Lintang menarik ponsel dari telinganya, mengerutkan keningnya karena malah dering tidak bisa dihubungi yang terdengar saat ini. “Ke mana dia? Bukankah tadi sempat diangkat juga telepon itu?” gumamnya sendiri, kebingungan dan tidak tahu harus menanyakannya ke siapa. Dicobanya lagi dan lagi, hanya tetap terdengar nada yang sama. Lintang mengendikan ke dua bahunya bersamaan, berpikir positif kalau ponsel Akasa bisa saja kehabisan baterai karena sempat mendengar tawanya juga tadi. Ditaruhnya ponsel itu, membuka kantong belanjaan yang dibelikan oleh Akasa, terkekeh karena semua yang ada di dalamnya disukai dan bisa dimakan meski hanya sedikit. Baru saja dia membuka keripik kentang, ponselnya berdering keras. Lintang meraih dengan bersemangat, tapi membuat murungnya datang kembali karena itu b

