Mengetahui Rahasiamu

2024 Words
Naura duduk bersandar di kepala ranjang dengan mata yang memandang pintu kamar dengan jengah. Sungguh, ingin rasanya dia keluar dari kamar ini. Seharian dia hanya berada di kamar Arsen tanpa melakukan apapun. Kepalanya bisa pusing jika Arsen selalu menyuruhnya untuk tidur.  Naura meraih lonceng di meja kecil sebelah ranjang dan menggoyangkannya. Tak lama pintu kamar terbuka dan muncul Felix di sana. "Ada apa, Nona?" "Bisakah kau memanggilku Naura? Menyebalkan sekali," rutuk Naura dengan cemberut. Suasana hatinya sudah buruk sedari tadi ditambah dengan Felix yang selalu memanggilnya Nona. Felix tersenyum dan menggeleng pelan, "Tuan Arsen yang menyuruh saya memanggil 'Nona'."  "Aneh sekali Tuanmu itu." Felix hanya tersenyum. Akhir-akhir ini pria itu sudah mulai menunjukkan sifat aslinya pada Naura. Jika dulu Felix akan bersikap acuh, namun sekarang dia tidak bisa, apalagi dengan sifat Naura yang polos dan seenaknya. Dia seperti memiliki seorang adik. "Nona menginginkan sesuatu?" tanya Felix. "Ah ya, bisakah aku keluar?" Naura meminta dengan wajah yang memelas. "Tidak bisa, Nona. Tuan Arsen menyuruh Anda untuk tetap berada di atas tempat tidur," jawab Felix dengan tegas. Naura berdecak dan meremas tangannya kesal, "Lihat kan? Tuanmu itu aneh sekali. Di mana dia sekarang?" "Tuan Arsen sedang keluar, Nona." "Kenapa kau tidak ikut? Kau asistennya bukan?" tanya Naura ingin tahu. "Tuan Arsen meminta saya untuk menjaga Nona," jawab Felix dengan tersenyum. "Yang benar saja! Aneh sekali tuanmu itu." Mau tidak mau Felix tertawa kecil melihat respon Naura. Gadis itu sudah mengatakan hal yang sama sebanyak 3 kali. Benar-benar aneh. "Apa kau punya anggur Felix?" tanya Naura dengan tidak tahu dirinya, melupakan fakta jika dia juga seorang pelayan di rumah ini. "Ada, biar saya ambilkan." Belum sempat Felix berbalik, Naura sudah memanggilnya. "Tunggu, bagaimana jika kau membawaku keluar dan aku akan memakannya di halaman belakang?" ucap Naura dengan semangat, dia sungguh ingin keluar dari kamar ini. "Tidak bisa, Nona. Tuan Arsen berpesan—" "Dia sedang keluar bukan?" Potong Naura cepat. Felix hanya mengangguk sebagai jawaban. "Berarti dia tidak akan tau jika aku keluar. Aku janji tidak akan lama, aku merasa bosan Felix," rengek Naura dengan menggoyangkan kakinya. Felix terdiam mencoba untuk berfikir. Sebenarnya tidak ada masalah jika dia membawa Naura keluar, namun dia terlalu takut dengan respon Arsen jika pria itu tahu. Arsen adalah tipe orang yang sulit untuk ditebak. "Janji tidak akan lama?" tanya Felix memastikan. "Aku janji." Naura mengangkat telunjuk dan jari tengahnya sebagai bentuk janjinya.  "Baiklah, aku akan membawamu keluar." Felix berjalan ke arah ranjang bersiap untuk menggendong Naura.   ***   "Ini anggur pesananmu." Felix meletakkan sepiring penuh anggur merah kesukaan Naura. "Terima kasih, Felix." Naura tersenyum. Felix berbalik dan akan melangkah pergi. "Tunggu Felix! Kau ingin ke mana?" panggil Naura kesal. Felix menunjuk rumah, "Kembali ke dalam, Nona." "Tidak, kau duduk di sini dan temani aku." Naura menepuk kursi di sampingnya untuk Felix. "Tapi Nona—" "Ayolah, aku ingin membicarakan sesuatu." Akhirnya Felix pun duduk di samping Naura. Naura memejamkan matanya dan menghirup udara dengan dalam. Mencoba merasakan betapa sejuknya udara di luar seperti ini. Musim dingin akan segera datang, jadi udara siang ini cukup sejuk, "Kau bisa mulai bercerita Felix." Naura bergumam dengan mata yang masih memandang ke arah kebun. “Saya tidak mengerti," jawab Felix dengan mengerutkan dahinya. "Siapa sebenarnya Tuan Arsen? Atau kau juga? Sebenarnya kalian ini siapa dan apa?" Felix terdiam mendengar pertanyaan Naura. Dia bukan orang bodoh yang tidak tau arah pembicaraan ini. Felix pikir Naura tidak mengingat semuanya, namun ternyata gadis itu memilih memendamnya dan menunggu waktu yang tepat, yang menjadi permasalahannya adalah dia harus menjawab apa? "Kenapa diam? Bingung mencari alasan?" Naura mengalihkan pandangannya ke arah Felix yang terdiam menatap kebun. Felix berdehem sebentar sebelum menjawab, "Bukan hak saya untuk mengatakan semuanya."  "Berarti benar, pasti ada sesuatu dengan kalian." Naura mengangguk paham dan mulai memakan anggurnya. Felix menghela nafasnya dengan kasar, dia takut salah bicara  nantinya dan membuat Arsen murka, "Yang terpenting saya adalah manusia."  "Berarti Tuan Arsen bukan manusia?!" Naura terpekik membuat Felix terkejut dan memandang Naura tajam. "Kecilkan suaramu!" Naura mengkerut melihat tatapan tajam Felix. "Maaf, hanya saja kau bodoh sekali dalam mencari alasan." Ejek Naura pada Felix. Felix mendengus pasrah, "Keahlianku memang bukan untuk itu."  "Jadi?" tanya Naura sekali lagi. "Apa?"  "Katakan Felix, jangan membuatku penasaran atau aku akan membunuh Tuan Arsen dalam tidurnya." Jujur saja Naura merasa takut berada di dekat Arsen apalagi mereka tidur satu ranjang. Ide untuk membunuh Arsen dalam tidurnya merupakan cara yang sangat tepat menurut Naura. "Coba saja, mungkin kau yang akan dibunuh terlebih dahulu oleh Tuan Arsen." Ejek Felix. Naura berdecak dan memandang Felix kesal, "Cukup bermain-main dan katakan semuanya." "Sudah kubilang aku tidak berhak mengatakannya. Kenapa tidak bertanya langsung pada Tuan Arsen?" "Tentu saja tidak mau! Aku masih sayang nyawaku."  "Kalau begitu aku juga," ucap Felix membuat Naura menyerah dan memilih untuk bersandar, kembali menatap kebun dengan cemberut. Felix yang melihat raut wajah Naura pun menggelengkan kepalanya geli, "Baiklah, tapi janji jangan lari." "Aku janji," jawab Naura cepat dan menatap Felix dengan dalam, siap mendengarkan ucapan Felix. Felix mendekati Naura dan berbicara pelan, "Tuan Arsen bukanlah seorang manusia," Felix menghentikan ucapannya dan memandang Naura dalam, "Tapi dia adalah seorang Dewa." Naura terdiam cukup lama sampai akhirnya tawanya meledak, "Astaga! Yang benar saja?! Kau lucu sekali Felix." Naura masih tertawa sambil memukul pahanya, melupakan fakta jika kakinya sedang sakit.   Felix menatap Naura yang sedang tertawa keras dengan datar. Kenapa gadis ini menyebalkan sekali? Melihat Felix yang hanya diam membuat Naura menghentikan tawanya. Sedetik kemudian dadanya berdetak dengan cepat. Naura menelan ludahnya dengan susah payah, "Kau seriu, Felix?" "Kau pikir aku berbohong?" "Bagaimana bisa? Dewa katamu tadi? Apa Dewa benar-benar ada?" Felix hanya mengangguk.  Naura masih terkejut dengan fakta yang dia dapat hari ini, "Kenapa dia bisa di sini? Di dunia manusia." "Dengarkan aku baik-baik, akan kuceritakan semuanya padamu." Felix mulai mengambil posisi untuk bercerita dan Naura dengan senang hati mendengarkannya.   ***   Naura terdiam memandang rumput kering yang bergoyang karena angin. Dia masih berusaha untuk mencerna semuanya. Otaknya masih sulit untuk menerima semuanya. Arsen adalah seoarang Dewa yang terkutuk. Yang benar saja? Namun saat melihat apa yang terjadi pada malam itu mungkin saja benar adanya. Arsen mungkin benar seoarang Dewa atau sebaliknya? Mengingat sifatnya yang seperti iblis mungkin saja Arsen adalah jelmaan iblis. "Dia seorang Dewa?" tanya Naura pelan pada dirinya sendiri, "Dan selama ini aku selalu mencari masalah dengan Dewa? Astaga!" Naura mengusap wajahnya dengan kasar, "Aku bersukur dia tidak membunuhku seketika." Felix lagi-lagi tertawa melihat tingkah Naura. "Apa kau tahu kenapa aku menceritakan semua ini padamu?" tanya Felix. Dengan polos Naura menggeleng, "Karena aku berharap kau yang akan membantu Tuan Arsen untuk kembali menjadi Dewa."    ***   Naura memejamkan matanya saat pintu kamar Arsen terbuka. Naura yakin jika pria itu yang masuk ke kamarnya. Sampai sekarang Naura masih tidak mengerti kenapa dia bertahan di kamar Arsen dan bukan di kamarnya sendiri. Naura kembali membuka matanya begitu Arsen masuk ke dalam kamar mandi. Dadanya kembali berdetak dengan cepat, yang Naura rasakan saat ini adalah rasa takut dan penasaran. Takut karena ternyata Arsen bukanlah orang biasa. Dia adalah seorang Dewa yang dapat membunuhnya dalam waktu sedetik. Dia juga penasaran akan semua yang dikatakan oleh Felix. Apa benar Arsen tidak pernah tidur? Apa benar Arsen tidak merasakan lapar lagi? Tapi kenapa Arsen memperkerjakannya untuk menjadi koki di rumahnya jika tidak merasa lapar? Aneh sekali. Naura memejamkan matanya cepat begitu pintu kamar mandi terbuka. Dia mencoba untuk rileks agar Arsen berfikir jika dia benar-benar sudah tidur. Tempat tidur di sebelahnya berguncang menandakan jika Arsen telah menaiki tempat tidur.  "Buka matamu jika belum tidur."   Deg!   Naura mencengkeram selimut dengan erat saat Arsen berbicara. Ternyata benar kata Felix, kadar kepekaan Arsen sangat tinggi. Naura pun membuka matanya dan berbalik menghadap Arsen, "Tuan belum tidur?" tanya Naura melihat Arsen yang hanya menatap langit-langit kamarnya. "Berhenti memanggilku 'Tuan'." "Tapi aku pelayanmu," cicit Naura pelan saat Arsen menatapnya. "Tidak ada pelayan yang berani tidur dengan tuannya sendiri." Perkataan Arsen begitu menohok Naura. Benar, tidak ada pelayan yang tidur dengan majikannya. Jadi posisi Naura di sini sebagai apa? "Jadi?" tanya Naura ingin tahu. Arsen kembali mengalihkan pandangannya menatap langit kamarnya, "Diam dan tidurlah." Perintah Arsen, kemudian pria itu memejamkan matanya. Naura tahu jika Arsen hanya memejamkan mata dan tidak benar-benar tidur. "Aku bilang tidur Naura!" Naura terlonjak kaget dan memejamkan matanya dengan cepat. Meskipun dengan mata yang terpejam, Arsen masih dapat merasakan apa yang terjadi di sekelilingnya.  Naura kembali membuka matanya begitu rasa kantuk tidak kunjung datang. Arsen masih memejamkan matanya dengan nafas yang teratur seolah sedang tidur, "Aku tidak bisa tidur," gumam Naura pelan.  Arsen langsung membuka matanya dan tatapan mereka langsung bertemu, "Ingin bercerita sesuatu?" tanya Naura hati-hati. "Tidak." Arsen mengalihkan pandangannya kembali ke arah langit-langit kamar. "Jadi kau tidak tidur?" tanya Naura berusaha untuk memancing Arsen agar mau bercerita. "Apa maksudmu?" Arsen menatap Naura tajam. "Aku tahu kau tidak tidur Arsen." Entah dari mana Naura mendapat keberanian untuk berbicara seperti itu. Arsen memilih diam, menunggu Naura untuk melanjutkan ucapannya, "Bisa kau beritahu aku kenapa kau membutuhkan darahku?"  Arsen langsung bangkit dari tidurnya dan duduk dengan kaku, "Jangan bertele-tele. Cepat katakan apa saja yang kau ketahui," geram Arsen mulai marah. "Semuanya." Naura ikut duduk dan bersandar di kepala ranjang. Entah bagaimana dan apa yang terjadi. Dalam sekejap tangan Arsen sudah berada di leher Naura. Menekannya kuat hingga Naura kesulitan bernafas, "Siapa? Siapa yang mengatakannya padamu? Dari mana kau tau semua itu?" Arsen masih menekan leher Naura membuat gadis itu terbatuk dan memukul lengan Arsen. Tanpa mereka sadari, Felix masuk ke dalam kamar untuk mengambil pakaian kotor milik Arsen seperti biasanya. Dia terkejut melihat aksi Arsen. "Tuan Arsen." Felix melepaskan keranjang yang dibawanya dan berlari mendekat, "Berhenti, Tuan!" Arsen melepaskan cengkeramannya pada leher Naura dan berlari ke arah Felix. Semua itu terjadi begitu cepat. Felix sudah berada di ujung ruangan dengan Arsen yang menekan lehernya, bahkan tubuh Felix melayang karena Arsen sedikit mengangkat tubuhnya. Naura yang melihat itu semua hanya bisa berteriak. Dia tidak bisa banyak membantu karena dia masih belum bisa berjalan.  "Arsen berhenti! Jangan bunuh Felix!" Naura masih berteriak. Sedangkan Arsen masih menggeram menatap Felix. "Kau memberitahunya, sialan! Kau akan mati di tanganku!" Felix terbatuk dan memukul lengan Arsen dengan keras namun semua itu sia-sia karena Arsen tidak merasakan sakit sedikit pun. Naura yang melihat emosi Arsen yang meledak menjadi ketakutan, namun kali ini nyawa Felix yang menjadi taruhannya, jadi dia tidak bisa diam saja. Ini semua karena dia, jika saja dia tidak memancing Arsen, mungkin pria itu tidak akan marah seperti ini. Naura meraih bantal dan melemparkannya ke arah Arsen. Semua bantal di atas kasur sudah habis dilempar oleh Naura namun seolah tidak peduli, Arsen masih berusaha untuk membunuh Felix. Naura meraih gelas di atas meja dan menatapnya ragu. Jika dia melempar gelas itu, dia takut jika Arsen akan terluka. Namun peduli setan! Felix sedang dalam bahaya sekarang. "Arsen aku bersumpah! Jika kau membunuh Felix, aku akan membencimu seumur hidup!" teriak Naura dan melempar gelas yang ada di tangannya tadi.  Naura menutup mulutnya saat gelas itu mengenai tepat di belakang kepala Arsen, namun yang membuatnya terkejut adalah gelas itu yang pecah sedangkan kepala Arsen baik-baik saja. Usaha Naura tidak sia-sia, Arsen berhenti dan menjatuhkan Felix ke lantai. Felix terbatuk-batuk berusaha untuk menghirup udara dengan dalam. Naura menelan ludahnya ketakutan saat Arsen melirik ke arahnya dengan mata yang memerah menahan amarah. "Jangan salahkan Felix karena bagaimanapun kau yang telah memasukkanku ke dalam duniamu," ucap Naura sambil meneteskan air mata. Dia merasa ketakutan dengan apa yang baru saja terjadi. Dalam hitungan menit, Arsen dapat membunuh 2 nyawa sekaligus dan tidak ada yang bisa mengalahkan Arsen karena dia adalah seorang Dewa. Arsen menggeram dan berlari dengan cepat ke arah balkon dan menghilang entah ke mana. Naura menunduk dan menutup matanya. Air mata kembali keluar dengan keras. Dia masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Hampir saja dia kehilangan nyawanya. Ingatannya berputar pada saat Arsen memintanya untuk bekerja di rumahnya. Naura menyesali semua itu, dia menyesal dengan pilihannya sendiri.  Naura berusaha bagngkit dan turun dari tempat tidur untuk menghampiri Felix. Naura terjatuh saat kakinya baru saja menapak di lantai. Naura menyeret tubuhnya sampai ke tempat Felix yang masih terbaring lemas. Dengan jelas Naura melihat jejak tangan Arsen di leher Felix yang membiru. "Felix?” panggil Naura pelan, "Maafkan aku." Naura meraih kepala Felix dan menyentuhnya pelan. "Kau tidak apa, Nona?" tanya Felix dengan suara yang tertahan. Naura menggeram dan memukul dahi Felix dengan keras, "Dasar bodoh, kau yang hampir mati di sini." Air mata Naura masih keluar meskipun tidak sederas tadi. Felix terkekeh kecil, "Aku baik-baik saja. Terima kasih karena telah membuat tuan Arsen berhenti." "Aku berjanji Felix. Aku akan membantumu membuat Arsen kembali menjadi Dewa. Aku akan membuatnya mencintaiku. Aku akan membuatnya berubah." Tekat Naura bulat. "Kau yakin?" "Aku yakin, kau sendiri yang berkata jika aku adalah orang yang selama ini dicarinya." Naura berbicara dengan penuh keyakinan. Felix tersenyum dan mengangguk, "Iya, aku yakin kau adalah orangnya."   ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD