Better Joy

1119 Words
"Keisha!! Cepetan!!" Gendis berseru di trotoar dengan menjinjing roknya. Di tangannya ia memegang sekuntum bunga putih. Keisha membuka pintu mobil, lalu dengan susah payah mengenakan sepatunya. Ia berkaca sebentar pada kaca eyeshadow palette MAC barunya mengoleskan lipstik tipis saja di bibirnya. Ia meraup bolero, tas kecil, buket bunga dan setumpuk hadiah. Ia berjejak kaki di aspal basah sambil mengangkat rok, lalu dengan kepayahan menekankan pinggulnya ke pintu mobil untuk menutup mobil. Gendis memencet alarm mengunci SEAT Mii barunya itu. Mobil itu berdenyit beberapa kali. Hujan baru saja turun di kompleks Casablanca Sentul, suasana alam di sekitar sangat tenang dan nyaman. Suara lagu favorit Noire, Time After Time sudah bisa terdengar saat Gendis dan Keisha melangkahkan kaki di undakan tangga rumah mewah itu. Setibanya di dalam, mereka menaruh semua hadiah, dan buket buka di atas meja yang telah disediakan. Utari menyambut mereka dengan tergesa-gesa, mereka saling berciuman pipi sebentar. "Apa yang membuat kalian begitu lama? Dia sudah mulai merengek saja! Kasihan riasannya!" Utari menggeram kesal. "Macet di jalan, mom! Si Keish udah dia lama, masih belum berdandan pula. Dia pakai gaun selama di jalan! Bayangkan saja..." Gendis membalas menggeram. "Setting make up base di jalan sampai tiba di depan baru berani memoles wajahnya, tuch..." Keisha hanya mengucap kata "sorry" tanpa suara pada Utari. Lalu berkelit ke pintu ruang makan di mana sebuah meja besar dipenuhi dengan berbagai macam hidangan lezat. yang Utari memelotot kesal padanya, ia sendiri terburu-buru mengikuti Keisha. Sambil ia mendorong Keisha dan Gendis menuju kebun tempat digelarnya tempat perhelatan. Kebun itu indah dan dirias sangat sederhana dengan pita-pita dan bunga, semuanya bernuansa putih. Undangan yang hadir sudah berkumpul bersama di taman belakang. Noire tampak cantik dengan gaun putih pengantinnya. Ia tampak gugup berdiri di samping Irvansyah hingga melihat kedatangan Gendis dan Keisha. Kedua saksi bernafas lega mengambil tempat duduk di kursi saksi menghadap dua ujung meja. Di depan meja tersebut, duduk penghulu dengan beberapa petugas KUA. Acara akan segera dimulai. Irvansyah menghela nafas panjang, menarik tangan Noire untuk duduk di sampingnya. Tapi, Noire masih ingin menunggu dua sahabatnya itu mendekat dan memberikan ciuman di pipi untuknya. "Apa yang membuat kalian begitu lama?" kata Noire kesal. "Bagaimana riasanku?" Ia menanyakan hal yang sama lagi untuk kesekian kalinya, yang sudah dilontarkannya pada Utari. Gendis dan Keisha saling bergantian memeluk dan mencium dirinya. Keduanya membisik padanya. "Perfect..." "You're the most beautiful..." Lalu keduanya berdiri di belakang Noire. Noire pun duduk, lalu menatap calon suaminya dengan lega. Suara lagu kesayangan Noire yang diputar berulang-ulang itu masih terdengar, halus saja, setelah Erlan mengecilkan volumenya. Irvansyah mengangguk tersenyum pada para petugas yang akan meresmikan niatan pernikahan mereka. Penghulu meminta semua yang hadir bersiap. Kemudian ia membawakan ucapan pembukaan. Peresmian itu pun diikuti dengan urusan kelengkapan syarat. Semuanyanya lengkap dan sesegeranya dipersilakan oleh para saksi untuk melanjutkan proses pernikahan. Ayah Irvansyah yang adalah seorang yang taat beragama sudah melatih putera satu-satunya itu untuk melafalkan kalimat yang harus diucapkannya. Puteranya tampak siap dan percaya diri, tak sedikitpun ia merasa ragu. Mempelai pria itu melirik pada mempelai wanita dengan penuh harap. Penghulu membimbing upacara pernikahan itu dengan sangat berhati-hati dan jelas disaksikan oleh kedua orang tua, dan disimak dengan baik oleh para tamu undangan yang hadir. Di samping Noire, duduk Ibunda tercinta yang tak lepas memegang tangan anaknya dengan wajah mengeras. Noire memegang tangan ibunya lebih kuat lagi. Saatnya Irvansyah harus mengucapkan kalimat sakral itu, Noire berdesau halus. Rupanya ia menangis. Utari membungkuk membisikkan kalimat untuk menguatkannya. "This is your destiny... Be happy, darling..." "Ingat riasan kamu, Noir..." Gendis membungkuk di belakangnya. Keisha juga membungkuk sambil mengasongkan tissue. "This is the most wonderful wedding... I'm so proud of you..." Noire mengangguk-angguk sambil menekan-nekankan tissue ke hidungnya. Lalu, tiba gilirannya mengucapkan kesediaannya. Dengan suara bening, Noire menyatakannya. "Saya bersedia." Setelah beberapa saat, keduanya Irvansyah dan Noire menandatangani buku nikah. Lalu segenap undangan yang hadir bersorak bahagia. Acara itu ditutup dengan kedua mempelai memberikan ciuman di bibir. Noire hendak mencium tangan Irvansyah, tapi laki-laki muda yang telah menjadi suaminya itu menarik tangannya, lalu mencium kening Noire. Noire akhirnya hanya bisa tersipu malu. Para tamu mulai menyebar ke tempat duduk melanjutkan sajian minuman mereka. Mereka adalah anggota keluarga mempelai, tak banyak, hanya beberapa pasangan paman, bibi dan sepupu-sepupu kedua mempelai saja. Sejenak mengobrol satu dengan lainnya, juga bersama keempat sahabat-sahabat Noire. Tiba-tiba Noire datang, menarik tangan mereka. Dengan segan, mereka pamit dan berjinjit membuntuti Noire ke ruang makan. "Dia tidak mau kucium tangannya," bisik Noire resah. "So what? Dia tak merasa kau perlu melakukannya," bisik Keisha. "Ya, tapi aku isterinya! Aku yang harus tunduk padanya! Bukan malah dia hanya mencium keningku saja," bisik Noire kini sedikit cemas. "Dia menghormatimu, dear...," kata Utari menenangkan perasaan Noire. "Dia masih bisa membiarkanku mencium tangannya. Bukankah itu lebih romantis?" "Tentu saja," kata Keisha membenarkan. Noire langsung mendekat padanya. "Aku khawatir dia hanya akan menjadi si kekanak-kanakan itu...," bisiknya dengan nada penuh ketakutan, teringat akan ucapannya sendiri tempo hari. "Kau beri saja ciuman yang banyak di tangannya nanti...," usul Gendis merunduk pada Noire. Noire melotot padanya. "Aku kemarin membantunya pindah membawa beberapa barang-barang ke rumah ini. Kau tahu apa yang dibawakannya dari apartemennya sendiri?" "Apa?" "Play Stations!! Beberapa Play Stations! Lengkap dengan koleksi CD gamenya!" Semuanya menarik bibir sambil meringis. "Ops," Gendis menutup mulutnya. "Aku tak ingin jadi janda...," rengek Noire. "Itu status yang menakutkan bagiku!" Noire kedengarannya sudah mulai. "Oh, please, please..., Noir... Tidak sekarang... Kau tidak akan menghancurkan pernikahanmu begitu saja...," kata Keisha merasa bersalah. "Ini kesalahanku... Aku sudah meminta saran Mamaku... Kau lihat saja wajahnya? Mamaku adalah orang satu-satunya yang tak mengembangkan senyum dalam pernikahanku," kata Noire dengan nada getir. "You will be fine...," kata Gendis tegas. "Fikirkan tentang bulan madu kalian ke Eropa, kau akan bersenang-senang bersamanya... Kau lihat dia tengah mencemaskanmu..." "Benarkah?" Tanya Noire berbinar. Ketiganya mengangguk kecil beberapa kali sambil tersenyum manis. Noire segera berbalik. Namun, Gendis segera menariknya kembali. "Oh, dia sudah berbalik..." "Dia sedang ngobrol sama pamannya...," kata Keisha. "Dia akan mencarimu kembali... Sebaiknya, kau cerahkan wajahmu. Come on, cheer up, girl...," kata Utari sambil mengusap pipinya. "Ohhh," Noire malah terisak. "Aku sangat beruntung punya sahabat seperti kalian..." Ia menaruh wajahnya di pundak Utari. Ketiga temannya salah tingkah, mereka saling melambaikan tangan bingung, tak tahu apa yang harus dilakukan padanya. Saat itu, Irvansyah melihatnya. Ia mohon diri dari kumpulan tamunya. Lalu berlari kecil menghampiri Noire. "Heyyy, baby... Ada apa, sayang...?" "She's just too happy," kata Utari meredakan suasana. Noire pun berbalik, Irvan merengkuhnya. "Oh, come on... This is our joy...!" "Joy...?" Noire mengangkat wajahnya. Like in 'joystick', you mean? Fikir Noire cemas. "Yea...! Semua orang berbahagia untuk kita! Seharusnya itu adalah joy terbaik bagi kita..." Irvan mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Perlahan, senyum itu pun mengembang di wajah Noire. "Aaah..." Ketiga Utari, Gendis dan Keisha menepuk dadanya berbahagia.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD