"Congrats buat wisuda loe ya, Lily!" ucap Thalita sembari cipika cipiki dengan kakak angkatannya yang sudah lulus dan diwisuda tadi siang.
Lily Pranata pun tertawa riang dan membalas, "Thank you, Tha. Loe juga kuliah yang rajin biar cepet wisuda. Oya kalo mau minum pesen aja, gue yang traktir pokoknya. Bilang ke bartendernya, lo temennya Lily pasti paham buat add order loe ke bill gue, oke? Have fun ya!"
"Siplah. Gue ke bar dulu deh kalo gitu. Sampai nanti ya!" pamit Thalita lalu melangkah ringan menuju ke meja bar melingkar di salah satu sudut ruangan Herofah Bar and Discotique.
Lampu sorot diskotek berpendar di atas lantai dansa menimbulkan efek gemerlap yang meriah seiring musik DJ yang rancak. Para pengunjung pria dan wanita tumpah ruah berjoged ajojing di lantai dansa.
Gadis itu memesan segelas Long Island lalu meminumnya sekaligus sampai habis dan berlanjut ke Whiskey Smash. Bartendernya pandai meracik koktail yang enak menurut Thalita. Dia memesan segelas minuman lagi yaitu Mojito mumpung gratis dan suasana malam itu begitu meriah. Teman-teman kampusnya silih berganti mengobrol ringan bersamanya dan tertawa riuh di meja bar.
Thalita tidak tahu bahwa sedari tadi dia duduk di sana dan menenggak berbagai jenis cocktail beralkohol ada seorang pria yang memerhatikannya penuh minat.
"Bro, bikinin Blackberry Margarita buat cewek cakep yang itu tuh. Bilang kalo itu dari gue!" pesan pria blasteran berparas tampan yang mengenakan setelan jas warna biru donker.
"Siap, Bos!" sahut bartender lelaki berkucir itu lalu dengan lincah tangannya meracik koktail berwarna merah pesanan kliennya barusan.
Setelah jadi racikan minuman lezatnya itu diserahkannya ke Thalita seraya berkata, "Nona Cantik, ini dikirim gratis buat loe dari cowok itu!"
Tatapan mata berbentuk biji almond yang dinaungi bulu mata lentik itu beralih dari si bartender ke pria tampan yang ditunjuk oleh pemuda itu. 'Ehh ganteng juga si mas itu!' batin Thalita tersipu menerima senyuman manis dan toast dari jauh dari pria muda tersebut.
"Bilangin thank you ke dia ya. Gue nggak kenal soalnya, Mas!" ucap Thalita terkikik separuhnya akibat pengaruh alkohol dalam aliran darahnya.
"Kenalan dong, Non. Itu kode kalo dia pengin kenalan sama loe tuh!" balas si bartender menyeringai tampan kepada Thalita.
Akhirnya pria yang mengirimkan Margarita tadi yang mengambil langkah mendekati Thalita terlebih dahulu. "Hola, Cantik! Boleh tahu nama loe nggak?" ucap pria tampan berperawakan gagah tinggi menjulang itu di hadapan Thalita.
Sebuah tangan terulur ke hadapan gadis itu dan segera dijabat olehnya. "Thalita Teja Kusuma," ucapnya yang sekilas seperti mengirimkan syok terapi ke wajah pria tersebut.
'Teja Kusuma? Apa dia punya hubungan pertalian darah dengan Brian Teja Kusuma, rival bisnis gue yang itu?!' batin pria itu ragu-ragu menebak dalam hatinya.
"Indra Gustavo, Nona Cantik. Apa saudaraan sama Brian Teja Kusuma?" selidik pria itu sambil berdiri menyandar di meja bar memandangi wajah Thalita.
"Itu abang gue sih. Apa Mas Indra kenal?" balas Thalita sedikit terkejut.
"Kenal dong, kerjaan kami satu sektor bisnis kok! Diminum dulu deh Margarita-nya lalu kita lanjut ke dance floor yuk habis ini?" ujar Indra Gustavo memikirkan sebuah ide cemerlang.
Pagi ini Carlos Albruch, sobat kentalnya menghubunginya untuk tawaran tender project ayahnya. Syaratnya agak konyol karena harus menikah terlebih dahulu. Sialnya dia itu playboy, hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya. Menikah bagaikan momok tersendiri baginya.
Dengan satu tenggakan panjang, minuman berwarna merah di gelas bertangkai panjang itu tandas oleh Thalita. Sontak kepalanya pening karena kadar alkohol yang berakumulasi semakin tinggi dalam aliran darahnya. Namun, dia bertahan.
"Ayo, Say kita ke joged bareng!" ajak Indra menarik tangan gadis cantik dari keluarga Teja Kusuma itu lalu merengkuhnya sambil berjoged ria menikmati hingar bingar musik techno DJ di antara lautan manusia yang bergoyang semau mereka.
Indra melingkarkan tangannya ke perut Thalita dari belakang punggung gadis itu sambil bergoyang. "Loe cantik banget, Tha!" bisiknya di telinga Thalita lalu memagut daun telinganya.
"Hmm ... makasih, Mas!" sahut Thalita terkikik geli menanggapi rayuan gombal pria yang baru dikenalnya. Pada kondisi normal dia tak akan mau disentuh kelewat mesra oleh pria manapun. Namun, saat ini dia sedang mabuk.
Bibir Indra Gustavo mulai melumat bibir gadis manis itu lalu turun ke sepanjang leher mulus beraroma parfum mewah seperti floral fruity yang menaikkan birahinya. Ketika tangannya mulai menjamah bulatan-bulatan ranum di tubuh Thalita, respon gadis itu justru berupa desahan bukannya tamparan. Dari situlah Indra mulai merasa yakin perangkapnya malam ini akan berhasil.
Setelah setengah jam berjoged, tubuh Thalita mulai sempoyongan tak mampu berdiri tegak sendirian. Maka Indra pun membopongnya meninggalkan lantai dansa dan bergegas menuju ke parkiran mobilnya.
"Thalita, ikut Mas ya?" tanya Indra mencoba mengetest apakah gadis itu masih sadar sembari menyetir mobil menuju ke salah satu hotel bintang 5 di Jakarta Pusat.
"Hmm ... yaa—" racau gadis itu dengan kelopak mata berat setengah terpejam.
Indra menyeringai puas. 'Kena loe, Brian! Kita rival, tapi soal keberuntungan gue lebih bagus. Gue bakal kawinin adik loe buat dapetin kontrak dari Mister Rodrigo yang susah banget didapetin karena loe monopoli semuanya!' ujar pria itu dalam hati bersorak gembira.
Sesampainya di Hotel Mercury Plaza Indra Gustavo segera memarkir mobil di lantai Lower Ground lalu memapah Thalita naik lift menuju lobi untuk check in kamar hotel. Prosesnya mudah karena memang dia sudah biasa mengajak perempuan bermalam di hotel itu. Resepsionis sudah paham dengan kebutuhannya one-night-stand.
Kartu akses kamar pun diterima oleh Indra dengan cepat lalu ia memapah Thalita lagi ke lift untuk naik ke lantai 10 di mana kamar sewaannya berada. Tubuh gadis itu lunglai dalam dekapannya.
"Oughh ... di mana ini?" lenguh Thalita dengan pandangan kabur bergoyang-goyang.
Indra segera membawanya masuk ke dalam kamar hotel nomor 1004. Dia menendang pintu hingga menutup kembali dan menancapkan kartu akses ke sakelar daya ruangan. AC pun menyala membuat sejuk kamar deluxe executive itu.
Tubuh ramping Thalita direbahkan perlahan oleh Indra ke tengah ranjang. Pria itu mencopot stilleto hitam di kedua kaki Thalita dan meletakkannya di bawah kaki tempat tidur. "Tha, apa loe denger suara gue?" tanya Indra yang rebah di samping gadis itu.
"Hmm?" Mata gadis itu enggan membuka hanya bibirnya yang komat kamit tanpa suara jelas.
"Loe tuh cantik beneran. Beruntung banget gue bisa nikmatin malam ini sama loe!" ujar Indra dengan tatapan jahat memandangi wajah Thalita yang merona akibat pengaruh alkohol.
Tanpa membuang waktu karena hari sudah nyaris tengah malam. Indra pun segera melucuti pakaian Thalita dan juga bajunya sendiri hingga mereka berdua telanjang. Malam ini dia akan menggarap adiknya Brian Teja Kusuma dan memaksa gadis itu menikah dengannya besok pagi.
Sama seperti biasanya ia memberikan cumbuan pembukaan yang membuat partner ranjangnya menjadi basah keintimannya. Tubuh Thalita menggelinjang saat disentuh di titik-titik sensitifnya oleh tangan dan bibir serta lidah pria itu.
"Mmhh ... panas!" rajuk Thalita meremat-remat rambut tebal di kepala Indra yang sedang membenamkan wajahnya di lembah di antara pangkal paha gadis itu.
Aroma kewanitaan yang terawat bercampur dengan harumnya sabun mandi mahal membuat Indra semakin bernapsu menikmati lipatan lembut nan lembab itu. Belaian lidah dan isapannya membuat cairan kenikmatan Thalita meleleh deras keluar. "Aarrhh!" pekik gadis itu dengan tubuh mengejang kecil.
"Baguslah, sampai klimaks 'kan? Sekarang giliran gue ya!" ujar Indra memosisikan dirinya berlutut di hadapan liang sempit Thalita.
Ketika ia mendorong batang keperkasaannya yang menegang penuh seakan ingin meledak itu ke pintu surga dunia. Ada penghalang di pintu tersebut, tetapi dia tetap mendorongnya dengan lebih kuat hingga gadis itu merintih kesakitan.
"Ougghh! s**t ... dia masih perawan!" maki Indra sedikit bimbang, tetapi tak lama setelahnya ia pun tersenyum licik sembari menghunjam dalam-dalam membuat Thalita mendesah dalam kenikmatan bersamanya.