Masih Tetap Galak

1824 Words
Naura berlari menuruni tangga rumahnya dengan semangat. Pagi telah tiba, sudah waktunya dia kembali bekerja di peternakan. Dia berjalan menuju meja makan dan duduk di kursi yang ada di sana. "Pagi Ayah," sapa Naura semangat. Entah kenapa dia terlihat sangat gembira pagi ini. "Ada apa dengan wajahmu? Bahagia sekali," tanya Ayah Naura sambil meletakkan roti yang telah di panggangnya ke atas meja. "Entahlah, hanya saja aku merasa semangat hari ini." Naura berucap sambil mengambil roti buatan Ayahnya. "Hari ini Ayah akan ke Kota. Mungkin nanti akan pulang malam." Naura hanya mengangguk dan masih fokus pada rotinya, "Kalau begitu hati-hati di jalan." "Apa kau ingin menitip sesuatu?" Naura menghentikan kunyahannya mendengar ucapan Ayahnya. Jujur saja baru kali ini Ayahnya menawarkan sesuatu padanya. Naura tidak terlahir dari keluarga yang kaya. Ayahnya hanya bekerja serabutan untuk menyekolahkannya sampai lulus seperti ini meskipun tidak sampai sekolah perguruan tinggi di Kota, tapi Naura tidak mempersalahkan itu semua. Ayah Naura adalah seorang single parent. Dia membesarkan Naura sendirian sejak kecil. Jangan tanya di mana Ibunya, karena sampai detik ini Naura tidak pernah mengetahui siapa Ibunya. Pernah sekali dia bertanya kepada Ayahnya saat masih kecil, tapi hanya jawaban ketus yang dia dapat. "Kenapa kau bertanya tentang Ibumu? Bahkan Ibumu sendiri tidak pernah memperdulikanmu. Satu hal yang harus kau tahu Naura. Ibumu adalah orang yang tidak bertanggung jawab." Jawaban ketus itu membuat Naura mundur dan tidak pernah bertanya lagi tentang Ibunya. Sebenarnya dia hanya penasaran, selama ini pun dia tidak merasa kekuarangan kasih sayang sedikitpun, meski dia hanya hidup berdua dengan Ayahnya yang selalu sibuk mencari uang. Namun tetap saja, Naura masih bisa merasakan kasih sayang penuh dari Ayahnya itu. "Apa Ayah serius?" tanya Naura lagi mencoba meyakinkan Ayahnya. "Memangnya kenapa? Apa salah jika aku menyenangkan hati anakku sendiri?" balas Evan sambil menaikkan sebelah alisnya. "Tentu saja tidak! Itu memang kewajibanmu untuk menyenangkan hati anaknya," celetuk Naura cepat membuat Ayahnya hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. "Kau ingin apa?" "Sebentar lagi musim dingin bukan?" tanya Naura sambil meminum susunya. "Lalu?" "Ayah tidak punya syal," lanjut Naura pelan. "Kau ingin aku membeli sebuah syal?" Evan menatap anaknya bingung. "Bukan, bukan itu. Aku ingin Ayah membelikanku benang rajut. Aku ingin membuat syal sendiri untuk Ayah. Romantis bukan?" Naura terkekeh geli mendengar perkataannya sendiri. "Dasar!” Dengus Evan, tapi tak urung dia juga tersenyum melihat tingkah anaknya. *** Naura berjalan mengendap-endap menghampiri Josh yang sedang sibuk mengemas s**u segar. Dia berhenti tepat di belakang pria itu dan berteriak di telinganya. "Boo!” teriak Naura membuat Josh terlonjak kaget. "Astaga Naura! Kau ini jahil sekali." Kesal Josh. "Kau terlalu serius bekerja sampai tidak menyadari kedatanganku," ucap Naura dengan cemberut. "Aku harus mengemas s**u ini sebelum kau mengantarkannya." Josh kembali sibuk dengan susunya, "Apa kau sudah sarapan, Naura?" "Sudah, tadi Ayah membuatkanku roti bakar." Cerita Naura. "Apa itu enak?" "Rasa apa yang kau harapkan dari sebuah roti? Semua roti rasanya sama saja." Naura ikut duduk berjongkok sambil melihat Josh yang memasukkan s**u ke dalam botol kaca. Setiap pagi tugas Naura hanya mengirimkan s**u segar itu ke setiap rumah yang berlangganan s**u. Setelah selesai, dia harus ke kandang entah untuk memerah s**u sapi atau membersihkan kandang. Sesungguhnya Naura juga bingung, perkerjaan apa yang sedang dijalaninya ini. Paman Freeman tidak menjelaskan secara spesifik pekerjaannya. Pria itu hanya berkata jika Naura bisa bekerja di peternakan dengan gaji yang sama dengan pegawai lainnya. Naura yang tidak tahu harus bekerja apa hanya membantu para pegawai lainnya dan sepertinya mereka juga tidak terganggu dengan keberadaan Naura. "Ini sudah selesai, berangkatlah sebelum panas matahari muncul." Naura hanya mengangguk dan mengikuti Josh yang membawa keranjang s**u dan meletakkannya di sepeda yang didesain memiliki keranjang besar di belakang, tempat untuk meletakkan botol s**u. "Aku berangkat dulu ya. Bye!" Naura mulai mengayuh sepedanya dan melambaikan tanganya pada Josh. *** Naura memarkirkan sepedanya tepat di depan rumah tua yang besar yang terlihat menakutkan. Dia melihat ke sekitar rumah yang sangat sepi seolah tidak berpenghuni. Rumah tua itu berdiri sendiri tanpa adanya tetangga karena terletak di dalam hutan. Baru kali ini Naura mengantarkan s**u ke rumah ini. Dia melihat kertas yang bertuliskan alamat pelanggan di tanganya dengan teliti. Benar, ini rumahnya. Namun kenapa terlihat sunyi sekali? Dengan ragu Naura mengambil 3 botol s**u yang tersisa dan membawanya masuk ke area rumah tua itu. Bulu kuduknya langsung berdiri saat sudah sampai di halaman rumah. Jika bukan karena mobil mahal yang terparkir di halaman, tentu Naura tidak akan mau masuk ke dalam rumah itu. Rumah yang mirip seperti rumah hantu menurut Josh. Dengan pelan Naura mengetuk pintu besar itu. Sesekali dia juga berusaha untuk membetulkan posisi botol s**u yang dibawanya agar tidak jatuh. Naura kembali mengetuk pintu saat tidak ada sahutan sedikitpun dari penghuni rumah. Terbesit rasa ragu jika rumah ini berpenghuni, bisa saja mobil yang terparkir di depan rumah adalah mobil orang lain. "Permisi, s**u freeman datang," teriak Naura sambil melihat ke sekitar. Hening, masih tidak ada sahutan. Dengan ragu, Naura berjalan ke arah jendela dan mengintip di sana, mencoba mencari tanda-tanda adanya kehidupan di rumah itu. Naura masih membungkuk dan menyipitkan matanya. Dia terperangah saat melihat keadaan dalam rumah yang sangat berbanding terbalik dengan keadaan luar rumah. Dengan hanya melihat tangganya saja sudah terlihat jelas betapa mewahnya rumah itu. "Siapa kau?" Tiba-tiba suara terdengar membuat Naura terkejut dan menjatuhkan semua botol s**u yang dia bawa tadi. "Astaga! Susuku!" rutuk Naura sambil berjongkok meratapi susunya yang tumpah. Dengan rasa kesal yang teramat dalam, Naura bangkit dari duduknya dan menatap pria yang mengagetkannya tadi. "Kau!" ucap Naura tidak percaya begitu melihat siapa pria yang ada di depannya itu. "Ah, kau lagi.” Arsen terlihat memutar matanya malas. "Kenapa kau hobi sekali mengagetkanku? Lihatlah! Susuku tumpah lagi karenamu." Arsen menatap gadis di depannya dengan tidak peduli. Bagaimana bisa dia bertemu lagi dengan gadis ceroboh sepertinya. "Kenapa diam?" tanya Naura lagi membuat Arsen mendengus dan mendorong bahu Naura untuk menyingkir dari jalannya. "Aku tidak peduli," jawab Arsen singkat. "Kau harus tanggung jawab, Tuan. Aku harus memberikan s**u ini pada pemilik rumah. Ya Tuhan! Paman Freeman akan memarahiku jika tahu." Naura menggigit kukunya dengan bingung. "Bukan urusanku." Arsen mengangkat bahunya acuh dan mulai membuka pintu rumahnya. "Tunggu!" Cegah Naura saat melihat Arsen dengan mudahnya masuk ke dalam rumah tua itu, "Kenapa kau memasuki rumah orang seenaknya?! Dasar tidak sopan." "Apa kau harus mengetuk pintu terlebih dahulu jika ingin masuk ke dalam rumahmu?" tanya Arsen malas. "Tentu saja tidak!" "Itulah yang sedang kulakukan sekarang." Arsen menutup pintu dengan keras meninggalkan Naura yang terdiam di teras rumah. Dia masih sibuk berpikir tentang ucapan Arsen. Tunggu, jadi rumah ini adalah rumah pria galak itu? "Tuan, buka pintunya!" teriak Naura sambil mengetuk pintu secara membabi buta, "Tuan, buka pintunya, aku ingin minta maaf." Naura berbicara dengan memelas. Dia mengutuk dirinya sendiri karena selalu berbicara seenaknya. Lagi-lagi dia membuat masalah dengan pria yang tidak ia ketahui namanya itu. Naura takut jika pria itu akan membatalkan kerja samanya dengan Paman Freeman karena tingkah lakunya. "Tuan!" teriak Naura sekali lagi. Detik berikutnya pintu terbuka dan muncul Arsen yang bertelanjang d**a dan hanya mengenakan celana jeans lusuhnya. "Apa maumu hah?! Berisik sekali!" Bentak Arsen dengan kesal. Naura meneguk ludahnya ketika matanya tertuju pada perut Arsen yang terlihat keras. Seolah terhipnotis, tangan Naura terangkat untuk menyentuh perut itu. Hanya dengan jari telunjuk, Naura sudah merasakan sengatan yang luar biasa. Sepertinya Arsen juga merasakan hal yang sama. Dia terpaku saat telunjuk Naura menyentuh perutnya. Entah kenapa Arsen mendadak berubah menjadi membeku. Rasanya sama seperti saat Ayahnya akan mengutuknya menjadi manusia, Arsen terdiam tidak bisa melakukan apapun. "Astaga! Apa ini perut? Keras sekali?" gumam Naura pelan sambil menoel-noel perut Arsen. Arsen yang tersadar karena ulah Naura pun dengan reflek mencengkram erat telapak tangan gadis itu. "Argh! Lepaskan tanganku, ini sakit sekali,” lirih Naura saat Arsen masih mencengkram tangannya kasar. "Siapa kau berani menyentuhku!" bentak Arsen lagi sambil menyentak tangan Naura. Naura mendengus dan mengusap tangannya yang terasa sakit, "Jangan salahkan aku, salahkan perutmu itu yang seolah memanggilku untuk menyentuhnya." Bela Naura pada dirinya sendiri. "Masih tidak merasa bersalah hah?!" "Iya iya, aku minta maaf. Kenapa kau pemarah sekali?" gumam Naura pelan dan memutuskan untuk minta maaf. "Sekarang pergi dari rumahku!" Usir Arsen. "Tidak mau! Bagaimana dengan s**u-s**u ini?" tanya Naura bingung sambil memandangi s**u yang sudah mengotori lantai rumah. "Bukan urusanku. Kenapa si Freeman masih memperkerjakan gadis bodoh sepertimu?” keluh Arsen sambil menutup pintu. Naura yang melihat pintu akan ditutup pun langsung mengulurkan tanganya ke dalam untuk mencegah pintu tertutup. Karena gerakannya itu, alhasil jemari Naura langsung terjepit oleh pintu. "Arghh! Sakit sekali. Tuan, buka pintunya!" pekik Naura sambil mengeluarkan air matanya, "Lihat jariku berdarah." "Dasar gadis bodoh!" umpat Arsen menarik tangan Naura yang tidak terluka dan membawanya masuk ke dalam rumah. Setelah berada di dalam rumah, Naura seolah lupa dengan rasa sakitnya. Matanya sekarang menatap ke sekeliling rumah yang terlihat benar-benar mewah. Dia jadi teringat dengan cerita kerajaan yang sering Josh ceritakan. "Duduk." Dengan polosnya Naura menghapus matanya yang basah dan langsung duduk sesuai dengan perintah Arsen. "Berikan tanganmu." Naura mengulurkan tangannya dan Arsen langsung membersihkan tangan gadis itu dengan alkohol. Naura meringis sambil menahan perih. Air matanya kembali keluar karena rasa perih itu. "Tahan sebentar, jangan cengeng." "Ini sakit sekali. Lihat! Bahkan kukuku seperti akan lepas dari jariku," ucap Ana dengan menunjuk kukunya yang mengeluarkan darah. "Jangan berlebihan." Tidak butuh waktu lama Arsen sudah membersihkan tangan Naura lengkap dengan perban yang sudah membalut rapi jari gadis itu. "Sekarang keluar!" Perintah Arsen bangkit dari duduknya. "Tunggu, bagaimana dengan susunya?" "Jika kau berfikiran aku akan membatalkan kerja sama dengan Freeman, kau salah besar." "Jadi?" tanya Naura bingung. "Jadi sekarang kau pulanglah!" Usir Arsen sambil menarik lengan Naura dan menyeretnya untuk keluar rumah. "Hei! Kau ini kasar sekali," rutuk Naura sambil mengelus lengannya yang terasa ngilu. "Terserah!" Arsen bergerak untuk menutup pintu. "Tunggu!" Cegah Naura sambil mengulurkan kakinya untuk mencegah pintu tertutup. Seolah tidak belajar dari kesalahan lagi-lagi Naura meringis kesakitan karena kakinya yang terjepit. "Astaga! Apa maumu?!" bentak Arsen frustasi. “Tiidak ada. Hanya saja itu..." Naura menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia takut dengan tatapan Arsen. "Apa?!" "Apakah itu tatto permanen?" tanya Naura sambil menunjuk tatto di d**a kiri Arsen. Arsen mengikuti arah jari telunjuk Naura dan terkejut saat melihat tattonya yang lagi-lagi warnanya berubah sedikit pudar. "Aku ingat, tadi tattomu hitam sekali kenapa sekarang menjadi seperti ini?" gumam Naura sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh tatto Arsen. Naura tersentak saat Arsen meraih tangannya dan mencengkramnya erat, "Jangan pernah menyentuhku dan bertingkah sok akrab denganku." Pintu tertutup dengan keras tepat di hadapan Naura. Naura yang merasa syok hanya terdiam dengan mulut yang terbuka. Dengan linglung dia berjalan keluar pekarangan rumah Arsen dan berdiri tepat di samping sepedanya. "Pria galak itu aneh sekali." Naura bergumam sambil menaiki sepedanya dan mengayuhnya kembali ke peternakan. Lupakan pria tadi. Lagi-lagi Naura harus berpikir bagaimana caranya agar bisa menjelaskan semuanya pada Paman Freeman meskipun pria itu sudah mengatakan jika dia tidak akan membatalkan kerja sama mereka. Namun tetap saja, Naura bukan tipe gadis yang bisa menyembunyikan itu semua. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD