Meski satu ruangan, Akasa dan Love sama-sama asing. Akasa dengan syairnya yang terlihat begitu sibuk dan Love dengan pekerjaannya meski sesekali sengaja melirik ke Akasa untuk sekedar tahu apa yang dilakukan sosok itu. Akasa menggeliat, meregangkan otot di punggung dan pinggangnya, menoleh sejenak ke Love yang sibuk dengan laptopnya juga, “kamu tidak makan siang?” tanyanya agak keras, berharap tak perlu berdiri hanya agar Love mendengarnya. Love menggeleng, “aku tidak lapar.” “Baiklah, terserah kamu.” Akasa tahu ini sudah masuk jam makan siang, dia pun berdiri siap untuk ke kantin kantor, malas ke luar apa lagi tahu Love ada di sini bersamanya. Love mendengus, “bahkan dia tak memaksa agar aku ikut.” melanjutkan pekerjaannya lagi, memang perutnya ini tak lapar meski dia tahu itu artinya

