"Hallo, Babe?"
Mata Zena motot tajam dengan perasaan dingin luar biasa. Siapa sangka di hadapannya sekarang berdiri seorang pria yang paling dia benci setelah bapaknya.
Memeluknya.
Lalu tersenyum menyeringai.
Zena berontak mencoba melepaskan diri, namun pinggangnya justru ditarik mendekat membuat tubuh mereka merapat.
"Lepas!" ucap Zena dengan bibir bergetar. Bayangan masa lalu menyakiti hatinya. Hal yang sudah berusaha dia kubur dalam- dalam kini muncul di hadapannya.
Reynaldi Prananta.
"Lama gak ketemu, Sayang." Zena merasakan kepalanya terasa mendidih, amarah yang dia tahan membuat wajahnya memerah.
"Lepaskan aku!"
"Gak sangka kita ketemu lagi."
"Lepaskan aku b******n!" desis Zena penuh kemarahan, namun bibir Rey masih tersenyum dengan wajah tenang.
"Ternyata memang kamu. Lihat kan, meskipun banyak perubahan aku tetap mengenali kamu." Tangan Rey menyingkirkan helaian rambut Zena yang keluar dari ikatan.
Rey akui Zena banyak berubah, nampak semakin cantik tanpa kacamata tebalnya, juga tubuhnya yang lebih berisi, membuat Zena nampak lebih dewasa.
"Lepaskan aku b******k!"
Rey terkekeh. "Mulut manismu banyak mengumpat, hum?"
"Bukan cuma mengumpat, aku bahkan mengutukmu!" tawa Rey meledak membuat suasana sekitar tiba-tiba hening.
Kepala pelayan yang masih berdiri mematung disana menginstruksikan semua pelayan lain untuk segera pergi dengan gerakan tangannya berikut dirinya lalu menutup pintu.
"Hei, tunggu! Tolong aku!" Zena menjerit saat melihat pintu tertutup.
Mata merah Zena menatap Rey. "Apa maumu?!" kedua tangannya menahan d**a Rey agar tidak terlalu merapat dengan tubuhnya.
"Tidak ada, hanya ingin reuni dengan kekasihku."
"Aku bukan kekasihmu, lepaskan aku!"
Rey tak peduli justru mendekatkan dirinya dan menekan tengkuk Zena untuk melumat bibirnya.
Zena berontak, dia tak sudi menerima ciuman Rey, namun tenaganya yang tak seberapa membuat Rey tetap berkuasa.
Zena tak terima membuka mulutnya lalu menggigit bibir Rey keras hingga bibir pria itu mengeluarkan darah. Bukannya berhenti Rey terus melumat bibirnya tak peduli bibirnya terluka hingga Zena merasakan bau besi memasuki tenggorokannya.
Tak menyerah Zena kembali menggigit bibir Rey, kali ini lebih keras membuat Rey melepas ciumannya. Zena yang merasa Rey lengah melepaskan diri dan melayangkan tamparan di pipi Rey hingga pipi pria itu tertoleh ke samping.
Plak!
"b******n, b******k!" maki Zena dengan mengusap bibirnya kasar seolah ciuman itu begitu menjijikan. Zena bahkan merasakan bibirnya bengkak akibat ciuman paksa itu.
Rey mengusap sudut bibirnya yang berdarah, lalu terkekeh. "Menarik." Rey menatap Zena yang berjalan mundur.
Baru akan kembali mendekat pintu terbuka menampilkan wanita paruh baya yang masih cantik.
Sandra Estela, ibu dari Rey.
"Rey, kamu disini?" Wajah Rey berubah datar. Seringaian di wajahnya menghilang.
Wanita paruh baya itu berjalan mendekat dengan tatapan jatuh pada Zena. "Kau?"
"Sa—ya Zena, Nyonya." Zena berucap masih dengan bibir bergetar, tangannya di balik punggung bahkan basah karena keringat dan saling meremas.
"Oh, kamu dari toko kue itu?" Zena mengangguk. "Apa namanya aku lupa."
"Betari cake, Nyonya," jawab Zena lagi.
"Ah, benar. Silva merengek ingin kue ulang tahunnya di pesan darimu. Padahal kami memiliki koki yang bisa menyediakan kue terbaik." Bibir Zena menipis. Perkataan itu seperti hinaan halus untuknya.
Tatapan wanita paruh baya itu kini tertuju kembali pada Rey, hingga matanya menemukan keanehan. "Rey, kamu terluka." Tangannya terulur hendak menyentuh bibir Rey, namun pria itu mundur seolah tak ingin disentuh.
Tangan wanita itu masih mengambang di udara, lalu berdehem untuk meredakan kecanggungan. "Ngomong- ngomong sedang apa kamu disini?" Matanya memperhatikan sekitar dimana tak ada orang lain disana selain Rey dan Zena.
"Hanya melihat- lihat," ucap Rey dengan tenang, lalu beranjak pergi.
Sandra menatap Zena yang berdiri gugup. "Kuenya sudah selesai?" Zena mengangguk.
"Hampir, Nyonya."
"Kalau begitu segera selesaikan, pestanya akan segera di mulai," Zena kembali mengangguk.
Sandra menyipitkan matanya, wajah Zena yang pucat dan seolah tak teraliri darah menunjukkan jika ada yang terjadi antara Zena dan Rey.
Sandra menatap sekali lagi seolah memindai Zena dari atas ke bawah, lalu pergi.
Zena menghela nafasnya lalu tubuhnya meluruh ke lantai. Tangannya masih saling menggenggam erat, bahkan tanpa sadar kuku- kukunya melukai telapak tangannya.
"Aku harus segera selesaikan, aku harus pergi." gumamnya lalu segera bangkit.
....
Zena menyelesaikannya secepat yang dia bisa. Berusaha tetap profesional meski tangannya terus bergetar karena ketakutan.
Kehadiran Rey membuat Zena merasa dia dalam bahaya. Pria itu b******n tak berperasaan.
"Kuenya sudah selesai Bu Nina." Zena berucap pada kepala pelayan setelah menyelesaikan kuenya.
"Baik Bu Zena. Mengenai sisa pembayaran akan segera kami selesaikan."
Seorang gadis memasuki ruangan, wajahnya sudah cantik terpoles make up dengan gaun cantik. Gadis pemilik acara.
"Gimana kuenya?" tanyanya dengan senyum ramah
"Sudah selesai, Non Silva." Nina dengan sigap menjawab.
"Oh, kamu yang buat kuenya, kan?" Zena tersenyum mengangguk. "Aku mau pesan karena lihat kue buatan kamu di media sosial." gadis itu melangkah menuju kue yang memang nampak cantik. "Cantik banget. Kamu tahu teman- temanku ngomongin kamu. Mereka bilang kue buatan kamu enak." Zena masih tersenyum andai ini ada di situasi benar, maka dia akan sangat bangga dan berharap banyak jika setelah ini dia akan menerima banyak orderan. Tapi mengingat wajah b******n itu Zena sungguh tak mengharap apapun selain ingin segera pergi dari sana.
"Saya senang kalau Nona suka. Kalau begitu, karena kuenya sudah sesuai saya permisi."
"Kamu gak ikut pesta?" tawar Silva.
"Maafkan aku, Nona. Kebetulan toko kami sedang banyak pesanan, dan aku sangat sibuk."
'Ayolah selesai basa- basinya aku ingin segera pergi!' jerit Zena dalam hati.
"Sayang banget."
"Saya benar-benar menyesal. Selamat ulang tahun untuk Nona," ucap Zena tulus.
"Terimakasih." gadis itu tersenyum polos.
Zena merapikan tasnya dan memasukan beberapa alat kue ke dalam tas besar.
"Kalau begitu saya permisi." Zena menggenggam tali tasnya dengan erat seolah jika dia longgarkan benda itu akan terlepas dari tangannya.
Zena memejamkan matanya saat langkah kakinya tiba di depan pintu menjaga gerakan agar tetap normal agar tak menimbulkan kecurigaan. Lalu langkahnya dua kali lebih cepat untuk mencapai mobilnya.
Zena memasukan tasnya ke kursi belakang lalu membuka pintu kemudi. Baru akan masuk Zena menghentikan gerakannya saat merasa punggungnya terasa dingin seolah ada yang tengah memperhatikannya. Zena menoleh dan melihat ke seluruh penjuru bangunan besar itu, hingga tatapannya terkunci pada seorang pria yang berdiri di balkon dengan menyangga tubuhnya di pagar, bibirnya menyeringai lalu dengan santai mengampit sebatang rokok menghisap asapnya lalu menghembuskannya ke udara.
Tatapan Zena berubah penuh kebencian, lalu dengan cepat memasuki kemudi untuk segera pergi.
Sementara Rey masih menatap kepergian Zena dengan wajah tenang, bibirnya tak berhenti tersenyum hingga mobil Zena keluar dari gerbang barulah tangannya bergerak merogoh ponsel dalam sakunya.
"Cari tahu tentang seseorang untukku."
...