Di sore lain.
"Eh... Ehm... Ngomong-ngomong... Apa definisi kalian tentang kesuksesan?" tanya Dena sambil menggigit sedotan dengan gugup.
Keisha menjawab dengan ringkas dan ringan. "Tidak terjerumus ke dalam kegagalan yang kita takuti."
"I like that idea, Keish!" Kata Noire sambil asyik meraup gelas es krimnya sendiri.
"Apa maksudmu?" tanya Utari pada Keisha meminta kejelasan. Utari selalu persis dalam segala hal, tapi ia merasa Keisha selalu melakukannya dengan lebih baik. Keisha lebih segar, sangat baik dengan detail-detail, dan lebih preserved, hal-hal yang sulit dimiliki oleh jenis orang yang terlalu forward, relentless, ambitious seperti dirinya. "Seperti kita tidak benar-benar bisa mengantisipasinya?"
"Yea! Gua setuju. That can be the reason," kata Erlan menunjuk Utari dengan sedotannya dengan gesture yang sangat manly. Utari merebut sedotan itu, sambil lalu ia mengacungkannya kemudian menaruhnya di atas meja. Dibalas Erlan dengan mengangkat kedua tangannya sambil bergidik.
"That's very gay!" Kata Utari sambil melotot pada Erlan .
Erlan mengerutkan kening dengan mulut terkatup tak suka ucapan Utari. Dia menganggap dirinya sebagai orang yang paling hetero di masa kini. Ia membuktikannya dengan sekian banyak hubungan yang telah dijalinnya. Tak sekalipun ia memutuskan hubungan tersebut, tidak pula diakhirinya dengan sakit hati oleh kedua belah pihak. Hingga kini, mantan-mantannya masih berkomunikasi dengan baik dengannya. Hetero dalam definisi Erlan adalah rasa pertemanan kepada lawan jenis tanpa melanggar batas-batas dan sifat alami dari lawan jenis tersebut. Wanita bisa menjadi apa saja dan bersikap apa saja, as long as they are treating him being a man respectfully. Tidak seperti dengan mengatai laki-laki sebagai gay, karena itu akan menurunkan rasa kehormatan yang ditanam di diri laki-laki. Alasan itu baru saja membuat Erlan urung untuk mengencani Utari, semenarik apapun wanita yang menjadi mitra bisnisnya tersebut.
"Kenapakah itu bukan menjadi kaya, sukses dalam karir, menikah dengan orang paling cakep di kota, dan melanglang buana bersamanya?" tanya Dena lagi. Ia menimang-nimang perpaduan antara Mas Hadi yang kaya raya tanpa harus bekerja sedikitpun dan tergila-gila padanya, dengan Dio simpanannya yang adonis dan sering berganti teman wanita tapi ia tergila-gila padanya.
"Tidak bisa seperti itu...!" Kata Noire mendelik. "Kalian tahu, sukses di mata wanita adalah membina rumah tangga dengan laki-laki yang sempurna, dan orang semacam itu tidak ada! Semua laki-laki yang berumah tangga tahu diri mereka tidak sempurna! Tapi, kenapa ukuran itu selalu menjadi alasan para wanita untuk mencari pasangan dalam keluarga?"
Semuanya merengut, tapi dengan kesan tak setuju. Terlalu riskan untuk mendebat Noire yang agak panasan orangnya itu, dan isu ini terlebih sukar sekali diraba. Suasana kafe sudah terasa panas dengan kemenangan Keisha berkali-kali.
Termasuk Erlan , tapi kemudian ia mengangkat bahu. "Oke".
Noire masih ingin melanjutkan. "Apa yang terjadi sering kala, wanita terkekang dengan semua penyesalan akan khayalannya yang tidak menjadi nyata. Mereka menjadi tua sebelum waktunya, dan harus mengasuh suaminya yang bersikap kekanak-kanakan. So, kenapa kita tidak menikmatinya saja? Agar kita mengalahkan ketakutan terhadap hal yang bagaimanapun akan menjadi kenyataan!? Pertanyaannya selalu to be or not to be. Dan jawabanku adalah to be. Karena aku wanita sejati dan wanita melakukan apa yang harus dilakukannya."
Semua orang terpandang-pandang.
Bahkan Erlan saja terpekur. Ia menggendik kecil, melihat Utari yang menatap Noire dengan putus asa. "Yeah. You can be right..."
"Well, yea," kata Utari sambil membuang sedotannya ke meja. Ia mengangkat bahu.
"Hell, yeah..." Dena menggebrak meja.
"No way!" Kata Keisha sambil berdiri. Semua orang memandangnya, termasuk para pengunjung lainnya di kafe itu. Utari dan Dena yang duduk di sebelahnya menarik tangan Keisha agar kembali duduk. "Oh, I guess you're right, Noir..., yea...!" Ia merasa masih harus menjelaskan pendapatnya, tapi setelah ia pikir lagi, justeru maksudnya adalah memang sama dengan Noire. Ia menuturkannya juga, "aku selalu ingin sukses dalam rumah tanggaku, demi anak-anakku, tak peduli apakah itu harus suamiku atau aku yang mencari uang. Kurasa jelas, sekolah adalah target utama aku selama dua tahun ke depan ini."
Semua ribut-ribut menanyakan kebenarannya. Keisha tidak hanya telah menyelesaikan S2nya, tapi juga mengikuti berbagai kursus-kursus malam, sehingga tak sekalipun ia pernah bisa pergi berkencan. Sederhananya karena dia tak punya teman lelaki untuk berkencan.
Semua orang menatapnya dengan miris.
Terlebih-lebih Noire. "That's why, I'm going to marry Alvian next month! Yea, a simple and cute wedding, just the two of us, in the backyard of his rich father mansion. Kalian boleh datang kalau mau. Of course aku mengundang kalian, tapi tidak yakin dengan pilihan pengantin laki-lakinya..."
"What??!" Semua berseru kaget serentak.
"Actually, that was the father who asked to marry his son. He is going to work abroad, so we may live in his big house. I had say yes to it."
"Oh, no..." Semua orang melenguh, terjatuh kemas di atas meja.
"Oh, yea. Dia sudah mengantarkan cincinnya padaku." Noire mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. Ia membuka kotak itu, sebuah cincin bermata berlian yang indah berkilauan menerangi seluruh meja. Semua orang terpana.
"Dan aku hanya tinggal mengenakan apabila benar bersedia, dan memperlihatkan cincin itu pada Alviku," kata Noire sambil memungut cincin itu dan mengenakan sambil beberapa saat menimang. Lalu ia menjepret cameraphone dan bekerja sebentar dengannya. Lalu sambil tersenyum pada teman-teman yang lain, ia berkata,"it's sent".
"Waiiit!!!" Kata Keisha mencegah.
"Noo!!" Kata Dena menjerit.
"Noire, why are you doing that?!" Tanya Utari tak setuju.
"Heh???!" Kata Erlan .
Semua orang terkesiap kaget, melarangnya, tapi sudah terlambat.
"Aku tak ingin menjadi orang terakhir yang tinggal sendirian. Sekarang, mari kita pikirkan teman kita yang satu ini, Miss Lonely Forever Keisha."
"Uh?! Why me?!" tanya Keisha tak enak.
Semua orang memandang Keisha dan tertegun. Sedetik mereka melihat wajah Keisha meringis, mereka tahu, ucapan Noire ada benarnya. Seperti sudah selayaknya mereka bergembira merayakan keputusan Noire, mereka pun mengangkat gelas masing-masing tinggi-tinggi. Keisha berproost untuk kebahagiaan Noire.
"Tapi, aku masih belum setuju kamu menikahi Alvian!" Kata Keisha sambil mengangkat gelasnya. Noire hanya tergelak menyedot minumannya.
"It is your turn now, Keisha..." Kata Noire mengingatkan sambil menaruh gelas di meja.
"Erlan is having serial monogamy, Utari is married but complicated, me engaged and have a lover, Noire is just engaged. Just you now, Keish!" Kata Dena.
"Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliahku! Itu rencana masa depanku! Aku tak keberatan menikah di usia tua."
"Hah?!"
"Elo gila?" Kata Dena kaget, ia tak bisa membayangkan dirinya tanpa laki-laki yang mengantarnya ke kantor, shopping, jalan-jalan, atau sekedar menemaninya semalaman di telfon.
"Mungkin, kita harus dengar sendiri dari Keisha, bagaimana emosi jiwanya selama ini, dengan hubungan terakhirnya yang memiliki sesuatu untuk diungkapkan barangkali?" Kata Utari yang paling tenang di antara mereka, secara usianya paling tua.
"Hey, Keish... Kenapa tidak kuperkenalkan beberapa klienku yang tampan, kujamin pribadinya oke. Kau suka?"
"Ngapain, sih kamu? Jadi, sekarang kamu berekspansi ke bidang percomblangan juga?"
Erlan mengerutkan bibirnya ke pinggir membuat ekspresi lucu.
"You have to do it!" Kata Utari pelan pada Erlan . "Kau punya partner baru yang adik-kakak ganteng-ganteng itu," kata Utari lagi berbisik sambil menepuk Erlan di bahu.
Erlan merekatkan kepalannya yang bertaut di meja sambil tersenyum pada Keisha menyetujui usul Utari.
"Oh, I know one guy...!" kata Noire sambil mengangkat telunjuk.
"Don't listen to them, Keish... Listen to your heart. Elo bisa dapat cowok idola lo... Persiapkan rencana matang-matang, sementara elo ikut gue beauty treatment dan shopping, mungkin lo bisa ketemu cowok oke selagi kita having fun. Kalau lo perlu ekstra treatments, don't worry ada Danang... Dia udah suka sama lo kayak ke adiknya sendiri."
Keisha mengangkat kedua tangannya. "Cukup, cukup, cukup...! Aku nggak punya waktu buat semua itu, oke? Rencanaku sudah bulat. Aku akan melanjutkan kuliahku! So, please... Simpan semua kekhawatiran kalian. Aku akan baik-baik saja!"
"Really...?"
"Yeah..."
"Oh, come on...," kata Noire tak percaya.
Keisha menghempaskan bahunya, memandangi teman-temannya satu persatu dengan wajah tersinggung.
"Alright, alright..."
"Oke..."
"As you like..."
Walau bagaimanapun, teman-teman Keisha mensetting pertemuan dengan beberapa laki-laki pilihan mereka. Tapi, semuanya tak berhasil dan tak jarang membuat Bhea marah.