Di rumah besar lainnya, seorang putra tengah memeluk mamanya saat ini. Aroma keringat yang masih menempel di pakaian kerjanya, tak dia hiraukan karena memilih memeluk mamanya yang lebih asyik membenarkan sulaman di kain yang sengaja disulam untuk dijadikan pajangan dinding. “Ada apa, Sayang? Kamu menggangguku.” Gusti, yang memang suka menggoda mamanya, hanya bisa terkekeh saat mamanya mulai protes dengan tingkahnya, “Aku ... hanya ingin mengundang seseorang untuk makan malam. Apa boleh, Ma?” tanya Gusti sangat berhati-hati agar mamanya tidak tersinggung atau salah paham. Mama Gusti pun menghentikan sulamannya, meletakkan kain setengah jadi itu di pangkuannya, dan menoleh ke putranya, “Lintang dan ayahnya yang kamu maksud dengan seseorang itu?” sangat yakin kalau apa yang dia tebakkan it

