Zena diam tak bergerak, matanya terus terpaku beberapa saat pada Rey yang masih berdiri dengan santai di depan sana.
"Oke, aku yang masuk."
Pintu terbuka. Dengan langkah tegap Rey mendekat membuat bayangannya yang besar yang disinari cahaya showcase menelannya.
"Mau apa lagi kamu?" Zena berucap dengan dingin masih duduk di kursi dengan meja bundar di depannya.
Rey yang awalnya menatap Zena mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. "Tokonya kecil," komentarnya.
Zena menaikan alisnya menatap tak peduli.
"Mau aku perbesar?" Tak ada tanggapan dari Zena. Sementara Rey melangkah ke arah etalase kue lalu memperhatikan beberapa kue yang masih terpajang.
"Kuenya cantik, seperti kamu." Rey kembali menoleh dan melangkah ke arah Zena.
"Tidak! Kamu lebih cantik," ralatnya.
"Jangan basa- basi. Pergi sana!"
Bukannya pergi Rey justru menopang dirinya di meja dan mencondongkan tubuhnya. "Kamu banyak berubah." Sebelah tangan Rey mengusap lembut pipi Zena yang dengan cepat di tepis.
"Dan kamu gak berubah, masih b******k!" desis Zena kesal.
Rey terkekeh. "Tapi aku lebih suka kamu yang dulu. Manis dan penurut."
Zena berdecih. "Aku gak ada waktu buat denger omong kosong kamu." Zena hendak bangkit namun Rey menahan pundaknya agar tetap duduk.
"Lihat kamu terlalu banyak bicara."
"Hentikan ini, Rey. Hubungan kita sudah berakhir, dan mungkin sebenarnya tak pernah di mulai. Jadi sudah seharusnya kita jalani hidup kita masing-masing." Zena menepis kembali tangan Rey lalu benar-benar bangkit.
Zena melangkah keluar dari toko dan berdiri di sana hingga Rey benar-benar keluar, lalu mengunci pintu. Zena hendak pergi, namun saat ini Rey kembali bersuara.
"Kamu yakin kita gak pernah memulai?" Suara Rey tetap dingin dan datar.
Zena menoleh, "Lalu bagaimana hubungan yang gak pernah di mulai bisa saling bercinta diatas ranjang yang sama?" Tubuh Zena menegang saat Rey berjalan mendekat.
"Aku bahkan masih ingat bagaimana kamu menatapku penuh cinta dan mendesah sekaligus menangis." Wajah Zena menjadi merah.
"Hentikan!" Zena mendesis penuh kemarahan. Ingat itu rasanya menyakitkan. Bagaimana dia terus menatap Rey dengan segala perasaannya, sementara Rey tetap menunjukkan wajah tenang.
Dahi dan tubuh berkeringatnya seolah tak mengganggu gerak tubuhnya yang terus menghujamnya tak peduli dia merasa sakit saat itu. Tapi Zena tetap membiarkan sebab kata 'cinta' yang mengikat hatinya.
Sungguh bodoh!
"Kenapa? Mau aku ingatkan?" Zena mundur satu langkah lalu berbalik hendak pergi, namun lagi- lagi suara Rey menusuk hatinya.
"Aku yakin kamu tahu tentang rekaman itu. Aku masih memilikinya."
"Ka—mu!?" Tubuh Zena bergetar, tangannya mengepal erat hingga kukunya melukai telapak tangannya. Zena tak menyangka Rey masih menyimpannya. Salahnya juga dulu dia tidak muncul dan memintanya menghapus rekaman itu. Tapi justru menjadi pengecut dan pergi begitu saja.
"Di detik ke 20 kamu menangis saat aku membelah dirimu," bisik Rey tanpa perasaan. Mata Zena membulat sempurna dengan wajah tak menyangka.
"Di detik ke 30 kamu mulai mendesah..."
"Hentikan!" Zena menggeleng pelan.
Namun Rey tak peduli dan kembali berkata, "Di menit ke lima kamu mulai tak terkendali, menggeliat liar dibawahku..."
"Kamu gila! Aku bilang hentikan!" Zena menutup telinganya enggan mendengar apa yang Rey katakan.
"Di menit ke 30 lebih 45 detik kamu memohon untuk berhenti..."
"Hentikan, Rey!"
Rey menyeringai, "Apa jadinya kalau pacar kamu tahu, kamu pernah jadi wanitaku, dan berbagi peluh denganku?"
Tubuh Zena tak bisa lagi menopang dirinya. Dia jatuh terduduk dengan mata kosong.
Rey menekan sebelah lututnya untuk membuat mereka setara. Lalu menunduk meraih dagu Zena agar mendongak. "Putuskan dia," ucapnya tanpa perasaan.
"Aku gak main- main, Baby." Rey meraih telapak tangan Zena yang menopang di tanah, mengusapnya lembut lalu mengecupnya.
...
Zena berjengit dari tidurnya dengan mata yang tiba-tiba terbuka, tubuhnya terhenyak sebab mimpi buruk yang baru saja terjadi.
Zena mengusap dahinya yang basah lalu menghela nafasnya.
Rasa lega sekaligus takut menghampirinya.
Lega karena yang baru saja terjadi itu mimpi.
Takut karena itu bukan hanya sekedar mimpi tapi kejadian masa lalu yang pernah terjadi.
Zena terus menghela nafasnya lalu meraih air minum di nakas untuk meneguknya.
Kehadiran Rey benar-benar membangkitkan mimpi buruk yang telah lama tak muncul. Zena kira setelah sekian lama dia tidak bermimpi lagi, dia sudah sembuh. Tapi rupanya, kedatangan Rey membawa kembali trauma yang dia alami. Meski pria itu tak muncul lagi setelah memberikan ancaman 2 hari lalu, tapi ketakutan itu terus menghantuinya.
Zena menurunkan kakinya. Melangkah ke arah jendela, dan membuka sedikit gorden. Zena menelan ludahnya saat melihat sebuah mobil sedan hitam terparkir di depan rumahnya. Zena menggigit kukunya lalu menutup gorden dengan cepat.
Sejak pulang Zena melihat mobil itu terus terparkir disana.
Dan yang Zena tahu mobil itu terus mengikuti sejak dia keluar dari toko kue, dan kini mobil itu masih ada disana.
Zena menggeleng pelan menepis pikirannya, matanya menoleh pada jam di dinding yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Zena memutuskan kembali naik ke tempat tidur untuk melanjutkan tidurnya, meski nyatanya dia juga tak bisa memejamkan matanya.
Zena terus merasa gelisah dan memikirkan jika di dalam mobil itu benar-benar ada orang yang tengah mengawasinya.
....
Pukul 5 pagi Zena memutuskan mengakhiri tidurnya yang sebenarnya tak tidur, hanya berusaha memejam saja.
Zena bersiap untuk pergi ke toko kue, setelah mandi dan membersihkan dirinya.
Tepat pukul 6 pagi Zena keluar rumah. Saat tak lagi melihat mobil sedan hitam itu Zena menghela nafasnya lega.
"Aku terlalu banyak berpikir."
Zena membuka pintu mobil tuanya dan hendak masuk saat menyadari ada yang aneh.
Zena menunduk dan melihat ban mobilnya kempes.
"Kok bisa? Seingatku semalam masih gak papa?" Zena melihat sekeliling mobil. "Cuma satu." Zena membuka ponselnya untuk menghubungi bengkel langganannya. Punya mobil tua tentu saja Zena langganan ke bengkel, karena dia bisa kapan saja mengalami mobil mogok. Seperti saat ini tiba-tiba bannya kempes dia sangat membutuhkan bantuan.
"Pak Doni ban mobil saya kempes, bisa tolong perbaiki."
Jeda sebentar hingga Zena kembali bersuara. "Iya, saya mau ke toko, nanti Pak Doni langsung aja ganti ya. Saya naik taksi kalau nunggu Pak Doni saya bakal kesiangan."
Jeda lagi menunjukkan Zena mendengar suara di seberang sana.
"Makasih, Pak Doni." Zena mematikan teleponnya dan berniat memesan taksi online. Namun baru membuka ponselnya sebuah mobil terparkir membuatnya tersenyum.
"Mas kesini?" Zena tersenyum melihat Dimas turun dari mobil tersebut.
"Iya, dua hari gak ketemu Mas kangen." Dimas melangkah menghampiri dan memeluk Zena. Dimas memang sibuk hingga tidak sempat menemui Zena dua hari terakhir seperti yang pria itu katakan saat bertemu terakhir kali. "Untung kamu belum berangkat. Pas banget ya aku datangnya?"
"Kalau bannya gak kempes aku udah berangkat." Dimas menatap mobil pemberian ibunya untuk Zena. Mobil operasional toko kuenya.
"Kamu punya ban cadangan?" Zena menggeleng.
"Kalau gitu aku gak bisa bantu dong." sesalnya.
"Aku udah minta Pak Doni buat perbaiki, kok."
"Oke." Dimas menatap tak enak hati. "Harusnya aku udah bisa beliin yang baru, kan? Mobil ini emang terlalu tua. Sering rusaknya."
Zena terkekeh. "Gak papa, aku udah biasa. Kalau pesanan dua bulan ke depan masih terus naik, aku mau dp buat beli mobil baru."
Dimas mengangguk. "Nanti aku bantu cicilannya. Ayo aku antar sekalian kita sarapan." Dimas menarik tas Zena lalu membawanya ke arah mobilnya.
....
Zena menoleh ke belakang dimana dia melihat mobil hitam mengikuti kembali setelah mereka tadi berhenti di sebuah rumah makan.
"Kenapa sih noleh ke belakang terus?" tanya Dimas yang saat ini masih fokus menyetir, namun dia melihat Zena nampak gelisah dengan sesekali melihat ke belakang.
Zena menggeleng, dia tak mungkin bilang kalau ada yang mengikuti mereka, tepatnya mengikutinya, kan? Zena tak ingin membuat Dimas khawatir.
Tiba di depan toko kue Zena keluar begitupun Dimas. "Jangan kecapekan kerjanya, ingat istirahat," peringat Dimas, dengan mengusap pipinya lembut.
"Iya." Zena tersenyum. Lagi pula karyawannya baru bertambah dua hari lalu, hingga dia tidak akan terlalu lelah, beruntungnya mereka sudah memiliki kemampuan dasar dalam membuat kue, hingga Zena hanya perlu mengarahkannya saja agar mereka mengikuti resep Betari cake.
"Aku pergi." Zena mengangguk dan membiarkan Dimas kembali memasuki mobilnya lalu pergi.
Zena memasuki toko, kebiasaannya sejak dulu Zena selalu datang saat karyawan belum datang untuk mempersiapkan semua bahan kue, jika masih sempat Zena bahkan membuat kue lebih dulu hingga karyawan tinggal melanjutkan saja.
Pukul 7 pagi semua karyawan datang dan melakukan tugas mereka seperti biasa dimana Zena sudah menginstruksikan.
Pukul 9 toko kuenya buka dan pelanggan mulai berdatangan. Untuk memesan bahkan membeli kue atau sekedar membeli roti untuk camilan.
Zena tersenyum melihat para pelanggannya yang mulai banyak, lalu menoleh pada Moli, "Udah ada pesanan baru?"
"Sudah, Bu. Lima pesanan baru untuk besok lusa, lalu besok kita masih penuh." Zena mengangguk puas.
"Kalau pesanan terus naik aku mau naikan gaji kalian." Ucapan itu di dengar juga oleh Hasan yang langsung menoleh.
"Wah beneran nih, Bu?"
Zena mengangguk pasti. "Tentunya besarannya harus aku hitung- hitung dulu."
"Wah asik, Bu. Makasih loh, biar sedikit kita juga udah bersyukur. Kami tahu toko ini baru bangkit juga."
Zena tersenyum. "Makasih loh kalian udah setia menemani disini, meski beberapa bulan lalu kita juga melalui masa sulit."
....
Zena keluar dari toko kue tepat pukul sembilan malam. Hari ini seperti dua hari sebelumnya, tak ada Rey yang mengganggunya membuat setidaknya Zena merasa lega di hatinya. Zena mulai menganggap ancaman Rey hanya bualan, meski mungkin Rey masih masih memiliki vidio tersebut tapi Zena mulai yakin Rey hanya menakutinya.
Zena menaiki taksi untuk tiba di rumahnya, hingga dia turun setelah membayar sejumlah uang sesuai argo.
Zena menghentikan langkahnya saat tiba di pelataran rumah Merasa ada yang aneh Zena mengedarkan pandangannya hingga dia menyadari sesuatu.
"Kemana mobilku?" Pelataran kosong, mobil tuanya tak ada membuat Zena khawatir. "Gak mungkin kan mobil jelek ada yang nyuri?" Zena membuka ponselnya untuk menghubungi Pak Doni pegawai bengkel yang dia minta untuk mengganti ban mobilnya.
Panggilan pertama di abaikan mungkin karena hari sudah malam, namun Zena tak menyerah kembali menghubungi Pak Doni hingga panggilan di terima.
"Pak Doni, mobil saya gimana? Pak Doni bawa ke bengkel atau gimana?" cercanya tak memberi kesempatan untuk orang di seberang sana bicara.
"Ibu ini yang ngerjain saya, ya? Saya udah kesana tapi mobilnya gak ada."
"Apa!" Zena nyaris berteriak, jelas- jelas tadi pagi mobilnya masih ada dalam kondisi ban kempes. Zena masih berdiri terkejut saat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Mobil mewah dengan simbol hurup M ganda di depannya.
"R—ey," ucapnya masih dengan raut terkejut.