Kentang dan Boba

1106 Words
“Lintang?!” Gusti yang memang masih memperhatikan Lintang sedari tadi, segera menangkap tubuh limbung itu. Lintang yang pingsan membuatnya panik dan bingung sendiri. Segera membopongnya dan meminta tolong ke siapa pun agar membukakan pintu mobilnya, dia akan membawanya ke rumah sakit, tak ingin Lintang terlambat mendapatkan pertolongan. “Lintang.” terus mengusap tangan Lintang yang sengaja dibawanya ke pangkuannya, agar dia tetap tahu itu terasa hangat selama dirinya fokus dengan jalan raya di depannya saat ini. Sesampainya di ruang rawat, Gusti hanya bisa mondar-mandir dengan pening. Tak tahu harus ke mana mengabari kejadian ini. Lintang hanya seorang gadis dengan orang tua tunggal, yaitu ayah Lintang saja, sosok itu juga jarang di rumah, bagai mana akan menghadapi semua ini sendiri? “Bagai mana, Dokter?” tanya Gusti setelah pria ber-jas putih ke luar dari ruang rawat itu. “Anda siapa?” “Saya ... tunangannya, Dokter.” Gusti terpaksa berbohong, dia tak mau ada yang ditutupi oleh Dokter di depannya ini, apa lagi mengenai Lintang. “Tunangan Anda tidak menyuntikkan insulin akhir-akhir ini. Saya tidak tahu apa alasannya karena pasien belum siuman, mungkin ... ada masalah antara Anda dengan pasien? Pasien seperti ini memerlukan perhatian lebih, maaf jika ucapan saya terlalu menyinggung. Meski bisa diatasi tetap saja bisa berakibat fatal. Saya permisi dulu.” Gusti hanya menatap punggung dokter tersebut, segera masuk dan melihat Lintang yang diinfus dan tergeletak lemah di ranjang, seolah raga itu entah ada isinya atau tidak. Segera duduk dengan menarik kursi agar bisa sedekat mungkin dengan Lintang, meraih tangannya dan mengecupnya. Tak tahu, sakit apa yang diderita oleh hati itu hingga gadis yang dicintai ini bisa drop seperti ini. Lintang membuka matanya perlahan. Raungan putih ini dia tahu apa namanya dan di mana. Tangannya yang berat di tolehnya, tersenyum kecut saat menemukan Gusti tertidur dengan memeluk tangannya itu saat ini. Perlahan, ditariknya tangan itu sebisa mungkin. Saat Gusti terkejut dan membuka mata juga, Lintang terkekeh, “maaf membangunkanmu.” “Kenapa kamu melakukan itu?” to dong Gusti, tak mau Lintang membo dohinya kali ini. Gusti memang menyukai Lintang, terlalu banyak yang dia tahu tentang gadis ini meski semuanya tampak abu-abu. Kini tak mau lagi sampai kecolongan seperti ini. “Melakukan apa?” “Tidak mau mengaku?” “Apa?” Lintang terkekeh lagi, “aku baik-baik saja.” Gusti juga ikut terkekeh, “baik? Baik dari mana? Dengan tidak menyuntik insulin ke tubuhmu artinya baik? Kenapa bisa pingsan kalau baik? Kenapa tidak sekalian saja ambil bela ti dan menu sukkannya ke perutmu, huh?!” Gusti rasanya ingin menghukum gadis di depannya ini, tapi dengan apa? Cintanya seolah buta dengan yang dilakukan oleh Lintang ke padanya. Lintang menghela napas, “ya. Itu menang lebih baik. Seharusnya aku melakukannya sejak lama.” Lintang seolah mendapatkan ide baru saat ini. “Ck!” Gusti berdecap, “bu nuh aku saja, Lintang. Dengan begitu aku tidak akan pernah melihatmu menderita.” ucapnya putus asa. Lintang terkekeh, “kamu terlalu baik, Gusti. Apa yang kamu harapkan dariku? Gadis lemah dan cengeng, bahkan sebentar lagi akan ma ti karena penyakitnya. Aku—“ “Bisakah mulutmu diam?! Itu lebih baik dari pada kamu terus membicarakan hal yang tidak penting.” 'Deg.' Lintang menutup bibirnya, bahkan menggigit bibir bawahnya karena ucapan Gusti berhasil mencubitnya, kenapa ada pria sebaik dia? Lintang sadar tak bisa membalas cinta yang Gusti selalu tawarkan. Masih yakin Gusti akan mendapatkan yang lebih baik dari pada hanya gadis berpenyakitan seperti dirinya ini. “Aku akan membelikanmu makan, jangan ke mana-mana.” ancam Gusti dengan jari telunjuknya yang dia acungkan ke Lintang, segera ke luar dengan langkah lebarnya karena tidak mau Lintang menunggu terlalu lama. Lintang hanya terkekeh, melihat tas yang tadi dibawanya di nakas, segera meraihnya, mengambil ponsel dari sana, untuk membaca obrolan di antara banyak pekerjaannya di dunia literasi. Satu nama membuatnya ingat, berapa lama ke duanya seolah tak bertegur sapa. Chat room pun dibuka, senyumnya bisa menyungging meski hanya sebuah kata receh tanpa menyebut namanya sedikit pun. [Ahhhh mantap.] Dicarinya lagi sampai dasar, hingga tak ada kalimat lainya yang dikirim. Lintang “Hey...” ingin tahu siapa kiranya yang akan menjawab sapaannya itu. Masih ramai memang, lima detik, tujuh detik, hingga satu nama muncul dengan balasan khusus untuk dirinya. [Hey, Lintang kecil di Akasa, lagi apa?] Lintang menyunggingkan senyum, membalas pesan seolah chat room itu adalah ruang pribadi untuk dirinya dan sebuah nama itu, “pengen ayam geprek, Om.” [Jangan lambungmu gak baik, nanti sakit.] Lintang tersenyum lagi. Hanya sebuah menu saja bisa begini, bagai mana jika dia sampai mengunggah foto infus di tangannya ini? “yang gak pedes ada, Om.” [Gak, mending kentang saja sama boba, mau?] “Mau kalo dibeliin.” [Emang di mana? Nanti aku beliin kalo deket.] [Ah! Bo’ong. Pasti gak bakalan sampe situ.] balasan dari anak lainnya. Lintang tersenyum lagi, “gak usah, Om. Kalau segerobak ya mau.” [Boleh, asal mau jadi istriku.] Kalimat macam apa ini? Bahkan Lintang tak bisa lagi membalas kata yang mungkin hanya gurauan itu. Kenapa dengan sosok yang tidak dia kenal bisa begitu tertarik, berbeda dengan Gusti, siapa sosok itu? Lintang pun ke luar dari chat room, ada beberapa panggilan untuknya dari chat room itu. Entah kenapa Lintang malah tak ingin masuk kembali, kalimat itu terlalu fron tal, dan dia tak kuat membalasnya. Segera meletakkan ponselnya kembali ke tas, dia akan memikirkan hal lainnya untuk kesehatan jantungnya. Beberapa kali menarik napas agar kegugupan yang tiba-tiba menyerang tak sampai membuatnya hilang akal nanti. Tak lama pintu terbuka, Gusti tersenyum dengan dia kotak makanan di tangannya. Membantu Lintang untuk duduk dengan benar, dan memberikan satu untuk gadis yang dia cintai itu, “bisa makan ini?” tanyanya setengah ragu. Bukan tidak tahu Lintang tak bisa makan banyak karbohidrat dan manis, tapi tubuh yang kekurangan insulin membuatnya berpikir apa yang dibelinya ada tepat. Hanya itu saja. Lintang membuka kotak itu, kentang goreng krispi dengan saus tomat. Terasa lucu memang, Lintang pun menoleh ke kantong yang terlihat ada isinya, segera menunjuk untuk tahu apa. 'Deg.' Hanya bisa tersenyum saat Gusti membawa boba dengan tangan kanannya. “Boba, cokelat. Minumlah sedikit saja, aku hanya ingin yang terbaik untukmu.” mengangguk agar Lintang sedikit saja mempercayainya untuk kali ini saja. Lintang tetap menerimanya, minum sedikit seperti yang diusulkan oleh Gusti dengan pikiran yang terus melayang. Kenapa kentang? Kenapa boba? Seolah semua makanan ini dikirim oleh sosok itu. Ya, sosok yang selalu menggodanya. Lintang tidak kenal siapa dia, tapi kenapa dia berhasil membuatnya seolah jatuh? Tak ada yang bisa dilakukannya. Dia akan mencari tahu, bukan sekarang. Mungkin besok atau bahkan lusa. Ada sebuah alasan lagi untuknya bertahan, setidaknya sampai rasa penasaran itu pu as atas dahaganya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD