“Ayam geprek? Es teh tawar?” Lintang mengangguk, ini adalah menu yang paling dia sukai. “Spesial, karena cabainya hanya dua buah.” “Dua buah?” ulang Lintang saat Akasa menjelaskan menu yang baru saja sampai dan akan disantap bersamaan itu. “Ya, bukankah pedas tidak baik untukmu?” “Ommmm, aku—“ “Ssstttt!” Lintang terdiam, melengkungkan bibirnya saat jari telunjuk itu mengacung untuk menghentikan ucapannya yang belum terselesaikan. “Panggil aku Jalu saat kita bersama, di chat kamu mau memanggilku ‘om’ atau ‘Akasa’ ... terserah kamu.” “Iya, Om. Eh!” Lintang segera menutup bibirnya dengan ke dua tangannya, “Mas Jalu.” “No!” Bentakan itu membuat Lintang salah tingkah, apakah dirinya melakukan kesalahan lagi? Sepertinya tidak, atau dirinya ini yang tak tahu diri? “Jalu. Cukup Jalu.”

