"Your biology clock!" kata Noire membelalakan matanya yang sipit dengan riasan eyeliner tebal. Wajahnya yang selalu pucat itu gorgeous, dengan bibir penuh yang selalu basah dan cepat melunturkan warna lipstik merah menyala, ia bisa memikat setiap laki-laki yang ia pelototi.
"Aku bisa mengurus diri sendiri."
"You cannot grow old alone!!" Pekik Noire.
"Ah, ayolah...! Aku baru saja 29!" Seru Keisha terbelalak. Ia sudah tidak sabar lagi ingin segera menancap gasnya.
Noire mendekat dengan mencengkeram pintu mobilnya. "Itu berarti, kamu harus berkencan kilat paling lama selama 6 bulan, bertunangan selama 1 tahun, dan kamu bisa jadi harus menunggu hingga 2 tahun."
"Aku yakin aku bisa mengaturnya!" Kata Keisha menyahut dengan membuang mukanya cuek.
"Jangan mengulang kesalahan yang kulakukan!" Kata Noire meratap sambil memegang perutnya. Ia baru saja keguguran oleh stress dari perceraiannya.
Keisha menengadah menatap wajah sahabatnya di bibir jendela dengan iba. "Tentu saja tidak. Kau dibuntuti ratusan laki-laki tampan dan kaya, tapi kau selalu ingin laki-laki yang paling tampan, maka kau dapat yang pengangguran!"
"Don't underestimate your best friend choice. This hunk behind me is well-financed. If you don't get your a** here and go out with him, I will."
"Hey!" kata Bhea ketus. "Kamu bilang, dia sepupumu!!"
Noire menghelas nafas dalam. Mata Keisha mencari-cari lelaki itu di belakang Noire. Laki-laki itu menggeleng sambil menggoyangkan jarinya.
"Then, you go!" kata Keisha merengut. Noire mendorong pintu mobil itu kaget, namun mobil itu tak bergeming, hingga Keisha menancap gasnya sambil tertawa melambaikan tangan.
Noire menghentakkan kakinya kesal lalu mengejar sambil melambai-lambaikan tangannya. "Hey!! Keish!! Jangan pergi!!!"
"Dia membuatku merasa aneh... Kadang-kadang... Mungkin terlalu aneh, tapi aku pada kedalaman rasaku yang tersanjung... Aku merasa berada di alam lain saat bersamanya..."
"Maksudnya bagaimana...?"
Teman-temannya mengangguk minta penjelasan, semua merasa penasaran.
"He's always been a poetic..." Kata Keisha perlahan.
Semuanya menopangkan dagu, tak sabar ingin mendengarkan.
-----
"Apa salahnya menjadi puitis?!" Kata Jericho sambil melepaskan selendang gitar dari bahunya. Ia mencabut batang rokok yang menggantung di bibir Keisha dan melemparkannya ke luar pagar teras loteng.
Keisha mendengus, menggebrak meja, tapi apa daya, batang Sampoerna Mild menthol terakhirnya itu telah melayang dan mendarat di tanah baru saja reda didera hujan. Ia menelungkupkan wajahnya di atas laptopnya yang menyala, sambil menekankan badannya pada bantal yang ia peluk di d**a.
"It's just so unreal...," kata Keisha sambil menengadahkan kepalanya malas.
"Puitis adalah dataran tertinggi dari alam imajinasi dan fantasi. Kenapa kau tak bisa menikmatinya pemandangannya? Lihat yang terhampar di depan matamu... Ataukah kau lebih merasa puas dengan perasaan ketika berkhayal bahwa di bawah tempat tidurmu berbaring makhluk yang mengerikan?"
Keisha memukul bantal. "Itu nggak bener!!"
"Lalu, kenapa kamu mempercayainya?!" Tanya Jericho sambil mengangkat kedua tangan, dengan gaya senyum khasnya. Kedua ujung bibir di tarik lebar-lebar. Matanya membelalak membuat ekspresi lucu.
"Hm!" Keisha menyeringai konyol sambil garuk-garuk pipi atasnya tak gatal.
"Kau seharusnya menjadi orang kuat, kau tahu?" kata Jericho sambil menengadahkan gitar dan wajahnya ke langit menatap cahaya bulan.
"Kenapa kau mengatakannya?" Tanya Keisha enggan sambil merunduk mempermainkan mouse.
"Karena puisi sebenarnya adalah alam dari para pejuang, yang dengannya kita bisa menghayatinya..."
"Kenapa kau begitu sangat yakin atas hal-hal yang kamu sukai...?"
"Karena tidak ada alur kehidupan yang melalui jalan selain mengikuti aturan yang telah ditetapkan-Nya!" Kata Jericho sambil menunjuk ke atas langit.
"Hey! Itu adalah ilmu!! Jadi, aku akan terbang dengan pesawat dan melampaui dataran imajinasi kamu!" Kata Keisha sambil lalu cekakakan kesal.
"Hey! Kau tidak memastikan bisa menjejakkan kaki kembali ke bumi dalam mencapai semua bayanganmu jika kau tak cukup punya persediaan bahan bakar!!" Tunjuk Jericho sambil terbelalak mata, menanti persetujuan Keisha.
Keisha tak jadi tertawa lepas. Ia merasa ada yang tak adil di sini, kenapa ia selalu harus dihadapkan pada pertanyaan mana yang nyata dan tidak nyata. Ia merasa kasih sayang ibunya nyata, tapi, kenapa kemudian ia hidup di atas kepedihan bayangan perceraian orangtuanya dan tinggal bersama ibu tiri yang tak bahagia dengan keberadaannya.
"Okay, jadi kau akan semalaman di puncak itu dan nggak mau turun-turun, begitu??!" Kata Keisha menghancurkan semua bayangan mereka sambil melengos cuek, ia bermaksud meledeknya, tentunya. Tapi, Jericho sudah menangkap gelagat Keisha.
Jericho menangkap pinggangnya, Keisha tertawa menahan diri. Tapi, Jericho mencekal tangannya dengan keras, dan menggesekkan jarinya ke bagian paling sensitif di tubuhnya, yaitu daerah tulang rusuknya. Keisha tertawa terbahak-bahak, ia loncat dari kursi. Mereka saling bertubrukkan, dorong mendorong, hingga Jericho menjatuhkannya ke kasur. Keisha tertawa makin keras sambil minta ampun dengan nada mau nangis.
"Bilang ampun!!"
"Amppuuun...! Ampuunn!!! Wakakakak..."
"Bilang, ampun Jericho cakep!!"
"Wkwkwkwkkw..." Keisha tak mau menuruti permintaannya.
"Ampun, Jericho cakep... Ayo, bilang!"
"Wkwkwkkwk...," Keisha makin keras tertawa, tapi Jericho makin mengelitikinya. "Ampun, Jericho jeleeek...!" Ledek Keisha, ia malah asyik ketawa.
Jericho makin keras menggelitikinya. Keisha makin tertawa terbahak-bahak dibuatnya.
"Apa kamu bilang? Mau minta lebih keras lagi??" Kata Jericho dengan senyum gemas menggelitik ketiak Keisha, ia menggulingkan Keisha dan menyisipkan tangannya ke punggung ketiak Keisha. Dia tahu, Keisha bisa marah sekali dibuatnya, karena bukan hanya itu akan lebih geli lagi, tapi juga akan membuatnya tertawa kesakitan.
Saat ini, Keisha terbahak-bahak sambil menangis kesakitan. "Wkwkwkkw... Ampun, Jericho cakeuuuuup...! Wkwkwk... Ampuuun...!! Ah-ha-ha, ampppuuunnn..." Keisha akhirnya merengek kesakitan.
"Ayo, bilang sekali lagi...!" Kata Jericho puas sambil memperhalus gelitikannya.
"Ampun, Jericho cakeeuuuuuppp... Ampun!!! Hentikan...! Sakiiiit...! Ampppuuun...!! Wkwkwk...." Kata Keisha sambil tertawa, tapi ia kemudian membentak dengan marah. Tapi, ia kemudian menertawakan dirinya.
"Bukan cakuuup, tapi cakeeepppp!" Kata Jericho menggeleng sambil membelalakkan mata, sambil mengangkat dagu dan membelalak matanya puas lalu matanya menyipit membuat ekspresi serius.
Keisha semakin terbahak-bahak geli mendengar permintaan Jericho itu, tapi dia benar-benar harus minta ampun. "Ampun, ampuuun...! Ampun, Jericho cakeeep... Wkwkwkwk..."
Jericho melepaskan pinggang Keisha. Keisha mengaduh sambil terengah-engah memeluk perutnya di kasur.
"Owhhh... Makasih...," kata Keisha meledek sambil terkulai di atas kasur. "Dasar orang jelek..."
"Apa? Masih mau tambah, bilang cakep lagi, ayo!?" Kata Jericho sambil mengangkat dagu hingga wajahnya sedikit menengadah, tapi dengan mata melihat ke bawah, di mana Keisha dengan mata memohon untuk tidak melakukannya.
Keisha tertawa sambil duduk di kursi memeluk guling. "Nggak, nggak, nggak... Cukup, bener, cukup... Oke, sorry, Jericho cakeeep...," kata Keisha dengan wajah menunduk dan mata memohon, bibirnya mencibir.
Jericho menarik kedua ujung bibirnya tersenyum, lalu menyambar gagang gitar lagi.
"Oke... Sekarang dengarkan lagu baruku ini... Kupersembahkan padamu... Keisha, kekasihku pujaan hati..." Kata Jericho sambil memutar kursi yang tadi diduduki Keisha.
Keisha terbahak lagi dari mendengar kalimat terakhir Jericho.
"Kau tak suka? Kau belum denger laguku," kata Jericho merengut, lalu mendentingkan gitar tak ragu.
Keisha lalu mengambil sebuah kursi dan duduk di hadapannya sambil menopang dagu dengan siku menumpu di kedua lututnya. "Benarkah itu? Kau memuja aku sebagai kekasih hatimu?"
Jericho bernyanyi, "SEBUAH LIRIK BARU". Lalu menghentikan dentingan gitarnya, sebelah tangannya melingkar membelai kepala Keisha.
Keisha tertawa nyengir tanpa suara.
"Bagaimana, kau menyukainya??" Tanya Jericho, lalu ia mulai menyanyi lagi, "BAIT SELANJUTNYA". Jreng!
Keisha tersenyum, ia selalu bilang kalau Jericho suaranya standar aja, hanya pantas buat boy band.
"Kamu nggak bisa jadi seleb dengan suara boyband seperti itu!"
"Kalau aku tumbuh dewasa, pita suraraku bisa mirip penyanyi pujaanmu itu..." Jericho masih terus mendentingkan gitarnya. "
"Pujaan yang mana? Pujaanku banyak."
"The Lighthouse Family."
"Huuu, gak mungkin, dia terlalu hebat buatmu." Kata Keisha langsung bete.
"Aku pikir, juga begitu. Tapi, kau akan cepat mabuk cinta denganku. Jadi, tak peduli lagi dengan suaraku, hahahahaha... Hahahhaha..."
Keisha menepuk bahunya, "nggak lucu...!" Keisha makin bosan.
"Lucu aja, kalau kamu juga ikut nyanyi..., hahahahaha..."
"Hihhhhh...!!!" Kata Keisha sambil menendang dengan kaki ke betis cungkring Jericho, tak cukup puas, ia pun menusukkan jari jemarinya ke pinggang Jericho. Jericho terpelanting ke belakang, ia membuka lebar kakinya dan berkelit pergi dari Keisha sambil tertawa. Ia melemparkan gitar ke kasur, dan menangkap tangan Keisha, menariknya. Tapi, Keisha berkelit ke luar teras, sehingga Jericho memburunya. Di sana Keisha merunduk dengan meringis pelan, tapi, ia tak bisa menahan tawa melihat kegemasan Jericho.
"Kau tak mau mendengarkan lagu baru ciptaanku untukmu! Awas, kalau itu jadi hits, ya!! Baru kau mewek memohon-mohon cintaku!"
"Cintamu...?!" Kata Keisha sambil tertawa menahan perutnya.
Jericho melepaskan tangannya, lalu berdiri tegak di depan Keisha yang perlahan menengadahkan wajah padanya. Ia merengkuh kedua bahu Keisha, lalu membalikkan badan Keisha pelan-pelan. Sebelah tangannya ia sisipkan ke tangan Keisha. Sebelah lagi, tangannya melingkar ke perut Keisha.
"Kau lihat purnama itu...?!" Tanya Jericho pada Keisha. Keisha perlahan menaruh kepalanya di d**a Jericho. "Aku akan selalu mengingatmu di setiap hadirnya..."
"Benarkah...?" Kata Keisha seakan tak mengira Jericho akan mengatakannya.
"Ya, aku selalu bertanya pada diriku sendiri, apa yang lebih indah dari cahaya bulan purnama. Tidak ada. Tapi, aku kemudian menemukan bahwa keindahan itu tak akan punya makna, jika kau tak ikut merasakannya..."
"Aku suka cahaya bulan purnama...," kata Keisha sambil menolehkan wajahnya beberapa saat. "Bagaimana maksudmu?"
"Aku ingin kau menyimpannya dalam hatimu dengan baik... Agar ia tak pernah pudar setiap saat aku memandangnya." Kata Jericho sambil menengadah ke langit.
Keisha menolehkan wajahnya, tersenyum menatap sebelah wajah Jericho untuk saat yang lama.
Hening.
Hanya Keisha yang meraba-raba hatinya.
"Ya?"
"Aku baru kali merasakan ketenangan seperti ini..." Kata Keisha mengakui.
"Jangan khawatir, aku akan selalu menjagamu..."