Alunan musik mengiringi suara merdu seorang biduan dengan gaun panjang tanpa lengan. Lagu yang dibawakannya begitu mendayu dan menyayat hati bagi yang tengah berputus asa. Za memainkan minuman di gelas berkaki tinggi di tangannya. Hatinya masih merasa bingung. “Hai, Za. Di sini kamu rupanya. Masih BT sama suami kamu yang kismin itu?” tanya Celine menyunggingkan senyuman mencibir. “Apaan sih, kamu. Aku nggak suka kamu bilang begitu tentang Albany.” Za meneguk minuman dari gelasnya. “Halaah, laki pengeretan itu. Aku masih inget saat kamu curhat, nangis-nangis karena dia selalu bersikap angkuh. Hiih, miskin aja sombong, gimana kalau jadi orrang kaya.” Celine kembali menggerutu. “Dia anak Om Hendro, kamu ingat, kan? Kalau dia mau, dia bisa mendapatkan kekayaan yang banyak dari bapaknya

