Leonathan memarkirkan mobilnya ke kafe Mixture yang dipimpin Alice. Karena lokasinya lebih dekat dengan tempat kos Brielle, ia akan makan sore menjelang malam di situ. Meraih gagang pintu kafe di depannya dan mendorong, Leonathan masuk dengan senyum singkat mengarah pada para pekerja di sana. Jika dulu ia suka menebar senyum ke banyak pelanggan perempuan, sekarang tidak lagi. Bahkan terlintas di otaknya untuk tersenyum pun sudah mati. Tujuannya balik lagi, pusat utama cuma pada satu wanita yang tak lain adalah Brielle Putri Adiharja.
Setelah mengatakan permisi, salah seorang barista lelaki mendekati Leonathan. “Pesan apa, Tuan?”
“Aku sudah makan siang. Pukul enam sore saja siapkan nacho dan rice bowl,” balas Leonathan sembari melepas kacamata. Menyimpannya di kerah kaos hitam yang ia pakai, lalu merogoh kantong celana.
“Untuk minumnya seperti biasa?”
“Air putih saja.” Mengeluarkan dompet dan ponsel. “Tunggu,” cegahnya dan kemudian membuka dompet, mengeluarkan dua lembar uang warna merah. Leonathan memberikan uang dua ratus ribu rupiah padanya dan menambahkan, “sisanya untukmu.”
“Terima kasih, Tuan.”
Baru saja lelaki yang memakai seragam serba hitam di samping kiri Leonathan itu berbalik, namun batal begitu saja karena sang bos menanyakan, “di mana Alice?”
“Nona Alice hanya mengatakan izin sehari tanpa alasan, Tuan.”
“Ada apa? Bukankah dia sekarang aktif dan sedikit rajin bekerja?” tanyanya lalu mengecek ponsel. Mengabaikan pesan dari Alice, ia memilih menghubungi nomornya secara langsung.
“Saya tidak tahu, Tuan.”
“Oke, pergilah,” sahut Leonathan tanpa mengarahkan tatapan pada pegawainya.
Sedikit membungkuk, ia membalas dengan sopan, “permisi.”
Leonathan melihat sang karyawan sekilas dan mengangguk, setelahnya segera menempelkan layar ponsel ke telinga kiri sambil melihat ke arah luar. Kini pikirannya menjadi terbelah dua, bukan hanya memikirkan Brielle, mau tidak mau dia harus tahu kabar Alice. “Apa ada yang tidak beres dengannya?” begitu panggilannya tidak dijawab. Tak menyerah, Leonathan kembali menelepon Alice. “Jika tidak memakai bantuanmu, aku harus meminta bantuan siapa?” Masih sama, nomor yang dituju tidak segera mengangkat telepon darinya.
Duduk di dekat jendela, Leonathan menerawang. Pikirannya terbang jauh pada hari-hari sebelumnya, bahkan jauh sebelum dia mencari Brielle. Leonathan tidak kalut seperti di awal-awal, ia berusaha mengendalikan emosi dan perasaannya. Tetapi, mengapa dia harus merasa takut saat Naomi masuk ke taksi tadi?
“Aku yakin, Elle masih ada di tempat kos. Tidak mungkin dia menjauh dari Naomi.” Sebagian kecil dari hati yang terdalam masih memberikan sinyal ketakutan, Leonathan tidak ingin memercayai perasaan itu. Tetapi kenapa semakin ke sini dia makin bimbang. Pria ini menjadi khawatir jika Brielle memang tidak ada di sana. “Mengapa aku jadi labil seperti ini?” Padahal beberapa jam lalu dia masih percaya diri dan begitu semangat ingin bertemu Brielle di tempat kos wanita itu.
Mengeluarkan KTP Brielle dari dompetnya dan memandangi foto wanita cantik berambut hitam di sana sembari tersenyum tipis. “Kau bisa mengubah diriku sampai seperti ini, Elle. Apa kau tahu artinya itu?” Menatap lekat-lekat pada sepasang netra foto Brielle dan berbisik, sangat amat pelan sesudah mendekatkan kartu pengenal itu pada bibirnya, “kau satu-satunya wanita, wanita yang diciptakan Tuhan hanya untukku.” Bibir yang hampir menyentuh KTP Brielle tersebut menambahkan sembari mengepalkan tangannya yang lain lalu berkata lebih pelan dari sebelumnya, “selama hidupmu, kau hanya ditakdirkan untuk Leonathan Hardika.” Kemudian mengecup kartu berwarna biru muda tersebut sebelum menyimpannya lagi ke dalam dompet.
Baru saja berdiri, akan ke kamar kecil karena hasrat ingin buang air kecil, ponsel di tangannya bergetar. Alice meneleponnya dan diangkatnya tanpa basa-basi. “Halo,” sapanya sambil memasukkan dompet ke saku celana pendek abu-abu sebelah kanan. “Aku sedang di kafe Mixture dua, kemarilah. Ada yang ingin aku bicarakan mengenai Brielle.” Sembari berjalan, Leonathan memerhatikan lantai juga perkataan Alice yang membuatnya tercengang, tidak terima pula dengan kalimat paksaannya.
“Berhenti khawatir, Nath! Aku tidak suka mendengar nada suaramu yang seolah-olah sangat takut kehilangan wanita itu. Percaya saja kalau dia tidak kenapa-kenapa.”
“Ada apa? Mengapa kau bicara kasar dan memaksaku seperti itu?” Masuk ke toilet pria, Leonathan berusaha memasang indera pendengarannya baik-baik. “Jelaskan padaku mengapa aku tidak boleh mengkhawatirkan keadaan dan keberadaan Elle? Ceritakan sesuatu jika kau mengetahui kebenarannya. Datanglah ke kafe dan bicaralah padaku sekarang. Aku tunggu.”
“Aku tidak suka kau memaksaku hanya karena wanita itu.”
“Ada apa? Kau tidak suka kalau aku membicarakan Elle? Apa kau membenci wanita yang kucintai?” tanya Leonathan penuh penekanan. “Didengar dari suara dan panggilanmu pada Elle, kau seperti tidak suka atau membencinya. Apa maksud dari nada suaramu itu?”
Bukannya menjawab segala pertanyaan Leonathan, Alice justru mematikan sambungan telepon sesudah mengatakan, “aku sedang tidak sehat, karena itu aku terlambat bangun tidur dan belum bisa masuk kerja pagi tadi. Aku akan ke sana dua jam lagi. Sampai jumpa, Nath.” Sama sekali bertolak belakang dari apa yang Leonathan tanyakan.
Siang hari di Mixture Cafe, Leonathan aktif berdiri di bar dan fokus membuat kopi. Ia tidak melirik pelanggan sama sekali, dan hanya menatap mesin kopi beserta biji kopi yang akan dia giling. Hingga akhirnya, di sore hari sekitar pukul tiga Alice datang. Perempuan itu memanggil Leonathan dan mereka pun duduk di sofa yang sama. Mulailah Leonathan menerangkan, dan Alice sendiri langsung mendengarkan apa yang Leonathan rencanakan.
“Hanya ini satu-satunya cara, aku akan menunggu di mobil. Kau yang masuk dan meminta seseorang untuk mengantarmu ke kamar Elle.”
“Kau yakin ini akan berhasil?”
“Ya, siapa pun pasti percaya Elle kehilangan KTP dan membiarkanmu bertemu dengannya, mengembalikan KTP miliknya.”
“Oke,” jawab Alice yang berusaha menjadi sahabat baik untuk Leonathan, bagaimana pun dia harus menghargai perasaan sang sahabat yang sudah menemukan tambatan hati, walau satu sisi dia sendiri belum siap melihat tatapan penuh cinta Leonathan pada Brielle jika keduanya benar-benar bertemu.
Sesuai yang dipesan oleh Leonathan, makanannya sampai tepat di atas meja ketika jam menunjukkan pukul enam petang. Alice yang sudah memesan makanan sejak pukul empat sore tadi hanya menatap Leonathan yang makan dengan tubuh tegap dan muka serius. Ia baru sadar bahwa ketampanan Leonathan jauh dari dari mantan-mantannya. Pria di sampingnya itu begitu memesona, terutama mata biru yang jernih bagai warna laut, menenangkan dan begitu teduh.
“Kau masih lapar?” tanya Leonathan yang merasa diperhatikan Alice sedari tadi, dan secepat kilat Alice menggeleng, membuang tatapannya ke arah lain. “Ambil saja makananku jika kau mau.”
“Tidak akan menerima satu suapan darimu?”
“Suapan dariku?" Leonathan tertawa kecil dan geleng-geleng kepala. "Aku tidak mungkin menyuapi wanita lain di saat wanita yang kucintai belum aku temukan.” Tatapannya serius, bersama senyum tipis terangkat yang membuat Alice mendadak sesak napas, sakit sekali hatinya mendengar pengakuan mulut Leonathan yang baru selesai mengunyah Rice Bowl. “Lagi pula kau dan aku hanya seorang sahabat, bukankah kau selalu tidak suka jika aku menyuapimu dulu? Mengapa sekarang kau ingin aku menyuapimu?” Alice yang tak tahu ingin menjawab apa hanya mengangkat bahu dan tersenyum kecil.