seperti bertahun-tahun dekat. Sikap pria ini yang terkesan tiba-tiba dan penuh kejutan, mulai mengganggu ketenangan Dira. Dan gadis itu sulit sekali menolak meski beribu alasan diutarakan. Entah kenapa ia juga tak tahu pasti alasannya, begitu mudah luluh terhadap kata-kata Juna.
"Mau makan di mana?" tanya Dira setengah terpaksa.
"Ada rekomendasi?"
"Ehm... kalau jam segini kayaknya enak makan nasi uduk deket lampu merah Sempaja."
"Nasi uduk?"
"Suka nggak? Kalau opsi lain, nasi goreng? Atau angkirang depan stadion?"
"Nasi uduk saja."
"Yasudah, tunggu sebentar. Aku ganti celana dan ambil jaket dulu."
Juna hanya mengangguk. Membiarkan Dira berkutat dengan kegiatannya. Gadis itu mendumel sepanjang berjalan. Tak sampai sepuluh menit ia selesai ganti celana dan memilah jaket berhody. Gayanya terlalu santai. Padahal kalau jalan dengan Nathan, ia bisa berubah bak tuan putri yang anggun menawan.
Mereka berdua pun menuju lokasi bersama-sama.
"Jangan bilang kamu sengaja mau abadikan momen lagi?" tebak Dira begitu melihat Juna merekam perjalanan mereka dengan ponsel.
"Ya begitulah."
"Sampai kapan begini?"
"Sampai rencana kita sukses."
"Kalau gagal gimana?"
"Kita nikah beneran."
"Astaghfirullah. Kamu itu aneh banget tau nggak sih?! Kita baru kenal, dan segampang ini kamu ceplas-ceplos soal nikah!"
"Ini kelima kalinya kamu protes dengan kalimat mirip dan berinti sama."
"Ngitung ya?" cibir Dira agak sensi.
"Besok pulang kerja seperti biasa?"
"Siapa? Aku?"
"Siapa lagi? Ada orang lain selain kita di sini?"
"Oh kirain. Belum tau, kalau nggak lembur ya kayak biasanya sekitaran jam empat atau lima."
"Habis Maghrib aku jemput kamu."
"Mau ngapain lagi?!"
"Kita beli beberapa baju buat liburan lusa."
"Harus banget?"
Juna mengangguk. Pria ini benar-benar tak bisa diprediksi sama sekali. Sukanya bertindak semaunya dan sangat mendesak, seolah enggan dibantah atau ditolak. Kalau bukan karena sudah terlanjur janji membantu, mana mau Dira ikut andil sejauh ini. Apalagi mengingat kejadian malam lalu saat tengah belanja, Dira tak sengaja menubruk orang lain dan membuat ponsel orang tersebut terlindas troli. Alhasil ia dituntut ganti rugi belasan juta, karena ponsel yang ia rusak bukan sembarang ponsel. Untung saja dengan kebaikan hati Juna, ia jadi tertolong. Pria ini yang mengganti uang tersebut tanpa minta ganti pada Dira. Sudah dua kali Dira mengatakan hendak mencicil sebagai ganti rugi. Namun, jawaban Juna tetap sama. Ia tak butuh uang tersebut, yang ia butuhkan adalah bantuan dan kesungguhan Dira menjadi partner rencananya.
Dari kejadian itu Dira makin sulit mangkir dari sebagian permintaan Juna. Entah takdir macam apa yang tengah menjadikan keduanya terpaut seperti ini. Dira pun lelah memikirkannya.
Setiba di lokasi yang dimaksud, mobil hendak diparkir. Namun Dira yang baru sadar akan keberadaan Nathan pun mengurungkan niatnya.
"Tunggu!" pekiknya menahan Juna.
"Ada apa?"
"Kita cari tempat lain saja!" selorohnya was-was.
"Kenapa?"
Tanpa menjawab, Dira justru terpaku memandang sosok pria yang duduk lesehan bersama sahabat karibnya, Nana. Mereka berdua tertawa lepas dan begitu ringan. Seolah tidak ada sekat maupun beban yang menyelimuti. Hati Dira sedikit cemburu. Padahal, tidak biasanya ia mencemburui sahabatnya sendiri. Ada sesuatu mengetuk sudut ruangan di hatinya. Nathan bahkan menyuapkan makanan untuk Nana. Hal yang juga dilakukannya pada Dira. Rasanya jadi tidak spesial lagi. Mereka saling tahu tentang perasaan suka di hati. Namun, masih ada sesuatu memberi jarak yang bahkan belum bisa ditebak.
Demi melepas perasaan yang menyayat batin, Dira menguatkan hati. Ia menyadari kalau Nathan bebas melakukan apapun dan dengan siapa pun. Karena pada dasarnya hubungan keduanya memang belum resmi punya tujuan pasti.
"Gebetan kamu?"
"Kita makan di tempat lain saja ya?" pinta Dira lesu. "Lagian kalau dia lihat aku jalan sama cowok lain, ntar malah salah paham."
"Aku yang tentukan."
"Ya silahkan," balas Dira tak b*******h kembali.
Entah sudah berapa kali Nathan mematahkan semangatnya hari ini. Herannya, Dira merasa egois terhadap cemburunya. Kenapa ia ingin marah melihat pria yang ia sukai tertawa dan perhatian dengan sahabatnya sendiri? Lagipula Nana dan Nathan memang lebih dulu saling mengenal. Lagi-lagi Dira mengusir prasangka dalam jiwanya. Mencoba terus mempercayai mereka dengan sepenuh hati.
Sepanjang perjalanan Dira hanya diam melamun. Padahal biasanya ia akan banyak tanya ini dan itu. Sampai tanpa sadar mobil sudah berhenti di suatu tempat. Juna mengajaknya turun.
Lagi-lagi Dira dibuat shock. Ia mendelik menatap ke arah Juna.
"Ngapain kita ke sini?!"
"Makan sekaligus melepas penat."
Dira tepuk jidat. "Ya nggak di tempat karaoke juga kali!" protesnya menanggung emosi.
"Kenapa? Negatif thingking kalau ke tempat beginian?"
"Nggak ada tempat lain apa?"
"Mau di mana pun makan atau menghibur diri sama saja, yang membedakan niat kita sendiri. Ayo masuk. Selagi sama aku, kamu aman."
Juna menggandeng paksa lengan Dira. Mau tak mau gadis itu menurut dengan perasaan penuh kecamuk. Keduanya diarahkan ke salah satu ruangan VVIP. Ruangan yang memang khusus untuk orang-orang tertentu. Semua karyawan di sana tampak ramah dan menghormati kehadiran Juna. Dalam benak Dira sudah berpikir sampai antah berantah. Ia bahkan langsung memberi label pria tak beres pada Juna.
"Langganan ya di sini?" seloroh Dira begitu mereka duduk di dalam ruangan. Gadis itu mendekap jaket karena terlalu dingin suhu ruangan.
Menyadari hal tersebut, Juna langsung mencari remote AC dan menambah angka agar tidak terlalu dingin lagi. "Aku ke sini kalau lagi jenuh banget."
"Terus? Nggak mesen ladies?"
Juna menoleh kilat. Tatapan matanya berubah bak elang siap menerkam. Senyum tipis tersungging di sudut bibir seksinya. "Sejelek itu pikiranmu tentangku?"
"Aku hanya bertanya." Dira manyun.
"Kamu bisa tanya ke staff di sini, apa aku pernah pesan perempuan tiap ke sini," katanya meyakinkan.
Pria itu memilah lagu, kemudian menyodorkan mic pada Dira. "Bisa nyanyi kan?"
"Kita ke sini mau makan apa mau nyanyi sih?"
"Dua-duanya. Sambil tunggu makanan siap."
Alhasil mereka pun bernyanyi bersama. Dari mulai lagi sendu sampai lagu-lagu bertempo cepat. Hingga makananan datang, barulah berhenti. Juna sedang ke restroom ketika pada pelayan mengantarkan pesanan. Jiwa penasaran Dira pun meronta-ronta tak karuan.
"Mbak, boleh tanya?" katanya pada seorang staff.
"Iya, Kak? Tanya apa?" balasnya dibarengi senyum ramah.
"Laki-laki yang barusan, apa iya sering ke sini? Kok kayak lebih spesial gitu perlakuannya."
"Jarang kok, Kak. Pak Juna kan keponakan pemilik tempat ini. Kebetulan yang punya itu nggak punya anak. Makanya pak Juna dianggap seperti anak sendiri dan disayang banget. Sampai-sampai kami dikasih tau, kalau pak Juna ke sini harus dilayani sebaik mungkin dan diberi ruangan khusus keluarga yang punya."
Seketika Dira langsung terperangah. Pantas saja mereka sangat menghormati Juna. Rupanya ada udang di balik tepung, begitu pikir Dira saat ini.
"Ehm... kalau ke sini pesan ladies kah?" tanyanya to the point. Tampangnya benar-benar mirip Betty La Fea sangking serius dengan kekepoannya
Dua orang staff tersenyum menahan tawa. "Sama sekali nggak pernah, Kak. Jangan khawatir, pak Juna itu orangnya susah didekati," jawab mereka. Agaknya mereka mengira kalau Dira adalah kekasih Juna. Atau pedekatean Juna mungkin.
Selesai menyajikan pesanan, para staff berlalu. Juna juga sudah selesai dengan ritualnya di kamar mandi barusan.
"Sudah puas nanya?"
"Kedengeran ya?"
"Lumayan."
"Ckck."
"Kenapa? Masih sangsi?"
Dira menggeleng. "Bukan urusanku juga sih."
"Makanlah..."
"Kan kamu yang lapar. Aku mah nemenin doang."
"Oke, kusuapin."
"Hah?! Nggak perlu! Aku bisa makan sendiri!" Alhasil Dira pun mengalah, ia mengambil piring dan menyantap dengan dumelan dalam hati.
Juna memang paling lihai membuat gadis ini tak bisa berkutik, hanya dengan beberapa kata saja.
Sementara di tempat lain, Nathan dan Nana baru saja selesai makan dan berbincang. Diperjalanan pulang, Nana terlihat agak mengantuk.
"Capek banget ya?"
"He'em. Ngantuk."
Nathan mengusap pucuk kepala gadis itu. Membuat Nana gugup sesaat. Dan secepat mungkin kembali sadar akan batasan keduanya. Ia menepis tangan Nathan.
"Jangan begini terus."
"Kenapa?"
"Nggak enak sama Dira. Kalau dia lihat bisa salah paham tau."
"Nggak mungkinlah. Kita kan temen. Dira pasti ngerti. Aku sama kamu juga deket sebelum sama dia."
"Ya tapi kan beda, Nat. Kamu sama aku cuma sekadar temen. Sedangkan kamu dan Dira bisa dibilang lebih dari temen. Jaga perasaan dia walau kalian lagi jauh."
Nathan terkekeh. "Kenapa sih? Mendadak serius banget. Biasanya juga santai aja."
"Makanya itu jangan dibiasain terus-terusan. Nanti kebablasan."
"Maksudnya?"
"Bukan apa-apa. Nyetir yang bener." Nana memperingatkan.
Sampai di halaman rumah, saat Nana akan turun, mendadak Nathan menahan.
"Kenapa lagi?"
"Ada yang mengganjal sama perasaanku, Na. Aku butuh saran dari kamu."
"Soal Dira?"
Nathan mengangguk. Dan dibalas helaan napas pendek oleh Nana.
"Aku masih ragu sama perasaanku sendiri. Aku sayang sama Dira. Tapi, nggak tau kenapa aku kayak belum yakin."
"Masalahnya apa?"
"Livia."
Spontan Nana melebarkan mata. Ia tahu betul siapa yang disebut pria ini barusan.
"Gila kamu! Jangan bilang kamu jadiin temenku cuma sebagai pelampiasan?! Kamu mau balikan sama mantanmu itu?!" terkanya menyadari arah cerita Nathan.
"Awalnya iya, tapi sekarang aku beneran sayang sama Dira."
"Ya terus? Kalau beneran sayang, kenapa masih kamu gantungin?! Kenapa juga kamu bilang belum yakin?"
"Masalahnya..." Nathan menjeda kalimatnya sebentar. "Aku belum bener-bener putus sama Livia, Na."
"What?!" Nana tersentak bagai disengat listrik. Ia tak menyangka pria yang selama ini dianggapnya baik dan setia, bahkan memiliki tempat khusus di hatinya, ternyata...
"Jangan ngawur kamu, Nat?!"
"Aku tau aku kelewatan. Itu sebabnya aku perlu saran dari kamu, Na."
"Saran macam apa yang kamu mau?! Asli ya Nat, aku nggak nyangka kamu begini! Kamu bilang kamu udah selesai sama Livia. Kenapa sekarang kamu bilang kalian belum kelar?!"
"Mulanya kami memang udahan, Na. Kamu ingat kan pas kubilang aku dan dia putus karena dia milih pindah kerjaan ke Surabaya. Tapi beberapa bulan setelahnya dia menyesali keputusannya dan minta kesempatan lagi. Aku terima."
"Dan kalian ldr-an selama ini?"
Nathan mengangguk lesu.
"Terus? Aku nggak tau harus nanggepin ini gimana. Satu yang harus kamu tau, aku nggak mau sampai kamu nyakitin temenku."
"Sabtu ini aku ke Surabaya. Aku akan sudahi hubunganku dengan Livia secara baik-baik."
Nana mengurut kening. Tak tahu lagi harus berkata apa. Ia sendiri pun patah hati mendengar kejujuran pria di sampingnya. Bagaimana bila Dira sampai tahu? Nana tahu betul seperti apa sahabatnya, tak akan memberi toleransi dalam bentuk apapun untuk urusan macam ini.
"Na, please, cuma sama kamu aku bisa ceritain ini."
"Aku nggak mau ikut campur lagi masalah kalian. Kamu selesaikan sendiri nanti."
"Tolong jaga rahasia ini dari Dira ya?"
Nana hanya diam dan langsung turun begitu saja. Ia tak menyangka Nathan selama ini berbohong.
Di saat sama Dira yang sedang mengunyah ayam teriyaki mendadak bibirnya tergigit.
"Aduh!" pekiknya.
"Kenapa?"
"Nggak papa, kok perasaanku tiba-tiba nggak enak ya?" ujarnya seakan merasakan firasat kurang baik.
== DHSC ==