Apa Hebatnya dia?

1038 Words
Zena keluar dari mobil dan memasuki tokonya. Zena tersenyum melihat beberapa pelanggan lalu pada Moli yang berdiri di meja kasir. "Hasan, gimana hari ini?" "Lancar Bu, semua pesanan udah di antar, dan pesanan yang lain juga udah diambil orangnya." Zena mengangguk puas, "Kamu udah tanya temen kamu yang lain yang mau kerja?" "Udah bu, kebetulan ada temenku yang lulusan tata boga, dia datang besok." "Bagus, aku mau masuk dulu ya, capek." Hasan mengangguk sebab wajah Zena memang nampak lelah. Tiba di ruangannya Zena menopang tubuhnya di meja dengan mata yang memejam. Harus Zena akui kemunculan Rey berpengaruh besar di hidupnya. Bahkan setelah beberapa jam pertemuan mereka Zena masih merasakan ketegangan di tubuhnya. Kenapa dia harus muncul lagi setelah dia tinggal dua tahun tanpa masalah atau bahkan melihatnya. Zena memejamkan matanya. Tangannya yang bergetar menekan dahinya berharap bisa meredakan isi otaknya yang berantakan. Apa yang harus dia lakukan untuk menghindarinya? Bagaimana kalau dia muncul lagi? Bayangan saat Rey menciumnya dengan ganas terlintas. Zena bahkan masih merasakan bibirnya membengkak akibat ulah pria itu yang seolah ingin melahapnya hidup- hidup. "b******k! Apa mau dia sebenarnya," ucap Zena dengan geram. Zena hanya berharap itu adalah pertemuan terakhir mereka, jika tidak, dia mungkin bisa gila. Baru menghela nafas untuk meredakan ketegangan dalam dirinya Zena merasakan sebuah tangan menutup matanya dari belakang membuatnya kembali menegang. "Siapa?!" tangannya menarik tangan itu dengan panik, namun tangan itu cukup kuat membuat Zena ketakutan. "Kenapa sih, tegang banget?" saat mendengar suara itu Zena menghela nafasnya lega. "Mas Dimas?" Seorang pria mencebik lalu melepas tangannya yang menutupi mata Zena. Zena menoleh dan tersenyum kaku. "Aku kira siapa." "Emang siapa lagi yang bisa masuk ruangan kamu sebebas aku?" Zena terkekeh lalu melangkah ke arah kursinya untuk duduk. "Capek banget ya, aku denger kamu abis dari rumah pelanggan?" Zena mengangguk. "Kuenya gede, jadi biar gak rusak harus di hias di tempat." "Mau aku pijitin?" Dimas melangkah mendekat dan berdiri di belakang Zena lalu memijat bahunya pelan. Tekanan pelan itu membuat Zena memejamkan mata sebab lumayan meredakan rasa lelahnya. "Tegang banget sih," ucapnya saat merasakan bahu Zena terasa keras. "Mungkin karena capek." Dimas terkekeh. "Udah aku bilang kamu butuh karyawan baru, kan?" Zena mengangguk. "Cari aja beberapa soal gaji biar aku yang urus," ucap Dimas lagi. "Gak usah, aku emang udah minta Hasan sama Moli cari. Lagian akhir- akhir ini toko juga lumayan pendapatannya." "Kamu selalu gitu. Nolak aku padahal selama ini kamu sibuk ngurus toko ini sendirian." "Aku beneran gak papa, Mas." "Mama emang tepat pilih kamu buat jadi penerus tokonya. Kalau aku, udah kujual toko ini dari dulu." Zena terkekeh. Dimas adalah anak Bu Retno pemilik Betari cake sebelumnya. Dimas juga lah yang datang mencarinya lalu menyerahkan kepemilikan Betari cake atas wasiat dari Bu Retno. "Buktinya kita bisa bangkit, kan? Ya meskipun awalnya berat." "Itu yang buat aku salut sama kamu. Gak gampang menyerah meski udah di terpa badai." Dimas menunduk melingkarkan kedua tangannya di pundak Zena dan memeluknya dari belakang, Zena terkekeh lalu menepuk tangan Dimas. "Dramatis banget sih." "Tapi semua udah berlalu. Pacar hebatku memang keren." Zena tersenyum. Ya, pacar. Setelah bertemu dua tahun lalu dimana Dimas menyerahkan kepemilikan toko kue ini pria itu selalu menemaninya dalam membangun kembali Betari cake. Kedekatan yang lambat laun membuat Dimas mengungkapkan perasaanya. Pria itu tak pernah menyerah meski Zena beberapa kali menolaknya, hingga tiga bulan lalu Zena memutuskan menerima Dimas sebab merasa keteguhan Dimas sangat kuat. Berharap pria itu bisa membawa kebahagiaan untuknya. Dimas bahkan tak peduli meski dia tahu masa lalunya yang buruk, lalu tentang dirinya yang memiliki rasa trauma terhadap pria. Hingga akhirnya Zena memutuskan untuk menerima pria itu, dan kini mereka resmi menjadi sepasang kekasih. "Gimana kerjaan kamu, lancar?" Zena memutar kursinya hingga kini berhadapan dengan Dimas. "Lancar. Kita baru dapet orderan dari perusahaan besar." Zena tersenyum saat Dimas mengusap pipinya. Dimas memiliki pabrik garmen, pabrik yang dia dirikan dengan usahanya sendiri, dan itulah yang membuat Dimas enggan meneruskan toko kue ibunya. Sementara ibunya itu tak mau tokonya di jual berharap akan ada kenangan tentang dirinya, Jadi pilihannya adalah memberikan toko itu pada Zena yang Retno tahu memiliki kemampuan dalam membuat kue. Apalagi setelah Retno melihat Zena berjuang demi bertahan hidup dengan membuat kue. "Sibuk banget dong?" "Iya, makanya aku datang sekarang aku yakin hari minggu juga masih harus kerja." Dimas menarik sebuah kursi lalu duduk berhadapan dengan Zena. "Itu bagus dong harusnya?" "Ya bagus banget, aku harap bisa cepet kaya biar bisa nikahin kamu." Zena terkekeh. Perkataan yang selalu membuat Zena ingin tertawa. Di tiga bulan masa pacaran ini Dimas selalu bilang begitu. "Gak buru- buru nikah gak papa, ya? Aku mau kaya dulu biar kamu gak perlu capek kerja." Padahal Zena tak pernah mengharapkan itu, toh hubungan mereka baru seusia jagung. Terlebih Zena belum bisa merasakan perasaan lebih pada Dimas. Dia hanya menerima Dimas karena merasa pria itu baik dan menghargainya. Bahkan Dimas sangat menjaga dirinya dengan tak menyentuhnya sembarangan sebab mereka belumlah sah menjadi suami istri. Tidak seperti seseorang yang memanfaatkan perasaannya hanya demi kesenangan dan mempermainkannya menipunya hanya demi mendapat kegadisannya. Seketika bayangan Rey terlintas. Bagaimana pria itu menciumnya secara brutal bahkan ingatan empat tahun lalu yang sudah dia kubur dalam- dalam. Sial, kenapa bayangan itu muncul lagi! "Mau makan malam di luar atau di rumah?" Ucapan Dimas menghempaskan lamunannya lalu fokusnya kembali. "Di rumah aja." Zena mengerjapkan matanya, dia kurang fokus hanya karena pertemuannya dengan Rey. "Tapi aku gak bisa nemenin kamu kalau di rumah." "Gak papa, kamu sibuk aja." "Ya udah aku balik ke pabrik dulu." Dimas bangkit dari duduknya, dengan Zena yang mengikuti. Melewati pintu toko dan melihat masih ada pelanggan yang membeli kue. "Hati- hati, Mas." ucap Zena saat mereka tiba di depan mobil Dimas. "Kamu juga, jangan kemaleman kerjanya." Dimas mendekat lalu menangkup pipi Zena untuk membuatnya mendekat dan mengecup dahinya. Satu-satunya yang berani Dimas lakukan hanya mengecup dahinya. "Aku pergi." Zena mengangguk tersenyum, lalu melambaikan tangannya. Senyum manis Zena bahkan tak luntur meski mobil Dimas sudah tak terlihat. Membuat sepasang mata tajam yang sejak tadi memperhatikan keduanya dari dalam mobil mendatar. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, menyembunyikan apa yang sedang dia pikirkan. Hingga saat Zena akan masuk kembali ke dalam toko pria itu keluar dari mobilnya membuat Zena menoleh. "Apa hebatnya dia sampai membuat senyum cantikmu keluar begitu ringan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD