Akasa segera merebahkan tubuhnya sesampainya di rumah, baru saja dia mandi agar tubuhnya tidak terlalu lengket.
“Ada apa?”
Akasa tersenyum, kenapa seseorang di sebelahnya ini tak mampu mengalihkan apa yang berkecamuk di dalam pikirannya saat ini, “Love, aku sangat lelah.”
“Mau aku pijit?” tawar Love. Merayap kan tangannya untuk menyusuri punggung Akasa yang terasa segar setelah mandi.
“Tidak, Love. Kamu akan pergi, bukan? Aku besok juga akan ke kantor dan ada pertemuan di kelas sastra.”
“Sastra?”
“Ya. Sudah lama aku memendam bakatku, kalau sajak yang aku tulis laku mahal, aku akan mengajakmu berlibur ke luar negeri.”
“Sungguh? Bagai mana dengan Beijing? Aku rasa itu tidak terlalu mahal.”
Akasa terkekeh, “kenapa tidak? Aku akan mengajakmu ke sana, doakan kemenanganku.”
“Selalu, Akasa. Selalu.” Love pun memeluk Akasa, mendekatnya erat sambil memejamkan matanya. Besok adalah hari sibuk, dan dia juga tidak mau terlambat bangun.
Akasa juga memejamkan matanya meski pikirannya berkelana. Ingin tahu tentang keadaan Lintang, apakah sudah bisa pulang dan tidur juga di kamarnya sendiri tanpa pria bernama Gusti tadi? Lelahnya hati dan juga raga, serta dinginnya AC yang memberinya kesejukan, nyatanya membawa Akasa ke alam mimpi. Akasa pun tertidur dengan memeluk Love saat ini.
***
Ada riuh yang membawa pening. Pagi ini, Akasa menghadiri seminar terbuka tentang sastra yang akan mengadakan lomba membuat sajak / syair berskala besar. Dengan penampilannya yang sesempurna biasanya setelah mematutnya ke cermin, Akasa bisa berjalan dengan percaya diri untuk mengisi absen di bagian depan.
Kafe dengan nuansa taman nan terbuka, membuat Akasa yang pernah canggung dengan beberapa penyair dan juga penulis besar berkumpul di satu titik, meninggalkan dirinya yang bukan siapa-siapa di tengah hiruk pikuk tanpa mengenal seorang pun juga.
Memilih untuk memesan es s**u dan menunggu acara dimulai untuk sekedar mengusir bosan.
[Aku mencintaimu]
Akasa terkekeh saat satu pesan yang baru saja masuk dia baca dari dalam hati saja. “Aku sedang seminar, Love. Aku yang lebih mencintaimu.” balasnya dan yakin jika Love akan tersenyum saat membaca balasan pesan itu. Akasa mengedarkan pandangannya, netranya yang cukup tajam menangkap siluet yang tentu saja dia kenal sampai di luar kepala, “Lintang.” lirihnya seakan tak mau membagi nama itu dengan lingkungan di sekitarnya.
“Para hadirin yang berbahagia, mari kita sambut pemateri kita sebelum membacakan aturan di ronde yang pertama ini. Ingat! Hanya ada seratus peserta yang bisa masuk ke ronde ke dua, jadi berikan kami syair terbaik kalian. Kami ... .”
'Ngungggg.' Semua kalimat itu seakan hanya dengungan tak penting di telinga Akasa. Dia lebih memilih mengambil ponselnya, mengarahkannya ke sosok yang sedari tadi mengumbar senyum tak menyadari kehadirannya, dan mengambil beberapa gambar untuk koleksi pribadinya. Semua mungkin tak pantas atau bahkan bisa dibilang kriminal, tapi apa peduli Akasa? Tentu saja dia tidak akan pernah memedulikannya.
Banyak pembicara yang naik dan turun di panggung rendah yang terletak di sudut kafe, dan Akasa tetap tak peduli, memilih untuk memanggil pelayan dan memesan sesuatu yang akan terasa nikmat di lidah.
“Pesanan Anda, Kakak.”
“Maaf, saya tidak memesan ini.” Lintang yang hanya duduk dengan air mineral di depannya hanya bisa kebingungan. Di mana dan kapan dia memesan kentang goreng dengan steak daging kualitas super?
“Ini memang untuk Anda, Kakak. Kami pun memasaknya spesial dan akan aman untuk lambung serat diabetes Anda.”
'Deg.' Lintang mengerutkan keningnya, semakin bingung meski ucapan itu seperti meyakinkan bahwa memang ditujukan untuknya.
“Sudah di bayar, Kakak.”
“Siapa?” Lintang semakin bingung dengan semua ucapan pelayan itu.
“Tuan Akasa, ini catatan kecil untuk Anda.”
“Terima kasih.” Lintang pun menerimanya, membalik catatan kecil berwarna kuning dan membacanya dengan hati-hati.
[Senyummu jangan sampai hilang. Cukup semalam saja aku melihatmu kesakitan.]
'Deg.' Lintang segera mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang mungkin terlihat mencurigakan meski tak menemukan siapa pun juga, “siapa dia?”
“Kamu mencari siapa?” tanya teman di meja Lintang.
Lintang hanya menggeleng, tidak mau menciptakan kegaduhan lagi. Dia pun memakan hadiah kecil itu, ada yakin kalau itu tak akan diberi racun oleh sosok bernama Akasa.
“Okey. Untuk babak penyisihan silakan menulis sajak terbaik untuk memancing suam juri yang ada di sini, dan kita akan mengumumkan seratus orang beruntung nanti malam. Kami memberi Anda waktu ... enam puluh menit dari ... sekarang! Semoga berhasil!”
Tak hanya Akasa dan Lintang, aba-aba dimulainya lomba itu segera digunakan sebaik mungkin untuk semua peserta lomba. Menyerahkannya di waktu yang sudah ditentukan dan mulai melonggarkan isi kafe dengan kepulangan satu per satu peserta lomba. Tak ada lagi yang ditunggu karena pengumuman hanya akan didapatkan nanti malam.
Akasa berdiri, menyerahkan sajak indah di selembar kertas ke pada panitia lomba dan menoleh ke Lintang yang masih bermain dengan bolpoinnya. Dengan berat hati, Akasa pun harus pergi karena jadwalnya di kantor masih padat. Ingat jika Love sedang ke luar kota dan akan kembali esok hari.
Rumah besar dengan kucing dan an jing yang ikut meramaikan suasana rumah. Akasa tetap kesepian.
Love yang sibuk membuat semuanya menjadi suram.
'Ding.' Dengan segera mengambil benda pipih yang dia geletakkan sembarang saat menikmati makan malamnya dengan mendengarkan lagi dari you tube yang diputar di layar TV. Dengan volume tinggi, Akasa akan tetap waras jika ada lucu yang mampu menggelitik hatinya saat di rumah sendiri seperti ini.
[Peserta lomba karya syair yang lolos di ronde ke dua, adalah ... .]
Akasa tersenyum puas. Ada namanya di sana, kebahagiaannya semakin sempurna saat dia pun menemukan satu lama lagi di sana ... Lintang.
Banyak notif dari grup literasi sastra itu, Akasa hanya melihatnya saja tanpa ingin berkomentar. Banyak nomor dikeluarkan oleh Admin sebagai tanda syair-nya yang tidak lolos, menyisakan seratus peserta dengan tujuh juri dan tiga penyelenggara inti yang dijadikan Admin saja. Akasa pun meletakkan kembali ponselnya, melanjutkan acara makannya lagi.
[Ada lo, ini @Akasa, pejantan tangguh yang pasti bikin pengen nyekik.]
[Akasa? Ada Akasa di grup ini?]
[@Akasa. Eh iya ada, mana orangnya? Baru nyadar aku.]
Akasa yang tadinya hanya melirik notifikasi di ponselnya itu, segera membukanya saat namanya disebut oleh nomor yang dia beri nama ‘Lintang Kecil di Akasa’, terkekeh saat gadis berlekung pipi itu menyebut namanya hingga membuat tangannya gatal untuk masuk dan membalas pesan itu, “apa?”
[Bener kamu Akasa?] tanya Lintang.
“Iyaaa.” jawab Akasa.
[Kamu tadi datang ke seminar?] tetap dari Lintang.
Akasa mengerutkan keningnya, “kalau gak datang mana bisa menang?”
[Oiya ya. Hehe.] Lintang lagi, seolah grup itu isinya hanya mereka berdua.
Akasa hanya membacanya, tak ingin membalasnya karena canggung saat berbincang dengan Lintang.
[Mana nih orangnya? @Akasa.]
“Iyaaa.” balas Akasa saat namanya ada yang menyebutnya lagi.
[Jangan gilang, dicariin Lintang tuh.]
“Iya, apa? Aku masih makan.” balas Akasa bohong, dia baru saja menyelesaikan makan malamnya, dan duduk dengan santai di depan TV saat ini.
[Tadi kok gak lihat ya kamu yang mana? Dari profil-nya sih cakep.] balasan dari entah siapa.
Akasa terkekeh, “itu foto lama. Aku sudah tua.”
[Tua? Dua puluh lima?] balas anak lain lagi.
“Apa penting?” jawab Akasa.
[Fix memang tua, guys ... panggil Akasa ‘Om’, okey?] dan chat grup pun mulai ramai dengan pesan yang saling balas itu.
Akasa hanya bisa terkekeh membaca semua obrolan mereka.
[Om @Akasa, terima kasih ya makanannya tadi.]
'Deg.' Tangan Akasa menghentikan pesan grup yang terus bergerak ke atas, menarik dan memberi pesan itu dengan tanda ‘bintang’ agar tersimpan, dan segera membalasnya dengan menyeret ke arah kiri untuk mengkhususkan hanya untuk pesan itu saja, “sama-sama Lintang Kecil di Akasa.”