Mulai Sedikit Mengenalmu

1983 Words
Naura menopang wajahnya dengan bosan. Dia melirik ke arah Josh yang masih setia menunggu umpan pancingnya dimakan oleh ikan. Sudah 2 jam berlalu namun sepertinya Josh tidak berniat untuk menyudahi acara memancingnya. Sudah sering kali Naura berkata jika ikan di danau sudah mulai punah namun Josh berkelak kalau ikan di danau masih banyak dan mereka semua hanya vegetarian, jadi ikan-ikan di sana tidak mau memakan cacing Josh.    Lucu sekali!   "Ini sudah 2 jam, Josh. Aku bosan." Keluh Naura sambil menekuk lututnya. "Sebentar lagi, aku yakin ada ikan yang akan memakan umpanku." "Sudah hampir sore," gumam Naura lagi sambil melihat ke sekitar danau yang sudah sepi. "Memangnya kau ingin ke mana? Bukannya kau ingin aku menemanimu sampai Ayahmu pulang," ucap Josh kembali melempar mata pancingnya ke danau. Entah sudah berapa kali pria itu memasang umpan namun tetap saja tidak ada ikan yang tertangkap yang ada malah umpannya habis dimakan oleh ikan-ikan kecil. "Memang, tapi tidak dengan memancing. Kau tahu aku tidak suka menunggu. Apalagi menunggu sesuatu yang tidak pasti," gumam Naura pelan diakhir kalimatnya. "Ada apa dengan kata-katamu? Kenapa terdengar seperti orang yang sedang patah hati,” ejek Josh pada Naura. "Terserah, aku ingin berjalan-jalan di sekitar danau sebentar." Naura bangkit dari duduknya sambil menepuk-nepuk pantatnya yang kotor karena rumput kering. "Jangan jauh-jauh." Pesan Josh yang kembali memasangkan cacing pada kail pancingnya. "Tidak janji," ucap Naura dan berlalu pergi. Josh hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Naura. Naura berjalan ke arah hutan sambil menarik lengan sweater-nya untuk menutupi telapak tangannya yang terasa dingin. Musim dingin akan segera datang sebentar lagi dan Naura menyukai itu. Akan ada festival winter yang diadakan setiap musim dingin datang. Festival itu akan diadakan di area danau. Semua penduduk desa akan berkumpul dan menyalakan api unggun, menari, berpesta, dan lain-lain. Keramaian itu yang selalu ditunggu oleh Naura. "Sialan! Kenapa kau tidak muncul lagi, hah?!" Naura menghentikan langkahnya ketika mendengar suara samar-samar seseorang yang sedang marah.  Naura berjalan ke arah suara itu berasal dan dia menemukan seorang pria yang membelakanginya dengan hanya mengenakan kaos tipis dan celana pendek. Naura mengerutkan keningnya bingung. Apa pria itu tidak kedinginan? Belum sempat Naura menghampiri, pria itu kembali berteriak membuat Naura terkejut dan memilih untuk bersembunyi di balik pohon. "Di mana kau Ayah sialan?!" teriak pria itu lagi membuat Naura menggeleng tidak percaya. Dia menutup mulutnya saat sadar jika pria itu adalah pria yang mengobati tangannya tadi pagi. Setelah tahu siapa pria itu, Naura tak segan lagi untuk menghampirinya. Namun lagi-lagi langkah Naura terhenti saat pria itu jatuh berlutut sambil menutupi wajahnya. Tidak lama kemudian, terdengar isakan yang sangat mengejutkan Naura. Pria itu menangis? Dengan ragu Naura menghampiri pria itu dan menyentuh bahunya, "Apa kau tidak apa, Tuan? Kenapa menangis?" Arsen langsung tersentak dan bangkit berdiri dengan menghapus air matanya. "Kau lagi." Desah Arsen pelan sambil memejamkan matanya. "Kenapa kau menangis?" tanya Naura tidak memperdulikan ucapan Arsen. "Bukan urusanmu." "Sudah 2 kali aku mendengarmu mengumpati Ayahmu?" teriak Naura membuat langkah Arsen yang menjauh terhenti. "Kau seharusnya belajar untuk tidak ikut campur urusan orang lain," ucap Arsen dingin tanpa menatap Naura. "Itu tidak sopan kau tahu?" Naura melanjutkan ucapannya tanpa peduli ucapan Arsen, "Dan kau menangis tadi." Lanjut Naura dengan pelan. "Apa maumu sebenarnya? Menjauh dariku dan jangan ikut campur urusanku,” geram Arsen marah. "Seorang pria juga perlu menangis. Kau tidak usah malu." Naura berjalan mendekati Arsen dan berhenti tepat di depan pria itu. Matanya menatap mata Arsen yang terlihat memerah. Arsen hanya diam tidak tahu akan menjawab apa. Lagi-lagi tubuhnya terasa kaku saat Naura berada di dekatnya.  "Kenapa?" tanya Naura pelan. Arsen menghela nafas kasar dan menatap Naura dingin, "Bagaimana jika Ayahmu sendiri mengusirmu dan tidak menganggapmu sebagai anak. Apa kau tidak marah?" tanya Arsen tiba-tiba. "Tergantung," ucap Naura mengangkat kedua bahunya. "Maksudmu?" Naura maju selangkah agar lebih dekat dengan Arsen, "Tergantung kesalahan apa yang aku perbuat sehingga Ayahku sendiri mengusirku," jawab Naura menatap Arsen dalam, "Tunggu, jadi Ayahmu mengusirmu begitu?"  tanya Naura begitu sadar dengan ucapan Arsen tadi. Arsen langsung mengubah mimik wajahnya kembali menjadi datar, "Lupakan ucapanku tadi." Arsen berbalik dan kali ini benar-benar meninggalkan Naura. "Jika kau ingin bercerita, aku siap mendengarnya!" teriak Naura yang diacuhkan oleh Arsen.   ***   Ayah Naura lagi-lagi menguap saat tidak bisa menahan rasa kantuk pada matanya. Padahal jarak rumahnya sudah sangat dekat, hanya tinggal beberapa menit saja. Dia berusaha untuk fokus menyetir dalam keadaan mengantuk, dia tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan. Ayah Naura terkejut dan membanting setir hingga berhenti tepat di pinggir jalan. Dia menoleh ke belakang dan melihat ada seseorang yang sedang terduduk sambil memegangi kakinya. Baru saja dia berkata harus hati-hati tadi namun sekarang dia benar-benar menabrak seseorang. Dengan cepat Evan keluar dan menghampiri orang itu. Keadaan jalan yang sepi dan gelap membuat dia berhati-hati dalam mengambil langkah. Bukan hal yang baru lagi tentang pencurian mobil dengan modus seperti ini. Namun kali ini sepertinya berbeda. Pria yang ditabraknya tadi sama sekali tidak berdiri dan masih memegangi kakinya. "Kau tidak apa?" tanya Evan pelan sambil menyentuh bahu pria itu. "Kau hampir saja meremukkan kakiku, sialan!" Evan terkejut melihat respon pria itu. Saat sedang kesakitan saja dia masih bisa membentak orang. "Coba aku lihat." Evan dengan cepat berlutut dan membuka celana pria itu, sedetik kemudian dia meringis melihat luka yang cukup parah. "Kakimu tidak patah, tetapi lukamu cukup dalam. Ayo ikut aku pulang, akan aku obati lukamu." Tawar Evan sambil menarik lengan pria itu. "Kenapa kau tidak membawaku ke rumah sakit?"  Dengan cepat Evan menggeleng, "Tidak, rumah sakit mahal. Jika luka seperti ini, aku bisa menanganinya sendiri. Cepat berdiri, jangan lemah." Lama-lama Evan sedikit kesal dengan sikap pria itu. Tanpa protes pria itu masuk ke dalam mobil sambil meringis menahan sakit. "Aku minta maaf," ucap Evan masih fokus menyetir. "Aku juga, aku melamun tadi."  "Siapa namamu?" tanya Evan sambil membelokkan setir mobilnya memasuki pekarangan rumah. "Arsen."   ***   Naura tersenyum saat Ayahnya sudah datang dengan kantung plastik di tangannya. Dengan tak segan Naura langsung masuk kedalam pelukan Ayahnya. Entahlah, kenapa hatinya merasa bahagia saat ini. Apa karena pria galak yang ditemui di hutan tadi? "Ini pesananmu." Ayah Naura memberikan kantung plastik yang langsung diraih oleh Naura dengan semangat. "Terima kasih, Ayah. Ayo masuk, aku sudah membuatkanmu sup kentang." Ajak Naura. "Tunggu sebentar." Evan kembali ke mobil dan membuka pintu samping kemudi. Naura mengerutkan keningnya saat Ayahnya terlihat sedang memapah seseorang. Dia terkejut saat tahu jika pria yang dipapah oleh Ayahnya adalah pria galak itu. "Ayah, ada apa?" tanya Naura sambil melihat kaki Arsen yang berlumuran darah. "Hanya kecelakaan kecil di jalan. Bisa kau ambilkan kotak obat Naura." Dengan cepat Naura masuk ke dalam rumah untuk mengambil perlengkapan obat-obatan. Tak lupa dia juga mengambil air hangat dan handuk kecil. Gadis itu kembali ke ruang tamu di mana Ayahnya sudah menunggu di sana. Naura memerhatikan Ayahnya yang dengan serius membersihkan luka Arsen. Pria itu hanya diam, sesekali juga meringis saat lukanya ditekan. Namun satu hal yang diperhatikan oleh Arsen sedari tadi. Ternyata pria yang menabraknya tadi adalah Ayah dari gadis bodoh yang selalu menganggunya. Sungguh kebetulan yang menjengkelkan. "Sudah selesai," ucap Evan merapikan peralatan obatnya. "Bagaimana ini bisa terjadi? Apa Ayah terluka?" tanya Naura khawatir. "Tidak Naura, Sayang. Justru Ayah yang hampir meremukkan tulang Arsen tadi." Sindirnya sambil melirik ke arah Arsen. "Arsen?" tanya Naura bingung, "Oh, jadi namamu itu Arsen!" pekik Naura semangat. "Kalian sudah pernah bertemu?" Evan menatap dua orang di hadapannya dengan bingung. "Sering Ayah, dia pria yang aku ceritakan padamu. Dia pemilik pabrik keju yang bekerja sama dengan Paman Freeman."  "Jadi kau orangnya," ucap Evan menatap Arsen dengan teliti. Pantas saja Naura sempat merasa kesal dulu karena memang pria itu sangat menyebalkan. "Lukaku sudah selesai kan? Aku ingin pulang," ucap Arsen. "Kau serius? Aku yakin kalau kau belum bisa berjalan sekarang. Ini juga sudah malam," ucap Naura seolah memberi kode pada Ayahnya. "Ya tentu saja, kau bisa menginap di sini," jawab Evan menyetujui. "Tidak perlu." "Yakin? Aku membuat sup kentang. Mungkin kau ingin mencoba?" Rayu Naura agar Arsen tetap tinggal sebentar di rumahnya. "Tentu saja Arsen mau. Ayo! aku yakin kau tidak akan menyesal mencicipi masakan anak gadisku." Arsen hanya pasrah saat gadis yang baru dia ketahui bernama Naura itu memapahnya memasuki ruang makan. Mungkin untuk malam ini dia harus menginap di rumah kecil itu. Arsen tidak mungkin mengganggu tidur Felix tengah malam seperti ini meskipun dia yakin dia bisa melakukannya.   ***   Arsen terduduk diam di ruang tamu mengamati kedekatan Naura dan Ayahnya. Tak jarang mereka tertawa bersama seolah melupakan keberadaan Arsen di sekitarnya. Namun, Arsen sendiri tidak ambil pusing. Dia lebih memilih untuk diam dari pada bergabung dengan percakapan konyol antara Ayah dan anak itu. "Kau ingin warna apa, Ayah?" tanya Naura sambil mengeluarkan semua benang yang dibelikan oleh Ayahnya tadi di kota. "Terserah kau, Sayang." Arsen memutar matanya jengah mendengar panggilan sayang yang digunakan oleh Evan. Ruangan kembali hening, hanya terdengar suara radio yang didengar oleh Evan sedangkan Naura mulai sibuk dengan rajutannya. "Ini sudah larut malam. Aku akan masuk ke dalam kamar," ucap Evan sambil bangkit dari sofa, "Apa kau ingin tidur sekarang Arsen? Akan kutunjukan kamarmu." Lanjutnya. "Tidak, nanti saja." Evan hanya mengangguk dan menghampiri Naura yang masih sibuk merajut. "Tidurlah Naura."  Naura menggeleng dan masih sibuk dengan rajutannya, "Aku belum mengantuk Ayah." "Kalau begitu Ayah ke kamar dulu." Evan mencium kening Naura cepat dan berlalu pergi masuk ke dalam kamar. Arsen yang melihat semua itu benar-benar merasa muak, "Cih, manja sekali." Cela Arsen dengan suara kecil. "Apa katamu, Tuan?" tanya Naura melirik Arsen sebal. Arsen menatap Naura dengan sinis, "Dasar manja."  "Aku tahu kau hanya iri. Ayahmu tidak pernah mencium keningmu, bukan?" Ucapan Naura membuat Arsen terdiam. Benar, dia hanya merasa iri karena ayahnya tidak pernah memerlakukannya sebagaimana seorang anak. "Bukan urusanmu." Arsen mengalihkan pandangannya dan bersandar pada sofa. Naura menghela nafas kasar dan berpindah posisi untuk duduk tepat di samping Arsen, "Masih belum ingin bercerita?" tanya Naura ketika ingat jika dia pernah mengajukan diri sebagai pendengar yang baik saat Arsen ingin mencurahkan isi hatinya. "Aku memang tidak berniat bercerita padamu," balas Arsen dengan tajam. "Oh, ya sudah kalau begitu." Acuh Naura dan kembali pada rajutannya. Hening, tidak ada percakapan lagi setelah itu. Suara radio yang masih menyala tidak mengganggu Arsen sedikitpun, otaknya masih berpikir tentang semua hal, sampai akhirnya dia bertanya pada Naura, "Di mana Ibumu?"  "Tidak ada," jawab Naura singkat tanpa merasa tersinggung sedikitpun. "Kenapa?" tanya Arsen penasaran. "Aku tidak berniat bercerita padamu," balas Naura telak membuat Arsen menatap gadis itu tidak suka. Jika dia masih seorang Dewa, manusia seperti Naura lah yang akan dia bunuh tanpa pikir panjang. Arsen terkenal sebagai pria yang dingin. Dia tidak segan untuk membunuh orang jika orang itu membuat perkara dengannya. Hanya keluarga Trodou yang mengetahui itu semua. Setelah membunuh, dia akan menyerahkan semuanya kepada Felix sampai selesai. Tidak boleh ada jejak yang tertinggal sedikitpun. "Aku akan kembali ke kamar. Kamarmu ada ujung sana." Tunjuk Naura pada pintu yang terdapat di ujung ruang tengah. Naura mulai berjalan menjauhi Arsen saat tidak mendengar suara yang keluar dari mulut pria itu. Saat akan membuka pintu kamar, Naura berbalik dan berjalan kembali menghampiri Arsen. Pria itu mengangkat kepalanya saat sadar jika Naura berdiri tepat di depannya. Dia hanya menaikkan alisnya bingung sebagai pertanyaan. Tanpa diduga Naura menunduk dan mencium keningnya cepat.  "Aku tahu kau akan marah, tapi dengarkan aku dulu," ucap Naura sebelum amarah Arsen meledak. "Aku tahu kau adalah pria yang baik, kau hanya kurang kasih sayang. Anggap saja ciuman tadi adalah Ayahmu yang sedang mencium keningmu." Tubuh Arsen lagi-lagi seperti membeku dan tidak bisa merespon ucapan Naura, padahal dia ingin sekali marah, tapi entah kenapa dia tidak bisa. "Kau baru saja menciumku," ucap Arsen dengan serius. Naura yang mendengar itu hanya menelan ludahnya bingung. Jujur saja, sebenarnya dia takut dengan tatapan tajam Arsen. "Ah, sudah malam. Selamat malam, Tuan Arsen." Naura langsung berbalik dan berlari menuju kamarnya. Arsen hanya terdiam dan menyentuh dadanya yang berdetak dengan kencang. Dua ratus tahun menjadi manusia baru kali ini dia merasa jika jantungnya kurang sehat.  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD