CHAPTER 5 TEMPAT DI BALIK TEMBOK

1690 Words
Vina dengan gontai melangkahkan kakinya mengikuti Cella memasuki pintu besi itu. Aroma aneh menusuk hidung Vina begitu mereka berada di dalam tempat di balik pintu besi. Vina menatap ke arah Cella, melihat gadis itu juga sedang menutup hidungnya dengan kedua tangan, Vina menyadari bahwa bukan hanya dirinya seorang yang mencium bau aneh itu.  “Cell, bau apa ini? Tempat ini terlihat sangat menyeramkan ya?” Cella menjauhkan tangan yang  tadi menutup rapat hidungnya. Dia menatap lurus ke arah Vina yang sedang berdiri di sampingnya dengan raut wajah seolah sedang menahan mual. “Menyeramkan apanya? Seperti dugaanku, ini memang sebuah desa.”  Vina menggulirkan mata untuk menatap sekeliling, dan sejauh matanya memandang tempat itu memanglah sebuah pedesaan. Ada beberapa rumah penduduk bergaya sederhana memenuhi tempat ini. Bahkan ada beberapa dari rumah itu terlihat seperti gubuk. Vina merasa heran di zaman yang sudah modern ini masih ada pedesaan seperti di tempat ini. Bahkan sekeliling pedesaan ini masih dipenuhi hutan belantara. Bukan hanya itu yang membuat Vina merasa tempat ini sangat aneh, keadaan pedesaan yang dihalangi oleh tembok yang tinggi dan kokoh, bahkan ada sebuah pintu besi yang seolah-olah mengisolasi desa ini, terlihat mencurigakan bagi Vina. Tembok tinggi itu sepertinya sengaja dibangun di sekeliling desa ini. Ya, dilihat dari sudut mana pun desa ini terlihat terisolasi dari dunia luar.  “Tempat ini mencurigakan. Aku merasa tempat ini diisolasi, Cell.” Cella mengulum senyum hingga beberapa detik kemudian tawanya meledak kencang. “Kau itu memang terlalu banyak menonton film horror, Vin. Sudah, jangan berpikiran negatif terus. Ayo, kita cari penduduk desa ini dan meminta bantuan pada mereka.”  Vina sama sekali tidak menyahuti ajakan Cella, dia masih berkutat dengan pemikirannya sendiri. Satu hal yang membuat Vina semakin heran dengan desa ini, sejauh mata Vina memandang ke sekeliling, dia tidak melihat satu pun penduduk yang berlalu-lalang.  Tanpa menunggu jawaban Vina, Cella melangkahkan kakinya menuju ke sebuah rumah penduduk yang letaknya paling dekat dengan tempatnya berada. Vina sangat terkejut begitu melihat Cella dengan lancang membuka pagar yang terbuat dari kayu itu tanpa meminta izin kepada pemilik rumah. Tapi sekali lagi dia berada dalam kondisi dimana dia tidak bisa melakukan apa pun selain mengikuti Cella.  “Permisi, apa ada orang di dalam?” Cella mencoba mengetuk pintu rumah penduduk yang kini ada di hadapannya. Tapi tidak ada tanda-tanda seseorang di dalam rumah yang akan membukakan pintu itu. Rumah yang cukup sederhana dengan sebuah pohon yang tumbuh lebat di halamannya itu, terlihat sangat sepi. Namun Cella tidak menyerah semudah itu, karena tak mendapati pemilik rumah tadi mau membukakan pintu untuknya, dia pun beranjak mendatangi rumah lain dan kembali mengetuk pintunya. Berulang kali terus seperti itu, Cella mencoba mengetuk pintu rumah-rumah penduduk yang dia datangi. Akan tetapi, hasilnya nihil. Semua rumah tampak sangat sepi seakan-akan tidak ada yang menempatinya.  Vina yang mengikuti dari belakang sejak tadi hanya bisa menghela napas panjang melihat kekeras kepalaan Cella. Tapi menurutnya sang sahabat sudah keterlaluan karena tak kenal kata menyerah, dia berpikir harus segera menghentikannya. “Cell, lebih baik kita menyerah saja. Mungkin tidak ada orang yang tinggal di tempat ini.”  Cella berdecak kesal, “Jangan berpikiran bodoh begitu, Vin. Kalau di sini tidak ada seorang pun yang tinggal lalu siapa yang tadi membukakan pintu besi di depan sana?” Sanggah Cella sembari menunjuk ke arah pintu besi yang tidak lain merupakan pintu utama untuk memasuki pedesaan ini. “Mana mungkin kan pintu itu terbuka sendiri? Atau kau berpikir hantu yang membukanya?”  Vina hanya terdiam, dia tak mampu membalas ucapan Cella karena berdasarkan pemikirannya apa yang dikatakan Cella memang benar adanya. Di zaman yang sudah modern ini, benarkah masih ada hantu? Rasanya Vina tidak bisa mempercayai hal itu.  Mereka berdua melanjutkan langkah semakin dalam memasuki desa. Tetapi hingga sedalam itu mereka memasuki daerah pedesaan, belum seorang pun penduduk desa yang mereka temui.  “Cell, apa menurutmu ini tidak aneh? Sudah hampir satu jam kita berada di tempat ini, kau juga sudah mengetuk pintu banyak rumah tapi tak ada satu pun yang membukakan pintu. Selain itu, semua rumah seperti tidak berpenghuni. Rumah-rumah itu terlihat tidak terawat. Kau lihat pekarangan rumahnya? Kotor sekali seolah tidak pernah dibersihkan pemiliknya. Dan lagi ...” Vina menjeda, dia menatap sekeliling dan tiba-tiba tubuhnya serasa merinding. “... di sini sangat sepi. Tidak ada seorang pun penduduk yang berlalu lalang.”  Untuk kesekian kalinya Cella berdecak, mulai kesal karena Vina begitu penakut. Selain itu, sejak tadi gadis itu hanya mengeluh dan mengoceh tanpa sedikit pun membantunya memeriksa rumah-rumah penduduk yang mereka datangi.  “Sudah kukatakan jangan berpikir negatif. Tidak mungkin ada hantu di zaman modern seperti ini.” Vina menggeleng tegas, “Aku bukan takut pada hantu atau berpikir ini desa berhantu. Tapi aku berpikir yang lebih berbahaya dari itu.”  Cella tiba-tiba menghentikan langkah, Vina pun demikian. Cella memicing tajam meminta penjelasan, “Apa maksudmu dengan sesuatu yang lebih berbahaya dari hantu?”  “Aku curiga, ini desa isolasi. Mungkin penduduk di desa ini dulu terkena wabah penyakit lalu tempat ini sengaja diisolasi agar wabah tidak menyebar kemana-mana. Alasan desa ini begitu sepi bisa jadi karena semua penduduknya sudah meninggal karena wabah penyakit itu.”  Saat melihat Cella tertegun dalam diam, Vina berharap gadis itu menyetujui pendapatnya. Namun begitu Cella tertawa terbahak-bahak, Vina menyipitkan mata. Pemikirannya salah besar karena sepertinya Cella masih tak menyetujui pendapatnya.  “Tidak mungkin. Kejadian seperti itu hanya terjadi di film-film. Pasti ini efek karena kau terlalu banyak menonton film, Vin.”  Vina memutar bola mata, malas meladeni Cella yang keras kepalanya tak ada yang bisa menandingi. “Kalau begitu coba kau jelaskan kenapa tempat ini begitu sepi? Tidak ada satu pun penduduknya yang kita temui?” “Mungkin mereka sedang bekerja.” Vina mengernyitkan dahi, “Bekerja?” Cella mengangguk yakin, “Ya, mereka sedang bekerja. Ini kan siang hari, mungkin mereka sedang bertani atau berkebun. Namanya juga pedesaan, pekerjaan penduduknya tidak akan jauh-jauh dari bertani atau berkebun.” Cella berujar dengan yakin. Saat mendapati Vina sedang memasang pose berpikir, dia menepuk cukup kencang bahu gadis itu. “Sudah, jangan berpikir yang aneh-aneh terus ah. Positif thinking, positif thinking. Lebih baik kita maju terus ke depan, aku yakin di depan sana kita akan menemukan penduduk desa yang sedang bertani atau berkebun.”  Dengan penuh semangat Cella merangkul lengan Vina. “Ayo, kita lanjutkan!” Ajaknya. Dia pun menarik paksa Vina agar berjalan bersamanya. Vina mengembuskan napas pelan, lagi-lagi hanya bisa pasrah.  Lama mereka berjalan dalam keheningan karena tak ada lagi yang bersuara. Vina juga tak berminat lagi mengutarakan pemikirannya pada Cella karena gadis itu selalu membantahnya. Terlebih dia juga sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri atau sedang melamun lebih tepatnya.  “Vin, coba lihat gedung itu!” Cella memekik riang, membuat Vina yang sedang melamun itu terlonjak kaget. Vina lalu mengikuti arah yang ditunjuk Cella. “Ayo, kita coba pergi ke sana. Mungkin penduduk di desa ini sedang berada di sana!”  Tanpa menunggu respon dari Vina, Cella berlari menuju sebuah gedung yang berdiri kokoh dan megah serta dilengkapi sebuah menara yang menjulang tinggi. Sebuah gedung bergaya modern itu sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan rumah penduduk yang sejak tadi dilihat sepasang sahabat tersebut. Sebenarnya gedung itu sama sekali tidak terlihat seperti rumah penduduk, melainkan lebih seperti sebuah perusahaan atau tempat penelitian. Untuk kesekian kalinya Vina merasakan kecurigaan pada desa yang didatanginya ini terlebih setelah dia melihat gedung dengan menara itu.  Pada akhirnya Vina yang khawatir pada Cella pun, ikut berlari mengejar gadis itu. Namun langkah kakinya terhenti ketika melihat Cella sedang berdiri mematung. Tatapan matanya terlihat tajam ke arah depan. Vina kini sudah berdiri di samping Cella. “Kenapa, Cell?” Tanyanya, heran.  Dengan tangan bergetar, Cella menunjuk ke satu arah dengan jari telunjuknya, “I-Itu ... me ... mereka, apa mereka sedang memakan daging mentah?”  Vina mengikuti arah yang ditatap Cella. Kini Vina merasa tubuhnya gemetaran ketika menatap sekumpulan pria dewasa dengan tubuh mereka yang kekar, sedang mengerumuni sesuatu. Tangan mereka berlumuran darah dan mulut mereka terlihat sedang mengunyah sesuatu. Sesuatu yang sedang dikerumuni oleh mereka, meskipun dari jarak yang cukup jauh, Vina bisa menyadarinya dengan pasti. Itu ... seekor hewan yang jika melihat surai yang memenuhi kepalanya, tidak diragukan lagi merupakan seekor singa. Orang-orang itu ... mereka sedang memakan daging singa dalam keadaan hidup-hidup. Mereka memakan si singa malang dengan menggigit tubuhnya tak ubahnya seperti binatang buas yang sedang menyantap daging buruannya. Mereka juga dengan kejam menguliti kulit singa itu dan ada beberapa yang mengiris daging dari tubuh singa dengan menggunakan pisau tajam. Tanpa ragu orang-orang itu memasukan daging mentah ke dalam mulutnya dan dengan lahap mengunyahnya.  “Hueeeek ... Hueeeek ...” Vina tidak sanggup lagi menahan rasa mualnya. Orang-orang itu ... benarkah mereka manusia? Tubuh Vina terasa lemas ketika menyadari salah seorang dari pria itu menatap ke arahnya dan Cella. Sepertinya kini mereka menyadari kehadiran Vina dan cella.  “Hei lihat, ada dua wanita di sana!! Kita bisa berpesta!!” Teriak pria itu, membuat perhatian semua orang yang sejak tadi tertuju pada seekor singa yang sudah tak bernyawa, kini beralih menatap Vina dan Cella.  Mereka menyeringai bersamaan, begitu menyeramkan karena darah yang mengelilingi mulut mereka kini menetes-netes ke bawah. Wajah mereka juga penuh dengan bekas luka dan jahitan, semakin menambah kengerian dari penampilan mereka.  “Tangkap mereka!!!” Teriak salah seorang dari pria itu memberi komando. Lalu secara serempak orang-orang itu berlarian menuju ke arah Cella dan Vina.  Dengan susah payah, Vina dan Cella mencoba menggerakkan kedua kaki mereka yang gemetaran karena terlalu ketakutan. Mereka mencoba berlari sekencang yang mereka bisa. Pria-pria itu berlari dengan kecepatan yang dua kali lipat melebihi kecepatan kedua gadis malang itu. Jarak mereka yang terpaut cukup jauh, kini semakin menyempit. Tampaknya Vina dan Cella menyadari bahwa mereka  tidak akan berhasil melarikan diri dari kejaran pria-pria itu. Namun, mereka tidak menyerah. Mereka tetap berlari dengan sekuat tenaga.  Dorr! Dorr!  Dua kali suara tembakan terdengar dan sedetik kemudian Cella tumbang. Salah satu peluru bersarang tepat di betisnya. Vina yang menyadari hal itu mencoba memapah Cella untuk tetap berlari. Tapi percuma, kini mereka telah dikelilingi oleh pria-pria bertubuh kekar itu.  Tiga orang pria mendekati Vina dan Cella dengan seringaian menyeramkan di wajah mereka serta tatapan lapar jika melihat dari air liur yang terus menetes-netes dari mulut mereka. Tubuh Vina dan Cella semakin bergetar karena mereka tak sanggup lagi menahan rasa panik dan takut.  Ketiga pria itu pun menangkap mereka dan dengan paksa membawa mereka dengan cara menyeret tubuh mereka tanpa belas kasihan. Mereka seolah tak mendengar dan mengabaikan sepenuhnya teriakan Cella dan Vina yang memohon untuk dilepaskan.  Kulit mulus Cella dan Vina terkoyak karena gesekan pada tanah berbatu. Ya, seolah tak memiliki hati nurani, dengan kejamnya pria-pria itu menyeret tubuh Vina dan Cella. Entah kemana mereka akan membawa Vina dan Cella pergi? Dan entah bagaimana nasib kedua gadis malang tersebut?  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD