Arsen masuk ke dalam kamarnya dengan malas. Dia berjalan ke arah lemari untuk mengambil kaosnya. Saat akan masuk ke dalam kamar mandi, langkahnya terhenti. Dia berbalik ke arah kasur di mana ada Naura yang terbaring lemah di sana. Hampir saja dia melupakan gadis itu setelah meluapkan kekesalan terhadap Ayahnya.
Arsen berjalan menghampiri Naura dan mengamatinya dengan lekat. Dia merasa ada yang aneh dengan gadis itu. Tangan Arsen terulur untuk menyingkirkan rambut Naura yang jatuh di dahinya, kemudian berpindah ke pipinya. Pipi yang selalu memerah dalam ekspresi apapun, Arsen menyukai itu. Saat akan menyentuh bibir Naura, Arsen menggelengkan kepalanya dan berlalu ke kamar mandi.
***
Duk! Dukk!
Ayah Naura mengetuk pintu rumah Arsen dengan kencang. Dia ingin menemui anaknya sekarang, jika bisa dia juga ingin membawanya pulang. Rasa marah memenuhi hatinya saat ini. Bagaimana bisa dia diam saja saat Josh berkata jika Arsen menampar Naura di peternakan. Dia juga sempat melihat luka biru di wajah Josh. Evan hanya tidak habis pikir, pria yang dipikirnya tidak akan berlaku buruk terhadap wanita ternyata sama saja. Persetan dengan kenyataan jika Arsen adalah bosnya di kebun. Dia sudah tidak peduli jika itu sudah menyangkut keselamatan Naura, karena hanya Naura yang dia punya saat ini.
Duk! Duk! Dukk!!
Evan terus mengetuk pintu kayu itu tidak peduli jika dia menganggu si penghuni rumah. Setelah lama menunggu, pintu akhirnya terbuka dan muncul Felix dengan pakaian tidurnya. Felix terkejut saat mendapati Ayah Naura berada di hadapannya saat ini.
"Di mana Naura?" tanya Evan sambil mendorong Felix untuk masuk ke dalam rumah.
"Apa yang anda lakukan malam-malam di sini?" Felix berdecak tidak suka karena tidurnya yang terganggu.
Evan yang kesal pun langsung menarik kaos Felix, "Arsen menampar anakku. Apa itu benar?" tanya Evan dengan penekanan di setiap katanya.
"Apa maksud anda? Saya tidak tahu tentang itu," jawab Felix bingung, karena memang dia tidak tahu tentang Arsen yang menampar Naura.
"Sekarang katakan di mana anakku?!" bentak Evan keras.
Felix menghela nafas lelah dan mencoba untuk melepaskan tangan Evan dari kaosnya, "Sebaiknya anda tenang terlebih dahulu."
"Sialan! Katakan—"
"Ada apa ini?" tanya Arsen yang tiba-tiba datang dan memotong ucapan Evan.
"Kau! Di mana Naura?! Cepat katakan!" Evan beralih pada Arsen. Dengan segera Felix menarik lengan pria itu untuk tidak mendekat ke arah Arsen. Bukan takut jika Evan akan menyakiti tuannya, namun sebaliknya, Felix takut jika Ayah Naura yang akan mati jika berani menyentuh Arsen.
"Dia sedang tidur," jawab Arsen dengan santai.
"Kau menampar anakku?!" tanya Evan dengan emosi.
"Pasti Josh yang mengatakannya, benar bukan?" tanya Arsen dengan tenang.
"Kenapa kau melakukannya?! Bahkan aku tidak pernah menyakitinya sedikit pun!" Arsen terdiam, melihat Ayah Naura yang seperti ini membuatnya mengingat kembali tentang Ayahnya. Ayah yang tidak pernah menyayanginya.
"Dia melanggar aturanku," ucap Arsen santai.
"Aturan bodoh untuk tidak keluar rumah? Itu yang kau maksud?" bentak Evan sekali lagi, "Sekarang aku akan membawa Naura pulang, di mana dia?" Lanjutnya.
"Kau tidak bisa melakukannya."
"Apa hakmu sialan!" Emosi Evan benar-benar tidak terbendung lagi sekarang, ditambah dengan Arsen yang terkesan santai, membuat pria itu semakin murka.
Arsen yang kesal karena Evan terus membentaknya pun mulai berlari ke arah pria itu dengan cepat. Bahkan Ayah Naura dan Felix sama-sama terkejut mendapati Arsen sudah ada di hadapan Evan dalam sekejab. Seolah tidak peduli, Arsen mulai mencengkram wajah Ayah Naura.
"Jangan kurang ajar ke padaku." Tekan Arsen dalam setiap katanya, "Kau tidak tahu apa yang bisa aku lakukan padamu. Lagipula, jika kau membawa Naura pergi. Dia akan masuk penjara."
"Apa maksudmu?!" tanya Evan sambil melepaskan tangan Arsen dari wajahnya.
Arsen terkekeh dengan pelan, "Menurutmu kenapa dia mau bekerja di rumahku? Dia sudah mencuri anggurku selama ini."
"Bagaimana bisa?"
"Apa kau tidak tahu betapa gilanya anakmu itu ke pada anggur." Ucapan Arsen hanya dibalas dengan gelengan lemah.
"Sudahlah! Lebih baik kau pulang. Aku ingin istirahat." Usir Arsen dan berbalik pergi.
"Biarkan aku menemui anakku." Pinta ayah Naura dengan pelan.
"Tidak sekarang, sabtu depan aku akan meliburkannya," ucap Arsen dan berlalu pergi meninggalkan Evan dan Felix yang terdiam.
Arsen masuk ke dalam kamarnya dengan kesal. Dia mengutuk pria tua itu di dalam hatinya. Arsen naik ke atas kasur dan berbaring tepat di sebelah Naura. Dia menggunakan kedua tangannya untuk bantalan. Matanya menatap langit-langut kamarnya dengan diam. Jangan lupakan fakta jika dia tidak pernah tidur lagi sejak saat itu, bahkan tato di dadanya semakin samar sekarang. Dia mulai menyadari jika ternyata tato itu adalah sebuah segel untuk mengunci kekuatannya. Saat tato itu hilang, maka kekuatannya akan kembali pulih sepenuhnya.
Arsen menoleh ke arah Naura yang sedikit bergerak. Sedetik kemudian dia merasakan tangan Naura yang melingkar di pinggangnya dengan sempurna.
Apa-apaan!
Dengan kasar Arsen menyingkirkan tangan Naura. Namun tangan itu kembali melingkari pingangganya ditambah dengan kaki Naura yang tidak terluka menaiki kakinya.
Arsen menghela nafas kasar. Kenapa gadis itu malah melilitkan tubuhnya seperti ini? Tahu jika akan percuma, maka Arsen membiarkan itu semua. Membiarkan Naura menyentuh tubuhnya secara bebas untuk yang pertama kali. Arsen kembali menatap langit-langit kamarnya dengan diam, kegiatan yang selalu dilakukannya akhir-akhir ini setiap malam.
***
Matahari sudah muncul sejak 3 jam yang lalu namun sepertinya Naura tidak berniat untuk membuka kedua matanya. Arsen masih berada di sampingnya dengan lengan dan kaki Naura yang masih setia melingkar di tubuhnya. Entah kenapa Arsen juga tidak berniat untuk melepaskan pelukan itu. Biarkan untuk kali ini dia bermurah hati pada Naura, karena gadis itu sedang sakit, dan semua itu juga karenanya.
Naura bergerak mengeratkan pelukannya saat merasakan hawa dingin mulai menusuk kulitnya. Namun itu tidak berlangsung lama saat Arsen merasakan tangan Naura malah meraba dadanya. Saat akan mendorong tangan itu, Naura terlebih dahulu membuka matanya. Dia mengangkat wajahnya untuk mencari tahu apa yang sedang dipeluknya sekarang. Matanya langsung melebar saat melihat d**a bidang seorang pria yang pertama kali dia lihat. Gadis itu bergerak menjauh dan sedetik kemudian meringis. Dia melupakan fakta jika kakinya sedang terluka. Arsen yang melihat tingkah Naura hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Sudah bangun Tuan putri?" tanya Arsen dengan nada yang datar.
Naura menatap Arsen bingung. Pria itu mulai bangkit dari tidurnya dan bersandar di kepala ranjang. Naura yang menyadari apa yang terjadi langsung melihat tubuhnya, dengan reflek dia melingkarkan kedua tangannya di d**a.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Naura galak.
"Apa maksudmu?" ucap Arsen tidak terima. Seharusnya dia yang bertanya seperti itu pada Naura.
"Kau tidak melakukan sesuatu yang aneh bukan?" Selidik Naura dengan menyipitkan matanya.
"Tentu saja tidak bodoh!" jawab Arsen dengan ketus. Dia bangkit dari kasur dan merenggakan tubuhnya.
Naura masih terdiam melihat Arsen. Begitu banyak pertanyaan memenuhi otaknya sekarang, "Kenapa kau tidur di sampingku? Itu tidak sopan."
"Ini kamarku jika kau lupa," ucap Arsen berlalu memasuki kamar mandi.
Ceklek!
Pintu kamar Arsen terbuka dan masuk Felix dengan lelaki muda di belakangnya, "Nona sudah bangun? Di mana Tuan Arsen?" tanya Felix. Naura hanya menunjuk kamar mandi sebagai jawaban.
"Ini Dokter James. Dia yang akan memeriksa luka Anda pagi ini."
"Pagi Nona Naura," sapa lelaki muda yang ternyata dokter itu.
"Pagi Dokter," jawab Naura dengan tersenyum. Dengan segera dia membuka selimut yang menutupi kakinya untuk mempermudah James memeriksa kakinya. James menunduk dan mulai membuka perban Naura.
"Permisi, Nona." Ijin James sebelum menyentuh kaki Naura.
"Panggil Naura saja. Aku hanya pelayan di sini."
"Baik, Naura. Lukamu cukup parah, kau juga kehilangan banyak darah kemarin. Kau belum boleh berjalan sampai lukamu kering."
Naura meringis mendengar itu, "Separah itukah? Padahal aku hanya jatuh dari sepeda." James hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Saya akan membersihkan lukamu dan menggantinya dengan perban yang baru." Naura hanya mengangguk patuh.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka dan muncul Arsen yang telah segar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.
"Pagi tuan Arsen," sapa Felix dengan menunduk.
"Hmm," jawab Arsen sambil mengamati pria yang mengobati luka Naura.
"Dia Dokter James, Tuan. Dia yang mengobati luka Nona Naura pagi ini." Jelas Felix seolah mengerti dengan kebingungan Tuannya itu.
"Dimana dokter tua yang semalam?" tanya Arsen sambil mengambil kaos dari dalam lemari.
"Ayah saya sedang ada operasi, jadi saya yang menggantikannya pagi ini," jawab James cepat dan datar. Dia kesal karena Arsen bersikap tidak sopan pada ayahnya.
Arsen hanya diam dan bersender pada lemari. Dia melipat kedua tangannya di d**a dan mengamati dokter itu membersihkan luka Naura.
"James? Apa aku boleh memanggilmu James?" tanya Naura setelah terjadi keheningan yang cukup lama.
"Tentu saja Naura," jawab James sambil tersenyum menatap gadis itu. Naura yang mendapat senyuman itu entah kenapa pipinya bersemu merah. Arsen yang melihat itu memutar matanya jengah, "Panggil dia Nona." Arsen membuka suara.
"Jangan! Panggil Naura saja." Naura mendelik menatap Arsen. Seolah berkata untuk tidak ikut campur dengan urusannya. Felix yang melihat interaksi Naura dan Tuannya itu tersenyum tipis. Dia tidak percaya jika gadis itu akan seberani itu kepada Arsen setelah apa yang terjadi dengannya kemarin. Apa dia tidak bertanya-tanya?
"Bagaimana lukanya?" tanya Arsen.
"Lukanya akan mengering dalam seminggu Tuan, dan selama itu Naura dilarang untuk melakukan kegiatan yang berat. Jangan sampai lukanya kembali terbuka."
"Kau dengar itu?" Arsen melirik ke arah Naura.
Naura hanya merengut kesal, "Aku mengerti Tuan."
"Jangan ke dapur sampai lukamu mengering dan Felix, buang sepeda Naura." Perintah Arsen tanpa basa-basi.
Naura melotot mendengar itu, "Kenapa kau membuang sepedaku?!" tanya Naura tidak terima.
"Aku tidak mau melihatmu jatuh konyol seperti kemarin lagi."
"Itu juga karenamu yang mengejarku!" jawab Naura tidak suka.
"Berhenti membantah Naura," ucap Arsen penuh penekanan.
Naura memilih diam dan melihat betapa telatennya James membersihkan lukanya bahkan Naura tidak merasakan perih sedikit pun, "James kau sudah lama menjadi dokter?" tanya Naura pada James.
"Cukup lama, 3 tahun," jawab James dan kembali tersenyum pada Naura.
"Apa kau belajar di kota?"
"Tentu saja, hanya di kota aku bisa belajar tentang medis."
"Ahh, aku ingin sekali melanjutkan sekolah ke kota." Naura berbicara sambil menghela nafasnya kasar.
"Kau ingin bersekolah di kota?" tanya James mulai tertarikZ
"Iya, bisa kau ceritakan bagaimana kota itu?" tanya Naura semangat
"Tentu saja, kota itu—" Dengan cepat Arsen memotong ucapan James.
"Baiklah James, tugasmu sudah selesai. Felix antar dia keluar."
"Saya belum menutup luka Naura, Tuan." Arsen berjalan ke arah James dan mengambil perban dari tangan James.
"Aku bisa melakukannya sendiri. Mulai besok kau tidak perlu datang kemari. Jika ayahmu tidak bisa, suruh dokter lainnya. Sekarang keluar." Putus Arsen membuat Naura bingung. Pria itu kenapa? Kenapa tiba-tiba menjadi menjengkelkan seperti ini.
James hanya menurut, dia memasukkan peralatan medisnya ke dalam tas dan berdiri.
"Saya permisi Tuan Arsen." James membungkuk kemudian beralih pada Naura, "Sampai jumpa lagi Naura." James tersenyum dan berjalan keluar mengikuti Felix.
Setelah pintu tertutup dengan kesal Naura meraih bantal dan melemparnya ke arah Arsen, "Kau ini kenapa? Menjengkelkan sekali!"
"Berhenti bertingkah menjijikkan seperti itu." Arsen membungkuk dan mengangkat kaki Naura dengan pelan. Tangannya dengan terampil membalut luka Naura dengan perban ditangannya.
"Apa maksudmu menjijikkan?!" tanya Naura tidak terima.
"Berhenti menggoda pria seperti itu. Kau hanya gadis kecil yang tidak tahu apa isi kepala pria dewasa."
"Apa katamu? Menggoda? Apa kau tidak tahu bagaimana caranya beramah tamah dengan tamu?" Arsen hanya diam, tidak berniat membalas ucapan Naura, "Lagipula, bisa saja dia mau mengantarkanku ke kota suatu saat nanti."
"Jangan banyak bermimpi! Apa yang akan kau lakukan di kota."
Naura tersenyum dengan pandangan yang menerawang, "Aku ingin belajar di sans dan melanjutkan sekolahku."
"Kau tidak bisa melanjutkan sekolahmu, karena kau akan bekerja di rumahku selamanya. Selesai." Arsen bangkit dan meletakkan sisa perban di atas meja.
"Kenapa kau jahat sekali," ucap Naura dengan cemberut.
"Tapi mungkin aku bisa membawamu ke kota lain kali." Setelah mengucapkan itu, Arsen berjalan ke luar kamar.
"Benarkah!" teriak Naura senang.
"Jika kau bersikap baik tentu aku akan melakukannya." Arsen membuka pintu dan melangkah keluar.
"Aku akan bersikap baik mulai dari sekarang! Tapi Tuan tunggu ... " Arsen menghela nafas kasar dan berbalik kembali menatap Naura.
"Apa kau benar-benar akan membuang sepedaku?"
"Tidak." Arsen kembali berbalik dan menutup pintu kamarnya dari luar.
"Terima kasih Tuan!" teriak Naura lagi karena Arsen sudah menghilang dari pandangannya.
"Tapi aku akan membakarnya!" balas Arsen dengan berteriak dari luar kamar.
"Dasar pria menyebalkan!" umpat Naura mulai mengambil bantal dan melemparnya ke arah pintu meskipun dia tau itu hanya sia-sia.
***