Di pagi hari yang masih gelap, Naura berjalan ke arah dapur dengan mengendap-endap. Dia sedang menghindari Arsen sekarang. Naura yakin jika pagi ini pria itu belum kembali ke rumahnya mengingat keadaan luar yang masih sangat gelap.
Setelah merasa aman, Naura kembali berjalan dengan santai memasuki dapur. Dia meraih botol s**u dan menuangkannya ke dalam gelas. Naura meminum s**u itu dalam sekali teguk. Sungguh dia merasa kehausan sejak semalam, tapi dia terlalu malas untuk ke dapur yang berarti dia akan bertemu dengan Arsen. Mengingat kejadian semalam membuat d**a Naura kembali berdebar.
"Astaga, Naura bodoh! Apa yang sudah kau lakukan?!" gumamnya merutuki kebodohannya sendiri.
"Melakukan apa?" Naura tersentak dan berbalik ketika mendengar suara pria yang dikenalnya.
"Kau— kau sudah bangun?" tanya Naura gugup.
"Aku tidak tidur," jawab Arsen acuh sambil meraih gelas bekas minum Naura dan mengisinya kembali dengan s**u. Arsen meminum s**u dengan pelan, tapi matanya tidak berhenti untuk menatap Naura. Naura yang diperhatikan seperti itu semakin berdebar dadanya.
"Kenapa tidak tidur? Apakah tempat tidurnya keras?" tanya Naura berusaha untuk mencairkan suasana.
"Tidak, aku memang tidak mengantuk." Arsen meletakkan gelas kosong itu ke atas meja dan kembali menatap Naura.
"Uhmm— oke.. kau ingin sarapan?" tanya Naura sambil mengalihkan pandangannya dan beralih pada kulkas untuk melihat bahan-bahan yang ada untuk sarapan kali ini.
"Aku suka sup kentang buatanmu." Ucapan Arsen membuat Naura berbalik dan menatapnya terkejut.
"Kau apa tadi?" tanya Naura memastikan.
"Sup kentang buatanmu enak." Naura menahan nafasnya saat rasa gugup itu kembali datang. Dia tidak tahu harus menjawab atau berbuat apa sekarang.
"Aku bisa membuatkannya lagi jika kau mau." Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Naura.
"Oke, aku akan menunggu di depan." Arsen berbalik pergi dari dapur dan meninggalkan Naura yang masih mematung di tempat.
"Bodoh! Hanya karena ciuman di kening kau jadi seperti ini?" umpat Naura sambil memukul kepalanya keras.
Dia menggelengkan kepalanya berusaha untuk melupakan wajah Arsen yang entah kenapa terlihat sangat tampan pagi ini. Naura mulai meraih bahan-bahan makanan untuk memasak sup kentang seperti permintaan Arsen tadi.
***
"Sup kentang untuk sarapan Naura?" Evan bertanya sambil menaikkan alisnya bingung. Dia terkejut begitu melihat meja makan yang sudah tersedia sup kentang dan makanan pendamping lainnya. Tidak biasanya anak gadisnya itu memasak makanan seheboh ini hanya untuk sarapan.
"Ya, mungkin kita memerlukan sesuatu yang berbeda untuk sarapan," jawab Naura sambil melirik Arsen yang ada di hadapannya, "Apa salah Ayah?"
"Tentu saja tidak. Hanya saja semalam kau sudah memasak sup kentang." Evan mengambil tempat di samping Arsen.
"Aku menyukai sup kentang buatan anakmu." Celetukan Arsen membuat Naura terdiam. Dia takut jika ayahnya akan berpikiran yang tidak-tidak nantinya.
Evan terdiam mencoba mencerna semuanya. Sedetik kemudian dia melirik ke arah anaknya yang hanya menunduk menatapi piring kosong. Dia tau jika Naura sedang menghindarinya sekarang.
"Ada apa ini?" tanya Evan bingung saat suasana mulai begitu canggung.
"Tidak ada apa-apa. Sebaiknya kita sarapan atau aku akan telat datang ke peternakan. Ayah juga harus bekerja kan?" Naura berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Bukannya ap, hanya saja Ayahnya merupakan orang terpeka di dunia. Seolah-olah selalu paham dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
"Felix akan menjemputku sebentar lagi," ucap Arsen berusaha untuk membantu Naura.
"Baiklah kalau begitu kita makan dulu." Pasrah Ayah Naura.
***
Naura berjalan pelan menghampiri Josh yang sibuk menata botol s**u di dalam keranjang. Josh yang melihat kedatangan Naura hanya mengerutkan keningnya bingung. Tidak biasanya Naura terlihat muram seperti ini.
"Ada apa Naura? Apa lidahmu hilang?" Canda Josh.
Naura mendengus dan memukul lengan Josh pelan, "Bisakah aku mengirim s**u ke bagian barat?"
"Kenapa?"
Naura mengedikkan bahunya acuh, "Tidak apa-apa, hanya ingin sesuatu yang baru saja."
"Itu jauh Naura, lagi pula Thomas sudah mengantarkan s**u ke barat 12 menit yang lalu."
"Kalau begitu biar aku yang mengirim s**u ke Desa seberang."
Josh menatap Naura bingung, "Kau memerlukan mobil jika ke Desa seberang, bodoh!"
Naura mendengus mendengar itu. Dia malas mengantarkan s**u pagi ini. Bukan malas mengantarkan s**u sebenarnya, tapi malas jika akan bertemu Arsen nanti. Dia masih harus menetralkan debaran jantungnya yang selalu aneh saat berada di dekat Arsen.
"Tapi aku—"
"Sudah selesai, sekarang antarkan s**u-s**u ini." Potong Josh cepat.
"Josh, aku tidak mau..." rengek Naura membuat Josh bingung.
"Kenapa tidak mau? Bukannya kau suka jika harus mengantarkan s**u. Kau akan melewati kebun anggur kesukaanmu, bukan?"
"Iya aku suka tapi tidak untuk saat ini. Bisakah kau menggantikanku?"
"Maaf Naura aku tidak bisa. Ayah menyuruhku untuk ke tempat pemilahan daging dan aku harus pergi 15 menit lagi," jawab Josh dengan menyesal.
Naura berdecak dan menghentakkan kakinya kesal, "Kau menyebalkan Josh!"
"Sebenarnya ada apa?" Josh menatap Naura dengan bingung.
"Aku malas bertemu Tuan Arsen."
"Tuan Arsen?" tanya Josh bingung.
"Iya, pria galak itu!"
Yang juga tampan..
"Jadi namanya Tuan Arsen. Tapi kenapa kau malas bertemu dengannya?"
Naura memutar matanya jengah. Kenapa Josh banyak tanya sekali? "Kau mau membantuku tidak?"
"Sudah ku katakan tadi Naura, aku harus ke—" Ucapan Josh terpotong saat Naura kembali berbicara.
"Ya ya ya terserah!" Naura meraih keranjang s**u dan membawanya ke arah sepedanya.
"Jangan marah, nanti malam kita makan sosis bakar, oke?" teriak Josh.
"Kau yang mengajak jadi kau yang bayar." Naura berbalik menatap Josh.
"Tentu saja." Josh terkekeh kecil melihat tingkah lucu Naura.
***
Naura menghentikan sepedanya di area perkebunan anggur. Dia melirik ke arah keranjang di mana hanya tinggal 3 botol s**u dan semua itu harus diantarkan ke rumah Arsen. Karena malas, Naura memutuskan untuk turun dan bergabung dengan para pegawai kebun anggur. Biarkan saja s**u itu, dia akan mengantarkannya nanti jika sudah siap.
"Selamat pagi!" sapa Naura pada para pegawai kebun yang sedang memilih anggur untuk bisa dipetik.
"Pagi Naura," balas para pegawai dan kembali bekerja lagi.
"Bisakah aku membantu?"
"Tidak sekarang Naura," jawab salah satu pegawai.
"Kenapa?" tanya Naura kecewa. Gagal sudah mendapatkan anggur gratis.
Bukan sebuah rahasia lagi jika Naura selalu meminta anggur setelah selesai membantu para pegawai. Bukan berarti para pegawai tidak menyukai Naura, pekerjaan Naura sangat membantu mereka dan mereka memberikan anggur itu sebagai imbalan karena Naura sudah mau membantu. Para pegawai tidak pernah keberatan dengan hal itu, namun sepertinya tidak untuk kali ini.
"Pemilik kebun datang hari ini. Jadi kita tidak bisa memberimu anggur."
"Pemilik kebun tidak pernah tahu jika kalian selalu memberiku anggur kan?" tanya Naura takut.
"Tentu saja tidak, namun untuk sekarang biarkan kami saja yang bekerja. Besok kami masih panen anggur, datanglah."
"Jadi seperti ini pekerjaan kalian selama tidak diawasi?" Sebuah suara membuat semua orang yang ada di sana tersentak dan menunduk takut kecuali Naura.
"Apa yang kau lakukan di sini, Tuan?" Naura bingung begitu melihat Arsen berada di area perkebunan. Susah-sudah menghindari rumah Arsen malah dia yang bertemu dengan pria itu di kebun anggur.
"Tentu saja melihat pekerjaan pegawaiku yang tidak becus!" Naura membukatkan matanya mendengar itu.
"Tunggu, jadi kau yang—"
"Iya aku pemilik kebun ini, dan aku baru tahu jika ada pencuri kecil selama ini."
Naura merutuki kebodohannya, dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Para pegawai juga memilih diam dan sepertinya itu pilihan yang paling bijak utuk sekarang.
"Kalian kembali bekerja, setelah selesai kalian tidak perlu datang lagi besok. Kalian dipecat." Semua orang terkejut mendengar ucapan Arsen. Bagaimana tidak, dengan mudahnya dia memecat 12 pegawai sekaligus. Naura merasa sangat bersalah, ini semua salahnya. Banyak orang yang menggantungkan hidup di perkebunan ini termasuk Ayahnya. Meskipun bukan pegawai tetap, Ayahnya juga bekerja di perkebunan ini. Entah memberikan pupuk ataupun menyiram vitamin ke tanaman anggur.
Naura harus melakukan sesuatu, dia tidak mau jika para pegawai akan kehilangan pekerjaannya hanya karena kesalahan konyolnya itu.
"Kau tidak bisa memecat mereka seperti itu!" ucap Naura membuat langkah Arsen terhenti dan berbalik menatap Naura.
"Tentu saja aku bisa." Arsen melipat tangannya di d**a dan menatap Naura datar.
Naura mengepalkan tangannya menahan kesal. Entah kenapa rasa gugup yang tadi pagi dia rasakan langsung menguap entah ke mana. Melihat betapa arrogant-nya Arsen dalam memimpin membuat Naura muak.
"Ini bukan salah mereka, ini salahku. Kau tidak bisa memecat mereka."
"Jadi apa maum hm?" Tantang Arsen.
Sebenarnya Naura tidak tahu harus melakukan apa, tapi dia harus tanggung jawab sekarang, "Aku yang tanggung jawab. Intinya jangan pecat mereka."
Arsen terdiam begitupun para pegawai. Mereka takjub dengan keberanian Naura melawan Arsen yang terkenal kejam itu.
"Kau tahu, sepertinya gajimu di peternakan tidak akan cukup untuk menutup kerugian anggur yang kau curi selama ini."
Wajah Naura memerah mendengar itu, "Aku tidak mencuri! Aku membantu mereka merawat kebun."
"Apa mereka meminta bantuanmu? Apa kau pikir kebunku ini kekurangan pegawai?" tanya Arsen dengan nada dingin. Dia berjalan dengan pelan menghampiri Naura, "Kau hanyalah gadis bodoh yang selalu membuat kesalahan." Ucapan pedas Arsen membuat emosi Naura naik. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, Naura tahu jika semua ini memang salahnya.
"Pertama, kau menumpahkan s**u ke bajuku."
Naura meneguk ludahnya saat Arsen semakin dekat dengannya. Sialan, pria dihadapannya ini benar-benar menakutkan!
"Kedua, Ayahmu hampir membuat kakiku remuk."
"Dan... " Arsen menghentikan ucapannya saat sudah sampai tepat di hadapan Naura. Gadis itu mendongak untuk melihat wajah Arsen dengan jelas. Sekarang di hatinya hanya ada rasa kesal, tidak ada waktu untuk mengagumi wajah Arsen yang tampan bak Dewa Yunani itu, "Dan yang ketiga, kau mencuri anggur di kebunku selama ini." Naura menahan nafasnya begitu hidungnya menangkap harum wangi yang keluar dari mulut Arsen.
Entah kenapa mata Naura turun ke arah bibir pria itu. Bibir yang baru dia sadari jika terlihat sedikit menggoda. Bibir penuh itu pastinya akan terasa kenyal jika disentuh. Bayangan bibir Arsen menyentuh bibirnya memenuhi otak Naura. Dia penasaran dengan rasa itu.
Arsen yang mengetahui arah pandang Naura hanya bisa tersenyum miring. Gadis di depannya ini terpesona dengannya, Arsen tahu itu.
"Sudah puas memandangi wajahku gadis kecil?" Naura tersentak dan reflek mendorong tubuh Arsen untuk menjauhinya, tapi yang ada malah dia yang terdorong mundur.
"Aku akan tanggung jawab," ucap Naura mantap.
"Baiklah, ambil sepedamu dan ke rumahku sekarang." Arsen meninggalkan Naura yang masih terlihat syok.
"Kalian jangan khawatir, aku pastikan kalian tidak jadi dipecat." Naura berkata pada para pegawai dan berlari cepat ke arah sepedanya.
***
Naura duduk dengan diam di sofa milik Arsen. Sedangkan pria itu terlihat santai duduk di depannya sambil membaca koran. Sudah 15 menit dan Arsen belum membuka suara sedikitpun.
"Sebenarnya apa maumu?" tanya Naura yang sudah jengah menunggu.
Arsen melipat korannya dan meletakkannya di atas meja. Dia duduk sambil menatap Naura dengan datar.
"Berhenti menatapku seperti itu!" Sahut Naura ketus sambil memainkan jarinya gugup.
"Seperti apa?" tanya Arsen yang mulai suka untuk menggoda Naura.
"Berhenti bermain-main dan katakan semuanya!" Naura berucap dengan kesal.
Arsen hanya mengangguk dan memperbaiki letak duduknya, "Kau harus jadi pelayanku di sini."
Naura terkejut dan menatap Arsen tajam, "Apa maksudmu?!" tanya Naura marah. Bisa-bisanya pria itu merendahkannya seperti ini?
"Aku bisa menuntutmu kau tahu? Jika kau tidak ingin dituntut, jadilah pelayanku dan buatkan aku sup kentang setiap hari."
Naura menatap Arsen tidak percaya, "Setiap hari? Dasar gila!"
"Terserah jika tidak mau," ucap Arsen dan langsung memanggil seseorang, "Felix! hubungi pengacaraku sekarang juga!" Ucapan Arsen membuat Naura terkejut. Yang benar saja? Arsen benar-benar akan membawanya ke jalur hukum.
"Baiklah aku mau!"
Arsen mengangguk dan tersenyum miring, "Kalau begitu Felix akan mengantarmu pulang dan segera kemasi barangmu."
"Apa maksudmu? Kenapa aku harus mengemasi barangku?"
Arsen berdiri dan berdecak menyadari kebodohan Naura, "Kau harus tinggal di sini."
"Kau gila!"
"Bisakah kau bersikap sopan?!" Sentak Arsen dengan nada keras. Dia sudah cukup sabar dengan tingkah Naura yang seenaknya selama ini.
"Maaf,” gumam Naura pelan, "Tapi bagaimana pekerjaanku di peternakan?"
"Aku yang akan mengurusnya."
"Bagaimana dengan Ayahku jika aku tinggal di sini?" tanya Naura lagi saat teringat dengan Ayahnya. Tentu saja dia khawatir, karena dia hanya punya Ayahnya seorang di dunia ini.
"Kalau itu urusanmu," jawab Arsen acuh.
"Bagaimana jika Ayahku tidak mengijinkan?"
Arsen tersenyum miring, "Sampai jumpa di pengadilan kalau begitu." Kemudian dia langsung berbalik pergi meninggalkan Naura sendiri.
Naura terdiam dan hanya bisa memendam amarahnya. Dia tidak ingin meledak dan membuat semuanya bertambah rumit, yang harus dipikirkannya sekarang adalah bagaimana dia mengatakan semua ini pada ayahnya.
***