**
"Jadi?"
"Apa?"
Kristal menyahut dengan tatapan tak terbaca, melihat itu membuat Yse tersenyum semakin lebar. Pria yang sedang bersama ketiga temannya itu sialnya mengenakan hoodie dengan warna yang sama dengan Kristal, terdengar jelas umpatan tertahan inggrid dan siulan menggoda teman Yse dibalik punggungnya.
"Kita kencan?"
"Ya, kalau."
"Kalau?"
Kristal mengedikkan bahunya tidak peduli, menatap Inggrid yang melotot kearahnya dan kembali membuka suara.
"Kalau dia punya pacar."
"Setan!"
Inggrid menyumpah saat menemukan tatapan penuh arti Yse dan senyuman menyebalkan disudut bibirnya.
"Oh, bukannya lo pacaran sama Rio?"
Inggrid mulai panik saat Kristal menoleh kearahnya dengan penuh tanda tanya.
"Yse, Anjeng!"
Dan pria itu hanya tertawa kecil dengan seringaian penuh kemenangan.
"Besok kita jalan, gimana?"
Hening yang panjang, Kristal masih menunjukkan tatapan tak terbaca saat mengabaikan Inggrid melotot penuh peringatan padanya dan menatap Yse yang lagi lagi menunjukkan senyuman lebar dan mata keemasan yang mengkilat penuh rencana.
Sama seperti saat mereka bertemu pertama kali waktu itu.
Kristal menahan dengusan sinisnya.
"Oke."
"Lo gila yah!?"
Masih mengabaikan jeritan tak percaya Inggrid dan sorakan teman teman Yse, Kristal kembali membuka suara.
"Cuma sekali aja tapi."
"It's okey, karna berikutnya lo udah pasti jadi pacar gue!"
Kristal mengangkat alisnya, menatap seringaian percaya diri Yse dan menarik Inggrid agar segera beranjak dari sana.
"Eh, tunggu!"
"Apa lagi?"
"Gue jemput dirumah yah?"
"Kristal!"
Mengabaikan teriakan peringatan Inggrid dan kembali membuka suara.
"Emang lo tau rumah gue?"
"Ya makanya kasih tau."
Kristal memutar kepalanya, nyaris membuka suara sebelum Inggrid lebih dulu menjawab Yse.
"Biar gue yang nganter Kristal!"
"Gue nanya Kristal."
"Jemput dirumah gue kalau gitu!"
Sahut Inggrid dengan cepat, sekali lagi melotot kearah Kristal dengan penuh peringatan dan kembali menatap Yse.
"Lo tau kan rumah gue dimana?"
"Gue mau jalan sama Kristal, kenapa harus lo mulu yang jawab sih?"
"Anjing! Lo bisa nge date sama Kristal juga karna gue!"
Inggrid semakin sengit, nyaris kembali melemparkan makian sebelum Kristal tiba tiba membuka suara.
"Hp."
"Iya?"
"Hp lo mana?"
Senyuman Yse seketika melebar, matanya terlihat berkilat dengan tajam saat mengulurkan benda persegi itu sementara Inggrid diam diam mengamati dengan sengit kedua teman Yse yang datang bersamanya
"Gue hampir lupa, ini temen kelas gue. Yuno sama Gerry."
"Oh, Hai."
Kristal mengembalikan ponsel Yse sebelum melemparkan senyuman ringan pada kedua teman Yse yang hanya mengangguk dengan senyuman .
"Udah kan? Ayo, Kristal."
Tepat sebelum Inggrid menyeret Kristal agar segera beranjak dari sana, Yse sudah lebih membawa gadis itu dalam rangkulannya.
"Lo-"
"Kita keatas, disini rame soalnya."
Pria itu mengedikkan dagunya pada security yang terlihat melangkah kearah mereka, Inggrid menyumpah tidak lagi peduli pada kedua teman Yse yang mulai menggiringnya mengekori Yse yang masih merangkul Kristal.
"Kristal."
"Hm."
"Hei."
"Apaan?"
Gadis itu akhirnya mengangkat wajahnya, membalas tatapan Yse yang semakin menunduk dan tanpa kata menarik kaca mata Kristal yang tersampir dihidung mungilnya.
"Lo ngapain sih?"
Kristal menaikkan alisnya saat pria yang selalu menunjukkan senyuman main main dan kilat penuh rencana dimata keemasannya itu kini hanya terdiam dengan tatapan tak terbaca untuk pertama kalinya.
Kristal membuang tatapannya.
Tidak terbiasa dengan Yse tanpa senyuman main mainnya, mulai menggeliat dalam rangkulang lengan panjang pria itu dan melepaskan diri dari sana.
"Kristal?"
"Apaan sih?"
Yse kembali menarik Kristal agar berdiri tepat dihadapannya, mengangkat dagunya dan menunduk semakin dalam hanya untuk mengamati sepasang mata yang berbinar begitu indah saat tertimpa cahaya dengan iris coklat kemerahannya.
Ini pertama kalinya, Yse melihat sepasang mata Kristal sedekat ini tanpa lensa kontak dan kaca matanya.
"Cantik."
Mendengar itu dari pemilik sepasang mata tajam dengan iris indah keemasan yang selalu dipuja seanterio kampus itu membuat Kristal tak menahan dirinya mengerutkan keningnya.
"Lo gila?"
Kristal menepis tangan Yse yang terkekeh kecil didagunya, berniat melangkah mundur sebelum Yse lagi lagi menyentaknya agar bergegas beranjak dari sana.
"Lo tau gak?"
"Ga tau."
Yse menahan kekehannya mendengar gumaman Kristal yang nyaris tak terdengar, tak lagi menahan diri saat menunduk cepat dan mencuri satu kecupan kecil di pipi Kristal yang menghentikan langkahnya.
Terdiam dengan tatapan dan wajah tanpa emosi yang berati disana.
Sesuatu yang tentu saja di luar dugan Yse yang sering kali mendapat amukan gadis itu saat mencoba menyentuh rambutnya.
"Yse, Anjeng!"
Itu tentu saja bukan Kristal tapi teriakan Inggrid yang melemparkan tatapan sengit dari kejauhan dengan kepala yang berasap.
"Kristal?"
Gadis itu mengerjap sekali, namun tak urung membuka suara.
"Apaan sih?"
"Lo ga marah?"
Yse menatap penuh antisipasi, cukup terkejut menemukan reaksi yang berbeda dari gadis yang selalu terlihat penuh pertahanan itu
"Hm."
"Lo ga bakal ngamuk kan?"
"Berisik."
Kristal membuang wajahnya dan melangkah lebih dulu melewati Yse yang tak lagi menahan dirinya untuk tidak tersenyum semakin lebar dan menatap punggung mungil yang mulai menjauh dengan tatapan berkilat dimata tajam keemasannya.
Kesempatan ini.
Tentu tidak akan berlalu begitu saja.
**
Tepat saat pria jangkung itu mengejar gadis yang mengenakan hoodie berwarna yang sama dengannya itu segera berlalu, seorang pria yang yang sedang menikmati secangkir kopi yang mulai mendingin diatas mejanya itu diam diam menghela nafasnya dengan tenang.
Menatap dari kejauhan.
Mengamati gadis yang tak sekalipun ia temui dalam waktu yang sangat lama itu kini lagi lagi sedang berada dalam rangkulan pria jangkung yang tersenyum manis disisinya.
Tidak peduli orang orang yang terus mencuri tatapan pada keduanya ataupun gadis yang masih mengekori mereka dengan sumpah serapah bersama dua pria yang mencoba manahan langkahnya.
Sepasang mata tajam dengan netra segelap malam itu bergerak dengan tenang, beralih pada benda persegi yang sejak tadi mulai menggila diatas meja.
Mengabaikan tatapan penasaran penuh minat orang orang yang terlihat begitu antusias mengamatinya, jemari panjang itu meraih benda di sisi cangkir dan mngusap layar datarnya dengan cepat
"Ya, Mom?"
"Kamu dimana, Sayang? Mom udah nunggu di mobil dari tadi sama Mang Sule tau!"
"Mom sudah selesai?"
"Yaiyalah, kalau belum beres mana bisa Mom nonton Ibu Ibu ngelabrak pelakor di parkiran!"
"Oke, tunggu sebentar."
Suara berat kasar itu segera menghilang, mematikan sambungan dan meninggalkan tip diatas meja sebelum bergegas bangkit dari sana.
Kaki panjang yang dibalut celana hitam itu mulai melangkah lebar, begitu kontras dengan kemeja putih yang membungkus tubuh jangkung dan bahu lebarnya dengan sempurna.
Dasi yang longgar, beberapa kancing yang terbuka dan kemeja yang dilipat memamerkan lengan kokohnya tentu saja membuat orang orang semakin kelaparan mencuri lebih banyak tatapan kearahnya.
Menghentikan langkahnya.
Pria itu menoleh, menatap kearah dimana gadis itu menghilang diantara lautan manusia beberapa saat lalu.
Menahan nafasnya sebelum berbalik, bergegas beranjak dari sana sebelum kedua kakinya mulai kehilangan kendali.
Melangkah pergi sebelum ia mulai berlari, mencari sang pemilik debaran yang tentu saja masih belum beranjak dari rongga dadanya.
Kristal.
Kristal Arabella.
Tak lagi menahan senyuman ironi di bibirnya lalu diam diam berbisik penuh kerinduan.
"You did well, Kristall."
**
*