"Ara, pulang!"
Suara Kristal memenuhi langit langit rumah bertingkat itu, melangkah riang memasuki dapur dan menemukan Mama seperti biasanya berkutat didapur dengan aroma menggiurkan.
"Udah pulang, Sayang?"
Kristal memeluk Mama dengan erat, mengecup pipinya sekilas lalu menjawab.
"Iya, Ma. Papa mana?"
"Masih di rumah sakit, kamu sendiri?"
Mama menatap sekitar dan tidak menemukan Inggrid yang seperti biasa mengekorinya kemana mana.
"Katanya Inggrid ada makan malam sama Papanya."
"Ya udah, mandi gih!"
"Siap, Ma!"
Mama hanya melemparlan senyuman hangatnya, membiarkan Kristal bergegas beranjak meninggalkan dapur dan meniti tangga menuju lantai dua.
Kristal mendorong pintu berbingkai putih itu dengan tenang, menutupnya lalu menghela nafasnya dengan berat. Kristal meletakkan paper bagnya dilantai, menatap ruangan yang di d******i warna putih itu lalu melangkah tanpa suara menuju buket bunga yang sudah mengering disisi kamarnya.
Hening yang panjang.
Jemari Kristal menyentuh kelopak bunga yang tampak rapuh itu dengan hati hati, menarik nafasnya dengan tenang lalu menatap deretan foto disana dengan senyum samar.
Foto kelulusannya di masa SMA.
Melihat itu membuat Kristal tanpa sadar menyentuh rambut panjangnya, mengingat sejak saat itu ia tak pernah lagi memotong rambutnya.
Tidak sekalipun.
Menghela nafas sekali lagi, Kristal membuka jaketnya. Mengambil pakaian santai dilemari dan memasuki kamar mandi, menahan nafas saat menemukan dirinya di pantulan kaca.
Mengerjap sekali, Kristal bergegas mengikat rambut dan membuka lensa matanya. Tidak ingin terlalu lama menatap wajahnya sendiri, tidak ingin tahu sebanyak apa dirinya telah berubah.
Kristal mengganti pakaiannya, bergegas keluar dan melangkah menuju meja didekat jendela. Membuka kotak kaca mata disana dan memulai rutinitasnya nyaris tiga tahun terakhir ini, berkutat dengan buku buku tebal dan soal memusingkan yang tentu saja mencuri lebih banyak waktu dan pikirannya.
Sudut bibir itu terangkat.
Tersenyum ironis lalu meraih pena dan mulai tenggelam dalam dunianya.
**
"Selamat malam, Tante!"
Suara Inggrid memenuhi rumah Kristal tepat saat jam menunjukkan pukul delapan malam, tersenyum lebar saat Mama yang seperti biasa terlihat tenang dengan senyum hangatnya menyambut kedatangan tak terduga Inggrid seperti biasa.
"Hai, Sayang. Mau main?"
"Iya, Tan! Mau ngajakin Kristal ke Mall, boleh gak?"
Mama kembali tersenyum, menepuk ringan lengan Inggrid lalu mengangguk pelan.
"Boleh ko, asal pulangnya jangan lewat tengah malam yah?"
"Siap Tante!"
Sahut Inggrid dengan semangat, Kristal yang melihat semua itu nyaris memutar bola matanya malas. Teringat bagaimana Inggrid nyaris tak sadarkan diri saat mengetahui Isabel adalah Mama Kristal, bagaimanapun gadis yang biasanya selalu menujukkan tatapan sengit itu adalah salah satu penggemar Mama dan Papa.
"Mau kemana Ara?"
Papa yang mendengar keributan ikut bergegas keluar, tersenyum saat menemukan Inggrid yang seperti biasa menatap Mama dan Papa dengan antusias.
"Inggrid pengen beli B-"
"Malam, Om! Maaf, aku pinjem Kristalnya dulu yah? Kita berangkat sekarang, nanti kemaleman!"
Mereka akhirnya berpamitan pada orang tua Kristal, bergegas beranjak dengan mobil Merah mengkilap milik Inggrid yang seperti biasa membuat siapa saja melemparkan tatapan iri padanya.
"Lo gila yah!?"
"Apaan?"
Kristal mengerjap sekali, menaikkan alisnya pada Inggrid yang mengemudi masih dengan dress ketat berwarna hitam dibalik jaketnya. Kalau saja Kristal tidak mengatakan tentang makan malam Inggrid dan Ayahnya atau Kristal yang saat ini hanya mengenakan jeans dan hoodie abu abu dengan rambut dicepol tanpa lensa kontaknya, mereka mungkin akan mengira jika Kristal dan Inggrid akan mengunjungi pub malam ini.
"Maksud lo apaan tadi? Lo mau bilang ke bokap lo gitu, kalau gue mau beli bikini!?"
Kristal memperbaiki letak kacamata, melemparkan senyuman yang membuat Inggrid gondok sendiri.
"Ga usah senyam senyum lo!"
Gerutu Inggrid menaikkkan kecepatan mobil sportnya, berdecak pelan lagi lagi menemukan senyuman memuakkan gadis itu.
Well, Kristal dimasa lalu memang sama menyebalkannya tapi Kristal yang saat ini duduk dengan tenang disampingnya bukan lagi Kristal yang selalu terkekeh percaya diri dan melakukan apapun yang diinginkannya.
Hanya Kristal yang lebih banyak melemparkan senyuman dan bersikap lebih tenang, tentu saja senyuman yang membuat Inggrid mencengkram kemudinya semakin erat.
"Oh yah, gue mau kerumah Nyokap gue. Lo mau nitip sesuatu gak buat Prinka sama Camelia?"
"Kapan?"
Kristal yang sejak tadi hanya menatap jalan menoleh kearah Inggrid yang mengemudi, kedua orang tua Inggrid sudah bercerai sejak gadis itu kecil jadi tidak mengejutkan bagaimana Inggrid berakhir di Ibu kota dimana Ayahnya berada sementar Ibunya masih tinggal ditempat dimana Inggrid menghabiskan masa kecil hingga masa sma nya.
"Lusa, maybe!"
Sahut Inggrid nyaris menggumam.
"Yaudah."
"Yaudah apa?"
"Gue nitip apa gitu."
Sahut Kristal yang membuat Inggrid berdecak pelan, meskipun gadis itu mungkin lebih banyak berubah, tatapan tidak peduli pada sekitarnya dengan mata mengantuknya membuat Inggrid percaya jika Kristal dimasa lalu itu masih ada disana.
Bagaimanapun.
Mereka bukan lagi remaja ingusan.
Atau mungkin ini karna patah hati?
"Lo masih mikirin Pak Andra?"
Inggrid menoleh sekilas, menemukan Kristal yang menegang seperti biasa saat nama yang seharusnya tak lagi terdengar itu kembali terucap.
Masih terlihat jelas.
Bagaimana Kristal bahkan masih menyimpan kiriman buket bunga pemberian Andra di hari kelulusan mereka melalui Bara tentu saja, sejak saat itu bahkan hingga detik ini tak pernah sekalipun terdengar kabar tentang pria itu.
Tapi Inggrid hanya ingin memastikannya sendiri.
"Masih."
"Jangan bilang lo juga masih nungguin Pak Andra?"
Terdengar helaan nafas berat dari gadis itu, Inggrid kembali menoleh sekilas saat menemukan Kristal yang lagi lagi hanya melemparkan senyuman memuakkannya.
"Gue ga pernah nunggu siapa siapa ko."
"Terus bunga di-"
"Inggrid."
Suara yang mulai terdengar bergetar itu membuat Inggrid memaki, menginjak pedal gasnya semakin dalam dan kembali melemparkan tatapan sengit pada Kristal yang diam diam mencengkram ujung hoodienya.
"Kalau gitu, kenapa lo ga coba cari cowo baru dan mulai pacaran?"
"Gue ga pacaran."
Inggrid memutar bola matanya malas, berbelok memasuki antrian karcis parkiran dan kembali menatap Kristal sekilas.
"Yaudah, ga harus pacaran. Seenggaknya cari gebetan, nge date!Biar lo ga ngenes ngenes amat coba!"
"Emang lo punya?"
"Anjeng!"
Inggrid memaki kencang, memarkir mobilnya dengan suara decitan ban keras dan melemparkan tatapan membunuh pada Kristal yang sialnya lagi lagi hanya melemparkan senyuman.
"Enggak kan?"
"Gue punya!"
"Masa?"
"b******k!"
Inggrid nyaris menghantam kepalanya sendiri pada kemudi dan Kristal mengedikkan bahunya tidak peduli.
"Kalau lo punya pacar gue bakal nge date!"
"What!?"
Kristal bergegas turun dari mobil, meninggalkan Inggrid yang melotot tidak percaya sebelum ikut turun dan mengekori gadis itu.
"Lo becanda kan?"
"Gue serius."
"Lo mau nge date sama siapa?"
"Terserah sih."
"Lo gila!?"
Inggrid menjerit histeris, tidak peduli berpasang mata yang mencuri tatapan kearah mereka. Kristal berdecak pelan, tidak peduli dan melanjutkan langkahnya.
"Ya, gue kan lagi ga deket siapa siapa."
"Gimana kalau gue beneran punya pacar?"
Kristal menoleh kearah Inggrid sekilas, memperbaiki letak kacamatanya dan kali ini melemparkan senyuman penuh arti.
"Gue bakal nge date sama siapa aja."
"Termasuk Yse?"
"Mungkin?"
"Anjir, Kristal!"
Kristal mengedikkan bahunya tidak peduli dan Inggrid mulai memaki dengan kesal saat teringat salah satu senior satu tingkat diatas mereka, masih menggumamkan sumpah serapah sebelum menyadari Kristal yang tiba tiba menghentikan langkahnya.
Memekik keras.
Inggrid membekap mulutnya sebelum menjeritkan kata kata kotor saat menyedari pria yang berdiri dengan penuh percaya diri, tersenyum lebar penuh antusias pada mereka.
Lebih tepatnya pada Kristal.
"Jadi, kita kencan?"
**