Sakit?

1161 Words
Love mengerutkan keningnya melihat Akasa terkekeh sambil berselancar dengan ponsel pintar di tangan. Mendekat dan mencium pipi itu hingga empunya terkejut, “ada apa?” Akasa terkekeh, “tidak.” “Tentang syair?” “Ya. Hanya itu saja.” meletakkan ponselnya ke atas meja dan membuka tangannya, berharap Love masuk ke pelukannya, memberinya hadiah kecupan di pipi kanan dan pipi kiri itu, serta melu mat bibirnya singkat. “Mau makan apa? Kita ... makan di luar?” tawar Akasa, rambut Love yang kurang rapi, diusapnya juga, menggoda dengan senyumannya lagi. “Aku sangat lelah.” tidur di pangkuan Akasa dan memejamkan matanya, “kenapa kita tidak mencari asisten untuk perusahaan? Aku tidak suka berpisah denganmu. Di tempat lain sangat sepi, aku suka di sini saja meski hanya ada kita berdua.” Akasa terkekeh, “kalau semua kita menyuruh orang, bagai mana dengan masa depan kita? Apa akan tetap begini saja, hm” “Kamu tidak mencintaiku?” “Kata siapa? Tentu saja cinta.” Akasa menunduk, meraih bibir itu dengan susah payah dan sedikit membuat decap-an merdu. Mengusap basah di sudut bibir setelah melepas pagu tan ke duanya, “jangan pernah mengatakan itu, di sini.” membawa tangan Love ke da danya, “hanya ada namamu.” Love memiringkan tubuhnya hingga menghadap ke tubuh Akasa, memeluknya erat, sangat takut akan kehilangan cintanya itu. *** Banyak waktu, kehidupan memang cepat. Akasa tetap sibuk dengan pekerjaan kantornya bersama dengan Love, meski tak mengabaikan kontes syairnya juga. Ruang kerja yang menjadi satu ini memudahkannya untuk saling menghibur saat lelah melanda. “Love, ke mana Gusti?” tanya Akasa tanpa berpaling dari layar laptopnya. Ada hal penting yang tengah dia baca saat ini. “Kekasihnya sakit, dia izin beberapa hari karena kekasihnya tidak memiliki keluarga selain dirinya.” “Apa?” Akasa ingin Love mengulang penuturannya barusan. Love mendongak, melemparkan senyum agar Akasa yang terlihat sedikit marah tidak semakin marah, “kekasih Gusti sakit, Akasa. Mungkin hari ini akan masuk, atau besok?” Love mengendikan bahunya bersamaan. Memang tidak tahu harus mengatakan apa ke Akasa saat ini. “Ya. Aku hanya—hanya tidak terlalu mendengarnya tadi. Maaf, Love.” Love terkekeh, “istirahat, Akasa. Aku tahu kamu lelah.” Akasa hanya tersenyum, segera mencari ponselnya dan membuka chat room. ‘Dia’ tidak ada, ke mana? Dia pun segera mencari nama itu dan memberanikan diri untuk mengetikkan pesan singkat untuk seseorang di seberang sana. Mungkin dengan begitu rasa penasarannya ini akan terjawab. Di tempat lain... 'Ding.' Lintang yang bersiap untuk pulang, menghentikan pergerakannya mengemasi barang yang memang tidak ada yang dibawanya, hanya sampah dan bunga kering yang menurutnya tak perlu dibawa pulang. Gusti tengah mengurus administrasi, memilih untuk duduk dan segera merogoh ponselnya karena penasaran dengan siapa yang mengiriminya pesan. Selama ini jarang ada yang memperhatikannya dan Lintang hampir terbiasa. [Hey, Lintang Kecil di Akasa. Aku dengar kamu sakit.] Lintang mengerutkan keningnya, kenapa sosok ini seolah memiliki CCTV di sekitarnya ini. “Sudah sembuh, Om. Cuma deman saja.” Lintang tak ingin seolah terlihat mencari perhatian dengan pria asing di ponselnya ini. [Demam? Sampai di RS beberapa hari? Apa meriang?] “Meriang?” ulang Lintang, seolah ambigu dengan pesan itu. [Merindukan kasih sayang.] pesan itu disertai emoji wajah berliur. Lintang tertawa, ternyata sosok ini lucu juga. Siapa dia? Kenapa memesona? Rasanya dunianya kembali berwarna ada pesan dari sosok ini ke padanya, “Om bisaaaa aja. Om sudah mengumpulkan syair ke dua?” memilih untuk membahas hal lain dari pada pingsan dengan gombalan dari Om-Om bernama Akasa ini. [Tinggal kirim, masih butuh sentuhan akhir. Kamu?] “Om kemarin ikut seminar ke dua?” [Iya.] “Kenapa kita tidak bertemu? Aku ingin mengobrol langsung.” [Bukankah kamu sakit, Lintang?] Lintang tersenyum lagi, “aku sudah sembuh.” tak ingin mengatakan banyak hal. Ada gugup di sini. Ya, di dalam hatinya ini. Meski hanya berbalas chat saja, seolah Akasa memang berdiri di hadapannya saat ini. Lintang cukup gelisah. Dua menit, tiga menit, ah! Sampai rasanya dia bosan menunggu. Menyimpan ponselnya lagi ke tasnya dan segera memindahkan sampah di atas meja ke tempat sampah. Tersenyum saat ranjang rapi itu terlihat lebih bersih dari yang tadi. “Ayo!” Lintang menoleh, tersenyum ke Gusti yang baru saja masuk ke kamar rawat inap yang ditinggalinya sejak beberapa hari yang lalu. “Kamu tidak bekerja, pasti bos kamu marah.” Lintang tidak enak membuat Gusti dalam masalah. Meski tak pernah membalas cinta pria ini, bukan berarti Lintang mengabaikan rasa kemanusiaannya juga, kan? Gusti terkekeh, “tidak. Bosku sangat baik, ke duanya begitu kompak dan bisa menempatkan diri. Meski pernikahannya sangat sempurna tanpa seorang anak, tetap romantis juga dengan porsinya.” Gusti sering memperhatikan ke dua bosnya saat berinteraksi saat meeting atau bahkan saat bertemu di lain kesempatan, dan semua seolah sama. Hanya hangat dan manis yang bosnya pamerkan. “Ya, aku pernah melihatnya. Tapi rasanya sudah lupa. Bahkan saat bertemu sekali pun, aku tidak akan tahu siapa itu tadi.” Gusti terkekeh lagi, “kita makan lebih dulu, setelah itu pulang, okey? Jangan menolak atau jarum infus itu akan bermain lagi denganmu, dan ... suntik insulin itu, aku tidak suka melihatmu seperti kemarin, kamu sangat je lek.” 'Bug.' Lintang memukul lengan Gusti, “aku tidak akan seje lek itu tahu.” sedikit mendengus meski tahu itu hanya sebuah godaan saja. Gusti tak membalasnya, hanya menggandeng tangan Lintang dan membawanya ke mobil, segera makan dan segera pulang, itulah yang ada di benaknya saat ini. 'Ding.' Lintang menahan langkahnya, melepas tautan tangan Gusti dan mengambil ponselnya. Entah, solah batinnya sangat yakin itu adalah pesan balasan dari Akasa. Belum juga dia membukanya, batinnya sudah bergemuruh, bagai mana jika jawabannya adalah mau, yang artinya setuju untuk bertemu, akan mengenakan pakaian yang mana dia besok? Haruskah hanya seperti ini saja? Lintang gugup, tangannya beberapa kali salah saat memasukkan kode kunci untuk ponselnya. Seolah itu buka ponsel miliknya sendiri. “Ada apa? Masih sakit?” tanya Gusti heran melihat kegugupan Lintang saat ini. “Ti—tidak, Gusti. Aku—aku hanya lelah berdiri.” Lintang tersenyum meski terlihat tak tulus, “ayo duduk sebentar.” ajaknya saat melihat ada bangku kosong tak jauh dari tempatnya berdiri. Gusti mengangguk, duduk di sebelah Lintang dengan membiarkan Lintang sibuk dengan ponselnya. Menoleh ke arah lain agar tak merasa bosan dan terlalu ingin tahu jika melihat Lintang seperti ini. Lintang segera membuka ponselnya setelah menaik napas panjang dan dalam. Ada nama Akasa di sana. Menarik napas lagi dan mulai membuka chat room pribadi milik Akasa itu. [Ya.] 'Deg.' Sungguh, da daa Lintang bergemuruh saat ini. Dia pun gemetar sambil mengetik balasan atas pesan berisi ambigu itu, “ya apa, Om?” [ Kita akan bertemu besok, atau bahkan lusa. Aku akan memilih tempat yang tak terlalu jauh darimu dan juga tak terlalu jauh dariku. Maaf karena tidak bisa mendatangimu meski aku ingin. Aku hanya mau kamu tahu, aku tetap menghormatimu. Tapi waktuku yang terlalu sibuk seolah memaksaku harus begini. Maaf.] Senyum Lintang menyungging, kenapa rasanya selega dan semanis ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD