Bab. 4 - Hubungan Terencana

2464 Words
Mengenalmu mungkin butuh waktu singkat untukku Tapi melupakanmu, apa bisa secepat yang kumau? - Juna - *** "To the point saja, saya nggak suka basa-basi." "Ya. Silahkan." "Saya meminta waktu kamu untuk membantu saya membatalkan rencana pernikahan orang tua kita." Dira menarik napas pendek, mengembuskannya sekilas, seolah enggan menimpali. Salah satu hal yang sangat dihindari gadis ini adalah ibunya. Wanita yang telah lama pergi dan menghilang dari peredaran kehidupan Dira. Sama seperti pohon yang terpaksa Dira cabut paksa agar tak tumbuh. Begitulah hati gadis ini terhadap ibunya, sedemikian kecewa ia sampai muak dengan apapun yang berhubungan dengan sang ibunda. "Maaf, saya nggak bisa dan nggak mau." "Alasannya? Karena kamu benci ibumu?" "Tebakan macam apa itu?" "Bener kan?" "Anggap saja begitu." Sejenak pria bermata legam itu menghela napas pendek. Memandang ke arah luar jendela dengan mimik wajah yang sulit dijelaskan dengan pasti maknanya. "Sebelumnya, hubungan kedua orang tua saya sangat baik dan harmonis. Meski ada pertengkaran kecil, nggak sampai separah ini. Sejak kehadiran ibu kamu, semua menjadi rumit." "Maksud kamu?" Dira mencoba menanggapi, walau dalam hati sebenarnya ia sangat enggan ikut campur terlalu dalam. "Ibuku dan ibumu berteman dekat. Bahkan ketika ibumu ditipu orang, ibuku yang membantu. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba ayahku mengatakan ingin berpisah dengan ibuku, dan malah berniat menikahi ibu kamu." Di sini akhirnya Dira paham sesuatu, bahwa ibunya menjadi sumber bencana atas keretakan hubungan kedua orang tua pria ini. Sejujurnya, ia mulai trenyuh dan simpati. Bagaimanapun juga, ia paling tak bisa melihat orang lain kesusahan, apalagi ada sangkut pautnya dengan keluarga Dira. Ia memang benci ibunya. Lebih benci lagi bila sampai perempuan yang bergelar seorang ibu bagi Dira itu merusak kebahagiaan orang lain, dengan cara sehina itu. Mendengar kisah singkat dari Juna saja emosinya sudah naik turun tak karuan. Berharap dirinya tidak mewarisi sifat menyebalkan dari ibunya. Di sisi lain ia juga tak rela jika sang ibunda berbahagia di atas derita orang lain. Terlebih, setelah semua orang berbaik hati padanya. Contoh saja keluarga Dira yang ditinggalkan dulu. Sekarang, malah menusuk teman sendiri. Benar-benar mengesalkan sekali. "Apa yang bisa kubantu?" Dira pun menyerah sangking tak teganya melihat kesedihan mendalam di wajah pria ini. Selain itu, ada sekelumit dendam yang lama bersangkar dalam jiwanya. Ia tak sudi membiarkan orang yang menorehkan sekikas trauma padanya, justru hidup damai sentausa. Ibunya harus diberi pelajaran. Begitu pikirnya kilat. Juna kembali menatap Dira. "Tolong bantu aku membuat ayahku membatalkan rencana pernikahan. Dengan begitu, ayahku bisa memperbaiki hubungannya dengan ibuku." "Caranya? Jangan harap aku bisa membujuk ibuku. Aku bahkan sudah bertahun-tahun nggak bertemu dengannya. Perempuan itu memang sangat egois. Aku mewakilinya minta maaf, hanya ini yang bisa kulakuka sekarang," tukas Dira lugas. "Ya, kamu benar. Ayahku pun sangat egois dengan bersikap begini. Kita nggak akan berhasil cuma dengan menasihati mereka. Tapi, ada satu cara yang sangat memungkinkan." "Cara apa?" "Kita berdua bisa berpura-pura menjalin hubungan. Kalau perlu, kita katakan juga tentang rencana keseriusan seperti pernikahan." Dira membelalak kaget. "Hah?! Cara macam apaan itu?! Nggak nggak! Aku nggak mau!" "Cuma itu cara yang paling memungkinkan untuk kita lakukan." "Kamu yakin mereka akan menyerah? Hanya karena anak-anaknya punya hubungan? Mustahil. Aku tau banget seegois apa ibuku. Mendengar cerita kamu pun, bisa dibayangkan kalau ayahmu juga sama seperti ibuku. Menyebalkan!" Tanpa sadar keduanya malah saling bicara seolah sudah lama akrab. Bahkan panggilan saya atau anda sudah tak lagi digunakan. "Kita coba dulu. Bagaimana?" "Kalau nggak berhasil?" "Kita pikirkan opsi lain nanti." "Ya nggak bisa gitu, susun strategi tuh harus sekalian. Jangan setengah-setengah gini. Biar nggak sia-sia bantuanku. Btw, aku bersedia menolong karena aku nggak mau ibuku bahagia di atas kehancuran orang lain. Orang yang sudah baik sama dia pula. Aku yang kesal jadinya!" seloroh Dira menggebu-gebu, menyamarkan kata 'dendam' dalam sebuah kesepakatan. "Apapun alasan kamu, aku akan tetap menghargainya." "Berikan opsi cadangan, supaya bisa kupertimbangkan lagi," ujar Dira menuntut kepastian. Ia tak mau keduanya malah kena bumerang atas rencana yang belum sepenuhnya matang. "Pilihan pertama, kita cukup pura-pura pacaran dan bertunangan kalau memang sangat diperlukam. Pilihan kedua, kita buat perjanjian dan menikah." "Hah?! Pilihan macam apa itu?! Nggak ada yang bener. Kamu nggak mikirin gimana perasaan pasanganmu? Pasanganku?" "Aku nggak punya pacar. Kamu punya?" Dira garuk kepala. Pertanyaan konyol, kenapa juga ia harus mempermasalahkan hal seperti ini. Sekarang, malah seolah senjata makan tuan. Pacar darimana? Ia dan Nathan bahkan belum jelas hubungannya mau dibawa ke mana. Pada intinya, ia pun jomblo tulen. "Aku juga belum resmi." Juna memicing heran, "Belum resmi? Artinya kamu punya gebetan?" Dira mengangguk ragu. "Entahlah. Dibilang gebetan juga nggak jelas. Dibilang nggak ada apa-apa juga membingungkan. Hts lebih tepatnya." Kalimat jujur Dira berhasil membuat Juna menahan tawa. Namun tetap saja, wajahnya terlihat agak mengejek. "Hts? Buang-buang waktu banget," tukasnya menyindir. "Ya minimal aku ada seseorang. Daripada kosong melompong?" balas Dira tak mau kalah. "Lhoh, lebih baik sekalian kosong dong, bebas mau gimanapun. Daripada deket tapi nggak dianggap? Sadar nggak, cowok model gitu biasanya cuma mau puasin rasa penasarannya saja. Selebihnya, tinggal tunggu tanggal bosannya." "Sembarangan! Nathan nggak gitu orangnya! Jangan menilai orang lain sebelum kamu kenal dengannya!" Dira terpancing emosi. Ia tak senang pujaan hatinya disebut demikian. Memang dasarnya sudah bucin level hampir maksimal. "Oh, jadi namanya Nathan?" "Ish, sudahlah! Lupakan! Kembali ke topik awal. Biar cepet kelar. Nggak usah muter-muter." "So, kamu nggak keberatan dengan rencanaku?" "Apa nggak ada pilihan lain yang lebih masuk akal dan nggak merugikan banget gitu?" "Memangnya siapa yang dirugikan? Toh, gebetanmu nggak akan tau kan? Masalahnya di mana?" Dira garuk kepala. Rasanya seperti ia tengah menjalin hubungan gelap di belakang Nathan saat ini. Padahal, resmi jadian saja belum. "Apa yang harus kulakukan?" "Untuk?" "Ngikutin rencana kamu." "Oh... minggu depan ada acara makan malam keluarga untuk peringatan ulang tahun pernikahan kakek dan nenekku. Kudengar ayahku berniat mengajak ibumu dan memperkenalkannya ke keluarga besarku. Sebagai antisipasi balasan, aku akan perkenalkan juga kamu ke mereka." "Terus?" "Kita harus buat seolah-olah ini ketidaksengajaan. Mereka pasti kaget dengan hubungan kita. Kita pun harus pura-pura kaget." Dira agak pening karena bingung. "Bisa dijelaskan lebih sederhana?" "Aku dan kamu pura-pura nggak tau kalau yang akan menikah dengan ayahku itu adalah ibu kamu. Paham?" "Oh... gitu lebih jelas. " "Mana ponselmu?" "Kenapa?" "Kita harus saling tau nomor telepon masing-masing kan?" Akhirnya mereka berdua saling bertukar nomor. Tak hanya itu, Juna juga meminta Dira memberi nama di kontak dengan sebutan yang bersifat lebih intens. Untuk menghindari kecurigaan orang tua mereka nantinya. "Harus banget ya?" "Buat jaga-jaga, kalau mereka minta bukti konkrit." "Terus, mau dikasih nama apa nih?" "Apa ya? Sayang? Baby? Cinta? Honey?" Seketika Dira langsung pasang ekspresi mual tak karuan. Kepalanya mendadak pusing mendengar panggilan-panggilan yang menurutnya agak berlebihan untuk ukuran dua orang asing yang bahkan baru saling tahu nama dan orang tua saja. "Tolong, yang lebih bisa diterima kek," protesnya sarkastis. "Itu yang paling standar. Kamu mau yang bagaimana lagi? Suamiku? Calon imamku? Idamanku?" cibir Juna setengah mengejek. "Ya nggak gitu juga. Pakai nama aja kenapa sih? Nggak mungkin mereka sampai cek kontak di hp kita kan?" "Mungkin banget. Ibuku suka kepo soalnya." "Hah? Ibumu ikut juga?" Juna mengangguk. "Ya, mereka bilang mau bahas bersama." "Keluarga yang membingungkan sekali," dumel Dira hampir tak terdengar. "Gimana? Sudah tentukan pilihan?" "Aku simpan sesuai nama kamu dulu. Nanti kupikirkan sendiri di rumah baiknya apa." "Baiklah. Pastikan sesuai standar hubungan asmara dua orang yang serius." "Iya iya." "Sebagai gantinya, kamu boleh minta kompensasi atau balasan apapun." "Maksudnya?" "Aku nggak suka meminta tolong tanpa membalas apapun." "Ah, timbal balik?" Juna mengangguk. "Apa yang kamu inginkan, bisa kamu pikirkan. Katakan kalau sudah pasti. Selagi bisa kulakukan atau kuberikan." "Ngomong-ngomong, kamu dapat informasi tentangku dari mana? Nggak mungkin dari ibuku kan?" "Ibu kamu nggak pernah cerita tentang keluarga kalian. Aku tau soal kamu dari orang kepercayaanku yang kusuruh cari informasi mengenai keluarga ibumu." "Ah, begitu ya... Ada yang mau dibahas lagi? Aku masih ada keperluan setelah ini." "Ada satu hal lagi, selama dua hari di akhir pekan ini, kita akan liburan berdua." Dira terperanjat kaget. "Buat apaan liburan berdua?!" "Kita belum punya foto dan video pasangan sama sekali. Harus dipersiapkan juga." "Nggak bisa diedit kah?" Juna menggeleng. "Memanipulasi keadaan nggak boleh setengah-setengah. Paham maksudku? Semakin kecil kemungkinan mereka curiga, akan semakin menguntungkan buat kita." "Tapi-" "Bersedia atau nggak?" "Bentar deh, gimana aku bisa percaya kamu orang baik? Maksudku, kamu bukan sindikat perdagangan manusia yang lagi ngebohongin aku akan?!" tanya Dira spontan. Ekspresinya benar-benar bikin perut orang mulas tak karuan. "Kamu punya foto KTP ku kan? Dan ini kartu namaku. Datanglah ke kantorku kapan pun kamu mau, jika masih ragu dan curiga." Dira menerima sodoran kertas di tangan Juna. Ia membaca tulisan yang tertera di sana. Rupanya jabatan pria ini tak bisa dianggap sepele. Walaupun pakaiannya terlihat begitu sederhana, kaus putih polos dipadu celana hitam sedikit di bawah lutut. Serta topi putih berlogo Balenciaga. Tak hanya itu, bagian bawah pun Juna hanya memakai sendal jepit biasa. Penampilannya terbilang santai tapi tetap maskulin dan rapi. Wangi parfumnya saja khas dan memang seperti aroma-aroma mahal berkelas. Tapi ia mengabaikan kertas itu dan menyimpan ke dalam tas sembarangan. Palingan nanti lupa juga. Tatapan tegas pria ini sulit ditepiskan. Ada kejujuran dalam sorot matanya yang seolah berkilat seperti metero jatuh dari langit. Kalau saja di hati Dira belum ada Nathan, mungkin ia bisa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan ketampanan Juna. Apalagi, gaya berpakaian dan tutur kata pria ini, sampai ke style rambut, penampilan rapi, dan wangi pastinya, adalah tipe idaman Dira selama ini. Sebagai seorang perempuan normal, wajar bila ada kekaguman di hatinya bahkan sekecil apapun itu. "Ada yang mau kamu tanyakan lagi?" "Untuk saat ini belum," jawab Dira berusaha mengembalikan kesadaran diri dari lamunan sesaatnya. Juna berdiri. "Ayo," katanya. "Ayo? Ke mana lagi?" Dira tak mengerti. Ia kira sudah cukup pembahasan malam ini. "Aku antar kamu." "Hah? Nggak usah. Merepotkan. Aku bawa motor sendiri kok. Lagian, aku masih ada urusan." "Mana kunci motor kamu?" Dira merogoh tas dan meraih kunci motornya. "Ini. Kenapa?" Tanpa babibu, Juna lebih cepat merebut dan mengambil alih. Ia kemudian memberi instruksi pada salah seorang pelayan kafe untuk menghampiri. Pria itu bicara sebentar pada pelayan dan menyerahkan kunci motor Dira. "Loh?! Kok dikasih ke masnya?! Kunci motorku!" protesnya langsung berdiri. "Aku titipkan ke dia. Nanti temanku ambil dan antar ke rumah temannu." "Kok kamu tau aku tinggak di rumah temanku?" Dira makin tak habis pikir. "Aku tau sedikit banyak data pribadi kamu. Kecuali gebetanmu dan sejenisnya. Itu bukan urusanku." "Tentangku juga bukan urusanmu!" Dira sensi. "Kita harus lebih sering ketemu dan buat momen kebersamaan yang nyata." "Terniat banget ya?!" "Sudahlah, ayo kuantar. Aku bukan sindikat perdagangan manusia," celoteh Juna menekankan dua kata terakhir. Mau tak mau Dira pun menurut. Tanpa sadar ia malah penasaran dengan sosok Juna. Tak suka basa-basi dan cenderung posesif sepertinya. Kalau saja sifat ini yang dimiliki Nathan, pasti hubungan Dira dengan Nathan tak akan stuck di HTS melulu. Begitu pikir Dira dalam batin. Tipikal idaman Dira ya begini, sat set sat set. Batinnya jadi menghalu ke mana-mana. Keduanya masuk mobil. Juna baru saja menutup panggilan telepon. Ia mengabarkan ke temannya untuk mengambil motor Dira dan mengantarkan ke alamat tujuan. "Mau ke mana?" tanya Juna. "Ke Indogros*r. Ada beberapa barang yang mau kubeli. Nanti baliknya aku naik ojek onlen saja. Kamu bisa pulang duluan." "Baguslah. Akan kutemani. Ada yang mau kubeli juga." "Bener-bener niat banget ya?" Juna menoleh sekilas. Ia mengalihkan pandangan ke stereo mobil. Memilah lagu dan mulai memutar musik yang dipilih. ** Aku dilahirkan bukan untuk menyakitimu Tapi kudigariskan tak membahagiakan hidupmu Suatu hari nanti jika hadir si buah hati Ku harap selalu tak seperti diriku ** Mendengar lagu tersebut, tanpa sadar Dira ikut bernyanyi. Sampai membuat Juna cukup kaget kaget, tak menyangka gadis seperti Dira tahu lagu ini. ** Janganlah menangis terkadang cinta itu sadis Dan janganlah marah terkadang cinta bikin susah Mungkin ku b******n tapi bukan penjahat perang Yang slalu menikam tanpa belas kasihan Biarlah hujan menyirami kesalahan aku ini Biarlah bulan menyinari penyesalan aku ini Biarlah bintang menikmati kepedihan aku ini Biarlah semua jadi saksi yang ku alami ** Musik yang terdengar sederhana tapi sampai ke hati. Lirik yang begitu jujur dan mendalam. Juna terpekur untuk sesaat. Seakan ada yang melintas bebas dalam ingatannya. "Kamu tau lagu ini?" ujarnya kemudian. "Tau dong. Aku suka lagunya. Pas Band judulnya Aku kan?!" terkanya yakin. Pria di sampingnya mengangguk membenarkan. "Jarang perempuan tau lagu-lagu begini." "Maksudmu aku bukan perempuan gitu?" "Bukan. Langka saja gitu. Kenapa suka lagu ini?" "Ehm... liriknya kedengeran jujur dan dalem banget maknanya. Musiknya juga enak didenger walau bikin hati trenyes-trenyes. Kalau kamu?" "Aku?" "Suka lagu ini kah? Kenapa?" "Ya, aku suka." "Kenapa?" Ia terdiam sesaat, lalu mengatakan, "Karena sesuatu..." dengan nada rendah, seakan menyembunyikan sembilu dalam jiwanya. Suasana menjadi hening sepanjang perjalanan. Sampai mobil berbelok ke tempat perbelanjaan yang dituju. Keduanya turun bersamaan dan masuk ke dalam. Dira mengambil satu troli besar. Ia mendorongnya, tapi kemudian diambil alih oleh Juna. Gadis itu tak menggubris dan hendak mengambil satu lagi, sayangnya ia ditahan dan dilarang oleh Juna. "Kenapa sih?!" keluhnya setengah frustrasi. "Satu troli apa nggak cukup? Kamu mau borong berapa troli?" "Ya cukup, tapi gimana sama belanjaan kamu?" "Aku cuma mau ambil beberapa barang. Jadi satu saja." "Yakin?" Juna mengangguk mantap. Alhasil mereka pun masuk berbarengan. Ketika melintasi area masuk samping bagian informasi, suara seseorang mengejutkan pendengaran Dira. "Dira!" pekik seseorang mengulangi panggilan. Barulah Dira sadar siapa yang memanggil. Ternyata teman lama yang masih betah kerja di sini. Namanya Nia. "Masih hobi teriak-teriak kamu, Ni?" kata Dira sambil geleng-geleng kepala dan berdecak sekilas. Gadis berhijab biru itu mesem sambil menghampiri Dira. "Lama nggak ke sini kamu!" "Sibuk tau. Ini aja nyempet-nyempetin." "Ehem, siapa nih? Pacar baru?" Nia menyenggol lengan Dira sembari mengkode ke arah Juna yang sibuk mengecek ponsel. "Ehm..." "Pacarmu ganteng-ganteng ya? Bagi satu kenapa?!" gurau Nia menimpali. "Beberapa bulan lalu ke sini sama cowok juga cakep. Ini beda lagi, malah lebih cakep. Memang luar biasa seleramu, Dir. Pantes aja dikejar-kejar anak sini nggak ada yang nyantol." "Bukan nggak ada yang nyantol, Nia. Tapi memang mereka saja yang hobi ngegodain temen sendiri. Jadinya malah nggak naksir. Sudah tau duluan tabiatnya." Nia tertawa membenarkan. "Mau belanja bulanan kah?" Dira mengangguk. "Aku masuk dulu, keburu kemaleman ntar tutup lagi!" "Masih lama kali. Dua jam lagi." Selesai ngobrol singkat, Dira melanjutkan masuk ke dalam. Sementara Juna di belakangnya mendorong troli. Mengamati tiap kali barang-barang pilihan Dira taruh di keranjang dorong tersebut. Dari mulai mie instan, snack kentang, air mineral, s**u fermentasi, detergen, dan sejenisnya. Ia memperhatikan gadis yang sibuk melihat daftar belanjaan di catatan dalam ponselnya. "Belum lengkap tanpa ini!" Dira mengambil beberapa bungkusan jely beraneka rasa buah-buahan. Ia melirik sekilas ke arah Juna. "Sudah ambil barang yang kamu cari?" "Di sini kayaknya nggak ada. Sudah lihat-lihat dari tadi, belum ketemu." "Memangnya apa yang kamu cari?" "Salah satunya, jodoh." Juna bergurau dengan tampang datar. "Hah?" Dira melongo. 'Pria yang aneh,' gumamnya bermonolog dalam hati. == DHSC ==
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD