Detik pasti berlalu. Seperti hari yang terus berganti. Saat ini, Akasa sengaja mengajak Love untuk seminar yang ke dua. Lomba syair babak ke dua ini akan menentukan langkah selanjutnya akan nilai yang dia inginkan. Bukan karena tidak percaya diri untuk datang sendiri, hanya saja ... Akasa tidak mau Love terlalu curiga jika dirinya tak mengajak kekasihnya itu ke acara besar seperti ini.
“Akasa, apa ini lama?” Love sangat bosan, dia tidak menyukai hal yang semacam ini. Menurutnya bekerja dan menghasilkan uang lebih realistis meski tahu gaji dai seorang sastra besar juga tinggi, tapi seberapa lama mereka menyulam karier? Itu bukan pilihan yang baik menurut Love.
“Bosan, Sayang?” Akasa menggenggam jemari itu, menariknya hingga ke dekat bibir dan memberi sebuah kecupan di sana.
Love mengangguk, hanya menyandarkan punggung dan menatap bosan lagi panggung pendek di tengah kafe ini.
“Tidak lebih dari empat puluh lima menit lagi, aku janji.”
“Itu sangat lama. Aku bisa menyelesaikan meeting atau bahkan memenangkan tender besar.”
“Aku tahu, kamu memang hebat.” puji Akasa, sadar jika Love hebat dalam berbisnis, berbeda dengannya yang lebih suka kerja di lapangan dari pada bernegosiasi seperti itu. Bertemu dengan banyak orang dan berkomunikasi bukanlah bidangnya, bahkan di sini saja Akasa tak ingin berkenalan dengan siapa pun meski ke grup WA banyak yang menyapanya. “Setelah tema diangkat, kita akan pulang, okey?” Akasa mengecup punggung tangan itu lagi, fokus ke panggung di depan kembali dan sesekali tersenyum saat melirik dan mendapati Love-nya yang mendengus menahan kesal.
Tak ada pilihan lain, Love hanya menyandarkan punggungnya, mengambil ponselnya dan memainkannya. Mengusir rasa bosannya sendiri meski cukup mengganggu untuknya.
Tak lama, tema pun disebut, sebuah ‘Cinta Jarak Jauh’. Akasa tersenyum, kata indah mulai terangkai di benaknya, ada baik indah menari di sana. Akasa tersenyum sambil mengangguk, merasa tak terlalu berat untuknya. Dia pun segera menoleh ke Love, “ayo! Kita pulang sekarang.” ajaknya ke kekasih hatinya itu.
Love pun tersenyum, meraih minuman yang tadi disuguhkan untuknya itu, meneguknya beberapa mili dan mengembalikannya ke tempatnya, berdiri serta mengulurkan tangannya agar Akasa segera mengajaknya ke luar dari tempat yang membosankan ini.
“Love, aku ke kamar mandi sebentar, ya? Tidak lama, aku janji. Jangan ke mana-mana, tunggulah di sini.”
“Ya.” Love mencari tempat duduk di sekitar situ, merogoh ponselnya lagi dan memainkannya untuk menunggu Akasa. Sudah mulai terbiasa dengan Akasa yang sering saja melakukan hal yang membuang waktu seperti ini.
Toilet perempuan dan laki-laki di kafe ini bersebelahan. Akasa yang baru saja menyelesaikan membuang seni, segera ke luar dari ruangan basah itu.
Bruk. “Hey! Hati-hati saat melangkah.” ucap Akasa saat tak sengaja seorang gadis menubruknya cukup keras.
“Maaf, aku—“
Sejenak ke duanya bertemu tatap, sama-sama membatu karena sedang mencari sebuah keping kenangan di dalam memori otak masing-masing. Akasa tahu siapa gadis itu, sangat hafal walau letak tahi lalat di wajah itu sekali pun, tapi berbeda dengan sosok yang lain. Keningnya tetap berkerut karena tak jua tahu siapa yang ada di depannya saat ini.
“Apa aku mengenalmu?”
“Aku rasa tidak.” jawab Akasa tegas, “maaf, aku terburu-buru.” segera menjauh dari tempat itu karena merasakan gugup yang luar biasa. Belum siap untuk bertemu untuk saat ini dengan sosok itu. Dia ... adalah Lintang.
Lintang terdiam, ingatannya buruk. Tapi hati kecilnya seolah mengatakan sosok itu memang dia kenal, siapa? Di mana? Dengan percaya diri tetap masuk ke kamar mandi untuk sekedar mencuci tangan dan menautkan wajahnya yang pucat di depan cermin.
“Hey, Lintang. Ada apa denganmu? Penyakitmu sudah parah? Lemah.” ejeknya ke dirinya sendiri. Terkekeh dan segera mencuci muka, memberi bedak dan lipstik lagi, serta tersenyum simpul setelah dirasa sedikit segar. Sudah tiga minggu dia tidak menyuntikkan insulin ke tubuh lemahnya ini, sengaja menghindar karena merasa sangat lelah dengan kehidupannya.
Saat hendak mengembalikan bedak dan juga lipstiknya, Lintang merasa miris melihat suntikan kecil di dalam tas. Memang selalu membawanya sekedar untuk berjaga. Lintang terkekeh, “kau membuatku jijik.” ejeknya ke suntikan kecil itu.
'Drrrrrttttt.' Lintang meraih ponselnya yang bergetar. Tersenyum saat membaca pesan singkat dari Gusti. Tangan lincahnya baru saja ingin membalas pesan itu, tapi dering lainnya malah terus mengejek lelet-nya sendiri, “aku baru saja akan membalas pesanmu, jangan terlalu menjengkelkan begitu.” ejek Lintang ke Gusti yang meneleponnya saat ini.
[Apa? Aku menjengkelkan? Kamu yang menjengkelkan, cepat ke luar, aku sudah siap di tepat parkir. Aaaa ... kamu ini lama sekali.]
“Ya, ya, ya, ya, ya, Gusti yang cere wet.”
'Tut.' Lintang sengaja menutup sambungan telepon itu lebih dulu. Memasukkan semua peralatan make up yang tadi dikeluarkannya ke tas kembali, dan beranjak dari tempat itu. Dia memang janji-an dengan Gusti akan pergi ke galeri seni setelah ini.
“Ayo turun.” ajak Gusti setelah ke duanya sampai di galeri seni, Lintang yang sering ingin terlihat mandiri, dibiarkan saja ke luar dari mobil yang mereka tumpangi tanpa membukakan pintunya lebih dulu. Segera mengulurkan tangannya dan mengajak Lintang masuk.
“Ini milik temanmu?” tanya Lintang, matanya sangat manja di dalam galeri ini. Banyak seni rupa dan indah, senyumnya kian melebar hanya dengan guratan warna di atas kanvas saja.
“Ya. Kita berteman lumayan lama, dia mau mengajarimu melukis.” Lintang memang menginginkan itu, sekedar melepas penat karena dia mulai bosan dengan dunia novelnya. Banyak sosok yang tak menyukai dan selalu memojokkan Lintang. Gusti tahu, dia hanya berpura-pura agar Lintang tetap nyaman berada di sisinya.
Lintang tersenyum, “kalau aku sehebat ini saat melukis kelak, apa hadiah untukku?”
“Cintaku.”
'Deg.' Lintang membatu mendengar kata itu, tak pernah berubah sejak dulu. Bukan karena dia yang tak mau membalasnya, hanya saja sadar jika napas tak cukup bertahan lama. Lintang hanya tersenyum, berbalik dan berniat melihat lukisan lainnya. Guratan yang lebih indah tak jauh, segera melangkah agar bisa mengubah atmosfer di sekitarnya kembali hangat, tak canggung seperti ini.
Entah kenapa, tubuhnya menjadi lemas. Kantuk itu menyerang, Lintang merasa tubuhnya sangat lelah hingga membuatnya pasrah saat menimbang seperti ini.
“Lintang?!” Gusti yang memang masih memperhatikan Lintang sedari tadi, segera menangkap tubuh limbung itu. Lintang yang pingsan membuatnya panik dan bingung sendiri. Segera membopongnya dan meminta tolong ke siapa pun agar membukakan pintu mobilnya, dia akan membawanya ke rumah sakit, tak ingin Lintang terlambat mendapatkan pertolongan.
“Lintang.” terus mengusap tangan Lintang yang sengaja di bawanya ke pangkuannya, agar dia tetap tahu itu terasa hangat selama dirinya fokus dengan jalan raya di depannya saat ini.