CHAPTER 11 PENEMUAN

1776 Words
Keesokan harinya ... Vita, Mark dan Paul melanjutkan pencarian. Mereka berkeliling secara berpencar di sekitar pegunungan. Nyaris seharian mencari tapi hasilnya nihil karena tak satu pun dari mereka bertiga yang menemukan petunjuk keberadaan Vina dan Cella. Mereka pun memutuskan untuk mencari ke tempat lain. Tempat lain yang tertulis di buku diary Vina yang menjadi tujuannya berkemah bersama Cella.  Secepat mungkin mereka membongkar tenda dan membereskan perlengkapan masing-masing. Setelah berada di dalam mobil, mereka pun berangkat menuju tempat berikutnya yang mereka perkirakan letaknya tidak jauh dari daerah pegunungan tersebut.  Setelah melakukan perjalanan selama dua jam, mereka pun tiba di tempat tujuan. Tempat itu merupakan sebuah bukit yang cukup tinggi. Sebuah bukit yang dikelilingi pemandangan indah nan asri. Banyak pepohonan yang mengitari bukit sehingga udara di tempat itu sangat sejuk dan jauh dari polusi. Selain itu, jauh dari area penduduk atau bisa dikatakan mereka berada di daerah yang cukup terpencil.  “Waah, tempat yang luar biasa. Aku terkejut Vina dan Cella bisa menemukan tempat seindah ini.” Perkataan itu berasal dari Mark yang tengah menikmati keindahan pemandangan dengan kedua mata yang membulat sempurna saking takjubnya. Sedangkan Vita dan Paul tengah fokus menatap sekeliling untuk mencari apa pun yang bisa memberikan petunjuk keberadaan Vina dan Cella.  “Hei, bagaimana kalau kita berpencar lagi?” Ide ini tentu saja Vita yang mengatakannya. Di antara mereka bertiga, Vita-lah yang begitu bersemangat melakukan pencarian, dia tak ingin membuang-buang waktu yang berharga meskipun kini dia sedang berada di tempat yang pastinya semua orang akan mengatakan ‘indah’, bahkan sekadar ingin beristirahat pun tampaknya tidak. Seolah tak mengenal kata lelah, Vita tidak henti melakukan pencarian.  “Menurutku lebih baik kita beristirahat dulu sebentar? Kita baru saja tiba di sini.” Mark mencoba mengutarakan ketidaksetujuan sekaligus pendapatnya. Sebenarnya dia tidak bermaksud menolak ajakan Vita, hanya saja dia merasa tidak ada salahnya jika beristirahat sejenak setelah menghabiskan waktu selama dua jam duduk di kursi kemudi. Walau bagaimana pun Mark-lah yang menyetir mobil sehingga wajar jika  dia sangat membutuhkan waktu untuk beristirahat terutama mereka pun sedang berada di tempat yang nyaman untuk bersantai.  Vita mendengus keras, “Kau istirahat saja. Aku akan mulai mencari.” “Aku juga akan mulai mencari.” Paul mengutarakan persetujuannya atas ajakan Vita. Mereka pergi dengan arah yang berlawanan, mengabaikan Mark yang masih diam mematung di atas bukit.  Mark mengembuskan napas lelah, “Haah, baiklah. Aku juga akan mulai mencari.” Mark bergumam seorang diri karena tentu saja kedua sahabatnya yang sudah melesat perti, tidak mungkin mendengarnya. Dengan langkah gontai, Mark mengambil arah yang berbeda dengan kedua sahabatnya.  Masing-masing dari mereka terus berkeliling di sekitar bukit dengan tatapan yang fokus meneliti setiap tempat yang mereka datangi. Paul menemukan sesuatu ketika dia melihat tanda-tanda pernah dibuat api unggun dan tenda di tempat dia berada. Dia segera meraih ponselnya dan menghubungi kedua sahabatnya untuk datang.  Sambil menunggu kedatangan Vita dan Mark, Paul memeriksa kembali sekelilingnya. Dia yakin tempat ini pernah didatangi oleh seseorang. Sebuah api unggun pernah dibuat di sini, setidaknya itulah yang dipikirkan Paul ketika dia melihat sisa-sisa kayu yang terbakar dan abu yang menghitam membentuk sebuah lingkaran. Dia juga menemukan empat lubang di tanah dengan jarak yang diperkirakan sebesar sebuah tenda. Dia semakin yakin seseorang memang pernah mendirikan tenda di sini.  “Paul, apa yang kau temukan?” Teriak Vita dengan napas yang terengah-engah, menandakan gadis itu baru saja berlari karena ingin segera tiba di tempat Paul berada. Paul yang sedang berjongkok itu melambaikan tangan, memberi isyarat agar Vita menghampiri dirinya. Vita pun menurut, tanpa ragu ikut berjongkok di samping Paul.  “Lihat ini, ada empat lubang di tanah. Aku yakin seseorang pernah mendirikan tenda di sini,” kata Paul sambil menunjuk pada empat lubang di tanah yang dimaksudnya. Kini Paul menoleh ke belakang, refleks Vita pun mengikuti arah yang ditatap pria itu. “Dan di sana ada bekas api unggun.” Paul menjelaskan sambil menunjuk ke tempat yang dia maksud. Vita memperhatikan empat lubang di tanah beserta bekas api unggun, dia menyadari yang dikatakan Paul memang benar. “Paul, Vita, ada apa? Apa yang kalian temukan?” Kini Mark yang baru saja tiba di sana ikut melontarkan pertanyaan dengan napas yang juga terengah-engah, sama halnya dengan Vita tadi sepertinya pria itu pun berlari agar bisa cepat sampai ke tempat Paul berada.  “Kita harus melanjutkan perjalanan.” Vita mengatakan itu tanpa menjawab pertanyaan Mark. Tentu saja Mark sangat kesal karena merasa diabaikan oleh kedua sahabatnya karena Paul juga tak kunjung mengeluarkan suara. “Huuh, kalian tidak menjawab pertanyaanku. Memangnya kenapa kita harus melanjutkan perjalanan? Aku rasa belum semua area di tempat ini kita datangi. Seperti yang kalian lihat, area di sekitar bukit ini cukup luas,” protes Mark, tak setuju. “Aku setuju dengan Vita, lebih baik kita lanjutkan pencarian ke tempat yang lain. Jika melihat dari bekas api unggun dan juga lubang di tanah, ini menandakan mereka memang pernah berkemah di sini. Tapi pasti mereka sudah pergi dari sini dan menuju ke tempat yang lain. Ya, aku harap memang saudaramu dan sahabatnya yang berkemah di tempat ini karena ada kemungkinan orang lain yang pernah berkemah juga di sini.” Paul mengutarakan pendapatnya panjang lebar. Baik Vita maupun Mark hanya mendengarkan dan tak menyela. Suasana hening untuk sesaat, mereka bertiga tengah sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.  “Aku yakin Vina dan Cella yang mendirikan tenda dan membuat api unggun itu. Memang tidak menutup kemungkinan orang lain yang membuatnya. Tapi firasatku mengatakan, Vina dan Cella yang melakukannya. Kita lanjutkan saja perjalanan, aku yakin mereka sudah pergi dari sini.” Vita tetap bersi keras untuk melanjutkan pencarian di tempat lain. Paul menganggukkan kepala, tanda setuju. Sedangkan Mark tidak mengatakan apa pun, pria itu hanya berjalan di belakang dua sahabatnya yang telah mendahuluinya menuruni bukit.  Perjalanan mereka kembali diisi dengan keheningan. Mereka akan pergi ke tempat selanjutnya yang tertulis di buku diary Vina. Tempat itu cukup jauh dari tempat terakhir yang mereka datangi tadi. Dan benar saja, membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam bagi mereka untuk tiba di tempat tujuan.  Kini mereka sedang berada di Area terpencil lainnya. Tapi tempat itu tidak kalah menakjubkan dengan dua tempat yang sudah mereka datangi sebelumnya. Mereka sedang berada di pinggir hutan, terdapat sebuah danau yang berukuran cukup luas dengan airnya yang sangat jernih. Ada tanah kosong yang cukup luas di sekitar danau dan tidak jauh dari sana terdapat hutan belantara yang dipenuhi pepohonan yang menjulang tinggi.  “Hei, ini gila. Benarkah kedua gadis itu berkemah di sini? Memang di sini indah karena ada danau itu,” kata Mark sambil menunjuk dengan dagunya pada danau yang begitu menggoda untuk dipandang. Lalu tatapannya beralih pada hutan yang ada di belakang mereka. “Tapi hutan di sana itu menyeramkan menurutku. Apa mereka tidak takut dimangsa hewan buas dari hutan itu? Aku benar-benar heran dengan pemikiran kedua gadis itu. Mereka terlalu nekat dan berani.”  Paul berdecak seolah jengkel karena sejak tadi Mark terus mengoceh. “Daripada kau mengoceh terus, lebih baik cepat melakukan pencarian. Lihat, Vita sudah mulai mencari,” ujar Paul seraya melirik ke arah Vita yang sedang sibuk menelisik sekitar. Gadis itu bahkan memeriksa tanah berharap menemukan petunjuk pernah didirikan tenda.  Mark yang mengikuti arah yang dipandang Paul, mengembuskan napasnya dengan kasar. Sejujurnya dia kesal dengan kedua sahabatnya, mereka seolah-olah tidak memahami rasa lelah yang dirasakan Mark setelah berjam-jam menyetir mobil. Tapi Mark cukup mengerti situasi mereka saat ini, karena itu dia menyimpan sendiri rasa kecewa dan lelahnya kemudian memulai melakukan pencarian.  Vita dan Paul melakukan pencarian di dekat hutan. Sedangkan Mark melakukan pencarian di sekitar danau. Mark memicingkan mata ketika dia menemukan sesuatu. Dia mengambil benda yang menurutnya merupakan sebuah petunjuk penting dan segera menghubungi kedua sahabatnya dengan ponselnya. Tidak perlu menunggu lama hingga Vita dan Paul akhirnya datang menghampirinya.  “Apa yang kau temukan, Mark?” tanya Vita antusias dan tak sabaran. “Ini,” sahut Mark sembari menyerahkan benda yang dia temukan pada Vita. Vita menerima benda itu dan menatap kedua sahabatnya bergantian. “Ini ... bungkusan mie instan, kan?” “Ya. Aku menemukan ada dua bungkus mie instan. Kau mengerti apa artinya ini, Vit?” Paul melebarkan mata, “Ada dua orang yang memasak dan memakan mie instan di sini. Dua orang ... itu artinya mereka mungkin saudaramu dan sahabatnya itu.” Paul yang memahami maksud ucapan Mark, mengutarakan pemikirannya. Vita dan Mark tidak mengatakan apa pun tapi Mark mengangguk, mengiyakan kebenaran pendapat Paul yang sejalan dengan pemikirannya.  Vita hanya sibuk menatap dua bungkus mie instan yang telah kosong, di tangannya. Dia juga merasa yang dikatakan Paul ada benarnya. Di saat bersamaan, dia merasa lega karena telah menemukan petunjuk keberadaan Vina dan Cella. Meskipun dia tidak memungkiri kekecewaan yang dirasakannya. Sejauh ini mereka sudah menemukan tanda-tanda bahwa Vina dan Cella memang mendatangi tempat-tempat yang tertulis di dalam buku diary, yang sudah mereka periksa. Yang membuat Vita kecewa karena keberadaan mereka belum juga ditemukan. Dimana sebenarnya Vina dan Cella berada saat ini? Pertanyaan itulah yang terus berkecamuk di dalam hatinya.  “Menurutku lebih baik kita melakukan perjalanan lagi. Mereka tidak mungkin ada di sini. Mereka pasti sudah pergi dari sini,” ajak Paul. “Tapi tempat ini tujuan terakhir mereka yang tertulis di buku diary.” Vita bergegas melepaskan ransel yang sejak tadi menempel di punggungnya. Lalu dia mengeluarkan buku diary yang memang disimpan di dalam ransel. Dengan gerakan cepat, dia membuka halaman terakhir buku diary tersebut.  “Lihat, di buku ini Vina menuliskan kemungkinan tempat ini menjadi tujuan terakhir mereka. Vina tidak menuliskan nama tempat lain.”  Dengan sigap Paul merebut buku diary dari tangan Vita, lalu dia membacanya. Dan benar saja seperti yang dikatakan Vita, tempat mereka berada saat ini merupakan tempat terakhir yang dituliskan di dalam diary.  “Bagaimana menurutmu, Paul? Kita sudah memeriksa semua tempat yang tertera di dalam buku diary. Kita juga menemukan tanda-tanda mereka pernah datang ke sana. Tapi mereka tetap tidak kita temukan.” Vita terlihat mulai panik karena pencarian mereka terasa sia-sia, sosok Vina dan Cella ... entah dimana berada saat ini. Vita nyaris putus asa sekarang.  “Mungkin mereka sudah pulang.” Vita melebarkan mata mendengar jawaban Paul. “Pulang? Omong kosong macam apa ini? Kau kan tahu sendiri sudah tiga bulan mereka menghilang, itu artinya mereka belum pulang.” Paul menggeleng, “Maksudku mungkin mereka sudah selesai berlibur dan berniat pulang. Tapi di perjalanan pulang terjadi sesuatu di jalan. Bisa jadi mereka tersesat di suatu tempat.”  Vita terdiam sekarang, mencerna baik-baik ucapan Paul yang dirasa ada benarnya. “Jika mereka tersesat? Lalu mereka ada dimana sekarang?” “Begini saja. Lebih baik kita kembali. Di sepanjang jalan, pastikan kita memeriksa sekitar. Jika ada tempat yang mencurigakan, kita harus memeriksanya karena mungkin saja Vina dan Cella berada di sana.” Paul akhirnya memberikan solusi yang ditanggapi dengan anggukan oleh Vita karena menurutnya itulah satu-satunya jalan terbaik yang harus mereka ambil sekarang.  “Hai, kalian kejam sekali. Apa kalian tidak lihat aku hampir mati kelelahan? Aku juga lapar. Seharian ini kita terus mencari, kita bahkan hanya makan roti saat sarapan tadi pagi,” protes Mark yang tidak sanggup lagi menyembunyikan rasa lelahnya.  Vita dan Paul saling berpandangan, sepertinya mereka berdua memahami keadaan yang dirasakan Mark, karena itu mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di tempat itu dan memakan beberapa makanan yang mereka bawa. Setelah ini, mereka harus lebih teliti lagi memperhatikan jalan dan bertekad akan memeriksa tempat apa pun yang terlihat mencurigakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD