CHAPTER 4 FIRASAT BURUK

1795 Words
Berbeda dengan beberapa hari sebelumnya, dimana langit selalu terlihat cerah. Hari ini langit tak hentinya menitikkan air hujan. Beruntung sepasang sahabat itu sedang berada di dalam mobil sehingga mereka terhindar dari guyuran air hujan.  Dalam suasana langit yang mencekam, keberuntungan seakan-akan mulai meninggalkan Vina dan Cella. Dalam keheningan perjalanan, tiba-tiba mobil yang mereka naiki berhenti.  “Haduh, sial! Bensin kita habis,” umpat Cella dengan kekesalan yang terdengar jelas pada nada suaranya. “Bensinnya habis? Kenapa bisa?” tanya Vina, terheran-heran. Cella menyengir lebar sambil membentuk huruf V dengan kedua jarinya, “Maaf, aku lupa mengisi bensin dulu tadi.” Cella menyadari telah melakukan kecerobohan tak termaafkan yang kini membuat sahabatnya tampak begitu kesal padanya. Cella sudah sangat mengenal Vina, hanya dengan melihat raut wajahnya saat ini, Cella menyadari Vina sedang sangat marah padanya.  “Huuh, kau ini bagaimana? Terus bagaimana kita bisa pulang? Perjalanan kita masih jauh bahkan aku tidak tahu dimana kita berada sekarang!” Kata Vina, terdengar sedikit nada membentak pada suaranya. Cella meringis, dalam hati merasa begitu bersalah. “Maaf, maaf. Aku benar-benar lupa tadi.” “Padahal tadi kita melewati pom bensin. Kau ini ceroboh sekali. Bisa-bisanya menyetir tanpa memeriksa dulu bensin yang tersisa di mobilmu!” Cella mengangkat kedua tangannya, pasrah menerima omelan Vina karea dia mengakui semua ini bisa terjadi karena kecerobohannya. Tak ada yang salah dengan ucapan Vina. “OK, OK. Aku mengaku aku ini memang bodoh dan ceroboh. Sudahlah, Vin. Jangan marah-marah terus, nanti kau cepat tua.” Cella berusaha mengajak Vina bercanda namun sepertinya usaha gadis itu sia-sia karena raut wajah Vina masih diliputi amarah. “Apa yang akan kita lakukan sekarang?”  Cella tidak menjawab pertanyaan Vina, dia tengah sibuk menggulirkan mata ke sana kemari untuk menatap sekeliling tempat dimana mereka berada saat ini.  Sejauh mata memandang, Cella hanya melihat hutan dengan pohon-pohon menjulang tinggi di bagian kiri dan kanannya. Ketika dia menatap lurus ke arah depan, meskipun tidak jelas tapi Cella yakin dia melihat sebuah tembok yang cukup tinggi. Di balik tembok itu, pastilah terdapat sebuah pedesaan. Berpikir betapa beruntungnya mereka jika ada perumahan warga juga di sana, itulah yang terlintas di benak Cella. Cella merasa telah menemukan jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dia dan sahabatnya hadapi. Seulas senyuman pun tersungging di bibir Cella.  “Kita selamat, Vin. Lihat, di sana aku yakin ada  pedesaan. Kita bisa minta tolong pada warga di sana,” ucap Cella sambil menunjuk dengan jari telunjuk ke arah tembok yang dilihatnya, cukup jauh di depan mobilnya yang mogok. “Ayo kita turun, Vin!” Ajaknya dengan memasang wajah berseri-seri.  Vina tertegun, kedua matanya memicing tajam pada tembok yang baru saja ditunjukan Cella. “Tapi Cell, apa kau yakin di sana itu pedesaan? Bagaimana jika tempat itu bukan pedesaan melainkan tempat yang berbahaya?” Vina memang merasa ragu untuk pergi ke tempat itu. Entah mengapa sebuah firasat buruk terus menggelayuti hati dan pikirannya seolah melarangnya mendekati tempat mencurigakan itu.  Cella berdecak jengkel, “Haduuh, kau itu kebanyakan nonton film horror. Memangnya menurutmu itu tempat berhantu? Kita bahkan belum masuk ke sana.” “Tapi, Cell ...” “Sudahlah. Percaya saja padaku. Lagi pula, mungkin saja di tempat itu kita bisa meminta tolong pada seseorang. Bagus-bagus di sana ada pom bensin.”  Vina masih terdiam dan tampak ragu mendengar perkataan Cella. Bagi Vina, firasat buruk yang dia rasakan seolah-olah mencegahnya untuk mendekati tempat apa pun yang ada di balik tembok besar yang berdiri dengan kokoh itu.  “Aku merasakan firasat buruk, Cell. Lebih baik kita tidak usah pergi ke sana.” Vina pun memutuskan menolak ajakan Cella dan mengutarakan alasannya tak ingin pergi ke sana. Cella memutar bola mata, malas, “Jadi, kau lebih memilih kita menunggu saja di dalam mobil ini tanpa melakukan apa pun, begitu?” “Kita pergi ke tempat lain saja.”  Cella menghela napas perlahan dan mengembuskannya dengan kasar. Gadis itu sangat kesal mendengar semua yang dikatakan Vina. Cella sudah mengetahuinya sejak dulu, sahabatnya itu memang seorang penakut. Tapi dia tidak pernah menyangka ternyata Vina sepenakut ini. Selain itu, Vina juga selalu berpikiran negatif tentang apa pun yang ada di sekitarnya. Cella mulai lelah meladeni sahabatnya itu.  “Kau lihat kan, Vin? Di sekeliling kita ini hanya ada hutan belantara. Memangnya kita mau minta tolong pada siapa? Pada hewan buas? Yang ada kita akan mati dimakan mereka. Aku tetap akan pergi ke depan sana. Terserah kau mau ikut denganku atau tetap menunggu di dalam mobil.” Cella sudah membulatkan keputusannya. Tanpa menunggu jawaban dari Vina, dia keluar dari mobil. Air hujan yang mengguyur tubuhnya seakan-akan tidak dia pedulikan.  Vina menatap khawatir ke arah Cella yang berjalan menjauhinya. “Duuh, Cella keras kepala sekali. Nekat sekali dia pergi ke sana,” gerutunya. Berulang kali Vina menggigit bibir bawahnya karena bingung memikirkan tindakan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.  Vina memang tidak ingin pergi ke tempat itu tapi dia pun tidak ingin berpisah dengan sahabatnya. Dia benar-benar mengkhawatirkan Cella sekarang. Di sisi lain dia pun mulai ketakutan sendirian di tempat yang sepi dan terpencil itu. Akhirnya dia memaksakan tangannya bergerak mendekati pintu mobil meskipun terasa berat untuk dia gerakkan. Vina keluar dari mobil dengan enggan lalu mencoba berlari untuk mengejar Cella yang sudah berjalan cukup jauh darinya.  “Cella, tunggu aku!!!” Teriak Vina. Cella yang mendengar teriakan itu akhirnya menghentikan langkahnya dan menatap lurus ke arah Vina yang tengah berlari di belakangnya. Seulas senyum tersungging di bibir Cella. Cella tahu pada akhirnya Vina memang akan mengikutinya meskipun memang cukup sulit untuk meyakinkan gadis itu.  “Apa? Katanya kau tidak mau pergi ke sana?” Sindir Cella dengan raut mengejek pada Vina yang kini sudah berdiri di depannya. Napas Vina terengah-engah. Tubuh keduanya basah kuyup karena air hujan yang semakin deras mengalir. “Aku tidak mungkin membiarkanmu pergi ke sana sendirian. Aku tidak seperti seseorang yang tega meninggalkan sahabatnya sendirian,” balas Vina yang kini memasang raut menyindir pada wajahnya. Cella mendengus, tak heran karena sejak dulu Vina memang selalu menemukan cara untuk membalas setiap sindirannya. “OK. Ayo, kita pergi ke sana!” Ajak Cella sambil menggenggam erat tangan Vina. Mereka pun berjalan menuju tembok yang berdiri kokoh itu sambil berpegangan tangan.  Cukup lama mereka berjalan karena jarak dengan tempat yang terhalang tembok itu memang cukup jauh. Cella terus mengajak Vina mengobrol sepanjang perjalanan mereka, namun Vina hanya terdiam. Sebenarnya keraguan di dalam hatinya masih kuat dia rasakan.  Langkah demi langkah membuat jarak di antara sepasang sahabat dengan tempat yang terhalang tembok itu semakin dekat, hingga akhirnya mereka pun tiba di depan tembok yang berdiri menjulang tinggi dengan kokohnya. Tembok itu terlihat lebih tinggi ketika mereka menatapnya dari jarak yang sangat dekat.  Cella melangkahkan kakinya menuju sebuah gapura yang terdapat pintu besi di sana. Pintu itu dalam keadaan tertutup rapat. Namun di bagian atas pintu besi terlihat beberapa kamera CCTV yang terpasang. Vina yang menyadari keberadaan kamera itu semakin merasa firasat buruknya memang benar. Tidak seharusnya mereka mendatangi tempat ini.  Vina menghampiri Cella dan menarik lengannya. “Cell, lebih baik kita pergi saja.” Cella terbelalak, terkejut tentu saja mendengar ajakan Vina yang menurutnya konyol itu. “Haah, jauh-jauh kita berjalan sampai kita basah kuyup begini, kau malah mengajakku pergi?” Cella jelas menolak ajakan Vina. “Tapi pintu itu tertutup, kan?” Vina mencoba meyakinkan, berharap kali ini sang sahabat mau menuruti permintaannya.  Namun tampaknya Cella tidak menyerah semudah itu. Dia berusaha mengetuk-ngetuk pintu dengan harapan ada seseorang di balik pintu yang akan mendengar dan membukakan pintu untuk mereka.  “Hallo! Apa ada orang di dalam sana? Bisa tolong bukakan pintunya? Kami ingin meminta pertolongan!!” Teriak Cella begitu lantang dan kencang, membuat kedua mata Vina membulat dengan lebarnya. Vina tahu sahabatnya itu memang keras kepala, tapi dia tidak pernah menyangka bahwa Cella akan senekat itu.  Cella bahkan mulai menggedor-gedor pintu besi dengan keras ketika dia mulai kesal karena tidak ada seorang pun yang membukakan pintu besi itu.  Vina kembali menarik tangan Cella. “Cell, kita pergi saja. Mungkin di dalam sana tidak ada siapa pun.” “Masa tidak ada siapa pun di balik tembok ini. Padahal dilihat dari sudut mana pun seharusnya ada seseorang di dalam sana.” “Tapi kau lihat sendiri, tidak ada yang membukakan pintu untuk kita.” “Mungkin mereka tidak mendengarnya. Aku akan mencobanya sekali lagi.”  Cella sudah mengangkat satu tangannya bermaksud kembali menggedor pintu besi namun urung karena tangan Vina kembali mencekalnya.  “Jangan keras kepala, Cell. Ikuti saja perkataanku, kita pergi dari sini.” Cella mendelik tajam, “Yang keras kepala itu kau, Vin. Jika kita tidak meminta bantuan pada orang di dalam, lalu kita harus meminta tolong pada siapa? Kau lihat sendiri kan di sini sangat sepi dan terpencil?” Vina berdecak, mulai tersulut emosi. “Ini semua juga karena kesalahanmu. Seandainya kau tidak ceroboh, kita tidak akan terjebak di sini.” “Belum puas menyalahkanku ternyata. Seharusnya kau juga membantuku mengecek bensin mobil. Sejak kita melakukan perjalanan yang kau lakukan hanya mengeluh dan mengomel. Semuanya aku yang mengurusnya. Tempat kita berkemah, persediaan makanan bahkan kendaraan yang kita naiki. Sejak awal kau tidak membantu apa pun. Dan sekarang kau menyalahkan aku?”  Vina terdiam, tersinggung mendengar semua yang dikatakan Cella barusan. Padahal selama ini dia merasa selalu membantu Cella setiap kali mereka menemukan tempat untuk berkemah. Bahkan yang menyiapkan makanan juga Vina walau memang Cella yang selalu menentukan tempat yang akan mereka singgahi untuk mendirikan tenda. Tapi tetap saja Vina tak terima jika dirinya dianggap tak melakukan apa pun.  “Kau yang mengajakku berlibur dan berkemah berdua. Kau juga bilang akan menentukan tempat-tempat yang akan kita datangi seolah kau begitu yakin dengan tempat-tempat itu. Aku pikir kau sudah pernah ke sini sebelumnya, tapi setelah aku perhatikan dari gerak-gerikmu sepertinya kau juga baru pertama kali datang ke daerah ini. Kau juga tidak tahu apa pun tentang daerah ini.” “Memangnya kapan aku mengatakan pernah mendatangi tempat ini? Aku memang belum pernah ke sini karena itu mengajakmu berlibur di sini. Karena menurutku ini asyik jika kita menjelajahinya berdua.”  Vina mendengus kasar, dia kesal bukan main sekarang. “Sejak awal aku menolak, tidak ingin berlibur ke sini. Kau yang terus memaksa. Aku akhirnya mengabulkan keinginanmu karena aku ingin membuatmu senang. Tapi aku benar-benar tersinggung tadi kau mengatakan aku tidak melakukan apa pun selama kita liburan padahal jika kau lupa, aku yang selalu memasak untuk kita makan.”  Cella meringis, menyadari lagi-lagi melakukan kecerobohan karena sudah membuat Vina tersinggung. Lagi pula, dia juga merasa kesal karena Vina terus menolak ajakannya.  “Iya, iya, aku yang salah. Maaf ya,” pinta Cella sambil menangkupkan kedua tangan di depan d**a sebagai bentuk permohonan maaf. Alih-alih merespon, Vina justru membuang muka ke arah lain.  Cella cepat-cepat bertindak dengan merangkul lengan Vina, “Sudah, jangan marah terus. Aku benar-benar minta maaf. Maafkan aku ya.” “Kau ini selalu saja seenaknya, Cell. Kau selalu memaksaku dan aku selalu mengalah. Sekali-kali kau yang mengalah dan menurutiku, bisa kan?”  Cella menyengir lebar, sedetik kemudian dia mengangguk pasrah, “OK, OK. Jadi aku harus bagaimana sekarang agar kau tidak marah lagi dan mau memaafkanku?” “Kita pergi dari sini. Kita tunggu saja di dalam mobil, siapa tahu nanti ada kendaraan yang lewat. Kita bisa minta tolong.  Cella menghela napas panjang, akhirnya menyerah dan mengikuti perkataan Vina. “OK. Ayo kembali ke mobil.”  Seketika Vina tersenyum lega karena Cella akhirnya mau menurut. Mereka pun melangkahkan kaki menjauhi pintu, bermaksud untuk kembali ke tempat mobil mereka berada. Namun baru dua langkah berjalan, tiba-tiba ....  Ceklek!  Sebuah suara dari arah pintu terdengar, membuat Cella menghentikan langkah dan kembali menatap ke arah pintu besi. Wajah Cella terlihat sumringah ketika melihat pintu besi itu kini perlahan terbuka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD