CHAPTER 9 RENCANA PENCARIAN

2344 Words
Dugh ... Dugh ... Suara benturan bola pada lantai memenuhi ruangan. Terdengar pula suara orang-orang yang bersorak sehingga keramaian semakin terasa di dalam ruangan yang cukup luas itu. Sepuluh orang tepatnya yang tengah memperebutkan bola yang tak berhenti menimbulkan suara benturan ke lantai.  Mereka berlari, saling mengoper bola pada sesama rekan satu tim hanya untuk satu tujuan yaitu untuk memasukkan bola ke dalam keranjang. Ya, tempat luas yang kini tengah dipenuhi banyak orang itu tidak lain merupakan lapangan basket indoor. Sedang berlangsung sebuah pertandingan basket yang seru hingga orang-orang yang menontonnya tidak henti-hentinya bersorak atau pun bertepuk tangan ketika salah seorang pemain berhasil memasukkan bola ke dalam keranjang.  Bola itu kini sedang dikuasai oleh seorang gadis, dia berlari dengan cepat sambil mendribel bola. Tentu dia tak hanya berlari seorang diri karena beberapa lawannya tengah mengejarnya bermaksud untuk merebut bola itu darinya.  “Tangkap, Vit!!” teriak gadis yang tengah membawa bola, melemparkan bolanya ke arah seseorang yang baru saja dia teriakan namanya. Namun, orang yang dipanggil namanya itu hanya menunjukan wajah terkejut saat bola melayang ke arahnya. Sebisa mungkin dia berusaha menangkap bola, tetapi gagal hingga akhirnya bola itu keluar dari lapangan.  Priit!! Terdengar suara peluit dari wasit yang menandakan bola sudah keluar dari lapangan. Seharusnya pertandingan itu dilanjutkan kembali namun sempat terhenti karena terjadi pergantian pemain. Vita yang melihat nomor seragamnya muncul di sebuah layar menyadari dirinya harus segera meninggalkan lapangan karena kini ada seseorang yang akan menggantikan posisinya.  Sebenarnya hal ini sudah diperkirakan oleh Vita, karena itu dia tidak terkejut ketika pelatih timnya menggantinya dengan pemain lain. Sejak pertandingan ini dimulai, Vita tak sanggup berkonsentrasi. Alasannya karena tak bisa berhenti memikirkan pertengkaran dengan ibunya kemarin.  Setelah berada di luar area lapangan, Vita tampaknya tidak tertarik menyaksikan pertandingan terlihat dari kedua kakinya yang melangkah meninggalkan lapangan beserta semua orang yang tengah berada di tempat itu.  Vita menghentikan langkah ketika dia tiba di sebuah tempat dimana terdapat sebuah kolam renang di bagian tengah tempat itu. Dia duduk dan menenggelamkan kakinya ke dalam air kolam. Pikirannya kembali menerawang. Hingga kini dia masih dihantui perasaan bersalah karena membuat ibunya menangis. Selama ini bukan sesuatu yang aneh baginya ketika dia bertengkar dengan sang ibu. Tetapi, kemarin itu merupakan kali pertama dia membuat ibunya menangis karena perkataannya. Rasa sakit di pipi akibat tamparan ibunya masih terasa jelas.  Selain itu, semua yang dikatakan ibunya kemarin sangat membekas di hati Vita. Dia menyadari perkataan ibunya memang tepat pada sasaran. Vita tak memungkirinya, selama ini dia memang selalu menghindari ibu dan saudaranya. Bukan tanpa alasan Vita melakukannya, dia melakukan itu karena dia selalu merasa dikalahkan oleh Vina dalam berbagai hal. Vina lebih pintar dalam pelajaran dibandingkan dirinya. Bukan hanya dalam bidang akademik Vina mendapatkan prestasi bahkan dalam bidang seni pun dia selalu mendapatkan prestasi yang membanggakan. Vina selalu berhasil membuat ibunya tersenyum sedangkan dirinya ... Vita merasa tak pernah mampu membuat ibunya tersenyum. Vita tak memiliki prestasi apa pun. Mungkin hanya dalam bidang olahraga, dia cukup berbakat. Tapi bagi Vita, tetap saja dia tak sebanding dengan Vina. Vita menyadari bukan ibunya yang selalu membandingkan dirinya dengan Vina melainkan dirinya lah yang selalu membandingkan dirinya dengan Vina.  Rasa iri dan minder yang memenuhi pikiran Vita pada Vina- lah yang membuatnya menjauhi keluarganya. Vita bahkan sering berpikir, seandainya Vina tidak ada dalam kehidupannya maka jalan hidupnya tak akan serumit ini. Tapi kini dia menyadari kesalahannya. Setelah keinginannya entah bagaimana bisa terkabul, di saat Vina benar-benar lenyap dari hidupnya, bukan kemudahan dalam hidup yang Vita peroleh melainkan kerumitan yang semakin besar. Rumit karena setiap hari dia menyaksikan ibunya bersedih dan merasakan keheningan yang semakin terasa di rumahnya yang memang selalu sepi. Rumah itu terasa semakin hampa setelah Vina menghilang. Ya, itulah yang dirasakan Vita.  Perkataan ibunya kemarin pun memberikan pencerahan bagi Vita. Dia menyadari kesalahan yang dia buat selama ini. Dia ingin memperbaiki semuanya. Namun, masihkah dia memiliki kesempatan untuk memperbaikinya? Itulah yang sejak tadi dipikirkan oleh Vita yang membuatnya kehilangan konsentrasi di lapangan.  “Hai, gadis tomboi yang sama sekali tidak feminim! Sedang apa kau sendirian di sini?” “Mungkin dia sedang memikirkan ketidakbergunaannya tadi.”  Terdengar suara dua pria yang sudah tak asing lagi bagi Vita. Bahkan tanpa menoleh ke arah mereka pun, Vita sudah mengetahui pemilik kedua suara itu. Mereka tidak lain merupakan sahabat baik Vita, Paul Kenneth dan Mark Gregory. Mereka berdua pemain basket sama seperti Vita. Karena mereka sesama pemain basketlah yang membuat hubungan mereka cukup dekat. Dibandingkan dengan ibu dan saudaranya, Vita lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan kedua pria itu. Sekadar untuk latihan basket bersama, makan, jalan-jalan bahkan berbincang-bincang. Tak jarang Vita pun menceritakan masalah dan keluh kesahnya kepada kedua pria itu. “Kau ini kenapa tadi mainnya jelek sekali? Tim besket putri kita hampir kalah karenamu,” ucap Mark yang kini sudah duduk di samping Vita. Sedangkan Paul masih setia berdiri sambil memperhatikan sosok Vita yang terlihat lesu. “Aku hanya tidak bisa konsentrasi,” jawab Vita dengan nada suara yang lesu pula. Akhirnya Paul pun ikut duduk di samping Vita. Kini Vita duduk di tengah-tengah Paul dan Mark. “Ada apa? Apa ini masalah keluargamu lagi? Saudaramu itu bagaimana, apa dia sudah ditemukan?” Beberapa pertanyaan dilontarkan Paul sekaligus. Tak terdengar sedikit pun suara Vita yang menyahutinya. Vita memang menceritakan masalah keluarga beserta masalah hilangnya Vina pada kedua sahabatnya itu.  Suasana hening di antara mereka, Paul dan Mark tidak ingin mengganggu Vita yang tampak sedang memikirkan sesuatu dengan serius saat ini. Mereka berdua sudah sangat hafal kepribadian gadis itu karenanya mereka lebih memilih diam dibandingkan mencari masalah dengan mengganggu Vita.  “Kemarin, aku bertengkar dengan ibuku.” Vita akhirnya mengeluarkan suara, yang didengarkan dengan seksama oleh kedua sahabatnya. “Haah, kau kan memang sering bertengkar dengan ibumu. Biasanya kau tidak seperti hari ini meskipun kau sedang bertengkar dengan ibumu, kau tetap bersemangat saat bermain basket.” Mark-lah yang mengatakannya, dia memang sudah sangat sering mendengar cerita Vita yang bertengkar dengan ibunya, menurutnya bukan sesuatu yang aneh ketika mendengar perkataan Vita tadi. Vita mengembuskan napas pelan, “Tapi kemarin berbeda. Ibu menamparku dan aku juga membuatnya menangis,” ucap Vita sembari menundukan kepala, menatap kedua kakinya yang masih dia tenggelamkan di dalam air. “Apa kali ini separah itu?” tanya Paul, yang dijawab dengan sebuah anggukan oleh Vita. “Kalian tahu kan alasan aku menjauhi keluargaku?” “Ya, kami tahu. Itu karena kau selalu iri pada saudaramu yang lebih cantik, seksi, feminim, pintar dan berbakat darimu, kan? Hahaha ...” Mungkin Mark mengatakan itu dengan maksud menggoda dan bercanda dengan Vita, namun raut sedih yang diperlihatkan Vita jelas menunjukan bahwa dia sedang tidak ingin digoda atupun bercanda saat ini. “Mark, berhenti tertawa,” tegur Paul pada Mark yang tak hentinya menertawakan Vita. Paul menyadari saat ini Vita memang sedang berada dalam masa tersulitnya. Sebagai sahabat, Paul ingin sekali bisa membantu gadis itu. Setidaknya itulah yang dipikirkan Paul meskipun tampaknya Mark memiliki keinginan yang sama dengan Paul jika dilihat dari raut serius di wajah Mark yang tengah menatap Vita sekarang.  “Apa pemicu pertangkaran kalian itu saudaramu lagi?” Kali ini Paul-lah yang melontarkan pertanyaan. Vita mengangguk, “Begitulah. Aku kesal karena ibu selalu menangisinya. Aku selalu berpikir selama ini ibu hanya menyayangi Vina tapi perkataan ibu kemarin membuatku sadar bahwa selama ini tidak seharusnya aku bersikap seperti ini. Tidak seharusnya aku merasa iri pada saudaraku sendiri.” Air mata mulai mengalir turun dari kedua mata Vita, membuat kedua pria itu merasa canggung dan kebingungan. Mereka tidak tahu harus bersikap bagaimana saat ini karena bagi mereka inilah pertama kalinya melihat Vita menangis. Mereka memang sudah berteman sekitar satu tahun tapi tak pernah sekalipun Vita menangis di depan mereka.  “Selama ini aku memang selalu merasa aneh melihatmu iri pada saudaramu. Menurutku daripada iri bukankah seharusnya kau bangga padanya? Dia itu bukan orang lain tapi saudaramu, bahkan saudara kembarmu. Bukankah seharusnya kau ikut senang atas keberhasilannya? Kau selalu merasa ibumu lebih menyayanginya dibandingkan dirimu, aku tidak pernah setuju pemikiranmu itu. Menurutku tidak mungkin ada seorang ibu yang tidak menyayangi anaknya. Rasa iri yang membuatmu membenci saudaramu dan kau merasa kesal ketika melihat ibumu tersenyum dan tertawa bersamanya. Lalu kau dengan egoisnya berpikir bahwa ibumu tidak menyayangimu. Kau selalu melawan ibumu sehingga kau sering dimarahi. Keluarga itu, orang terdekatmu. Bukankah seharusnya kau bahagia untuk keberhasilan mereka? Kau cukup membuktikan bahwa kau pun bisa membuat ibumu bangga, kan? Daripada kau menyiksa dirimu dengan menjauhi mereka.” Paul mengungkapkan semua pemikirannya dengan panjang lebar. Baik Vita maupun Mark hanya mampu mendengarkan tanpa ingin menyelanya.  “Ya, aku sadar memang salah. Tapi aku tidak memiliki kesempatan untuk memperbaikinya.” Air mata Vita semakin deras mengalir membuktikan penyesalan yang amat besar yang sedang dia rasakan. “Tidak ada kata terlambat selama kau masih bernapas. Tentu saja kau masih bisa memperbaiki kesalahanmu itu. Meskipun kau tidak bisa membantu mencari saudaramu tapi setidaknya kau bisa menghibur ibumu, kan? Menunjukan kasih sayangmu pada ibumu yang selama ini selalu kau sembunyikan.” Perkataan Mark membuat hati Vita tersentuh. Dia mendongak menatap Mark, lalu beralih menatap Paul. Kedua sahabatnya itu telah kembali menyadarkan dirinya akan kesalahan fatal yang telah dia lakukan selama ini.  “Kalian benar, aku memang salah. Terima kasih sudah menyadarkanku. Dan perkataanmu itu, Mark, membuatku menemukan cara untuk memperbaiki hubungan dengan keluargaku.”  Paul dan Mark saling berpandangan, sebelum keduanya tersenyum dengan serempak setelah mendengar ucapan sahabat mereka itu. Mereka cukup puas karena berhasil menenangkan Vita terutama karena membuat gadis itu berhenti meneteskan air mata.  “Ya, aku juga setuju dengan perkataan Mark. Lebih baik kau menghibur ibumu. Dia pasti sangat kehilangan Vina.” Vita menggeleng-gelengkan kepala, “Tidak, Paul. Aku tidak hanya akan menghibur ibu tapi aku akan mencari Vina.” Paul terbelalak, “Haah, apa maksudmu?”  Baik Paul maupun Mark memperlihatkan dengan jelas ketidakpahaman mereka dengan perkataan Vita. Sedangkan Vita hanya menyunggingkan seulah senyum. Sepertinya dia akan mengatakan rencana pencariannya pada kedua sahabatnya.     ***     Vita melambaikan tangan begitu melihat Mark berlari menghampirinya. Setelah berdiri di parkiran selama hampir 20 menit, akhirnya pria itu muncul juga.  “Maaf, maaf, aku terlambat,” ucap Mark sambil mengatur napasnya yang terengah. Vita memicingkan mata, “Kau ini pasti pacaran dulu ya barusan?” “Pacaran? Memangnya siapa yang memiliki pacar? Aku tidak punya pacar.” Mark menggeleng-gelengkan kepala. “Jangan berbohong. Kau ini sangat populer di kalangan para gadis.” “Oh, kalau itu jelas karena aku ini tampan dan keren.” Mark membusungkan d**a, membanggakan diri. Vita mendengus, dia menyikut perut pria itu karena bosan mendengar kesombongannya. “Kau ini,  pilihlah salah satu gadis yang kau suka, bukannya tebar pesona ke sana-sini.” “Siapa yang tebar pesona? Aku tidak merasa seperti itu. Mereka saja yang menjerit-jerit tak jelas jika melihatku. Apalagi jika aku sedang bertanding basket.” “Itu karena kau selalu menanggapi mereka dengan genit. Wajar, mereka jadi menganggapnya serius dan menempel terus padamu,” ucap Vita sambil menuding wajah Mark dengan jari telunjuknya. “Jadi, kita mau membicarakan tentang para penggemarku bukan pergi untuk membeli perlengkapan perjalanan kita nanti?”  Vita mendengus kasar, menyadari sepenuhnya Mark sedang mengalihkan pembicaraan. “Tentu saja kita akan pergi untuk berbelanja. Oh, iya, mana Paul? Kenapa kau hanya datang sendiri?” Tanya Vita sembari menatap sekeliling untuk mencari keberadaan Paul yang tidak menunjukan batang hidungnya. “Dia tidak bisa ikut. Ada urusan mendadak. Jadi hanya kita berdua yang pergi, tidak masalah, kan?”  Vita mengembuskan napas pelan, toh hanya bisa mengangguk pada akhirnya. “Ayo, jalan. Jangan membuang-buang waktu.” “Padahal kau yang membuang-buang waktu karena masih sempatnya menanyakan para penggemarku.” Vita mendelik tajam, tampak tak suka. “Siapa yang menanyakan penggemarmu? Asal kau tahu, aku tidak peduli dengan mereka.” Mark mengulum senyum, “Padahal tadi jelas-jelas ikut campur urusan percintaanku. Kenapa? Kau cemburu?”  Vita tercekat, tapi terlihat jelas menjadi salah tingkah. “Jangan bicara sembarangan. Kenapa aku harus cemburu padamu? Kita pacaran saja tidak. Hubungan kita hanya sahabat ya, tidak lebih.” Vita pun mengakhiri perselisihan itu. Dia memilih langsung menghampiri mobil. “Buka pintunya!” Teriak Vita karena mobil itu memang milik Mark.  Mark tertawa, cukup puas menggoda Vita, setidaknya gadis itu kembali ke sifat aslinya yang mudah tersulut emosi. Bagi Mark, lebih baik melihat Vita yang seperti ini daripada seperti tadi siang saat gadis itu terlihat murung dan lesu.  Merasa sudah cukup menggoda gadis itu, Mark pun berjalan menghampiri mobilnya dan membuka kunci mobil dengan remote di tangan. Masih dengan wajah memberengut, Vita masuk ke dalam mobil. Disusul Mark yang ikut masuk dan duduk di kursi kemudi.  “Jadi kita akan belanja dimana sekarang?” Tanya Mark, basa-basi. “Serius kau bertanya padaku?” “Tidak. Aku bertanya pada kaca spion ini,” sahut Mark sembari menunjuk kaca spion di dekatnya. “Tentu saja aku bertanya padamu. Hanya ada kau kan manusia selain aku di dalam mobil ini?” “Isshh, kau benar-benar menyebalkan. Aku heran kenapa para gadis menyukaimu padahal kau orangnya menyebalkan seperti ini.” “Sudah kukatakan karena aku ini tampan, pintar, keren lagi.” Vita memutar bola mata, bosan. “Kalau Paul yang dikatakan pintar, baru aku setuju. Sedangkan kau ... untuk ukuran penampilan, aku setuju. Tapi untuk urusan otak, tidak ya. Kau sama sekali tidak pintar.” “Oh, berarti kau mengakui aku tampan dan keren?”  Dan untuk kedua kalinya Vita dibuat mati kutu. Mark tertawa lantang, puas sekali karena sejak tadi berhasil memojokan gadis itu. Vita yang kesal pun tak kuasa lagi menahan emosinya sehingga dia memukul bahu Mark bertubi-tubi. Namun pria itu dengan lihai menangkap tangan Vita dan menariknya sehingga tubuh Vita pun oleng ke depan dan jatuh mendabrak d**a bidang Mark.  Vita tertegun, entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak cepat karena wajahnya berada dalam jarak sedekat ini dengan Mark. Benar mereka sudah bersahabat sejak satu tahun yang lalu, tapi tidak biasanya mereka hanya berduaan karena Paul biasanya ikut bergabung dengan mereka.  Lama mereka saling berpandangan sebelum Mark tiba-tiba mengacak-acak puncak kepala Vita yang sukses membuat sang gadis kembali geram karena ikat rambutnya menjadi berantakan.  “Berhenti mengacak-acak rambutku!” Bentak Vita sambil kembali memukuli bahu Mark. Mark tertawa lantang hingga yang terdengar di dalam mobil itu hanya suara tawanya. “Ini baru Vita yang aku kenal,” katanya. Vita seketika terdiam. “Terus ceria seperti ini ya. Aku lebih suka dirimu yang pemarah seperti ini daripada gadis murung menyedihkan seperti tadi. Tetaplah seperti ini, Vita.” Mark tiba-tiba memiringkan tubuh sehingga kini mereka saling berhadapan. Pria itu lantas mengulurkan jari kelingkingnya pada Vita membuat sang gadis mengernyitkan dahi, kebingungan.  “Mau berjanji satu hal padaku?” “Apa?” Tanya Vita, cepat. “Apa pun yang terjadi di masa depan. Seberat apa pun masalah yang kau hadapi. Berjanjilah, kau akan selalu menjadi gadis yang tegar dan kuat. Karena seperti itulah Vita yang kukenal. Jovita Petrova bukan gadis cengeng dan manja.” Mark semakin mendekatkan jari kelingkingnya ke arah Vita. “Mau membuat janji denganku?”  Vita mendengus sambil menahan senyum. Tapi akhirnya dia mengangguk sembari ikut mengulurkan jari kelingking sehingga kini jari kelingking mereka saling bertautan. “OK, siap berbelanja?” “Siap!!” Teriak Vita lantang.  Setelahnya mobil mereka pun melaju meninggalkan area parkir sekolah untuk berbelanja kebutuhan perjalanan yang akan mereka lakukan besok untuk mencari keberadaan Vina dan Cella.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD