Duduk di sofa yang sama dengan Leonathan, tubuh Alice menggantikan posisi kaki pria itu yang memanjang sampai lengan kursi empuk tersebut. Menempatkan sepasang kaki Leonathan di pangkuannya, Alice memijat pelan kaki sebelah kanan dengan dua tangan, dan aktivitas tersebut faktanya, masih belum bisa membuat Leonathan memerhatikannya. Wanita yang belum sempat pulang ini, masih memakai celana jeans hitam dan seragam kafe Mixture warna senada. Menoleh ke arah Leonathan yang tetap memilih untuk menutup mata, mengabaikannya, Alice menghirup dan mengembuskan napas begitu panjang.
Leonathan sendiri tidak ingin memikirkan dan memusingkan kehadiran Alice di rumahnya. Sudah tidak ingin dan berhasrat dalam mengurus dirinya, kafe, maupun hidupnya ke depan. Otak pria itu seakan berhenti di tempat, tidak mau berputar dan berusaha menemukan jalan keluar dalam pencarian cintanya. Pikirannya buntu, kini satu tangan tersimpan di belakang kepala, sedang tangannya yang lain mengelus-elus pangkal hidung. Sesekali memberikan pijatan di dahi supaya benang kusut di sana bisa lurus, dan mampu mengeluarkan sedikit ide. Cara bagaimana dia bisa menemukan Brielle.
“Bangkitlah, Nath.”
“Sudah tiga bulan tidak ada tanda-tanda sama sekali. Batang hidungnya tak terlihat.”
“Masih banyak waktu, Nath. Meskipun kau lelah, aku tahu ... perjuanganmu suatu saat pasti terbayar lunas. Jika kau ingin mendapatkan hasil yang besar, bukankah usahamu seharusnya jauh lebih besar?”
“Selama ini aku tidak berhenti berharap pada Tuhan.” Tawa kecil mendadak meluncur dari mulut Leonathan. “Di dalam hatiku yang paling dalam meminta dan terus meminta dengan kerendahan hati agar Dia mengizinkanku untuk bertemu Elle. Tapi belum dikabulkan sampai tiga bulan ini.”
“Kau harus berusaha, Nath! Jangan pernah berhenti dan menyerah. Di mana Leonathan yang selalu gigih dalam bekerja? Kau justru menyerah karena satu wanita?” Alice terkekeh-kekeh sembari menghentikan gerakan jarinya yang terus menekan-nekan kaki kiri Leonathan. “Memalukan jika raja lembur menyerah pada seorang wanita.”
“Aku tidak diam seperti patung.” Menatap ke arah Alice yang ada di depan matanya, dan duduk menyamping, Leonathan mengatakan lagi, “Selalu mencari ke sana sini demi mendapatkan maaf darinya. Tapi hasil yang aku dapatkan hanya kekecewaan. Elle belum kutemukan. Lalu, apa yang harus aku lakukan lagi?”
Alice membuang karbon dioksida seraya menatap langit-langit di ruang tengah tempat untuk menonton televisi dan bersantai itu dengan otak yang tidak berhenti berlari mencari kemungkinan-kemungkinan mengenai keberadaan Brielle di Bali. “Mungkin saja dia bersembunyi.” Alice menarik sudut bibirnya dan menepuk salah satu kaki Leonathan lalu memekik, “tidak mungkin dia melakukan sesuatu yang membahayakan pada dirinya sendiri!”
“Mengapa kau bisa percaya dan seyakin itu?”
“Setahuku dia orang yang mandiri, tekun, dan giat dalam bekerja.” Leonathan yang semula enggan mendengarkan ocehan Alice, segera mengubah posisi yang semula tiduran menjadi duduk bersila, tegap menghadap sang sahabat. Menerima tangan Leonathan yang mengarahkan badannya agar menghadap pada Leonathan, Alice kembali melanjutkan ucapannya, “Brielle terkenal sebagai perempuan yang tidak menyerah dan tidak pernah memikirkan pendapat orang lain mengenai dirinya atau apa pun yang menimpanya. Salah satu karyawanmu yang mengatakan ini semua padaku, jadi yakinlah! Cinta pertamamu itu pasti sedang bersembunyi atau mungkin sedang giat-giatnya bekerja di tempat lain.”
Leonathan mengangguk walau tidak terlalu semangat. Ada yang janggal dari penjelasan Alice. Otaknya masih berusaha untuk berputar mencari kejanggalan itu. Begitu dapat, Leonathan tak lagi menggenggam kedua bahu Alice. Pria itu menyandar pada badan sofa dan kembali menutup matanya dengan napas berhembus panjang. “Seharusnya jika dia tidak memikirkan penilaian orang lain terhadap dirinya, Elle tidak keluar dari kafe,” kalimat lontarannya yang mampu membuat Alice tersenggol.
“Kau benar juga.”
Leonathan mengatakan dengan ekspresi datar, “pulang saja. Aku tidak ingin diganggu. Waktumu di sini sudah cukup.” Terdengar seperti mengusir di telinga Alice.
“Aku bukan pengganggu! Aku sahabatmu, Nath!” protes Alice yang langsung mendapatkan tatapan horor dari Leonathan. “O-oke. Oke, aku akan pulang walaupun aku tidak suka kau memaksaku seperti ini, Nath. Tetapi janji padaku, jangan melakukan hal-hal gila. Aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu, Nath. Ingat, kau harus mendapatkan maaf dari Elle!”
“Pulanglah! Kau mendadak tuli atau bodoh?!”
Alice yang mendapat bentakan dan pandangan mata bagai pisau tajam itu sontak berdiri. “Na-Nath?” panggilnya dengan suara yang bergetar seperti orang terkejut, takut, dan terdengar ingin menangis.
“Aku hanya ingin berpikir, mengertilah!” Alice berusaha menahan rasa sedih dan air mata yang ingin turun. “Lebih baik kau istirahat agar besok bisa bekerja.” Tanpa melihat Alice, dia kembali berbaring di atas sofa. “Maaf jika aku menyakiti perasaanmu, tapi kepergian Elle membuat hatiku rusak.”
“Kau sungguh mencintainya, Nath?” tanyaa Alice sembari mengelus dadanya dan tangan kanannya hampir menggapai rambut Leonathan, namun urung karena Leonathan mendongak dan menatapnya lekat-lekat.
“Aku benar-benar tidak siap jika harus kehilangannya.” Sembari mengingat wajah manis Brielle, Leonathan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia merindukan Brielle, bukan hanya sentuhan, tetapi perasaan yang muncul ketika bersama wanita itulah yang begitu dia rindukan. “Rasa ingin menjaga Elle lebih besar daripada menjagamu, sahabat yang pernah menolak perasaanku dan hanya menjadikanku sebagai tempat cerita.” Leonathan tersenyum lembut walau sekilas, Alice bisa menangkapnya meski benar-benar sangat singkat. “Aku bisa gila jika tidak berhasil menemukannya, wanita yang membuatku bahagia sekali menatap matanya sekaligus takut kehilangannya.”
Alice mengangguk paham, kemudian angkat kaki dari ruang tengah. Berjalan dengan langkah yang lebih cepat agar dia bisa menangis sepuasnya di depan rumah Leonathan. Sedangkan pria yang berbaring di atas sofa itu langsung mengeluarkan kartu identitas Brielle yang selalu disimpan di dalam kantong celana yang ia pakai. Melihat foto Brielle di KTP, menatap, menggenggam erat, kemudian mengelusnya cukup lama sebelum mendaratkan ciumannya di sana. Wanita berumur dua puluh tahun itu sungguh hebat. “Kau terlalu hebat, Elle. Kau bisa membuatku merasakan cinta dan mampu membuat dadaku berdebar hanya karena melihat mata teduhmu itu. Di mana kau sekarang? Aku merindukanmu, Elle.”
Sementara di depan pagar hitam rumah Leonathan, Alice tidak bisa menghentikan air matanya yang turun ke pipi dan keluar di kedua netra, begitu deras. “Apa perasaan cintamu itu sudah sirna, Nath? Mengapa aku tidak suka mendengar pengakuanmu itu? Apa kau akan berubah dan tidak akan ada lagi untukku, Nath?” Jika boleh jujur, ia sangat sedih mendengar pengakuan Leonathan yang lebih takut kehilangan Brielle ketimbang dirinya. Berusaha mengusap air matanya dan menenangkan hati, Alice mengeluarkan ponsel dari tas selempang dan segera menghubungi taksi untuk menjemput dan mengantarnya ke rumah sesegera mungkin karena dia harus ke La Favela demi mengembalikan suasana hati.