**
"Ara!"
"Ara, Sayang?"
Suara lembut yang memenuhi rumah sederhana bertingkat dua itu membuat Yse yang masih berdiri diberanda diam diam menitipiskan bibirnya, sama sekali tak mengira jika wanita paruh bayah yang beberapa kali ia saksikan dalam berdebatan sengit di forum formal itu membuka pintu waktu lalu.
"Iya, Ma! Bentar!"
Suara langkah kaki terdengar menuruni tangga, Yse melemparkan senyuman manisnya saat wanita paruh baya itu kembali tersenyum hangat padanya.
"Ayo, masuk dulu."
"Maka-"
"Ga usah Ma! Ara mau keluar!"
Suara itu menyela keduanya, Yse menoleh dan menemukan gadis yang selalu memenuhi kepalanya itu terlihat sangat cantik dengan jeans dan kaus peach dengan kunciran rambut ikalnya.
"Oh, kalian mau jalan?"
"Iya, Tan. Ga papa kan Kristalnya saya pinjam dulu hari ini?"
Yse membuka suara, saling melempar tatapan kearah Kristal yang mengenakan tas selempang mungil ditangannya.
"Iya, ga papa. Yang penting jangan sampai kemaleman yah?"
"Siap, Tante!"
Wanita paruh bayah itu tersenyum ringan, menatap Kristal yang mengikat tali sepatunya dengan penuh arti.
"Handphone nya udah dibawa ga?"
"Iya, Ma."
"Chargernya penuh kan?"
"Iya, Mama."
"Awas jangan diilangin lagi."
"Hiyahiya!"
Kristal mengecup kedua pipi Mama, mereka lalu bergegas berpamitan dan meninggalkan Mama yang melambaikan tangannya dari pelataran rumah.
"Hati hati!"
Yse yang berdiri disisi mobil kuning mengkilapnya segera membuka pintu untuk Kristal, melambaikan tangannya pada Mama Kristal sebelum memutari mobil dan duduk manis dibalik kemudinya.
"Kita berangkat?"
"Hm."
Kristal hanya menggumam tidak jelas, membiarkan Yse mulai menyalakan mesin meninggalkan area perumahan yang tampak lengang seperti biasa itu.
"Lo ko ga bilang kalau Mama lo ternyata Bu Isabel?"
"Ngapain?"
"Yakan, gue harus tau siapa calon mertua gue."
"Najis!"
Yse tertawa kecil, menoleh sekilas kearah gadis yang bahkan terlihat tidak terkesan dengan mobil mewahnya yang jelas akan membuat siapa saja berdecak kagum dan iri.
"Apa harusnya gue bawa motor aja kali yah?"
Gumam Yse, lagi lagi mencuri tatapan pada Kristal yang diam diam menahan nafasnya sebelum berdecak pelan.
"Kita mau kemana sih?"
"Tebak kita mau kemana?"
"Mana gue taulah!"
Yse menghentikan mobilnya tepat dipersimpangan jalan, menunggu lampu merah dan lagi lagi menoleh kearah Kristal yang masih menunjukkan wajah tidak terbacanya.
"Lo tau gak?"
"Apa?"
"Gue pengen liat lo ketawa."
Kristal akhirnya menoleh, membalas tatapan Yse dengan alis yang terangkat.
"Lo gila?"
Tak menahan senyumannya, Yse mengedipkan matanya menggoda.
"Iya, gue tergila gila sama lo."
"Yaudah!"
"Yaudah?"
"Kita ga usah jalan."
"Yah! Ko gitu?"
"Kita ke rumah sakit jiwa!"
Detik berikutnya yang terdengar hanya suara tawa Yse dan decakan Krstal yang memutar bolamatanya malas.
Benar benar.
**
Taman hiburan itu tampak lebih ramai dari biasanya, orang orang tampak berlalu lalang bersama kelompoknya. Entah bersama keluarga, sekelompok remaja dan beberapa pasangan yang terlihat menghabiskan waktu libur diakhir pekan mereka.
Melangkah beriringan.
Melemparkan canda dan tawa.
Pemandangan yang tentu saja membuat Kristal diam diam tersenyum mengamati sekitarnya.
Tapi semuanya berubah saat Yse membawanya ke salah satu wahana berhantu yang bahkan masih membuat wajah Kristal memucat.
"Hei, Are you okey?"
Kristal yang masih tampak ketakutan meremas lengan Yse semakin kuat, menoleh cepat lalu melotot kesal.
"Yse, Ih!"
"Lah, ko gue?"
"Kenapa ga bilang bilang sih!"
Kristal memukul keras lengan Yse yang mengerang namun tak menahan dirinya untuk tidak terbahak dengan keras.
"Astaga, gue ga tau kalau lo penakut!"
"Gue ga takut! Gue cuma kaget!"
Yse berusaha menahan tawanya dengan punggung tangan, Kristal benar benar tampak menggemaskan saat ini dengan bibir mencebik kesalnya.
"Iya iya, kita beli minum gimana?"
"Pengen Ice Cream."
Yse kembali tersenyum, diam diam meremas jemarinya yang benar benar gatal ingin mengusap kepala gadis itu.
Tidak sekarang.
"Yaudah, lo duduk disini. Mau rasa coklat atau-"
"Vanilla."
"Oke, jangan kangen yah!"
Kristal hanya mendelik kesal saat Yse sudah berlalu dengan cepat dari hadapannya, berdecak pelan ia lalu mengambil tempat disalah satu kursi panjang.
Menarik nafasnya dalam dalam, mengisi rongga dadanya yang tidak begitu menyesakkan seperti biasanya.
Apa Kristal harus lebih banyak bersenang senang seperti ini?
Kristal menatap semburat kemerahan yang mulai terlihat dari kejauhan dilangit, lagi lagi menghela nafasnya lalu mencari Yse yang tampak mengantri disalah satu kedai Ice Cream disana.
Yse Najenda.
Kristal tidak tahu dari mana datangnya pria itu, sejak pertama ia menginjakkan kakinya dikampus pria yang selalu menjukkan senyuman manisnya itu selalu saja datang mengganggu.
Mengekori Kristall kemana mana, menggodanya bahkan tak menahan diri membuatnya marah.
Beruntung tidak lama setelah Kristal menjadi mahasiswa baru Pria itu harus mengikuti pertukaran pelajar di negri sebrang sebagai perwakilan fakultasnya, meskipun saat Yse kembali semester lalu pria itu kembali mengganggu Kristal seperti biasa.
Hanya saja.
Bagaimana Kristal harus menggambarkannya?
Kristal berteman dan selalu dikelilingin banyak remaja pria sebelumnya, ia bahkan terlibat beberapa masalah dengan orang b******k seperti Ares sebelumnya
Tapi Yse..
"Gue lama gak?"
Yse menyodorkan Ice cream vanilla kearah Kristal yang menerimanya dalam diam, masih menatap Yse yang terlihat kebingungan akan tingkah Kristal yang tidak biasanya.
"Gue tau ko, gue ganteng!"
"Pede!"
Kristal mengerjap menyadari sahutannya sendiri, menatap Yse yang kembali tersenyum lebar.
Ah...
Kristal tahu.
Kristal menikmati sensasi dingin dilidahnya, masih menatap lekat lekat Yse yang tiba tiba menunduk. Mengusap sudut bibir Kristal dengan hati hati lalu tersenyum kecil, berniat menegakkan bahunya sebelum Kristal lebih dulu mengangkat lengannya.
Menyentuh sisi wajah Yse yang seketika membeku ditempatnya.
"Kenapa?"
"Maksud-"
"Kenapa semuanya ada disini?"
Yse mengerutkan keningnya tidak mengerti, meraih jemari Kristal diwajahnya yang mulai bergetar dengan hebat.
"Ada apa?"
Kristal mengerjap sekali, membuang tatapannya dan mengambil gigitan besar pada Ice Cream nya yang seketika membuat kepelanya kembali berfungsi dengan baik.
Tenang.
Tenang Kristal.
"Lo baik baik aja?"
Kristal mengangguk kecil, menatap Yse yang berdiri menjulang dihadapannya dari balik bulu mata lentiknya.
"Kita pulang?"
"Belum, kita makan malam dulu."
Yse menarik lengan Kristal agar bergegas bangkit, gadis itu segera melepaskan diri lalu melangkah beriringan dengan Yse yang tampak santai menikmati Ice Cream coklatnya.
"Yse?"
"Iya, Kristal."
"Gue mau nanya."
Yse menoleh, tersenyum lebar lalu mengangguk dengan semangat.
"Tanya apa aja, boleh!"
"Lo deketin gue.."
"Ada apa?"
Yse menghentikan langkahnya, kali ini benar benar menghadap Kristal yang terdiam beberapa saat masih dengan tatapan tak terbacanya sebelum kembali membuka suara.
"Cuma bua main main kan?
"Maksud-"
"Lo cuma penasaran."
Yse mengerjap sekali, senyuman diwajahnya seketika menghilang. Membalas tatapan Kristal tak kalah dinginnya saat menyadari dari mana semua ini dimulai atau apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.
"Maybe Yes, Maybe No?"
Kristal mengerutkan keningnya tak mengerti ini, Yse yang masih menunjukkan emosi yang sama membuang ice cream yang meleleh ditangannya dan juga ditangan Kristal.
"Maksud lo apa?"
"Gue ketemu lo sebelum jadi maba."
Kristal mengerjap sekali, membiarkan Yse membersihkan sisa lelehan lengkat ditangannya dengan sapu tangan.
"Gue?"
"Iya."
"Tapi-"
"Dulu, mungkin lo jarang senyum tapi lo sering ketawa."
Kristal mengerutkan keningnya semakin tak mengerti, Yse menghela nafasnya tenang lalu menyentuh kedua bahu Kristal dengan pelan.
"Sekarang lo sering senyum tapi-"
"Cukup!"
"Kenapa?"
"Gue ga mau denger apapun lagi!"
Kristal menepis dengan kasar lengan Yse, berniat beranjak dari sana sebelum cengkraman dilenganya menahan langkah Kristal.
"Gue ga tau ada apa dan gue juga ga bakal minta lo jelasin apa yang sebenarnya terjadi sama lo."
"Lepas."
"Tapi Kristal."
Yse menyentak Kristal agar gadis itu menatapnya dengan benar, menujukkan tatapan seriusnya tanpa senyuman yang entah bagaimana selalu terlihat main main dimata gadis itu.
"Sadar atau enggak, lo sama sekali ga senyum sama gue hari ini."
"Maksud lo apasih!?"
"Lo senengkan hari ini?"
Kristal mengerjap sekali, melepaskan lengan Yse lalu menghela nafasnya dengan berat.
"Lo sebenernya mau ngomong apa sih?"
"Kenapa lo ga mulai dari awal lagi dan lupain semuanya seperti yang kita lakuin hari ini?"
Kristal tertegun, menatap Yse dengan tatapan tak percaya. Menahan nafasnya mendengar sesuatu yang membuat jantungnya semakin menggila hingga membuat rongga dadanya semakin menyesakkan.
"Lo gila?"
"Iya."
"Gue-"
"Tapi Kristal."
"Yse!"
"Bukannya kita sama?"
Suara yang berhembus diantara keramaian itu seketika membungkam Kristal, berdiri saling melemparkan tatapan dengan pria yang bahkan tidak menunjukkan sedikitpun emosi diwajah tampannya.
Sama?
Ah, Kristal mengerti.
Semuanya benar benar terlihat dengan jelas sekarang.
Pria ini.
Yse Najenda.
Memiliki senyuman yang sama dengannya.
**