“Ada saus.” Akasa menggigit pizzanya lagi, melihat Lintang yang sibuk membersihkan mulutnya dan tak juga bisa menghilangkan bekas saus yang dia maksud. Akasa terkekeh, melahap semua pizza di tangannya karena sudah tak terlalu besar. Dengan tangannya yang sudah kosong dan mulut yang penuh dan mengunyah, Akasa menyulurkan tangannya dan lebih mendekat ke Lintang. Mengusap sudut bibir sebelah kiri yang dimaksudnya tadi, membersihkannya dan terkekeh saat melihat pipi itu malah merona saat ini. Bibirnya yang tadi mengunyah kini juga diam dengan isian yang setengah sempurna. Biar saja tampak menjijikkan, yang Akasa tahu hanya memajukan bibir penuhnya itu ke pipi yang kian merona itu. Ingin memberi sebuah kecupan karena waktu seakan mendukung aksinya saat ini. Mata Lintang yang segera memejam me

