Ritual Mengejutkan

2206 Words
 "Jadi menurutmu apa yang terjadi, Felix?" tanya Arsen pada Felix yang tengah sibuk dengan pakaian kotornya. "Kesimpulan yang saya dapat adalah kekuatan Anda sudah mulai kembali, Tuan," jawab Felix membuat Arsen terdiam. "Tapi aku belum mencintai manusia. Bagaimana bisa?" "Kenapa tidak Tuan tanyakan langsung kepada Ayah Anda? Tuan pernah berkata jika sudah bertemu 2 kali dengan Dewa Clovis." Felix menatap Arsen dengan hati-hati, bisa saja pria itu marah karena telah menyinggung Ayah yang telah membuangnya. "Apa kau mengejekku? Aku tidak bodoh, jika bisa memanggilnya tentu sudah kulakukan itu sejak dulu. Pria tua itu benar-benar membuatku muak!"  "Maafkan saya, Tuan. Hanya saja kekuatan Dewa Anda sudah mulai muncul. Mungkin kita bisa melakukan ritual itu sekarang." Arsen menatap Felix lekat, "Ritual? Ritual memanggil Ayahku begitu?"  "Iya, Tuan." Arsen mendengus saat teringat sesuatu, "Kau tahu jika aku butuh darah manusia untuk melakukan ritual itu." "Ambil darahku, Tuan. Sudah tugasku untuk melayanimu," jawab Felix dengan pasrah membuat Arsen menatapnya kesal. "Bodoh! Kau bisa saja mati karena ritual yang tidak tahu berhasil atau tidaknya itu," bentak Arsen membuat Felix mengkerut takut. "Tapi Tuan—" "Keluarlah Felix, atau aku akan membunuhmu sebelum ritual itu terjadi." Potong Arsen dan mulai berbaring di ranjangnya. Felix hanya diam dan menuruti ucapan Arsen. Bukan omong kosong jika Felix rela mati kehabisan darah untuk Arsen, karena memang selama ini keluarganya—mulai dari buyutnya—bergantung hidup pada Ayah Arsen. Jika bukan karena Dewa yang agung itu mungkin keluarganya sudah musnah dari dulu dan Felix tidak akan bisa merasakan bagaimana rasanya hidup.   ***   Naura meremas tangannya gelisah Ketika rasa gugup itu kembali datang. Dia sedang berdiri di depan pintu kamar Arsen sekarang. Dia ingin meminta ijin untuk pergi ke peternakan. Seperti biasa, Naura selalu bosan saat menjelang siang hari seperti ini. Pekerjaan memasaknya telah selesai namun sampai saat ini tidak ada tanda-tanda jika Arsen akan keluar dari kamarnya. "Apa yang kau lakukan?" Naura langsung berbalik begitu mendengar suara dingin dan tegas itu, "Apa yang kau lakukan di depan kamarku?" tanya Arsen sekali lagi. "Jawab Naura, aku sudah cukup bersabar dengan tingkahmu itu. Aku bisa meremukkan tanganmu kemarin karena lancang masuk ke kamarku. Jangan membuatku ingin melakukannya lagi saat ini." Entah kenapa emosi Arsen sangat tidak terkontrol hari ini. "Maaf, Tuan. Aku hanya ingin meminta ijin," ucap Naura sambil menunduk. "Ijin apa?" "Bolehkah aku ke pergi peternakan?" tanya Naura hati-hati berharap agar Arsen mengijinkannya. "Tidak," jawab Arsen cepat sambil berlalu melewati Naura dan masuk ke dalam kamarnya. Naura pun mengikuti Arsen masuk ke dalam kamar seolah lupa dengan teguran yang ia dapat tadi. "Kenapa? Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku.” "Karena aku berkata tidak." Arsen membuka lemari dan mengambil kaos tipis. Dengan acuhnya dia membuka kemeja yang dipakainya tadi di hadapan Naura dan langsung memakai kaos yang diambilnya tadi. Lagi-lagi Naura kembali membatu melihat itu semua. Kenapa Arsen selalu melakukan itu di depannya? Tidak sadarkah pria itu jika hanyalah ramaja yang sedang dalam masa pertumbuhan. Itu membuatnya penasaran, bagaimana rasanya menyentuh perut itu. "Kau sengaja ya!" sentak Naura cepat dan melupakaan fakta jika pria yang ada di hadapannya itu adalah bosnya sendiri. Arsen berbalik dengan bingung, “Sengaja apa?" "Memamerkan tubuhmu di hadapanku. Jujur saja, Tuan. Aku tidak tertarik sama sekali." Arsen mengerutkan keningnya bingung mendengarkan ucapan Naura. Dia tidak tahu jika gadis itu akan berpikiran sejauh itu. "Benarkah?" Arsen mendekati Naura dengan tatapan tajamnya. Naura melangkah mundur dengan perlahan mencoba menghindari langkah Arsen yang lebar itu, "Ten—tentu saja," jawab Naura gugup. "Bukannya kau ingin menyentuh perutku?" Naura terkejut mendengar ucapan Arsen.   Sialan! Bagaimana bisa pria itu tahu isi hatinya.   Naura terkekeh dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Jangan percaya diri, Tuan."  "Kuberi kesempatan untukmu menyentuhnya. Aku tidak akan menawarkannya lain kali." Arsen tersenyum miring sambil merentangkan kedua tangannya seolah memberi akses untuk gadis itu menyentuh tubuhnya. Naura hanya bisa meneguk ludahnya. Itu tawaran yang menggiurkan untuknya. Kapan lagi Arsen mau bermurah hati seperti ini? Perlahan tangan kanan Naura terangkat untuk menyentuh d**a Arsen. Mata gadis itu juga tak berhenti untuk menatap d**a bidang itu. Tinggal sedikit lagi dia akan menyentuh d**a itu namun sedetik kemudian sebuah tangan menghentikannya. Naura terkejut saat Arsen mencengkram tangannya erat. "Kau pikir aku akan membiarkanmu menyentuhku hah? Jangan harap! Sebelum itu terjadi, aku akan meremukkan kedua tanganmu terlebih dahulu." Naura mendengus dan menarik tangannya dengan kesal. Lagi-lagi Arsen mempermainkannya. Dengan kekuatan penuh Naura menginjak kaki Arsen dan berlari keluar kamar, "Dengar Tuan sok sempurna! Kau tidak tahu apa yang bisa aku lakukan padamu. Jangan panggil aku Naura jika aku tidak bisa membuatmu menyukaiku."  Naura menutup pintu dengan keras. Sedetik kemudian dia menyesal dan memukul mulutnya.   Bodoh Naura! Kenapa kau menantangnya seperti itu? Bagaimana jika pria itu semakin marah? Menyebalkan sekali!   *** Naura turun dari sepeda dan mengelap keringat yang turun di dahinya. Dia bersyukur bisa kabur dari rumah Arsen tadi. Bukan tanpa alasan dia berani seperti ini, tadi dia sempat melihat Arsen keluar bersama dengan Felix yang berarti pria itu tidak akan tahu jika dia keluar dari rumah. Naura tersenyum saat melihat sapi-sapi gemuk yang dibiarkan berada di tanah lapang. Dia merindukan pemandangan ini. Bahkan dia juga merindukan bau kandang sapi. Naura berjalan masuk ke peternakan untuk menemui Josh. Dia sudah berjanji jika akan datang berkunjung.  "Josh!" panggil Naura sambil melambaikan tangannya. "Naura, kau datang?" Josh berlari menghampiri Naura dan memeluknya. "Iya, aku sudah janji padamu bukan?" "Bagaimana bisa kau keluar dari rumah Tuan Arsen?" tanya Josh bingung. "Dia sedang keluar, tentu Arsen tidak akan tahu jika aku keluar." Naura tertawa pelan. "Dasar gadis nakal!” Josh mengacak rambut Naura pelan. “Jadi, bisakah kau membantuku memerah s**u sapi?" Tawar Josh membuat Ana mengangguk semangat. "Tentu saja bisa! Aku rindu menyentuh benda kenyal itu." Naura tertawa mendengar ucapannya sendiri.   ***   Arsen keluar dari ruangan Mr. Freeman setelah selesai membahas s**u yang akan dikirim ke pabrik kejunya di kota. Sesuai jadwal, dia harus datang ke peternakan seminggu sekali, entah sekedar melihat s**u atau bertemu dengan Mr. Freeman. Hanya sebagai formalitas saja. Saat akan masuk ke mobil untuk kembali ke rumah, mata Arsen tidak sengaja bertemu dengan sepeda yang sangat dikenalnya. Sepeda itu milik Naura. Dengan kesal, Arsen menutup pintu mobil dengan keras dan masuk kembali ke peternakan. Meninggalkan Felix yang menatap Tuannya dengan bingung. Sudah jelas jika Naura datang kemari tanpa seijinnya. Gadis itu benar-benar sulit diatur. Tidak susah untuk mencari Naura, karena dapat dipastikan jika gadis itu akan menemui Josh. "Naura!" teriak Arsen saat melihat gadis itu sedang memerah s**u sapi. Naura yang mendengar seseorang memanggilnya pun berdiri dengan tegak. Dia terkejut saatmendapati Arsen berada di hadapannya sekarang. Tatapan pria itu sangat menakutkan dan membut Naura merinding. "Apa yang kau lakukan di sini?!" bentak Arsen pada Naura. "Aku—aku hanya ingin bertemu dengan Josh," jawab Naura sambil menunduk.  "Aku sudah melarangmu untuk datang ke sini!". "Kau tidak bisa melarangku seperti itu!" balas Naura dengan nada tinggi. Dia mulai kesal karena Arsen yang selalu mengaturnya ini-itu. "Aku Tuanmu, sialan!" umpat Arsen dan entah kenapa tangannya terangkat dan mendarat keras di pipi Naura sampai gadis itu terjatuh. "Kenapa kau memukulnya!" Josh yang baru datang langsung mendekati Arsen dan siap memukulnya. Namun, sebelum itu terjadi, Arsen yang melayangkan pukulannya terlebih dahulu ke pipi Josh. "Berhenti! Jangan pukul Josh. Aku akan pulang sekarang. Josh maafkan aku." Naura menangis sambil membantu Josh berdiri, kemudian dia berlari keluar dan mengambil sepedanya. Naura menangis selama perjalanan. Dia tidak menyangka jika kemarahan Arsen sungguh mengerikkan. Pipinya terasa perih sekarang, bahkan ia merasakan rasa asin di mulutnya. Dia sakit hati karena Arsen memukulnya, bahkan Ayahnya tidak pernah memperlakukannya seperti itu. Di sisi lain Arsen masih berdiri di hadapan Josh dan menatapnya tajam, "Jangan pernah temui Naura lagi dan sampaikan pada Ayahmu jika aku membatalkan kerja sama kita."  Arsen berlalu meninggalkan Josh yang memilih untuk diam. Arsen memasuki mobilnya dengan kesal. Namun, dia merasa ganjil ketika tidak mendapati Naura di mana pun, "Di mana Naura!" bentak Arsen pada Felix. "Naura pergi dengan sepedanya, Tuan. Apa yang terjadi? Kenapa dia menangis seperti itu?" tanya Felix penasaran. "Sialan!" Arsen mengumpat, "Biar aku yang menyetir," lanjutnya memilih untuk pindah duduk. Selama perjalanan, matanya tidak pernah absen untuk melihat keadaan sekitar berharap dapat menemukan Naura. Dia tidak mau gadis itu kabur dan melakukan hal yang bodoh. Lagi-lagi Arsen mengumpat karena rasa kesal yang memenuhi dadanya. Mata Arsen menyipit begitu melihat Naura yang sedang mengendarai sepedanya dari kejauhan. Arsen menekan klakson tepat di belakang Naura dan membuat gadis itu terkejut. Naura langsung terjatuh dari sepeda dan kakinya menghantam batu tajam dengan keras, membuat luka yang dalam di kakinya. Naura semakin menangis melihat itu, banyak darah yang keluar dari kakinya. Kenapa dia merasa sial sekali hari ini? Arsen keluar dari mobil dan menghampiri Naura yang terjatuh, "Dasar bodoh!" Arsen menarik tangan Naura tanpa tahu adanya luka besar di kakinya. "Sakit, Tuan." Tangis Naura semakin kencang. Arsen terdiam melihat darah segar yang keluar dari kaki Naura. Kepalanya seolah berputar tentang percakapannya dengan Felix semalam, perihal ritual. "Tuan, Naura terluka. Kita harus membawanya ke rumah sakit," ucap Felix menatap Naura khawatir. "Tidak perlu, bawa dia ke rumah." Setelah mengatakan itu, Arsen berlalu pergi masuk ke mobil.   ***   Arsen keluar dari mobil bersamaan dengan Felix yang memapah Naura di bahunya. Luka Naura sudah ditutupi kain oleh Felix namun sepertinya darah tidak berhenti keluar, yang dibutuhkan oleh Naura sekarang adalah dokter. Namun, Arsen malah memilih untuk membawanya ke rumah. Felix tidak bisa membantah itu semua. "Bawa dia ke ruang bawah tanah dan siapkan ritualku sekarang juga." Felix terkejut mendengar ucapan Arsen.  "Tuan akan menggunakan darah Naura?" tanya Felix memastikan. "Iya." "Jangan, Tuan. Dia tidak tahu apa-apa. Gunakan darahku saja." Felix semakin tidak tega melihat keadaan Naura yang setengah sadar seperti ini. "Berhenti membantah dan lakukan apa yang aku katakan!" bentak Arsen membuat Felix mendesah resah. Felix memilih pasrah dan menggendong Naura ke ruang bawah tanah. Felix mulai memasuki sebuah ruangan terlarang yang menjadi tempat Arsen jika tidak bisa tidur. Ruangan yang identik dengan kerajaan di masa lalu. Banyak besi perunggu yang menghiasi ruangan itu. Ruangan yang bercorak merah dan emas. Felix meletakkan Naura di sebuah tempat yang seperti tempat tidur namun terbuat dari batu yang terletak di tengah ruangan. Tak lama Arsen pun datang, "Ambil darahnya Felix." "Apa Tuan benar-benar akan melakukan ini?" tanya Felix tidak yakin. "Lakukan sekarang." Perintah Arsen mantap. Felix menghampiri Naura yang masih meringis menahan rasa sakit. Dia antara sadar dan tidak sadar saat ini. Felix melepaskan kain yang melilit di kaki Naura dan darah segar langsung kembali mengalir. Darah itu jatuh ke atas tempat yang ditiduri Naura. Seolah tersihir, darah itu mulai berkumpul menjadi satu dan menuju ke sebuah kendi emas yang terletak di depan Arsen berdiri. Felix yang melihat itu langsung menoleh ke arah Arsen yang menatap darah itu sambil mengucapkan sesuatu yang tidak diketahui oleh Felix. Tidak lama, Naura berteriak kesakitan membuat Felix terkejut. Darah Naura semakin banyak yang keluar. Wajahnya sudah pucat pasi karena kehilangan banyak darah. Felix tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Dia ingin membantu Naura yang berteriak kesakitan dan meminta untuk berhenti tapi dia juga tidak ingin mengganggu Tuannya yang sedang melakukan ritual. "Berhenti aku mohon! Sakit! Ayah tolong aku," teriak Naura kesakitan. Gadis itu sangat terkejut mendapati darahnya yang mengalir dengan sendirinya ke arah kendi. Arsen memejamkan matanya berusaha fokus dengan mantra yang diucapkannya. Teriakan kesakitan Naura membuatnya sedikit hilang fokus.  "Arsen, aku mohon berhenti. Tubuhku sakit sekali ... " Arsen membuka matanya dan melirik ke arah Naura yang mnatapnya. Air mata itu tidak berhenti untuk keluar. Gadis itu benar-benar merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Dia bisa merasakan darahnya semakin habis. Lebih baik Arsen membunuhnya secara langsung dari pada menyiksanya seperti ini, "Kumohon Arsen, berhenti. Aku tidak kuat."    Sudah cukup!   Arsen menghentikan mantra yang diucapkannya, membuat darah Naura berhenti mengalir. Pria itu menghampiri Naura dan meraih kain dari tangan Felix. Tangannya dengan segera melilitkan kain itu kembali ke kaki Naura. Arsen menggendong gadis itu dan membawanya ke kamar, Felix hanya mengekor di belakangnya. Dia merasa lega karena Arsen segera menghentikan ritualnya tadi, dia tidak tega melihat Naura menangis kesakitan seperti itu. Sebelum berjalan ke atas, Felix sempat melihat darah Naura di dalam kendi. Dengan ajaibnya darah itu bergerak memutar seperti membentuk pusaran air. Felix yang merasa merinding memilih untuk keluar dari ruangan itu. "Panggil dokter sekarang!" teriak Arsen setelah selesai meletakkan Naura di kasurnya. Gadis itu sudah tak sadarkan diri sekarang. Arsen hanya bisa menatap Naura dengan khawatir.    Apa yang kau lakukan, Naura? Kenapa aku tidak tega melihatmu kesakitan seperti ini?   Arsen kembali ke ruang bawah tanah dan merutuki kebodohannya. Hanya karena Naura yang pergi ke peternakan dia hampir saja membunuh gadis itu. Arsen mengerutkan keningnya ketika mendapati darah yang masih berputar di dalam kendi. Apa yang terjadi? Apa ritualnya berhasil? Suara petir terdengar sangat keras dan disusul dengan padamnya lampu di rumah Arsen. Pria itu hanya diam, dia merasakan ada sesuatu yang aneh. Tidak lama kemudian lampu kembali menyala dan dia menemukan Ayahnya sedang duduk di atas tempat yang sempat ditiduri Naura tadi. "Masih bodoh seperti biasanya, Anakku?" Ejek Dewa Clovis dengan senyuman tipis. Arsen menatap ayahnya kesal, "Apa maksudmu?"  "Aku datang bukan karena ritualmu itu. Ritualmu gagal total."  "Bagaimana bisa?" Arsen mengerutkan keningnya bingung. Dewa Clovis berdiri dan menatap Arsen santai, "Kau tidak benar-benar menginginkan darah gadis itu. Kau terpaksa melakukannya." "Aku tidak mengerti." "Sudahlah, aku datang karena aku tahu kau ingin menanyakan sesuatu." Dewa Clovis berdecak dan mengamati darah Naura yang ada di dalam kendi. Arsen mengangguk membenarkan dan mulai bertanya, "Kapan aku bisa kembali?" "Saat kau menemukan cinta sejatimu," sahut Dewa Clovis tanpa menatap Arsen. "Bagaimana bisa aku melakukannya? Aku tidak pernah dekat dengan manusia selama ini." Dewa Clovis menatap Arsen penuh minat, "Benarkah? Namun penglihatanku berkata jika wanita itu semakin dekat." "Siapa wanita itu?" tanya Arsen cepat. "Aku tidak tahu, kau harus menemukannya sendiri." Dewa Clovis mendekat dan kembali berbicara, "Sesekali kau harus ke hutan untuk melihat burung atau kijang." Lanjut Ayah Arsen. Arsen mengerutkan keningnya bingung. "Apa maksudmu— sialan! Bisakah kau tidak menghilang begitu saja!" teriak Arsen kepada Ayahnya yang sudah pergi.   Wanita itu semakin dekat. Siapa yang lelaki tua itu maksud?   ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD