Lintang baru saja membuka mata, entah sejak kapan dia menangis dan tertidur di ranjang hotel. Dia tidak tahu akan melakukan apa, di sini pun juga sendiri, tapi untuk pulang dia tidak tahu apakah masih sanggup atau tidak. Matanya bengkak, raganya peluh, Lintang patut membenci karena Jalu terlalu menyakitinya dengan ucapannya, atau malah berterima kasih karena Jalu memikirkan keadaannya yang tak memungkinkan untuk kembali ke rumah. 'Tok. Tok. Tok.' Lintang segera membuka pintu itu, mungkin itu adalah Jalu yang ingin meminta maaf ke padanya. Dengan semangat dia segera membukanya, bukan, itu orang lain. “Kami mengantarkan makanan untuk Anda, Nona Lintang.” “Aku tidak memesan makanan, maaf.” Lintang bingung dengan apa yang pegawai hotel ini ucapkan. “Ini sudah dibayar, Nona Lintang. Tuan Ja

