Kehangatan Keluarga

1897 Words
Ini cerita pada hari Bang Iger dibebaskan. Hari senin seperti biasa. Ada 2 kelas mata pelajaran seperti biasa. Yang beda hanya perlakuan teman teman kuliah. Sebagian ada yang menatap sinis. Sebagian bertanya tanya pada gue. Sebagian cuek saja. Wajar sih banyak yang bertanya tanya. Soalnya nama gue juga sempat terkait kasus artis FS. Walau hanya diperiksa sebagai saksi. Sebagian tidak percaya gue hanya saksi. Biasa nada nada miring gue pemakai jasa si artis. Padahal mah kagak pernah. Hanya Bang Ion aja yang sekamar. Tapi tidak pernah enak enak. Gue abaikan aja sih. Percuma ditanggapi. Bobi dan Gembul pun sempat bertanya waktu istirahat makan siang. Gue jelaskan saja setau gue. Mereka percaya maklum sohib deket. Ria yang sangat terkejut awalnya. Sekarang juga percaya setelah gue katakan sejujurnya. Dia kaget juga mengetahui bahwa. Babe kadang bisa gile juga. Pan Babe selama ini keliat baek. Gue juga niat mau cerita ke Ria. Kalau Babe ikut andil dalam pernikahan Bang Ion dulu. Jadi sepulang kuliah gue ajak Ria ke rumah. Sekalian cerita masalah Bang Ion dan Kak Ica dulu. Sedangkan masalah Artis FS nanti dia bisa denger sendiri. Kan nanti acara kumpul keluarga dia ikut. Walau menjadi pusat perhatian hari ini. Gue dan Ririn berhasil lalui dengan santai. Tidak ada kendala berarti. Berhubung Ririn masih ada kelas sore. Gue dan Ria pulang duluan ke rumah. Sebelum pulang Miss Ruk selaku dosen pembimbing. Menyampaikan bahwa sidang skripsi dimajukan dari selasa minggu depan. Menjadi hari jumat sore. Karena ada jadwal salah satu dosen yang berhalangan. Gue terima dengan senang hati. Miss Ruk juga menyampaikan dukungan atas kasus kami. Tidak lupa gue berterima kasih. ##### Gue dan Ria pulang ke rumah gue. Baru turun dari mobil. Seorang bocah yang kira kira berusia 1 tahun lebih. Mungkin 1 setengah tahun. Si bocah berlari lucu ke arah gue. Langsung memeluk kaki gue. Ebe on katanya kemudian. Ebe oon uyang. be dong. Itu yang terdengar di telinga gue. Maklum bahasa bayi. Si bocah mengangkat tangan ke atas. Seolah olah minta digendong. Gue pun tidak sadar langsung menggendong. Maklum nih bocah gemesin banget. Apalagi Ria sudah sangat antusias sama nih bocah. Gue liat ada mobil yang tidak gue kenal. Sedang parkir di halaman rumah. Pikiran mengatakan pasti mobil orang tua nih bocah. Ada 1 baby sitter nemani si bocah. Gue masuk ke dalam rumah. Ternyata ada Kak Ica sedang ditemani oleh Kak Linda dan Kak Mona Rupanya nih bocah Romi, anak Kak Ica. Nama lengkapnya Romero Prawira. Kok bisa pake nama keluarga kami? Ceritanya emang Bang Ion yang kasih tuh nama. Bang Ion diberikan hak untuk memberi nama sama Kak Ica waktu si Romi baru lahir. Bang Ion pun memberi nama sekaligus menyematkan nama keluarga. Semua tentu saja dengan persetujuan Babe. Babe tidak keberatan walau si Romi tidak mempunyai darah keturunan Prawira. Dari tingkah Romi yang selalu manggil gue Be. Gue yakin dia pasti manggil Bang Ion dengan Be. Babe maksudnya. Tapi dia salah kira gue sebagai Bang Ion. Maklum saking miripnya. Dan Kak Ica pun cerita kalau selama ini. Bang Ion sering menemui Romi. Hampir setiap hari. Tentu hanya Romi. Karena Bang Ion menjaga jarak dari Kak Ica. Takut timbul fitnah. Lagipula Bang Ion takut cewek. Lebih sering ketemu Romi di rumah orang tua Kak Ica. Di saat Kak Ica tidak di rumah. Sibuk bekerja mengurus cafe nya. Rupanya Bang Ion ingin memberi sosok seorang ayah kepada Romi. Dan Kak Ica mengijinkan Bang Ion untuk sering menjumpai Romi. Nyak juga mendatangi ruang tamu. Rupanya dia sejak tadi sudah ikutan ngerumpi ala mak mak. Cuman ke toilet sebentar memenuhi panggilan alam. Gue ke kamar gue dulu. Meninggalkan Ria ikut rumpian ala mak mak. Padahal Ria kan belum jadi mak mak. Bodo amat lah. Yang penting doi senang. Makin sore makin rame. Encang Encing dan sepupu sepupu gue juga pada datang. Yang paling gue demen nih. Encing CintaBihun Atmanegara adik ibu. Bosan CintaMi Atmanegara melulu. Eh ada yang salah nih nama. Komplen dulu. Gue : Tor bikin nama yang benar dong. Author : Emang kenapa? Gue : Jangan sembarang bikin nama. Author : Ok deh kita ganti. Nama pun diganti. Encing Safira Atmanegara. Boleh dibilang musuh gue juga ini. Habis dia sering manggil gue Ulat Keket. Gue balas deh manggil dia Encing Sapi. Baru tiba dia langsung nyapa gue. Encing : Eh ulat keket udah punya pacar. Gue : Iya, Encing Sapi. Sepupu gue : Jangan panggil Nyak gue Sapi dong. Gue : tapi namanya kan emang Sapi.... ra. Itu sepupu ngambil sepatu nimpuk gue. Gue elak. Kena tivi. Pecah. Suasana hening. Nyak liat dan hanya tersenyum. Nyak : Ga pa pa. Potong uang saku. Alamak dipotong deh uang saku ku. Nasib nasib. Semua bersiap untuk menyambut kepulangan Bang Iger. Bersiap untuk ritual buang sial. Rencana baju baju yang kami pake waktu dipanggil aparat. Mau dibakar semua tuh baju. Termasuk baju yang dipake Bang Iger nanti. Tentu saja nih ritual ada konsumsi nya. Makanan dan minuman tersedia. Bang Ion pulang sedikit terlambat. Jam 6 lewat. Bukan pulang dari kuliah ya. Tapi dari Gallery seni dan studio foto Bang Iger. Dia terpaksa pura pura menjadi Bang Iger selama sehari ini. Tugasnya di gallery seni hanya pura memperhatikan kerja bawahan. Itu pun dia lebih banyak diam dan mengurung diri di kantor sampai jam pulang. Sengaja pulang lambat agar tidak bertemu para karyawan. Sedangkan tadi pagi datang paling awal dan mengunci diri di kantor. Romi gue gendong. Bingung dia meliat Bang Ion. Menatap gue terus menatap Bang Ion bergantian. Awalnya Bang Ion ingin segera menggensong nih bocah. Tapi dia putuskan mandi dulu. Setelah mandi dia segera menghampiri gue dan Romi. Romi yang masih bingung. Ragu dia pindah ke Bang Ion. Setelah cukup lama akhirnya dia mengenali Bang Ion. Rupanya instingnya cukup kuat. Sekarang dia bisa membedakan sentuhan tangan Bang Ion. Dibandingkan dengan sentuhan tangan gue. Iyalah dia sudah biasa sama Bang Ion. Walau kami mirip tapi tetap beda. Nah yang sudah biasa tentu tau bedanya. Termasuk si Romi yang biasa sama Bang Ion. Sekarang gue dikecengi tuh bocah. Padahal tadi nempel terus. Ga pa pa lah. Ya ma ma lah. Biarin deh. Nana pulang. Diikuti oleh Ririn. Nah semua sudah hampir lengkap. Tinggal Babe dan Bang Iger. Babe kan lagi jemput Bang Iger. Harusnya jam 7 malam sudah bisa tiba. Tapi dipersulit. Jadinya jam 8 malam baru tiba di rumah. Aparatnya sudah ga bisa nahan lebih lama lagi. Bak menyambut pahlawan pulang perang. Semua memeluk Bang Iger bergantian. Ini keluarga besar sudah tau lho. Kalau yang dijemput itu Bang Iger. Bukan Bang Ion. Yang paling senang tentu aja. Kedua bini Bang Tiger. Maklum masih pada penganten baru. Kami sekeluarga disiram air kembang 7 rupa. Setelah itu berganti baju. Kami keluarkan tas yang berisi baju2 yang dipake waktu diperiksa kemaren. Kami masukkan dalam tong. Kemudian kami bakar. Kami pun berbincang bincang sambil menikmati makanan dan minuman yang tersedia. Canda tawa terdengar riuh rendah. Romi tertidur. Di bawa ke dalam kamar tamu oleh baby sitternya. Kak Ica dan bokap nyokapnya masih ikut ngerumpi bersama kami. Sampai akhirnya. Babe meminta semua tenang. Babe ingin menceritakan kasus bermula. Tidak ada yang akan ditutupi antar anggota keluarga. Apalagi Kak Linda, Kak Mona, Encang Encing dan para sepupu gue berhak tau. Kak Ica juga dipersilahkan mendengar karena masih dianggap sebagai bagian keluarga. Lah terus Ria kan bukan bagian keluarga. Belum sih tapi akan menjadi bagian keluarga. Aku yang meminta dia ikut. Sebelumnya telah meminta izin Babe dan Nyak. Jadi cerita dimulai. Suatu hari tidak lama setelah percereian Bang Ion dan Kak Ica. Babe yang kesel. Karena Bang Ion masih perjaka padahal sudah nikah 7 bulan sama Kak Ica dan cerei. Masa duda rasa perjaka. Jadi Babe minta asistennya cariin cewe buat Bang Ion. Yang one night stand tapi aman. Si asisten tentu menyanggupi perintah Babe. Jadi besoknya dia kasih nomor kontak si cewek ke Babe. Itulah nomor kontak artis FS yang kebetulan open BO. Si asisten juga menjelaskan kisaran tarif tuh artis. Babe no problem sama tarifnya. Segitu mah seujung kuku buat Babe. Bukan sombong tapi kenyataan. Pulang dari kantor. Babe kasih nomor kontak ke Bang Ion. Bang Ion disuruh hubungi itu nomor. Awalnya WA menanyakan nama dan kebenaran informasi nomor tersebut. Kemudian dilanjut video call. Babe mengarahkan apa yang harus dikatakan Bang Ion dengan tulisan di kertas. Tapi Bang Ion takut ketika setengah jalan. Jadi Bang Iger disuruh video call menggunakan hp Bang Ion. Menanyakan tarif. Janjian waktu dan tempat. Dan juga perjanjian jika bisa merjakai Bang Ion dapat tambahan 1x tarif. Sesuai kesepakatan tempat di rumah Babe ini. Dan pada waktu yang dijanjikan si artis FS datang. Disambut Bang Iger. Awalnya si artis mengira Bang Iger yang menyewanya. Tapi Bang Iger menjelaskan bahwa Bang Ion adek kembarnya yang akan memakai jasa. Dijelaskan juga bahwa Bang Ion penakut sama cewek. Dan Bang Ion masih perjaka. Sambil menjelaskan Bang Iger mengantarkan si artis ke kamar Bang Ion. Si artis dipersilahkan masuk ke kamar Bang Ion. Sementara Bang Iger menyambut dan mengantarkan si artis. Kami semua sembunyi di kamar masing masing. Begitu si artis masuk kamar Bang Ion. Kami segera menghambur ke depan pintu kamar Bang Ion. Bermaksud menguping kejadian dalam kamar. Hening kira kira setengah jam. Bang Ion lari keluar kamar. Telanjang d**a dengan celana pendek doang. Sambil mewek. Dia memeluk gue. Sementara yang lain kabur ke kamar masing masing. Termasuk Babe dan Nyak. Si duo dan Bang Iger. Gue mana bisa kabur ke kamar. Kamar gue kan di lantai 2. Bukan lantai 3. Lagian gue dipeluk Bang Ion. Si artis keluar kamar hanya menggunakan handuk. Mencoba merayu Bang Ion lagi. Gue yang kasihan sama Bang Ion. Meminta si artis menghentikan aksinya. Si artis malah merayu gue. Sama kamu ajalah kalau dia takut. Itu kata si artis. Gue tolak. Gue minta dia pake baju. Uang jasa tetap akan dibayar penuh. Bang Iger dan Babe keluar kamar. Mereka berbicara sebentar. Wajah Babe marah. Bang Iger keliatan kecewa. Rupanya Bang Iger mau pake jasa enak enak si artis kan mesti bayar juga walau tidak dipake Bang Ion. Babe nolak tegas. Emang rencana hanya merjakai Bang Ion pake tuh artis. Rencana pun gagal. Babe kasih segepok uang ke gue. Itulah yang kemudian gue bayarkan ke si artis. Si artis keluar kamar dengan pakaian lengkap. Ada raut kecewa di wajahnya. Sementara Babe dan Bang Iger sudah kembali ke kamar mereka. Setelah gue serahkan uang pembayaran. Si artis tersenyum dan berterima kasih. Tapi sambil ngedumel. Payah. Gue sudah h***y kesengsem sama tuh cowok. Tapi ga dapet. Saudaranya lumayan juga. Tapi kayaknya ga minat sama gue. Itu yang terdengar telinga gue. Wew kalau gue mau. Pasti dia beri. Itu pikiran gue. Untung gue ga tergoda. Iman gue masih tebel. Si artis kemudian menuju mobilnya. Dan meninggalkan rumah kami. Semua menyimak perkataan Babe, gue, Bang Iger dan Bang Ion. Kami bergantian cerita sesuai bagian kami malam itu. Selanjutnya sesuai dengan yang di berita. Kami pun membahas kelucuan sewaktu diperiksa aparat. Apalagi kelucuan tentang tukar peran kembar 3. Para aparat pun bingung dan percaya begitu aja. (Nah lho aparat. Kami ghibahi balik lho. Siapa suruh ghibahi Bang Ion) Setelah larut malam. Kami semua pergi beristirahat. Encang Encing pada pulang. Sepupu sepupu pada nginap. Kak Ica, bokap nyokapnya, Romi dan baby sitternya juga nginap. Ria juga nginap tidur di kamar Ririn. Bukan kamar gue ya. Ingat dosa. Yang di kamar gue malah sepupu cowok gue yang paling kecil. Nih anak emang akrab sama gue. Walau selisih umur jauh. Sekianlah malam ini. Cerita kita lanjut bab berikut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD