Pagi hari toko kue Zena sudah beroperasi aroma kue dan roti mulai tercium di dapur. Tangan Zena mulai sibuk memasukan lalu mengeluarkan kue dari panggangan.
"Pagi Bu Zena." Zena menoleh dan melihat Moli memasuki dapur diikuti Hasan.
"Pagi, Moli, Hasan. Kalian udah datang?"
"Udah, maaf Bu kami telat." Melihat banyak kue yang sudah matang entah dari jam berapa Zena mulai bekerja.
"Enggak kok, kalian tepat waktu. Tolong kemas rotinya, lalu simpan di etalase." Zena meletakan roti yang baru matang di atas meja untuk di dinginkan sebelum di kemas dalam plastik agar kedap udara.
"Karena pesanan hari ini sudah selesai. Kamu gak terlalu sibuk. Nanti waktu orangnya datang kamu cuma perlu perhatikan apa pesanannya sesuai." Zena menunjuk kue dalam showcase yang sudah selesai dia hias semalam.
"Baik, Bu."
"Hasan, kamu antar dulu pesanan cod terus bantu Moli di toko. Aku usahakan pulang sebelum sore. Semoga yang punya hajatan gak minta yang aneh- aneh."
"Baik, Bu." Zena menoleh pada kue yang harus dia bawa ke tempat acara dan rencananya akan dia hias disana. Kue yang akan dia buat cukup besar dan membutuhkan banyak kue dan krim, lalu sekarang dia hanya mampu menghela nafasnya saat dia benar-benar membutuhkan tenaga tambahan.
"Hasan, kamu bisa cari temen kamu yang butuh kerja?"
"Sekarang, Bu?"
"Iya, seengaknya empat atau lima orang. Atau Moli juga boleh cari temennya. Asalkan orangnya ulet sama jujur."
"Baik, Bu. Nanti kita tanya temen kita."
"Kalau bisa secepatnya, ya. Kita lagi butuh sekali soalnya." keduanya mengangguk.
"Kalau gitu Hasan tolong bawa dulu kue- kue ini ke mobil. Aku berangkat sekarang."
Zena melepas apronnya, lalu bergegas setelah mengambil tasnya.
....
Zena turun dari mobilnya saat tiba di lokasi. Katanya yang ulang tahun adalah gadis remaja usia 17 tahun yang akan diadakan malam ini.
Di depan Zena nampak rumah besar dengan pagar tinggi. Kaki berbalut high heels Zena melangkah ke arah pagar dan langsung bisa melihat seorang satpam berdiri di baliknya.
"Permisi, Pak. Saya dari Betari Cake membawa kue pesana Ibu Sandra."
"Oh, baik. Saya konfirmasi dulu." Zena mengangguk lalu menunggu beberapa saat sebelum pintu benar-benar terbuka.
Zena menatap tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Rumah besar dan megah nampak di depannya. Melihat rumahnya saja sudah megah Zena yakin orang ini sangat kaya. Kenapa orang sekaya ini memesan kue dari toko yang terbilang kecil seperti miliknya? Padahal mereka bisa dengan mudah memesan kue dari toko kue besar dan ternama.
"Bu Zena?" Zena menoleh lalu mengangguk saat menemukan seorang berseragam hitam di depannya, "Perkenalkan saya Nina kepala pelayan disini." Wanita itu mengulurkan tangannya yang seketika di sambut oleh Zena.
"Saya, Zena."
"Mari ikut saya." Zena mengangguk dan mengikuti langkah pelayan tersebut.
Zena semakin terperangah melihat isi di dalamnya yang jauh lebih mewah lagi. Belum lagi hiasan indah yang tertata karena memang akan diadakan pesta. "Semua orang sedang bersiap untuk pesta nanti malam. Jadi tidak ada orang selain pelayan. Bu Sandra ingin Ibu meletakkan kuenya di sana." Pelayan itu menunjuk meja besar yang sepertinya memang tersedia untuk kuenya.
"Baik."
"Kalau Ibu butuh bantuan bilang saja. Ada banyak pelayan yang bisa membantu." Zena tersenyum lega.
"Saya gak akan sungkan. Saya memang butuh bantuan."
Zena mulai bekerja dan menyusun kue yang akan dia buat empat tingkat dengan susunan pertama yang paling besar. Tinggi kue 20 cm dengan kaki di masing-masing tingkatkan sepanjang 30 cm, membuat tinggi kue mencapai 2 meter di atas meja. Zena menghela nafasnya sesaat setelah memakai apron lalu menggelung rambutnya tinggi agar tak menghalangi pekerjaannya.
Zena mulai menyusun kue, lalu mengoleskan krim untuk mulai menghias. Hingga di tingkatan terakhir Zena harus menaiki kursi agar bisa mencapainya. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi membuat Zena harus bisa menyesuaikan tingginya dengan kue di depannya.
.....
Sebuah mobil memasuki pelataran rumah besar, yang saat dia masuk para penjaga sama sekali tak menghalanginya menandakan jika orang di dalamnya adalah pemilik rumah tersebut.
Saat pintu mobil terbuka menampilkan sepatu pantofel yang mengkilat, yang spontan di sambut oleh kepala pelayan.
"Selamat siang, Pak." sapa kepala pelayan dengan hormat.
"Ada keributan apa sekarang?" Pria tinggi tegap menatap sekelilingnya yang tak biasa. Seluruh pelayan sibuk bekerja dan mondar-mandir kesana kemari.
"Ulang tahun Non Silva, Pak."
Pria itu mencebik. "Ck, aku pulang di saat yang tak tepat," ucapnya seraya melangkah menaiki teras.
Ponsel di saku jasnya berdering pelan membuanya menghentikan langkahnya sesaat untuk menerima panggilan dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Apa?" Seolah malas basa- basi pria itu segera menanyakan inti dari pembicaraan.
"Aku dengar kamu sudah pulang?"
"Aku baru menginjak teras," ucapnya dengan melanjutkan langkahnya.
"Baguslah, jangan pergi sebelum pesta adikmu selesai."
Pria itu tak menjawab dan hanya menatap sekitarnya hingga dia melihat seorang wanita tengah menghias kue dengan menaiki kursi.
"Kamu dengar aku?" suara di seberang sana kembali terdengar.
"Aku tidak tuli."
"Kamu—" Dengan acuh pria itu mematikan teleponnya, dan memfokuskan tatapannya.
"Siapa dia?" tanyanya pada kepala pelayan.
Nina melihat ke arah tatapan Tuannya. "Beliau Bu Zena dari toko kue yang Non Silva pesan, Pak." Mata pria itu menyipit, lalu dengan langkah tenangnya mulai mendekat. Matanya tak lepas dari wanita yang masih fokus itu, dia tak melihat wajahnya hanya punggung kecil dan rambut yang dia gulung ke atas menampilkan tengkuk dan rambut halus di bawah gelungannya. Namun entah mengapa melihat posturnya seolah menariknya untuk mendekat.
"Siapa tadi namanya?" tanyanya memastikan.
"Bu Zena, Pak." Pria itu menyeringai lalu melangkah semakin dekat.
Zena menyelesaikan hiasan paling atas dengan menghela nafasnya. Akhirnya kuenya selesai.
Detail kue yang sedikit rumit membuat Zena melakukannya lebih hati- hati. Apalagi pelanggan kali ini adalah orang kaya, jika dia berhasil membuat mereka terkesan, maka nama tokonya bisa sekaligus ikut di rekomendasikan di kalangan atas.
Meski dia sedikit tak percaya diri, tapi membayangkan hasilnya Zena kembali bersemangat. Zena hendak turun dari kursi untuk memastikan semua detailnya selesai. Namun saat ini dia merasakan kursi yang dia injak bergoyang.
Mata Zena terbelalak saat merasa dia benar-benar akan jatuh. Matilah kalau dia jatuh menimpa kue yang susah payah dia hias.
Jadi di detik-detik terakhir Zena menendang kursi ke kiri dengan kakinya agar dia tak terjatuh tepat di atas kue.
"Akh!"
Zena memejam merasakan tubuhnya terhempas.
Brugh!
Zena tertegun saat merasakan tubuhnya di peluk seseorang, lalu melihat ke belakang saat dia benar-benar tak jadi terjerembab di lantai.
"Oh Astaga." Zena menghela nafasnya lega.
Namun helaan nafas yang lega itu tak berselang lama saat dia merasa pinggangnya masih di pegang seseorang.
Zena menoleh untuk melihat siapa yang baru saja menyelamatkannya, hingga matanya terbelalak saat melihat siapa pria yang kini menatap dengan menyeringai.
"Hallo, Babe?"