"Apa hebatnya dia sampai membuat senyum cantikmu keluar begitu ringan?"
Tubuh Zena menegang refleks mundur saat Rey berjalan mendekat ke arahnya.
"Kamu— ngapain kamu disini?"
"Mencarimu, tentu saja." Langkah Zena kembali mundur saat Rey semakin dekat.
"Kenapa ekspresi kamu berbeda sekali, Baby?"
"Mau apa, kamu?" Zena menahan langkahnya sebab dia hampir mencapai pintu.
"Gak boleh datang? Padahal banyak hal yang perlu kita bicarakan." Rey melipat tangannya di d**a menatap Zena dengan intens.
"Aku enggak!" Zena menakan suaranya. Perasaan benci begitu nampak di wajahnya, namun Rey justru terkekeh.
"Banyak, sangat banyak, sayang." Rey mengambil langkah lebar hingga tubuh mereka hampir merapat. "Termasuk tentang hubungan kita yang sudah terlalu lama terjeda."
Mata Zena tertegun, namun getaran itu menunjukkan jika Zena cukup takut. "Hubungan kita sudah berakhir," ucapnya tegas.
Dahi Rey berkerut sedikit, namun tak terlihat oleh Zena. "Aku tidak tahu itu?"
"Jangan pura-pura bodoh. Kamu pikir aku gak tahu perjanjian kamu sama teman- teman b******k kamu itu!"
"Lalu sekarang kamu bilang kita belum berakhir?" Zena mendengus. "Kita bahkan gak pernah memulai!"
Rey menunduk, wajahnya masih tenang seolah apa yang Zena katakan tidak berarti apapun, tangannya menyentuh pipi Zena, namun baru satu detik Zena sudah menghempaskannya. "Jangan menyentuhku!"
Rey terkekeh. "Bagian mana yang belum aku sentuh, kenapa malu? Aku bahkan masih ingat bagaimana rasa kamu. Saat tanganku menyentuhmu—"
Plak!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Rey, namun tak membuat wajah itu tertoleh.
Zena menatap tajam. "Kamu gila? Kamu gak bisa bedain malu sama jijik!"
"Itu artinya kamu juga masih ingat?"
Nafas Zena terengah menahan marah, tangannya mengepal erat mengingat masa lalunya yang bodoh. Bisa- bisanya dulu dia tertipu kata- kata manis pria di depannya ini hingga menyerahkan segalanya.
"Bahkan meski itu rasa jijik. Tapi kamu ingat aku."
"Kamu gila!" Zena hendak pergi, namun Rey menariknya ke dalam dekapannya. Tubuh mereka merapat dengan tangan Rey di pinggangnya, menekannya membuat Zena merasa tubuh mereka terlalu rapat.
"Lepas!" Zena menoleh ke belakang, pintu kaca menampilkan Moli dan Hasan yang menatap ke arahnya. Kedunya hendak menghampiri, namun Zena dengan cepat menggeleng.
"Kamu belum jawab pertanyaanku, Baby?" Tubuh jangkung Rey menunduk sedikit membuat wajah mereka sejajar.
Detak jantung Zena menggila. Nafas mint bercampur aroma rokok tercium dari nafas Rey yang berhembus di depannya.
"Apa hebatnya dia?"
Zena menatap dengan tajam, giginya gemelutuk menahan geram. "Jelas dia lebih hebat dari kamu. Dia bahkan gak bisa di bandingin sama cowok b******k macam kamu!" Berani- beraninya Rey bertanya setelah apa yang dia lakukan di masa lalu. Jelas Dimas tak bisa di bandingkan Rey.
Ucapan Zena cukup membuat Rey terganggu, rahang pria itu mengeras. "Siapa dia?"
Melihat wajah marah Rey, Zena menatap semakin berani. "Kekasihku, calon suamiku!"
"Jadi kamu selingkuh di belakangku?"
"Apa?!" Zena menatap tak percaya. Dahinya menatap penuh kebingungan.
"Zena hubungan kita belum berakhir." Suara Rey menjadi lebih serius hingga Zena bisa merasakan suasana menjadi dingin. "Kamu masih milikku, dan selamanya akan menjadi milikku."
"Jadi apa yang kamu lakukan adalah perselingkuhan."
"Kamu benar- benar tidak waras?"
"Tapi karena ini pertemuan kita pertama kalinya setelah sekian lama, aku akan memaafkan kamu."
Zena semakin di buat geram dengan ucapan Rey yang tak masuk akal bahkan tak menghiraukan ucapan Zena. "Hanya saja tak ada lain kali."
Tangan Rey merenggang membuat tubuh Zena terlepas. "Aku akan kembali." Rey menarik kepala Zena mengusap dengan telapak tangan, mengusap kasar seolah pria itu menghapus sesuatu. "Aku tidak suka kamu di sentuh pria lain," ucapnya dengan menarik wajahnya lalu pria itu mendaratkan ciuman di dahinya seolah itu bisa menghapus jejak ciuman Dimas.
....
"Ibu gak papa?" Moli dan Hasan menghampiri saat Zena memasuki toko.
Zena menggeleng menahan tubuhnya yang gemetar karena takut.
"Dia siapa, Bu? Kenapa beraninya cium Ibu?" Tubuh Zena menegang. Tentu saja Moli dan Hasan melihat apa yang terjadi di luar. Namun dia tak mungkin mengatakan kenyataannya, kan?
"Cium apa? Di—a cuma tiup mataku yang kelilipan. Dia temen yang udah lama gak ketemu."
Moli dan Hasan saling pandang, lalu mengangguk. "Oh, kami kira siapa hehe..." Moli dan Hasan terkekeh.
"Tapi ganteng banget, Bu. Kita kira mantan ibu." tambah Moli lagi.
"Ya udah aku masuk dulu." Tanpa menanggapi ucapan Hasan dan Moli, Zena memilih memasuki ruangannya.
....
Jam kerja usai, waktu toko kue tutup, Moli dan Hasan pun pulang. Namun Zena masih disana menatap kosong pada kue di etalase showcase yang menyala memberi sinar di ruangan gelap yang sudah dimatikan lampunya.
Zena masih disana namun hati dan pikirannya justru tertarik ke kejadian empat tahun lalu dimana dia tahu jika Rey hanya menjadikannya mainan bersama teman-temannya.
Flashback...
Malam itu saat Zena mengikuti Rey ke sebuah klub malam. Malam yang juga menghancurkan hatinya sebab kenyataan yang dia ketahui.
"Kamu udah berhasil tidur dengan Zena kan, Rey?" Tubuh Zena di depan pintu mematung mendengar suara salah satu teman Rey, Firman.
Mata Zena menatap Rey yang menghisap rokok di celah bibirnya lalu menghembuskan asap di udara dengan tenang. Diamnya Rey membuat Zena menyimpulkan apa yang teman Rey katakan benar.
"Apa maksudnya itu?" Hati Zena mulai merasa gelisah.
"Pasti udah lah, Zena tuh bucin akut sama Rey. Jangankan tidur dengannya hidupnya aja pasti di kasih." celetuk teman lainnya Jefri.
"Jujur ini terlalu gampang buat Rey. Harusnya tantangannya lebih besar." ucap Jefri lagi.
"Memang selama ini Rey pernah kalah? Jangankan sekelas Zena cewek cupu dan kutu buku. Sekelas putri kampus pun dengan mudah Rey dapatkan. Cuma kali ini tantangannya berbeda. Iya, kan Rey?"
Zena memegang handle pintu dengan tangan yang mulai basah dan erat. Apa yang dikatakan Revina benar. Rey hanya menjadikannya mainan bersama teman-temannya.
"Jujur ini terlalu gampang buat Rey. Harusnya tantangannya lebih besar." ucap Jefri lagi.
"Iya, taruhan kali ini kita dapat vidio dia lagi bercinta sama si cewek cupu itu." Semua orang tertawa sementara Zena tak bisa lagi menahan tubuhnya. Zena mundur lalu bersandar di tembok dengan tubuh lemasnya. Ucapan itu seolah berdenging di telinga Zena. Hati Zena yang di buat hancur. Kali ini lebih hancur dari sebelumnya.
Seolah kenyataan yang baru dia ketahui belum cukup. Zena kembali mendengar kenyataan menyakitkan.
"Jadi, kapan kamu kasih vidio itu, Rey? Aku penasaran dia berteriak dan mendesah keras di bawah tubuhmu. Dan satu lagi tugas yang belum kamu selesaikan. Putuskan dia setelah kamu bercinta dengannya."
Zena mengepalkan tangannya erat. Tak ada terdengar suara Rey. Namun tidak adanya bantahan membuat Zena menyimpulkan Rey memang melakukan itu.
Zena menegakkan tubuhnya meski perasaannya hancur. Cinta yang dia kira sempurna justru tak pernah ada. Rey hanya menjadikannya lelucon.
Rey hanya ingin tidur degannya, lalu merekam saat memalukan itu, saat Zena menyerahkan kegadisannya dan memberikannya pada teman-temannya.
Zena menderaskan tangisnya. Dia benar-benar tak percaya ini menimpanya. Apa salahnya mencintai Rey? Dia tak pernah memaksa pria itu mencintainya, pria itu yang datang padanya. Memberinya mimpi dan harapan, namun rupanya itu hanya demi menjatuhkannya kedalam jurang yang dalam.
Harusnya sejak awal dia tak pernah terjebak dalam perasaan itu, atau bahkan tertipu dengan kata-kata "Kamu kekasihku sekarang."
Atau harusnya dia tak pernah mencintai Rey.
Suara ponsel berdering membuyarkan lamunan Zena membuat kesadarannya tertarik.
Zena memejamkan matanya. Pertemuannya dengan Rey memaksanya mengingat kembali masalalu buruk yang di buat pria itu. Lalu tanpa perasaan pria itu bilang jika dia masih miliknya setelah melakukan hal itu.
Zena menghela nafasnya lalu menerima panggilan tersebut. "Hallo?"
"Hallo, Baby." Tubuh Zena menegang saat mendengar suara di seberang sana. Zena menjauhkan ponselnya lalu melihat nomer tidak dikenal yang muncul di ponselnya.
Darimana pria itu tahu nomor ponselnya?
Zena mendekatkan kembali ponsel ke telinganya. "Darimana kamu tahu nomorku?"
Terdengar kekehan di seberang sana. "Apa yang gak bisa aku tahu tentang kamu, Sayang."
"Apa mau kamu sebenarnya, Rey? Kenapa kamu gak berhenti ganggu aku?!"
"Mau tahu? Tapi aku lebih suka kita bicara langsung. Mau aku masuk atau kamu yang keluar." Mata Zena menoleh ke arah pintu kaca dimana pria itu berdiri tegap dengan menekan ponsel di telinganya.
Sejak kapan Rey ada disana?