Mencurigakan

1170 Words
Leonathan sudah tampil bugar, terlihat lebih segar dari beberapa waktu lalu. Kacamata hitam menggantung di kaos hitam lengan pendek gambar centang di tepi kanan. Celana pendek abu-abu selutut menambahkan kesan gagah dan tampan bagi siapa pun yang tak sengaja maupun terang-terangan memandang Leonathan. Rambut cokelat karamelnya terlihat rapi karena sentuhan pomade berbahan dasar air. Meraih dompet sekaligus kunci mobil, Leonathan angkat kaki dari kamar tidurnya. “Jika aku tidak menemukanmu di sana, akan kupastikan, menemukan dirimu suatu saat nanti, Elle.” Ya, bisa dibilang Leonathan yang sekarang lebih semangat mencari Brielle. Sudah cukup dia berlarut-larut dengan kesedihan ditambah terpuruk karena tiga bulan Brielle belum diketemukan. Kini saatnya semangat yang lama terpendam muncul dan menggelora. Sebelum keluar dari rumah, ia harus membawa bekal makanan dan minuman sebelum bersembunyi di dalam mobil selama berjam-jam. Pria yang sejak dini hari sudah membuat tiga porsi roti isi, tak lupa memasukkannya ke kotak makanan, kopi Cold Brew yang selalu tersedia di lemari pendingin juga tidak lupa Leonathan ambil dari sana. Semua itu adalah persediaannya ketika mengawasi tempat kos Brielle dari dalam mobil, sesuai rencananya semalam. Tujuan utama Leonathan di pagi hari yang masih gelap ini adalah tempat kos Brielle. Ada sebagian dari dirinya yang meminta, memaksa Leonathan untuk kembali ke sana. Perasaan lelaki itu selalu tertuju ke tempat kos yang pernah didatangi Naomi juga. Sembari duduk dan menyalakan mesin mobil, bibirnya bergumam, “entah mengapa aku merasa kau masih ada di sana, Elle.” Memang benar, dari ekspresi Naomi yang kesal serta perlakuan wanita itu yang tidak disangka-sangka berani menampar, Leonathan tidak bisa menutupi rasa penasaran untuk melihat rumah kos Brielle. Setelah merenung di rumah, pemilik kafe Mixture tersebut seakan-akan diajak oleh hati kecilnya untuk ke sana, seperti dipaksa mengecek keberadaan Brielle di tempat kos. Walaupun Naomi sempat marah, sedih, dan meneriakkan bahwa Brielle sudah pergi, hatinya seperti membantah, tidak terima jika Brielle meninggalkan tempat tinggalnya sendiri. “Ya, tidak mungkin kau lari, Elle. Seperti kata kawanmu, kau wanita yang tidak mementingkan ucapan orang lain jika mengatakan hal buruk tentangmu.” Pria itu yakin dengan sepenuh hati bahwa Brielle hanya menyendiri dan bersembunyi di tempat kos selama ini. Bisa saja Naomi datang hanya untuk menjenguk. Karena itu, Leonathan akan mengawasi rumah kos tempat Brielle tinggal dari kejauhan. Jika ada waktu yang pas, ia akan masuk dan meminta izin pihak pemilik rumah agar bisa menunjukkan kamar yang ditempati Brielle. Lama berkendara, sudah lebih dari tiga puluh menit gerobak mesin hitam punya Leonathan itu berlarian di jalan. Ia sudah menemukan tempat perhentian, dan siap mengawasi dari kejauhan. Alasannya melakukan ini hanyalah untuk mendapatkan maaf dari wanita cantik keturunan asli Indonesia. Mengetahui sifat asli Brielle yang selalu mandiri, tidak mudah menyerah dan polos, membuat Leonathan begitu menyukai dan semakin jatuh pada pesona wanita murni Ibu Pertiwi tersebut. “Jika sampai sore nanti aku belum melihatmu keluar, aku tidak bisa menahan diri lagi untuk masuk, Elle.” Di lain tempat, Alice yang belum bisa tidur semalaman, hanya menangis di atas kasur. Kondisinya di pagi yang gelap ini jauh lebih baik karena hanya ada sisa air mata di pipinya. Berbeda dari semalam yang sampai berteriak-teriak layaknya orang gila. Bagaimana bisa tenang jika sikap Leonathan padanya berubah drastis? Bahkan pesannya dari semalam belum dibalas. Selalu yang ditanyakan pada bibir merah merona itu hanya, “apa kau sangat mencintainya, Nath?” Hingga sekarang pun Alice masih bertanya. Memeluk guling yang sejak semalam berada dalam dekapannya erat-erat, perempuan rambut pirang bergelombang ini kembali membuka mulut, “kau tidak akan peduli lagi padaku, Nath? Hanya karena wanita itu?” Pada dasarnya Alice bukanlah orang yang jahat. Namun, wanita itu hanya kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya sejak di bangku SMP hingga akhirnya dia berteman dengan Leonathan di sekolah menengah atas. Selama di SMA, teman laki-laki yang selalu berlaku sopan dan penuh perhatian padanya hanyalah Leonathan. Cuma pria itulah yang terlihat sangat tulus padanya. Bahkan di antara mantan yang Alice miliki selama ini, tetap Leonathan yang bisa Alice jadikan tempat untuk bersandar. Pria itu yang selalu ada dan tidak pernah bosan mendengarkan ceritanya. “Kalau aku boleh memutar waktu, aku ingin menerimamu sebaga kekasihku, Nath ... bukan hanya sebagai sahabat. Karena sekarang aku bisa merasakan bertapa sakitnya ketika melihatmu sudah menemukan orang yang kau cinta.” Menggeser gulingnya, Alice perlahan bangun dari tiduran dan duduk bersila. Mengikat rambutnya secara asal-asalan lalu bersandar pada kepala ranjang. Wanita berkulit putih yang sama dengan kulit Leonathan itu kembali meraih guling di depannya dan memeluknya erat-erat, dan mendadak saja ia mencurahkan tangisannya pada guling dalam pelukan itu. Mencurahkan semua penyesalannya karena tidak menerima Leonathan sebagai kekasihnya. “Jika dulu aku menerimamu, saat ini aku tidak akan menangis, Nath....” Masih berlinang air mata dan sepasang mata itu terlihat bengkak, dipukulnya guling yang tak bersalah di atas pangkuannya berkali-kali. “Aku ingin kau berhenti mengkhawatirkan wanita itu, Nath ... aku ingin cerita semuanya. Semua masalahku, aku ingin kau tahu semua yang aku alami selama kau sibuk mencarinya, Nath. Aku ingin kau kembali peduli padaku seperti dulu, Nath!” Betul, nasi sudah menjadi bubur. Sebenarnya, jika boleh ditarik ke belakang, kesempatan bagi Alice untuk membalas perasaan Leonathan bukan hanya satu bulan, dua bulan, atau tiga bulan saja. Banyak waktu yang bisa digunakan Alice untuk menerima cinta Leonathan. Hanya saja perasaannya pada Leonathan ketika dulu belum ada dan Alice sendiri tidak berpikiran untuk menjalin kasih bersama sahabat sendiri. Alice yang dulu hanya penasaran dengan banyaknya pria yang mengejarnya dengan kata-kata manis dan perhatian semu belaka.    “Masih bisakah kita kembali seperti dulu? Aku merindukan dirimu yang dulu, Nath ... aku sangat merindukan perhatianmu! Kembalilah, Nath ...” lirih Alice sebelum dia tertidur dengan posisi duduk bersila dan kedua tangan memeluk guling yang ada di atas pahanya. Tidak ingin memikirkan kafe Leonathan seperti dua bulan terakhir, karena Leonathan sendiri lebih memikirkan Brielle ketimbang dirinya yang juga membutuhkan perhatian penuh dari laki-laki tampan itu. Bumi tidak diam, begitu pun dengan jarum jam yang terus berputar. Hanya Leonathan saja yang duduk anteng di balik kemudi sembari melihat ke arah rumah besar yang menyediakan banyak fasilitas. Bahkan Leonathan tidak masuk ke area parkir, jarak mobilnya cukup dari rumah itu, kurang lebih lima meter dari area parkir sampai tempat perhentian mobilnya. Kacamata yang semula menggantung di kaos hitam, kini sudah bertengger di hidung mancung sang pemilik pesona. Pria yang memiliki badan bagus, dengan kedua lengan berotot itu tengah fokus menatap rumah besar dan tingkat tersebut dengan mulut yang mengunyah roti isi. Bekal rotinya cuma bisa dimakan sampai siang hari, sedangkan sore nanti dia harus mencari resto terdekat dari sini. “Bukankah itu Naomi?!” pekiknya terkejut saat melihat seorang wanita berambut keriting tengah berdiri di lahan parkir. Diam sebentar, senyum miringnya terbit seketika. “Sungguh mencurigakan," tambahnya dengan kepala menggeleng kecil. "Kau pasti bekerja sama dengan Elle.” Menyalakan mesin mobil, Leonathan ikut pergi setelah melihat taksi yang dinaiki Naomi turut bergerak. “Kau pasti ada di sana, Elle. Sahabatmu itu pasti sedang mengunjungimu,” ujarnya penuh percaya diri dan segera melajukan mobilnya. Ada yang harus dia lakukan agar bisa masuk ke tempat kos Brielle.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD