Mereguk Kenikmatan Terlarang

1065 Words
"AAARRGGHH!" Geraman maskulin di puncak kenikmatan surga dunia itu terdengar menggema di dalam kamar hotel deluxe executive itu untuk kesekian kalinya. Perawan yang digarap oleh Indra Gustavo sejak beberapa jam lalu sudah hilang kesadaran. Sebagian karena kelelahan melayaninya selain alasan di bawah efek mabuk minuman keras yang ditenggaknya di diskotek tadi malam. "Buseett, gue kenapa kayak keranjingan begini sih ngawinin perem!" ucap Indra lebih kepada dirinya sendiri. Peluhnya bercucuran di sekujur tubuhnya yang kekar berotot hasil bentukan di gym. Dia bukanlah kuli melainkan eksekutif muda perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi bangunan dan properti berkelas nasional. Akhirnya Indra melenggang menuju ke kamar mandi hotel untuk membilas sisa kepenatan pasca bergumul bersama Thalita Teja Kusuma. Begitu mendengar nama belakang gadis itu dan konfirmasi bahwa dia adalah adik Brian, rival bisnisnya. Indra makin bersemangat untuk mengerjai perempuan cantik itu. Pucuk di cinta ulam pun tiba, begitulah istilahnya. Dia belum punya kandidat yang tepat sebagai calon istrinya demi menyanggupi persyaratan tender megaproyek dari Mister Rodrigo Albruch. Sengaja ketika dia menyetubuhi Thalita sebanyak 4 kali tadi, Indra tidak menggunakan pengaman di organ intimnya dan semua disembur ke dalam rahim subur gadis perawan tersebut. Air shower yang hangat menghujani tubuh Indra dan pria itu menggosok kulitnya dengan sabun mandi dari hotel. "Aahh ... nikmatnya malam bersama perawan cantik, adik rivalku pula. Nikmat apa yang kau dustakan, Ferguso?! HA-HA-HA!" ujar Indra seraya tertawa kegirangan. Rasanya ia tak sabar menunggu hingga besok pagi untuk melihat reaksi Thalita bila tahu mahkotanya sebagai seorang perempuan telah tercuri olehnya. Usai mandi Indra mengeringkan badan dengan handuk lalu keluar dari kamar mandi. Sedikit kaget karena Thalita sudah bangun, tadi dia pikir gadis itu masih terlelap karena kelelahan serta mabuk berat. "Siapa loe? Apa yang loe lakuin ke gue? b******k!" ucap Thalita dengan tatapan mata tajam ke Indra yang berdiri mematung di depan pintu kamar mandi. Namun, pria playboy yang sudah sering meniduri wanita mabuk hasil buruannya di night club itu menanggapi dengan ringan pertanyaan bernada keras dari adik rival bisnisnya tersebut dengan santai. "Semalam loe bilang 'enak Mass ... lagi Mass!' lantas baru beberapa jam udah lupa begitu? HA-HA-HA. Dasar bocah!" ejek Indra Gustavo sambil menertawakan Thalita yang tidak sedang dalam mood yang baik. Thalita seolah kehilangan kata-katanya karena syok mendengar ucapan pria asing yang berani-beraninya menghina dirinya. Dia membuka bed cover putih yang menutupi tubuh telanjangnya dan melihat bercak darah yang mengering di seprai putih yang ada di bawah pahanya. Pria itu tahu apa yang sedang dipikirkan Thalita lalu ia pun berkata lagi, "Non, kalo ntar loe ngecek pake test pack kehamilan ada dua garis merah berarti itu benih gue yang jadi embryo. Hmm ... gimana kalo kita nikah aja hari ini?" "Apa loe sudah gila? Semalam kenalan langsung kawin terus ngajak nikah. Duh gue apes bener ketemu cowok psycho macem loe!" sembur Thalita dengan mata yang berair. Dia bangkit dari ranjang untuk segera kabur pulang ke rumahnya. Namun, dia melupakan bahwa dirinya tak memakai selembar benang pun. "Aaaaww!" jeritnya malu yang sontak disambut tawa geli dari Indra. "Woiiii ngapain malu sih? Onderdil loe tuh udah gue liat semuanya semalem, no sensored!" ujar Indra sembari menerkam tubuh polos Thalita lalu membantingnya ke atas ranjang kembali. "LEPASIN! LEPASIN GUE, DODOOOLLLL!" teriak Thalita sembari meronta di bawah tindihan serta dekapan Indra yang begitu kuat perkasa. "Kagak. Udah kita senam ranjang pagi-pagi aja ya, Sayang? Abis itu langsung ke catatan sipil deh, biar sah. Hohoho!" balas Indra somplak tak takut dengan kemarahan gadis yang semalam ia perawani itu. "Loe mau mendekam di penjara? Gue mau lapor ke polisi kalo udah diperkosa semalem sama loe, b*****t!" ancam Thalita tak mau kalah. Dia masih terus berusaha melepaskan diri dari belitan dua lengan berotot yang tak mau memberinya celah sedikit pun untuk kabur. Mulut Indra melumat bibir mungil merah jambu yang cerewet itu agar tidak merepet lebih panjang lagi. Sementara Thalita gelagapan menerima serangan ciuman ganas pria yang baru dikenalnya tadi malam. Teriakannya seolah hanya tenggelam dalam tautan bibirnya dengan Indra. Tanpa memedulikan ancaman Thalita yang ingin menjebloskannya ke penjara karena tuduhan pemerkosaan. Indra melebarkan pangkal paha perempuan cantik itu lalu mendorong pinggulnya hingga bagian kejantanannya menerobos liang yang masih sempit dan elastis milik Thalita Teja Kusuma. Sepasang mata jernih itu melebar terkejut oleh sensasi aneh di bagian inti kewanitaannya. Tadinya ia ingin berteriak, tetapi tak bisa. Justru perasaan kenikmatan akibat penyatuan dua sisi keras dan lembut itu membuatnya serasa melayang-layang tinggi seakan-akan tak lagi menapak ke permukaan bumi. Melihat Thalita merasa keenakan dan tanpa sengaja justru melenguh pelan, Indra pun tersenyum bangga. Jagoannya memang berpengalaman membuat kaum Hawa lupa daratan. Dia akan membuat adik Brian Teja Kusuma jadi b***k ranjangnya nanti, lihat saja batin pria itu diam-diam. Sembari menghunjam ritmis dan dalam, Indra mencoba memberikan sebuah kecupan ringan di bibir Thalita lagi. Namun, di luar dugaannya bibirnya justru berbalik diisap kuat oleh perempuan tersebut. Batang keperkasaannya sontak bertambah keras di bawah sana hingga nyaris meledak saking bernapsunya. 'Ohh ... gue suka cewek modelan begini! Cepet belajar dia ternyata ... hmm,' batin Indra membiarkan Thalita melakukan apa pun yang diinginkannya secara alamiah karena sedang terangsang berat oleh dirinya. "Aaakkkhh!" pekik kecil Thalita saat dirinya meluapkan cairan kental beningnya di bawah sana sementara tubuhnya mengejang sekejap mata karena efek puncak kenikmatan yang digapainya bersama pria asing itu. Ada rasa malu di dalam diri perempuan muda tersebut. Namun, nikmat yang ia rasa barusan tak dapat disangkalnya. Ditambah lagi tatapan mata cokelat keemasan pria blasteran yang sebetulnya good looking itu membuatnya mabuk kepayang. "Kenapa kok loe pelototin gue begini? Naksir ya?" goda Indra terkekeh menyebalkan. Thalita yang sudah dibikin puas mulai merajuk dan memukuli d**a bidang berbulu lebat itu dengan kepalan tangan kecilnya. Namun, dengan segera Indra menangkap kedua pergelangan tangan perempuan itu dan menahannya di kanan kiri kepala Thalita. Sembari menggenjot tubuh molek nan mulus di bawahnya, Indra menjelajahi gunung kembar berpuncak merah kecoklatan yang nampak menantang di hadapannya. Dia mengulumnya dan menggoda puncak yang mengeras oleh hasrat murni itu dengan sapuan lidahnya. "Aarrhh ... mmhh ... NO!" racau Thalita dengan mata yang merem melek tersiksa gairah. "Yess, Baby ... say yess!" balas Indra lalu memagut kembali bibir Thalita hingga semakin bengkak karena ulahnya. Matahari mulai mengintip di balik awan dan sinarnya menerobos tirai putih tipis kamar hotel yang ditempati muda mudi tersebut. Pergumulan yang tadinya dirutuki oleh Thalita Teja Kusuma pun berubah menjadi candu bagi tubuh polosnya. Dia yang perawan telah mengenal kenikmatan seksual dengan seorang pria. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD