CHAPTER 12 BERBAGAI KEANEHAN

1947 Words
“Menurutmu kemana lagi mereka pergi, Vit? Kita sudah mendatangi semua tempat yang tertulis di buku diary tapi kita tetap tidak menemukan mereka. Sejauh ini kita juga belum menemukan tempat yang mencurigakan,” tanya Mark yang ditanggapi Vita dengan keheningan. Sesuai saran Paul, mereka tengah melakukan perjalanan pulang dengan kali ini lebih teliti memperhatikan sekitar karena ada kemungkinan Vina dan Cella tersesat di suatu tempat.  Sebenarnya Vita sedang berpikir sekarang. Di dalam buku diary itu, Vina memang hanya menuliskan tiga tempat saja, dan ketiga tempat itu sudah didatangi oleh Vita dan kedua sahabatnya. Meskipun mereka menemukan beberapa petunjuk bahwa Vina dan Cella pernah mendatangi ketiga tempat itu, tapi sosok mereka belum juga ditemukan. Berbagai pemikiran buruk semakin memenuhi pikiran Vita. Entah mengapa dia merasa yakin bahwa sesuatu yang buruk telah menimpa Vina dan Cella.  Ketiga tempat yang mereka datangi memang tempat yang indah dan jauh dari kebisingan. Tapi ada sesuatu yang membuat Vita merasa heran dan terus mengganggu pikirannya. Selama perjalanan, tak ada satu pun orang yang ditemui oleh mereka, seolah-olah tidak pernah ada orang yang mendatangi tempat-tempat itu. Bahkan rumah penduduk pun tak terlihat meski hanya satu rumah saja. Daerah yang mereka datangi ini seperti sebuah tempat terisolasi dari dunia luar. Sebuah tempat yang sengaja dibuat agar tak terjamah oleh siapa pun. Vita bukanlah orang yang jenius atau jeli, tapi dia mampu merasakan semua kejanggalan ini hanya dengan melihat suasana sepi dan hening di daerah mereka berada saat ini.  “Hai, Vit, malah melamun? Kau tidak menjawab pertanyaan Mark? Sebenarnya aku juga sependapat dengan Mark. Sekarang kita mau kemana? Sejauh ini aku tidak melihat tempat yang mencurigakan.” Kali ini Paul yang bersuara, tatapannya yang sedari tadi fokus menatap sekeliling tempat yang mobil mereka lewati, kini terlihat mulai bosan dan putus asa. Hanya hutan dan jalan raya yang membentang luas yang dia lihat. Bahkan area penduduk atau pedesaan pun tak terlihat. Dia tak melihat ada satu pun rumah di sepanjang jalan. Paul sudah tidak tahan menunggu Vita yang tak kunjung mengeluarkan suaranya.  “Apa kalian tidak heran, di sepanjang perjalanan tak seorang pun penduduk yang kita temui? Daerah ini memang cukup terpencil tapi tetap saja menurutku aneh jika tidak ada seorang pun yang tinggal di daerah seindah dan sesejuk ini.” Akhirnya Vita mengeluarkan suara meskipun yang dia katakan tak ada hubungan sama sekali dengan pertanyaan kedua sahabatnya tadi.  “Aku juga merasa ini aneh. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di daerah ini aku sudah merasa heran. Tapi aku tidak membahasnya karena kupikir hal ini tidak terlalu penting. Mencari keberadaan Vina dan Cella adalah prioritas utama kita.” Perkataan Paul menyadarkan Vita, dia menyadari bukan saatnya untuk membahas hal ini.  Benar yang dikatakan Paul, tujuan perjalanan mereka hanyalah untuk mencari Vina dan Cella.  “Hallo, jadi kita mau kemana sekarang? Tidak mungkin kan kita terus berjalan tanpa tujuan?” Mark menyuarakan kekesalannya karena sejak tadi Vita sama sekali tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya. “Tidak mungkin kita balik arah, jadi lurus saja. Semoga ada sesuatu yang bisa kita temukan di depan sana,” jawab Vita mantap tanpa keraguan pada suaranya.  Untuk kesekian kalinya perjalanan mereka diliputi dengan keheningan, ketiga orang itu sibuk dengan pemikiran masing-masing. Jalanan yang mereka lalui sangat sepi, tak terlihat satu pun kendaraan lain yang berlalu-lalang membuat kecurigaan kembali berkecamuk di dalam benak Vita.  Mobil mereka melintasi sebuah tempat yang membuat sepasang mata Vita tak berkedip menatapnya. Dilihat sekilas pun Vita tahu tempat itu adalah sebuah pom bensin dan tempat itu merupakan bangunan sekaligus fasilitas umum pertama yang dilihat oleh Vita sepanjang perjalanan mereka ini.  “Itu pom bensin, kan?” Tanya Vita pada kedua sahabatnya. Serempak Mark dan Paul menatap ke arah pom bensin yang dimaksud oleh Vita. Bahkan Mark pun sempat mengalihkan perhatiannya dari jalan raya begitu mendengar pertanyaan Vita yang tiba-tiba itu. “Ya nona, itu pom bensin. Tapi kita tidak membutuhkannya karena persediaan bensin kita masih banyak di bagasi mobil. Aku ini sangat cerdas, asal kau tahu. Aku sudah memprediksi perjalanan kita akan memakan waktu yang lama karena itu aku sudah menyiapkan bensin sebanyak mungkin. Kau pasti terkejut kan dengan kecerdasan dan kejelianku ini? Hahaha ...” Kata Mark panjang lebar sembari membanggakan diri. Tapi tentu saja tidak ditanggapi oleh kedua orang yang sedang fokus menatap pom bensin.  “Mark, hentikan mobilnya!” Perintah Paul, yang langsung dituruti oleh Mark. “Kau tidak dengar yang kukatakan tadi? Kita tidak membutuhkan bensin jadi kita tidak perlu ke sana,” ujar Mark yang sama sekali tak memahami kondisi kedua sahabatnya yang sedang begitu serius saat ini. “Seingatku ini bangunan dan fasilitas umum pertama yang kita lihat selama perjalanan.” Vita mengungkapkan pendapatnya yang ditanggapi anggukan oleh Paul. “Memangnya kenapa? Wajar kan jika ada pom bensin di area jalan raya seperti ini? Kau ini seperti baru pertama kali saja melihat pom bensin.” Mark tertawa di akhir ucapannya.  Vita mendelik, tak suka. “Bodoh kau, Mark. Di daerah yang nyaris tak ada penduduknya bahkan jalanan rayanya sepi tanpa ada satu pun kendaraan yang berlalu-lalang. Tapi ada pom bensin di sana, ini sangat aneh. Bahkan aku tidak melihat satu pun rumah atau pun bangunan di sekitar sini. Daerah ini hanya alam liar yang masih asri,” jelas Vita yang terlihat kesal dengan ketidakpekaan Mark. “Aku setuju denganmu, Vit. Lihat mobil-mobil yang terparkir di pom bensin itu, jelas itu bukan mobil biasa. Apa itu mobil militer?” Seperti yang dikatakan Paul, mobil-mobil yang terparkir di sekitar pom bensin merupakan mobil-mobil berukuran sangat besar. Mobil yang nyaris serupa dengan mobil-mobil yang digunakan anggota militer saat berperang.  “Mungkinkah daerah di sekitar sini merupakan area pelatihan militer?” Gumam Vita, hingga tiba-tiba dia tersentak seolah baru menyadari sesuatu. “Ja-Jangan-jangan Vina dan Cella ditangkap oleh mereka!!” teriak Vita, tanpa mengurangi raut kekhawatiran di wajahnya. “Pemikiranmu mungkin saja benar. Bisa saja saudaramu dan temannya ditangkap oleh mereka. Jika mereka anggota militer, aku yakin Vina dan Cella akan baik-baik saja. Tapi mengingat mereka berdua hilang selama tiga bulan, aku ragu mereka itu anggota militer.” Vita dan Mark terbelalak mendengar penuturan Paul yang mengerikan itu. Vita semakin merasakan sesuatu yang buruk memang telah menimpa saudaranya.  “Jika mereka bukan anggota militer, lalu siapa mereka?” “Aku tidak tahu, Vit. Aku rasa masalah ini bukanlah masalah yang bisa siswa SMA seperti kita hadapi. Kita harus melaporkan hal ini pada kepolisian. Lebih baik kita putar balik dan kembali. Aku merasakan firasat buruk.”  Kesepuluh jemari Vita saling meremas di atas pangkuan, dia menyadari kebenaran pemikiran Paul tapi di saat yang bersamaan dia tidak ingin mundur setelah sejauh ini melangkah. Dia tidak ingin kembali sebelum menemukan saudaranya.  “Tidak. Kita lanjutkan perjalanan. Sebentar lagi, aku yakin akan menemukan keberadaan Vina dan Cella.” Vita mengutarakan penolakannya. Paul berdecak, terlihat mulai kesal karena sifat keras kepala Vita kembali kumat. “Kau tidak lihat mobil-mobil itu? Ini berbahaya, Vit.” Vita menggeleng tegas, “Aku tetap tidak akan mundur. Jika kau tetap ingin pulang. Pulanglah, Paul. Aku tidak akan melarangmu. Lagi pula, sejak awal aku tidak pernah memintamu untuk menemaniku melakukan pencarian ini.” “Kau keras kepala sekali, Vit. Aku tidak menyuruhmu menyerah. Aku hanya merasa lebih baik kita melaporkan masalah ini pada pihak kepolisian.” “Maaf, Paul. Aku tidak ingin menunggu tanpa kepastian lagi. Tiga bulan sudah cukup bagiku untuk menunggu. Aku akan mencarinya sendiri.” Vita dan Paul terus berselisih, sedangkan Mark yang menyaksikannya hanya mampu menghembuskan napas malas, bosan mendengar pertengkaran mereka.  “Sudahlah, kalian berdua. Tujuan kita melakukan perjalanan ini untuk mencari Vina dan Cella. Karena kita belum menemukan mereka, jadi kita lanjutkan saja perjalanan. Aku tidak keberatan terus menjadi sopir kalian.” Mark menatap Paul dan Vita bergantian. “OK? Masalah selesai, jangan lagi ada perselisihan. Aku pusing mendengarnya.” Tanpa menunggu jawaban dari kedua sahabatnya, Mark kembali melajukan mobil. Vita dan Paul hanya mampu diam meskipun kekesalan masih memuncak di dalam benak mereka.  Alunan musik yang dinyalakan Mark menemani perjalanan, tampaknya berhasil mendinginkan suasana yang memanas di antara mereka. Setidaknya berkat musik yang mengalun merdu itu, sedikit demi sedikit rasa kesal mulai menghilang baik di benak Vita maupun di benak Paul.  “Vit, Paul ... coba lihat itu!” Mark tiba-tiba menghentikan mobil dan menunjuk ke satu arah pada kedua sahabatnya yang masih sibuk dengan lamunan masing-masing. Vita dan Paul menatap ke arah yang dimaksud Mark. Entah tempat apa itu, yang terlihat jelas hanyalah sebuah dinding yang menjulang tinggi dengan pintu besi di bagian tengahnya. Perjalanan mereka terhenti karena jalanan terhalangi oleh tempat apa pun yang dilapisi dinding itu.  “Mungkin itu sebuah markas, kan? Markas entah siapa pun mereka, yang pasti mereka adalah pemilik mobil-mobil besar yang kita lihat di pom bensin tadi.” Mark menganggukan kepala, menyetujui perkataan Paul. Lain halnya dengan Vita, tiba-tiba gadis itu keluar dari mobil tanpa meminta izin atau mengajak dua sahabatnya. Paul dan Mark yang menyadarinya segera mengikuti Vita yang kini sudah berdiri di luar mobil.  Paul mencengkeram lengan Vita bermaksud menahannya agar tidak pergi semakin jauh. “Vit, apa yang kau lakukan? Cepat masuk ke mobil. Tempat itu sangat mencurigakan. Aku yakin tempat itu berbahaya!!” Paul tak sanggup lagi menahan emosinya menghadapi Vita yang begitu keras kepala dan terlalu nekat menurutnya. “Aku merasa Vina dan Cella ada di dalam sana. Terserah apa pun yang kau katakan, aku tetap akan memeriksa tempat itu. Jika kalian ingin pulang, silakan. Aku tidak akan melarang kalian.” Paul kembali berdecak sembari memutar bola mata, “Bisa tidak, sesekali pakai logika jangan selalu mengandalkan perasaan atau firasat?” Vita mendelik tajam, dengan gerakan kasar dia menepis tangan Paul yang masih memeganginya. “Kau tidak akan mengerti perasaanku, Paul. Seandainya yang menghilang itu saudaramu, kau juga pasti sama sepertiku. Tidak ingin menyerah mencarinya sampai berhasil menemukannya.” Vita menghela napas panjang. “Dan lagi, aku dan Vina itu saudara kembar. Aku percaya batin kami terhubung. Aku sangat yakin Vina ada di dalam sana.”  Paul memicingkan mata, kurang lebih dia pun memahami perasaan Vita. Tapi baginya tempat itu terlalu mencurigakan, terlebih mobil-mobil besar di pom bensin tadi, jelas baginya bukan orang-orang biasa yang mendirikan tempat itu. Dia yakin sesuatu yang berbahaya ada di dalam sana dan dia tak mungkin berdiam diri saat Vita berniat memasuki tempat yang penuh bahaya itu.  “Aku mengerti perasaanmu. Sekali lagi kukatakan, aku tidak menyuruhmu menyerah. Aku hanya menyarankan kita pergi dari sini dan meminta bantuan pada pihak kepolisian untuk memeriksa tempat mencurigakan itu. Hanya itu saranku, apa salah? Aku tidak ingin kita mengambil resiko sekecil apa pun. Bagaimana jika pemikiranku benar dan tempat di balik tembok itu memang berbahaya?”  Vita menatap Paul lebih tajam dibanding sebelumnya. “Tahu dari mana kau tempat itu berbahaya? Itu belum pasti sebelum kita memastikannya. Masuk saja belum, jangan berpikir yang berlebihan.” “Mobil-mobil besar di pom bensin tadi, apa itu tidak cukup membuktikan yang mendirikan tempat itu bukan orang-orang sembarangan?” “Kau bilang mereka itu kemungkinan pasukan militer, kan? Bukankah bagus jika kita mendatangi mereka? Kita bisa bertanya apa mereka pernah melihat Vina dan Cella di daerah ini.”  Paul menggeram sekarang, tak sanggup lagi menahan emosi yang semakin naik ke permukaan. “Itulah kenapa tadi aku mengatakan jangan hanya mengandalkan perasaan tapi pakai juga logikamu. Bagaimana jika mereka bukan anggota militer? Bagaimana jika mereka itu sebenarnya teroris dan tempat itu adalah markas mereka?”  Vita dan Mark terbelalak, terkejut tentu saja mendengar pemikiran Paul ini.  “Aku tetap menyarankan kita pergi dari sini dan meminta bantuan pada pihak kepolisian.”  Keheningan melanda untuk sesaat. Mark sejak tadi tetap diam, tak berkomentar apa pun. Namun Vita terlihat sedang menimbang-nimbang keputusan apa yang harus diambilnya.  Ketika kepala Vita yang tertunduk itu kini perlahan mendongak, begitu melihat tatapan Vita begitu serius saat ini, Paul menebak gadis itu sudah memutuskan pilihannya.  “Aku tetap akan masuk ke dalam. Hatiku mengatakan Vina ada di dalam. Dan aku lebih percaya pada kata hatiku dibanding pemikiranmu yang berlebihan itu.” Vita pun berbalik badan setelah mengutarakan keputusannya. Namun tiba-tiba dia kembali menoleh ke belakang, menatap kembali dua sahabatnya yang masih mematung di tempat.  “Jika kalian tidak mau ikut denganku, pulanglah. Terima kasih sudah menemaniku mencari saudaraku sampai sejauh ini. Sampai jumpa lagi.” Vita tersenyum kecil sebelum kedua kakinya kembali melangkah meninggalkan Paul dan Mark yang hanya mampu mengembuskan napas frustasi.  Vita menyadarinya ... keanehan tempat di balik dinding itu. Namun, keteguhan hati untuk menemukan saudara kembarnya membuat gadis itu akan melakukan tindakan yang nekat, tak peduli meskipun tindakannya akan membahayakan hidupnya sekalipun.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD