Tidak sopan

1170 Words
Love segera menyusul ke kantor, sudah sangat terlambat tapi dia sedikit pun tak tergesa. Perusahaan keluarga ini membuatnya beruntung karena ada Akasa yang selalu ada dan mendukungnya dalam keadaan apa pun. Membuka ruang kerjanya dan terkekeh saat melihat Akasa sibuk dengan laptop di depannya. Mendekat serta memberikan kecupan di pipi kanan Akasa, “aku tadi diantar sopir biar nanti pulangnya bisa barengan.” Akasa tersenyum, “ada meeting, tidak jauh, ini soal proyek di Bekasi. Kita harus mendapatkan kontrak itu, Love.” “Ya, kamu benar.” “Setelah itu aku akan ke toko buku, ada lomba syair babak dua setelah ini, ada sebuah buku yang harus aku baca.” Love terkekeh, “terserah kamu saja, Sayang. Aku ikut.” Akasa pun berdiri, memeluk Love-nya dan memberinya ciuman singkat di bibir itu, melu mat lidah meski hanya sebentar, dan meninggalkan basah. Netra ke duanya saling menatap, Akasa terkekeh dan memeluk Love lagi. “Ada apa?” tanya Love yang merasa ada yang janggal atas sikap Akasa ke padanya. “Aku ... punya teman baru.” hanya gumaman dari Love dan itu membuat Akasa bersuara lagi, “namanya Lintang.” “Lintang? Pacarnya Gusti?” ulang Love sambil mengurai pelukan itu, menatap wajah kekasih hatinya karena yakin ada yang lebih dari sekedar ini saja. “Hey, Love?! Jangan cemburu, dia hanya temanku. Dia ikut lomba bersyair juga sepertiku, kita hanya mengobrol di grup WA saja, tidak lebih.” Love menggeleng, “jangan pernah memikirkan hal lainnya, Akasa. Atau aku akan marah.” Akasa terkekeh, memeluk Love lagi, bahkan sesekali mencium pipi kanan dan juga kiri Love, “jangan cemburu, kita hanya berteman. Aku tidak akan menceritakannya ke kamu kalau aku memang ada apa-apa dengan Lintang. Percayalah.” pintanya dengan sungguh. Tak mau Love memikirkan hal aneh lainnya tentang dirinya. Love hanya mendengus, berbalik dan duduk di kursi tamu yang ada di ruangan itu, “aku akan marah jika kamu menyembunyikan sesuatu, Akasa. Aku bersumpah.” Akasa semakin terkekeh, mendekat ke Love untuk mengusap pipinya, dan segera menyambar bibir itu. Melu matnya kasar dan menyelusupkan lidahnya juga, menaut untuk mengajak lidah Love agar menari seiring dengan lidahnya dan saling bertukar saliva. Love terpancing, ke luar kota selalu membuatnya rindu akan sosok Akasa, dan godaan Akasa seolah membuatnya melayang. Tangannya pun terus menggerayangi apa pun yang bisa dirahnya dan mengeluh saat tangan Akasa mulai mengusap dan menggoda miliknya. Sungguh, tak akan peduli lagi jika ini adalah ruang kantor bukan sebuah kamar. Akasa melepas pagutan bibir itu, menarik tangan Love agar mau mengikutinya, dan masuk ke ruang istirahat yang terhubung dengan ruangan itu. Mendorong tubuh Love agar terbaring di ranjang dan melepas semua helai pakaian yang menutupi tubuh indahnya. Kain kecil yang menutupi area sensitif pun juga dibuang oleh Akasa, segera naik ke ranjang dan menyeringai ke Love. Tangan lincahnya ikut membuka serta membuang pakaian Love, tak peduli andai belum siap, Akasa segera melidah ke telapak tangan kanannya dan mengusap ke miliknya sendiri. Tegang itu didorong perlahan agar terlahap sempurna, serta segera menggerakkan pinggulnya meski terasa begitu sesak. Tentu saja karena semua ini terlalu buru-buru. Bukan hanya dirinya yang mulai mengerang, bahkan Love yang di bawahnya pun hanya memejamkan matanya sambil menyebut namanya yang terdengar begitu indah. Akasa terus mengeluar masukkan apa yang terasa begitu nikmat untuknya. Rancu desah saling bersahutan hingga ke sudut kamar istirahat itu, membuat Akasa semakin terkekeh. Bukan hanya dia, bahkan Love pun terlihat begitu menikmatinya, “di ... atas ... Sayang ... .” pinta Akasa, terlihat Love pun mengangguk. Sedikit menjeda pergerakan itu dan mengganti posisi yang dia mau. Membiarkan Love melincah di atasnya dengan dirinya yang hanya memukuli bo kong itu sebagai penyemangat Love atas tarian indahnya di atas tubuhnya. Masih pukul dua sore. Meeting yang baru saja diselesaikan, membawa Akasa dan juga Love terdampar di toko buku yang terbilang cukup lengkap di kota ini. Love hanya diam di depan deretan kaset DVD dan sesekali mengambil sebuah yang dikiranya dai suka, dan mengembalikannya karena ternyata tak cukup menarik hatinya. Sedangkan Akasa masih sibuk membolak-balikkan buku-buku referensi yang dia pikir akan cocok untuk dibacanya nanti. “Ada buku tentang kumpulan puisi dan sastra lama?” 'Deg.' Akasa yang mendengar suara indah itu segera membawa buku yang sebenarnya sudah dia temukan, dan bersembunyi di balik rak buku yang masih membuatnya bisa mengintip sosok itu. Gadis dengan gaun santai selutut berwarna biru, bermotif bunga kecil dengan warna merah sebagai pemanis, berhasil membuat Akasa tersenyum di tempat persembunyiannya. Tetap enggan untuk ke luar karena belum berani menampakkan batang hidungnya di depan sosok itu saat ini. “Akasa.” “Akh?!” Akasa terkejut, jantungnya hampir saja copot atas panggilan dari Love-nya itu, “mengagetkanku, Love?!” pekiknya pelan, benar-benar terkejut tadi. Love terkekeh, “ada apa? Kamu seperti mengintai seseorang?” tanya Love yang ikut penasaran. Ikut melihat ke arah pandang Akasa, tapi tetap tak menemukan apa pun di sana. Akasa segera mengajak Love untuk pergi, ke kasir segera membayar buku yang dipegangnya dan ke luar dari toko buka. Sebisanya dia mengajak Love agar menjauh dari toko buku itu. “Ada apa, Akasa? Kamu sangat aneh.” ejek Love, tak terlalu suka dengan perlakuan Akasa yang terlihat menyembunyikan sesuatu darinya. “Tidak, Love. Aku hanya lapar, ingin makan sesuatu.” “Lapar? Bukankah kita meeting sambil makan siang tadi?” Akasa terkekeh, bagai mana bisa otaknya tak terlalu lancar saat terjepit seperti ini, “bukan makan, waffle, aku hanya ingin waffle dengan madu di atasnya. Bukankah kamu menyukainya?” Love berdecap, segera berjalan ke arah mobil dan akan mencari waffle yang dimaui oleh Akasa. “Ah!” pekik Love sambil memukul keningnya sendiri. “Ada apa, Love?” tanya Akasa heran. Ke duanya berada di dekat mobil mereka saat ini. “Tunggu sebentar, Akasa. Aku akan segera kembali, aku janji, hanya sebentar saja. Aku janji.” Love mengecup pipi Akasa. Kembali berlari ke toko buku dan akan menemukan kunci mobil yang dititipkan Akasa ke padanya tadi. Terkekeh karena tetap menemukannya di tempat yang sama, yaitu di rak kaset DVD dan berniat kembali lagi ke mobil. Tak mau membiarkan Akasa menunggunya terlalu lama. Akasa sangat cemas. Memikirkan bagai mana jika Love bertemu dengan sosok itu, tapi sekaan tak mungkin untuk menyusulnya masuk ke toko buku itu kembali. Love akan curiga jika dirinya terlalu berlebihan nanti. Tak ada pilihan lain, hanya berdoa agar yang dibayangkan tak sampai menjadi kenyataan nanti. Bruk. “Au?!” pekik sosok dengan beberapa buku yang berserakan di bawah kakinya, segera menunduk untuk mengambil buku-buku itu. “Sorry, aku terburu-buru.” ya, itu adalah Love. Segera membantu sosok itu mengambili bukunya, dan memberikannya dengan cepat juga. Dia tak mau Akasa terlalu lama jika menunggu sosok itu untuk memaafkannya lebih dulu. Bahkan saat di luar, segera mendekat dan memberi Akasa kecupan di pipi agar Akasa tak marah dengan dirinya yang membuang banyak waktu. Sosok itu mendengus, melihat punggung yang kian menjauh dan segera mengecup seseorang yang diyakininya kekasih dari orang yang menabraknya tadi, “dasar! Gak sopan!” segera berjalan ke kasir karena ingin membayar buka yang sudah dipilihnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD