CHAPTER 10 PENCARIAN

2308 Words
Vita mempersiapkan semua perlengkapannya untuk melakukan perjalanan, beberapa benda yang dibelinya bersama Mark kemarin sepulang sekolah. Dia sudah memutuskan untuk bolos sekolah beberapa hari ini. Dia tidak ingin membuang banyak waktu lagi untuk mencari keberadaan Vina. Firasat buruk tentang Vina dan Cella terus menghantui pikiran gadis itu.  “Hah, selesai,” gumamnya sambil menatap pada sebuah tas ransel yang sudah rapi dia kemas diletakan di atas ranjang. “Berarti sekarang tinggal ke kamar Vina.”  Setelah memastikan semua perlengkapan untuk perjalanan selesai dikemas, Vita pergi menuju kamar Vina untuk mengambil sesuatu. Dia berjalan di rumah yang sangat sepi karena ibunya belum pulang bekerja.  Begitu tiba di kamar saudaranya, Vita pun mengambil buku diary Vina yang masih tergeletak di meja belajar. Buku Diary itu merupakan petunjuk penting tentang keberadaan Vina, Vita sangat menyadari hal itu. Karenanya dia memutuskan untuk membawa serta buku itu dalam perjalanan.  Saat ini, waktu menunjukkan pukul 4 sore, rumah tampak sepi karena hanya Vita yang berada di sana. Vita belum memberitahukan rencana perjalanan ini pada sang ibu. Sebenarnya semenjak mereka bertengkar, Vita belum membahas apa pun dengan ibunya. Dia hanya diam seribu bahasa ketika berada dalam satu ruangan dengan ibunya, bahkan sang ibu pun sama diamnya seolah merasa canggung pada putrinya sendiri. Atau mungkin karena dia juga tidak ingin memulai pembicaraan apa pun dengan putrinya. Inilah salah satu alasan Vita tidak ingin menunda lagi perjalanan. Dia tidak ingin terus-menerus bertengkar dengan ibunya. Vita percaya hanya ini satu-satunya cara untuk memperbaiki hubungan dengan sang ibu. Hanya jika Vina kembali ke rumah maka hubungan mereka akan kembali membaik.  Vita meninggalkan kamar Vina untuk kembali ke kamarnya. Dia pun bergegas memasukkan buku diary Vina ke dalam tas ransel setibanya di kamar. Sesaat sebelum beranjak pergi, dia menuliskan sesuatu di secarik kertas. Sebuah pesan untuk ibunya karena Vita merasa tidak seharusnya dia pergi tanpa memberikan kabar apa pun. Meskipun tidak mengabari secara langsung, namun memberitahukan melalui secarik kertas sudah lebih dari cukup, menurut Vita.  Drrrt ... Drrrt ... Drrrt ... Suara getaran ponsel terdengar. Vita segera mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Dia tanpa ragu menerima panggilan telepon dari seseorang yang sudah sangat dikenalnya dan memang sejak tadi sedang dia tunggu.  “Hallo, Paul,” sapa Vita. “Aku dan Mark sudah ada di depan rumahmu. Cepatlah keluar!” Kata Paul dari seberang telepon sebelum memutus sambungan telepon itu secara sepihak.  Tanpa ragu Vita menggendong ranselnya. Sebelum meninggalkan kamar, sekali lagi dia tatap setiap sudut ruangan yang sudah menjadi kamarnya sedari masih anak-anak. Vita tersenyum kecil, dalam hati berharap semoga perjalanan ini membuahkan hasil seperti yang dia harapkan, dengan begitu dia bisa segera kembali ke kamar ini, tentu saja berharap dirinya akan kembali bersama saudaranya yang menghilang.    Vita pun melangkah dengan mantap meninggalkan kamar. Setiap sudut rumah pun ikut dia tatap. “Aku pasti akan segera kembali,” gumamnya pelan hingga hanya Vita seorang yang mampu mendengarnya. “Bu, tunggu aku. Aku akan kembali dengan membawa Vina,” tutupnya, lantas dia pun melanjutkan langkah dan kali ini benar-benar meninggalkan rumahnya.  Begitu tiba di luar rumah, benar saja sebuah mobil Honda Jazz berwarna hitam sudah terparkir di luar gerbang. Vita sangat mengenal mobil itu karena ini bukan kali pertama dia melihatnya. Mobil itu tidak lain merupakan mobil salah satu sahabatnya, Mark.  “Hai, Vit. Di sini!” Teriak Mark yang sedang duduk di kursi pengemudi begitu dia melihat sosok Vita keluar dari dalam rumahnya. Vita berjalan mendekati mobil itu dan segera masuk ke dalam. Dia duduk di kursi belakang, sedangkan kedua sahabatnya sudah duduk nyaman di kursi depan.  “Jadi, siap melakukan petualangan!!” teriak Mark heboh seperti biasa, yang diabaikan oleh Vita, namun ditanggapi dengan sebuah anggukan oleh Paul yang duduk di sampingnya. Mobil itu pun mulai melaju meninggalkan pelataran rumah Vita. Tatapan Vita tak berpaling sedikit pun dari rumahnya. Di dalam hati gadis itu, untuk pertama kalinya berharap bisa segera kembali ke rumah ini. Padahal di hari-hari sebelumnya, dia selalu merasa bosan saat berada di rumah dan memilih keluyuran di luar. Kemana pun, asal tidak menghabiskan waktunya di rumah yang membosankan. Tapi kali ini berbeda, Vita mulai merasakan betapa berarti rumah itu begitu dirinya akan melakukan perjalanan panjang seperti ini. Tentu saja Vita berharap, nanti bisa kembali ke rumahnya bersama dengan Vina.  Mereka memulai perjalanan dengan suasana hening karena tidak ada satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan. Hanya terdengar suara musik mengalun merdu yang sengaja dinyalakan Mark untuk mencairkan suasana.  Vita masih sibuk dengan pemikirannya. Dia masih tidak percaya kedua sahabatnya menawarkan diri dengan sukarela untuk menemaninya melakukan perjalanan ini. Vita bahkan tidak pernah meminta hal ini pada mereka. Dia hanya menceritakan kejadian ketika dia menemukan buku diary Vina dan terdapat petunjuk keberadaan Vina di dalam buku itu. Vita juga menceritakan rencana gilanya untuk mencari Vina. Di luar perkiraan Vita, kedua sahabatnya terlihat begitu antusias setelah mendengar ceritanya. Mereka bersemangat untuk pergi menemani Vita. Namun sekali lagi Vita merasakan sebuah firasat bahwa perjalanannya ini bukanlah perjalanan biasa. Akan ada bahaya yang kapan pun bisa menghadang mereka. Tentu dia tidak ingin melibatkan kedua sahabatnya. Tetapi sifat keras kepala dari Mark dan Paul, membuat Vita menyerah dan akhirnya menyetujui keinginan mereka untuk menemaninya. Mereka bahkan rela bolos sekolah demi menemaninya. Sungguh Vita merasa beruntung memiliki dua sahabat seperti mereka.  “Vit, jadi tujuan pertama, kita akan pergi ke Dust Mountain?” tanya Paul tiba-tiba, yang sukses membuat Vita tersadar dari lamunannya. Vita mengangguk tanpa ragu, “Iya. Di buku diary tertulis gunung itu tempat pertama yang mereka tuju untuk berkemah,” jawab Vita, mengingat isi di dalam buku diary Vina yang sudah dia baca. “Aku heran kenapa saudaramu itu nekat sekali pergi berkemah di tempat yang sepi. Hanya berdua lagi. Jika itu rencana gilamu, aku masih mengerti. Wajar saja gadis tomboi sepertimu mempunyai ide segila itu. Tapi saudaramu itu, jujur aku tidak mengerti. Setahuku dia gadis yang feminim dan lembut.” Mark mengutarakan pendapatnya. Sebenarnya Vita merasa kesal karena sekali lagi dia dibanding-bandingkan dengan saudaranya. Di sisi lain, Vita menyadari kebenaran perkataan sahabatnya itu.  “Bukan Vina yang merencanakannya. Tapi sahabatnya, Cella. Dia yang mengajak Vina berkemah di sana.” Vita berani mengatakan ini karena di dalam buku diary, Vina pun menceritakan hal ini. “Oh, aku tahu. Dia itu sahabat baik saudaramu, kan? Yang selalu bersama dengan Vina kemana pun mereka pergi? Hm, dia memang terlihat sedikit liar.” Mark kembali mengutarakan pendapatnya, tapi kali ini diabaikan oleh Vita. Paul pun terlihat sama sekali tak tertarik menanggapi perkataan sahabat cerewetnya itu. Di antara mereka bertiga memang Mark yang paling banyak bicara. Sedangkan Vita dan Paul cenderung lebih tenang dan pendiam.  Suasana kembali hening, Mark yang sudah hafal betul sifat kedua sahabatnya kali ini memilih diam. Daripada dia terus bicara sendirian bagai orang gila. Jadi pria itu memilih fokus menatap ke depan karena dirinya sedang menyetir.  Suasana hening tanpa perbincangan itu berakhir, ketika akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Langit sudah sangat gelap menandakan malam telah tiba. Meskipun demikian tidaklah menjadi penghambat bagi Vita dan kedua sahabatnya untuk mencari keberadaan Vina dan Cella.  Mereka berjalan menyusuri daerah di bawah gunung hanya dengan penerangan dari senter di tangan. Cukup lama berjalan dan mereka tidak menemukan petunjuk apa pun.  “Hei, apa kalian tidak merasa di sini dingin sekali?” Tentu saja Mark yang menanyakan itu karena baik Vita maupun Paul masih fokus menatap sekeliling untuk mencari petunjuk apa pun tentang keberadaan Vina dan Cella. “Di sini gelap sekali dan aku setuju dengan Mark, di sini sangat dingin. Lebih baik kita segera mendirikan tenda dan beristirahat. Besok kita bisa melanjutkan pencarian,” ucap Paul, setelah sejak tadi hanya diam tanpa sedikit pun mengeluarkan suara. “Tapi, aku masih ingin mencari mereka.” Vita mencoba mengutarakan penolakannya. Paul menggeleng, tak setuju. “Kita lanjutkan besok saja, Vit. Lagi pula, ini daerah pegunungan, bisa saja di sini ada hewan buas atau bahaya lainnya. Lebih baik kita istirahat di dalam tenda. Terlalu bahaya melanjutkan pencarian, selain itu ini sudah masuk tengah malam.”  Vita melihat ke arah jam tangan yang melingkar di lengan kiri, dia pun menyadari kebenaran perkataan Paul ketika jam tangannya menunjukkan pukul sebelas malam. Tak terasa waktu berjalan secepat itu, tapi mereka belum menemukan petunjuk apa pun.  “Baiklah, kita dirikan tenda di sini.” Mark dan Paul secara serempak menganggukkan kepala, menyetujui keinginan Vita. Mereka bertiga bahu membahu mendirikan sebuah tenda yang berukuran cukup besar yang muat untuk ditempati tiga orang.  Membutuhkan waktu 30 menit, tenda pun selesai didirikan. Mark berinisiatif menyalakan api unggun di depan tenda untuk menghangatkan tubuh mereka. Ketiga sahabat itu kini duduk di depan api unggun sambil melahap roti yang memang sengaja mereka bawa.  “Vit, tidak apa-apa kan kau tidur bersama kami?” tanya Mark, sambil menunjukkan seringaiannya. Vita mendengus sambil memutar bola mata, “Tidak apa-apa. Memangnya kenapa? Aku tahu kalian tidak akan melakukan hal yang tidak senonoh padaku. Yah, aku percaya pada kalian,” jawab Vita dengan tenangnya. Membuat Mark kecewa karena candaannya tidak berhasil membuat gadis itu panik.  Malam pun semakin larut, hawa dingin semakin menusuk hingga ke tulang, mereka mulai menggigil kedinginan bahkan jaket tebal yang mereka gunakan tidak cukup mampu menghalau hawa dingin tersebut. Mereka bertiga memutuskan untuk tidur di dalam tenda. Paul tidur di pinggir, lalu Mark tidur di sampingnya. Sedangkan Vita tidur di samping Mark, tentu saja setelah dia menaruh tas ranselnya yang berukuran cukup besar itu di antara dirinya dan Mark.  “Vit,” panggil Mark, membuat Vita yang sedang melamun itu kini kembali mendapatkan kesadarannya. Vita menoleh ke samping, pada Mark yang sedang berbaring miring menghadapnya. “Kenapa?” Tanya Vita, mulai curiga karena pria itu sedang tersenyum lebar tanpa sebab. “Aku salut kau tidak takut tidur bersama dua pria sekaligus di dalam satu tenda?”  Vita kembali memutar bola mata, pembahasan itu lagi dan lagi selalu Mark yang membahasnya. “Aku kan sudah mengatakannya tadi, aku percaya pada kalian. Lagi pula, kalau kalian berani macam-macam saat aku sedang tidur. Nih ...” Vita mengangkat kepalan tangannya. “... kalian harus siap menerima pukulan mematikan dariku.” Mark terkekeh pelan karena tak ingin membangunkan Paul yang sepertinya sudah tertidur lelap. “Kau ini seorang wanita, tapi kelakuan seperti seorang pria.” “Itu harus. Apalagi jika memiliki sahabat sepertimu. Aku harus tegas, berani dan kejam.” Mark mengernyitkan dahi, “Haah? Kenapa seperti itu? Memangnya memiliki teman sepertiku, apa masalahnya?” “Jelas masalah,” jawab Vita serius. “Kenapa? Padahal aku ini kan pria baik-baik yang sopan, baik hati dan peduli pada sesama.” Mark menyengir lebar di akhir ucapannya.  Vita mendengus sinis disertai senyuman mencemooh. “Kau ini kan predator, Mark. Apa itu istilah kasarnya, pria mata keranjang ya? Apa buaya darat?” Mark tertawa kali ini, “Siapa bilang? Aku tidak seperti itu. Aku ini selalu menghormati wanita.” Vita mencibir, “Bohong sekali anda. Huuh, kau pikir aku tidak tahu kau ini kekasihnya banyak?” Mark menggeleng-gelengkan kepala, “Atas dasar apa anda menebak seperti itu?” Balas Mark. “Berapa kali harus kukatakan, aku ini tidak punya kekasih.” “Oh, itu lebih parah. Artinya kau ini hanya mempermainkan gadis-gadis malang itu.” Dan Mark kembali terkekeh mendengar penuturan Vita yang seolah kesal setiap kali mengingat  Mark yang selalu dikerubungi gadis-gadis di sekolah mereka.  Sebenarnya itu hal yang wajar karena Mark memiliki paras yang mempesona. Wajahnya tampan dengan perawakan tinggi atletis karena dia seorang atlit basket. Dia juga berasal dari keluarga kaya raya, setiap hari datang ke sekolah dengan mobil yang berbeda. Ayahnya seorang konglomerat sukses dan Mark yang seorang putra tunggal tentunya akan menjadi pewaris seluruh kekayaan keluarganya. Mark memang tidak secerdas Paul untuk urusan otak. Tapi dibanding Paul yang pendiam dan sedikit dingin, Mark sosok pria yang murah senyum, humoris dan mudah bergaul dengan orang lain. Terlebih dia juga sangat pandai bermain basket sehingga terpilih sebagai kapten tim, membuatnya semakin populer di sekolah. Sedangkan Paul menjabat sebagai wakilnya.  “Berapa kali harus kukatakan, mereka itu hanya penggemar. Apa istilah kerennya, Fans girl ya?” Vita berdecak sembari membuang muka seolah tak tertarik lagi meladeni Mark yang tak hentinya mengajak bicara. “Aku memang belum punya kekasih, Vit. Karena aku sudah memiliki seseorang yang aku cinta.”  Perkataan Mark sepertinya mulai menarik minat Vita karena gadis itu kini kembali menghadapnya. “Oh, ya? Siapa gadis beruntung itu?” “Kau menganggap gadis yang kucintai itu beruntung?” Vita mengangguk tanpa ragu. “Kenapa?” Tanya Mark, terlihat begitu penasaran. “Ya, karena gadis itu akan membuat semua gadis di sekolah kita iri. Mereka kan selalu mengerumunimu seperti semut yang mengerumuni gula.” “Hanya itu alasannya?” Mark kembali bertanya. “Hm, mungkin karena kau juga kaya raya. Pacarmu jelas beruntung karena kau pasti membelikan barang-barang mahal untuknya.”  Mark mendengus seraya menggeleng-gelengkan kepala. “Jadi intinya karena aku kaya makanya gadis yang menjadi pacarku beruntung menurutmu?”  Vita menipiskan bibir, kepalanya terangguk beberapa kali.  Mark tak mengatakan apa pun lagi, dia tiba-tiba diam dan mengubah posisi berbaringnya menjadi terlentang. Vita mengernyitkan dahi karena heran melihat perubahan sikap Mark.  “Kenapa diam?” Tanya Vita, tak kuasa menahan rasa penasarannya dengan perubahan drastis sikap pria itu. “Aku mulai mengantuk. Kita tidur saja ya, Vit. Besok kan harus melanjutkan pencarian.” “Kau belum memberitahuku nama gadis beruntung itu?”  Mark menoleh ke arah Vita, “Kau benar-benar ingin tahu?” “Tentu saja. Kau sahabatku jadi aku merasa perlu tahu agar nanti tidak terjadi kesalahpahaman, kan? Aku tidak ingin pacarmu cemburu karena kita berdua dekat.”  Mark tersenyum ketus, “Aku tidak mengatakan gadis itu sudah menjadi pacarku. Dia bahkan tidak tahu aku diam-diam menyukainya.” “Oh, kau belum menyatakan perasaanmu?” Mark mengangguk. “Kenapa? Lebih baik kau katakan secepatnya sebelum semuanya terlambat.” “Terlambat kenapa?” “Ya, siapa tahu gadis itu diambil orang lain,” kata Vita sambil mengangkat kedua bahu. “Oh, iya, kau benar juga. Lagi pula gadis itu sepertinya tidak memiliki perasaan yang sama denganku.” “Apa maksudnya? Kau tahu dari mana gadis itu tidak mencintaimu padahal kau sendiri belum menyatakan perasaanmu padanya?” Kali ini Mark memasang raut serius, “Hanya insting. Firasatku berkata demikian.” Vita tertegun sejenak, “Jangan suka menebak-nebak. Aku menyarankan kau menyatakan dulu perasaanmu padanya. Mungkin saja kan firasatmu itu salah dan gadis itu juga sebenarnya menyukaimu.” “Begitu ya menurutmu?” “Ya,” sahut Vita sembari mengangguk. “Baiklah. Aku akan mengikuti saranmu. Setelah perjalanan kita untuk mencari saudaramu ini selesai dan kita sudah kembali, aku akan menyatakan perasaanku pada gadis itu.”  Vita mengangkat ibu jarinya, “Bagus. Itu baru benar. Tapi siapa nama gadis itu? Aku jadi penasaran.” “Kau akan segera mengetahuinya nanti.”  Mark pun tak mengatakan apa pun lagi karena perlahan dia memejamkan mata. Vita mendengus sebal tapi toh tak mungkin juga dia terus memaksa Mark untuk menyebutkan nama si gadis.  Kedua sahabatnya kini sudah terlelap, namun berbeda dengan Vita. Dia masih terus memikirkan keadaan saudaranya. Dia pun mulai memikirkan bagaimana reaksi ibunya setelah membaca pesan yang dia tulis di secarik kertas sebelum berangkat tadi.  Berbagai pemikiran memenuhi kepala Vita, hingga rasa lelah perlahan tapi pasti mampu membuat kedua matanya akhirnya terpejam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD