Gusti curiga

1169 Words
Hari berlalu dengan cepat. Semalam yang dilewati hanya berteman dengan laptop dan juga video call saja, malam ini pun malah ponselnya semakin tak berguna. Setelah seharian Akasa hanya menyiapkan materi untuk membuat syair selanjutnya dengan menonton beberapa drama dengan berbagai macam genre, kini Akasa hanya duduk di depan TV dengan malas. Entah sudah berapa kali tangannya memenceti tombol remote TV, tetap juga tak menemukan siaran yang membuatnya tertarik untuk menontonnya. “Hey ... .” kucing dengan warna kuning dan memiliki bola mata hijau bersinar itu, naik ke atas pangkuan Akasa. Seakan manja dan ingin dielus oleh tangan Akasa yang tak pernah melakukan pekerjaan kasar itu. “Kamu tahu gak? Di rumah ini hanya kamu yang selalu ada. Kamu gak pernah pergi dan berpaling seperti Love.” Akasa terus mengelus kucingnya. Tak lama an jing kesayangannya yang berbulu hitam pun juga mendekat, Akasa menepuk kursi kosong di sebelahnya agar an jing itu ikut bergabung, dan mengusap bulunya juga. Akasa membenarkan tubuhnya agar lebih nyaman, mulai memejamkan mata. Tak peduli jika dengan tidur di kursi ini tubuhnya akan sakit saat bangun besok pagi. *** Cuit-an burung terdengar indah. Akasa membuka matanya, kenapa rasanya nyaman sekali? “Love? Love, kamu sudah pulang?” tanya Akasa. Terkejut karena dirinya malah tidur di kamarnya. Sejak kapan dia pindah ke mari? “Aku masih ngantuk, Akasa.” Love memeluk Akasa dengan posesif, seakan baru saja tertidur dan tidak mau diganggu oleh Akasa. Akasa terkekeh, “aku harus ke kantor, Love. Ada meeting, kamu ingat kan?” “Tapi aku masih ngantuk.” “Pulang jam berapa semalam?” “Ck!” Love berdecap, terus memeluk Akasa dengan tidak peduli, “bukankah semalam aku membangunkanmu dan mengajakmu pindah ke kamar? Kamu lupa? Ayolah ... aku ngantuk sekali.” Akasa terkekeh, memeluk Love lagi dan mengecupi pipi dan juga puncak kepala Love. Memejamkan mata kembali, biar saja ke kantor telat. Love yang ada di sisinya saat ini sudah mencukupi semua kebutuhannya. “Oiya, gimana syair kamu?” Akasa terkekeh, “aku pikir kamu tidak peduli, bukankah kamu tidak menyukai aku terjun ke dunia itu, Love?” Love ikut terkekeh, menopang kepalanya dengan telapak tangannya, “aku hanya tidak mau kamu terlalu menyukai syair itu dan melupakan aku. Hanya itu saja.” Akasa terkekeh, mendekatkan bibirnya dan melu mat bibir Love, memainkan lidah dan sesekali menyesapnya agak kuat, “aku mandi dulu, Love. Ada meeting penting, okey?” Love merebahkan tubuhnya kembali, menarik selimut dan menutupi tubuhnya, “aku masih lelah, aku akan terlambat datang ke kantor, bukankah aku boleh melakukannya? Kan kamu pemiliknya, setidaknya berikan kelonggaran untuk kekasihmu ini.” ucap Love dari balik selimut, tetap yakin jika Akasa masih mampu mendengar semua kalimatnya dengan jelas. Akasa terkekeh lagi, tidak menjawab permintaan yang pasti dia kabulkan itu, memilih untuk segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya di bawah guyuran air dingin. “Masak apa, Bi?” tanya Akasa saat baru saja turun ke ruang makan. Dengan pakaian yang santai karena dirinyalah pemilik perusahaan itu, seakan tidak membuatnya terlalu memusingkan penampilan. Wangi segar sampo dan sabun pun masih menempel meski berbaur sempurna dengan parfum karena rambut itu sengaja dibiarkan agak basah tanpa minyak rambut. “Omelet, Tuan Akasa. Nona Love masih tidur?” Akasa mengangguk, “dia lelah, terlalu malam kemarin.” ucapnya seraya melahap omelet itu dengan garpu, tidak menambahkan makanan lainnya ke piringnya saat ini. “Teh? Kopi, Tuan Akasa?” “Kopi tanpa gula.” 'Ding.' Akasa melirik ponsel yang diletakkan di samping piringnya meski agak jauh, bersebelahan dengan tas kerjanya yang sudah siap. Melihat beberapa notifikasi dari beberapa chat yang dibiarkan saja menumpuk dari semalam. “Silakan, Tuan Akasa.” Akasa tak menjawab, segera menghabiskan omelet itu sambil menunggu kopinya dingin, dan segera menghabiskannya dengan sekali teguk setelah kopi itu hangat di lidahnya. Mengambil tas kerja dan memasukkan ponselnya ke saku kemejanya, serta segera masuk ke mobil untuk menuju ke kantor kecil yang dirintis keluarganya sejak dulu. Meski begitu berkat usaha kerasnya pun kantor yang bergerak di bidang properti ini, menjadi selaris ini di pasar kalangan menengah sampai ke kelas atas. “Selamat pagi, Tuan Akasa. Ada tamu untuk Anda.” sapa sekretaris pribadinya dan juga Love jika dirinya tidak bisa datang ke kantor. “Siapa?” “Gusti.” “Gusti?” ulang Akasa, tidak suka mendengar nama itu di kantornya saat ini. “Iya, Tuan Akasa. Gusti, yang mengganti te—“ “Ya, aku ingat.” potong Akasa cepat, “di mana dia?” “Di ruangan Tuan Akasa.” Akasa hanya mengangguk, segera menuju ke ruangannya untuk menemui pria bernama Gusti itu. “Selamat pagi.” sapanya saat masuk ruangannya yang memang ada pemuda yang duduk dengan lutut yang terus bergerak sejak tadi, mungkin gugup. “Saya—“ “Ya. Kamu diterima, bawa tasmu, aku akan menunjukkan di mana ruanganmu.” Akasa menaruh tasnya di meja kerjanya dan ke luar lagi bersamaan dengan Gusti. Berjalan dengan santai untuk menuju ke ruangan yang tak terlalu jauh dari ruangannya itu. “Lintang ...” 'Deg.' Akasa lebih memelankan langkahnya, nama itu membuat hatinya bergetar saat ini. “... menitipkan salam untuk Anda. Dia ingin berterima kasih karena Anda sudah menolongnya malam itu, saat pernikahan kakak saya.” Gusti ingat Lintang membicarakan tentang sosok yang membantunya saat di toilet waktu itu. Meski menyesal karena dirinya malah tidak tahu mengenai hal itu. “Apa ada lagi yang diucapkan oleh Lintang? Tentang salam itu?” Akasa menjadi penasaran dengan kalimat lainnya. Mungkin-kah hanya itu saja? “Lintang berharap bisa bertemu lagi dengan Anda dalam keadaan yang baik. Dia ... bersyukur karena bertemu dengan Anda, tidak tahu bagai mana jadinya bila yang menemukannya adalah orang lain. Bahkan aku saja yang mengajaknya ke pesta itu tidak mengetahui kalau Lintang sedang sakit.” Akasa terkekeh, segera membuka pintu di depannya dan melangkah masuk juga, “ini ruanganmu. Semoga kamu betah dan meningkatkan kinerjamu di perusahaan kecil kami.” Akasa tersenyum sambil mengulurkan tangannya agar Gusti masuk dan melihat-lihat isi ruangan ini. Berjalan berbalik ke pintu dan menoleh sebelum meninggalkan Gusti sendirian di ruangan itu, “jangan lupakan siapa pun yang kamu ajak saat terlalu asyik menikmati sebuah pesta, Gusti.” Gusti menoleh mendengar ucapan itu. “Apalagi sosok yang kamu ajak adalah Lintang.” Akasa menarik salah satu sudut bibirnya, entah menyeringai atau bahkan mengejek Gusti, “jangan pernah membuatnya sakit lagi.” Akasa menutup pintu itu dan kembali ke ruangannya sendiri. Gusti hanya membatu, ada paham dan ada tidak dengan semua deretan kalimat yang terucap oleh bos barunya. Gusti mengerti, tetapi kenapa dengan Lintang? Bukankah harusnya dia yang lebih tahu karena dialah yang lebih dulu menyukai gadis itu meski nyatanya Lintang selalu menolaknya setiap dia mengungkapkan perasaannya? Gusti berjalan perlahan menuju ke kursi yang akan dia cap sebagai kursi kerja mulai detik ini. Mendaratkan bo kongnya seraya terus memikirkan sebuah nama yang berarti indah, “Lintang. Kenapa dia terlihat amarah atas keadaanmu, Lintang? Kenapa?” monolognya seorang diri. Ada yang aneh dengan bosnya dan Gusti sangat yakin akan apa yang dia pikirkan saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD