Mulai Dari Awal

1277 Words
Zena memasuki rumah dengan langkah gontai. Rumah kecil yang sudah usang itu terasa gelap sebab tak ada satu orang pun di dalamnya. Satu-satunya orang yang tinggal menemaninya mungkin kini tengah berjudi bersama teman-temannya, seperti kebiasaannya. Zena menatap sekelilingnya lalu mengernyit saat melihat kamarnya berantakan. Suara pintu terbuka dari luar membuat Zena menoleh. "Zena, kamu sudah pulang?" Joko, Bapak kandung Zena muncul dengan tubuh sempoyongan, sebelah tangannya memegang botol minuman yang tersisa setengah, sementara tangan yang lain mengampit rokok yang dia letakan di bibirnya. Dengan mata yang nampak setengah sadar pria itu menghampiri Zena. "Bapak yang ngacak-ngacak kamar aku?" Zena menunjuk pakaian yang berserakan juga lemari yang terbuka. "Abis, kamu kalau nyimpen duit suka di tempat tertutup, jadi Bapak cari." Zena melipat bibirnya. Air matanya kembali berderai. Bukan hanya nasib percintaannya yang tragis. Hidupnya bahkan sudah tragis jauh sebelum Rey memperkenalkan rasa sakit yang tak bisa terobati. Mengingat Rey, Zena membatin, dia tak akan memaafkan pria itu karena luka yang dia goreskan terlalu dalam. "Mana duitnya, kasih ke Bapak." Joko mengulurkan tangannya. "Aku gak punya." Zena berbalik memasuki kamar untuk merapikan pakaian yang di buat berantakan oleh bapaknya. "Kamu bohong! Kamu bohong sama Bapak?!" Zena meremas baju yang baru dia pungut. "Aku gak bohong, aku gak punya tabungan lagi." Karena uang yang dia tabung habis untuk membeli beberapa baju dan alat make up demi memantaskan diri dengan Rey yang nyatanya hanya mempermainkannya. "Sial! Terus gimana Bapak bisa beli minum, hah?!" Lagi, teriakan terdengar, namun Zena hanya acuh saja. Melihat Zena nampak acuh bapaknya mulai terbakar emosi. Melemparkan batang rokonya yang masih menyala ke lantai dimana masih ada baju Zena yang dia buat berantakan demi mencari uang yang Zena sembunyikan. "Kamu denger gak, Bapak ngomong?" Tubuh Zena tertarik hingga terduduk di lantai. "Mana duitnya?!" Zena menatap tajam, melawan rasa takutnya. "Gak ada, udah aku bilang, aku gak punya uang!" "Sial, beraninya kamu menatapku seperti itu, hah!" Joko menoyor kepala Zena hingga tertoleh ke samping. "Tidak tahu diri, gadis sialan!" Beralih pada rambut Zena yang dia genggam, lalu menarik Zena dan menghentakkan kepalanya di tembok. Zena berontak dan berusaha melepaskan tangan bapak badjingannya, kepalanya terasa berdenyut dengan dahi yang mulai mengucurkan darah. "Lepas, sakit, Pak!" Tidak puas dengan apa yang dia lakukan Joko mengambil sebuah cambuk lalu kembali menghantamkannya pada Zena membuat Zena menjerit kesakitan. Di tengah aksinya Joko tak menyadari puntung rokok yang dia buang membuat baju Zena terbakar. Percikan api itu semakin membesar merambat pada gorden dan melahap sebagian kamar Zena. Joko yang terus memukuli Zena tak menyadari sebab dia pun setengah sadar karena mabuk. Namun Zena melihat api mulai membakar kamarnya. Pandangannya menjadi gelap dan dingin saat siksaan tubuhnya tak juga berhenti membuatnya serasa ingin mati. Zena bangkit dan menahan cambuk bapaknya, tangannya merebut botol minuman di tangan bapaknya lalu menyiramkannya di wajah bapaknya hingga membasahi pakaiannya. "Bapak gak tahu belas kasih," desisnya dengan melempar botol tersebut ke arah api yang semakin membesar. "Bapak jahat!" jerit Zena, lalu mendorong bapaknya pada korbanan api yang mulai merambat ke kasur sebab cairan minuman yang dia lempar. Zena menangis histeris, dan menjerit. Kedua tangannya bergetar apalagi melihat api yang melahap bapaknya yang bergerak tak karuan sebab pakaiannya mulai terbakar. "Anak sial!" teriak Joko dengan berusaha mematikan api di tubuhnya, sementara Zena merangkak di sisa kesakitannya, keluar dari rumah kecilnya yang semakin terbakar menyisakan bapaknya di dalam sana. Zena memeluk lututnya saat berhasil keluar masih dengan menangis. Hingga orang-orang mulai berteriak panik dan berusaha mematikan api. ..... 4 tahun kemudian.... Seorang wanita berjalan di trotoar. Ujung dressnya berkibar saat diterpa angin, rambutnya yang di gerai ikut terbawa berlawanan dengan langkahnya. Tangannya yang di penuhi kotak sedikit kerepotan namun tak membuatnya kesal dan menghilangkan senyumnya. Matanya yang memakai lensa kontak berwarna hazel menyipit saking lebarnya senyuman saat menyapa orang di sekitarnya. Hingga dia memasuki sebuah toko kue tempatnya mencari nafkah. "Bu Zena pesanan hari ini udah semua ya, tinggal di hias." "Oke, Moli, makasih untuk hari ini." "Bu Zena yakin gak perlu bantuan kita?" Zena menatap Moli dan Hasan karyawan Zena yang bertahan setelah beberapa orang lain memilih mengundurkan diri, meski toko mereka terkadang sepi orderan bahkan hampir bangkrut. Namun akhir- akhir ini setelah Zena mempromosikan kue mereka di media sosial toko kuenya berangsur membaik dengan beberapa orderan yang selalu datang setiap harinya. Zena menggeleng. "Gak usah, kalian boleh pulang." Zena meletakan kotak di tangannya di atas meja. "Ya sudah Ibu juga jangan kelamaan kerjanya, biar ini kita selesaikan besok." ucap Moli lagi. "Kayaknya Ibu harus rekrut pegawai baru deh. Kalau gini kita kewalahan." timpal Hasan. Zena mengangguk. "Sepertinya iya." Dia hanya takut sebab belum tentu pesanan selalu datang atau pelanggan akan terus ramai. Dia masih harus mempertimbangkan keuangannya juga agar bisa merekrut pegawai baru. "Jangan lupa besok datang pagi- pagi aku harus antar kue ulang tahun pesanan soalnya." "Siap Bu. Ya udah Bu, kita pulang duluan." Zena mengangguk dan membiarkan dua karyawannya pulang. Melihat sekitarnya dengan menghela nafasnya, Zena mulai bergerak menggelung tinggi rambutnya, lalu menyingsing sedikit lengannya dan memasukan sarung tangan untuk mulai menghias kue- kue pesanan yang sudah dingin. Kue yang dia hias akan di antar besok pagi oleh Hasan, hingga Zena harus segera menyelesaikannya. Total ada sepuluh kue yang harus dia selesaikan malam ini. Jadi Zena fokus berkutat dengan krim membuat satu persatu hiasan yang diinginkan pembeli. Toko kue Zena menyediakan berbagai macam kue, roti, bahkan kue tart ulangtahun dan pernikahan. Cerita panjang hingga Zena bisa berdiri sebagai pemilik toko kue kecilnya yang selama dua tahun ini dia pertahankan. Perjalanan hidupnya tak mudah, hingga bisa berada di posisinya sekarang. Jika dia menceritakan semuanya mungkin beberapa bab akan habis untuk kisahnya 4 tahun ini. Mimpi yang awalnya dia pupuk mulai dari menjadi mahasiswi terbaik, lalu bekerja dengan gaji yang besar karena membawa nama universitas ternama harus gagal di detik-detik terakhir hanya karena sebuah Nama, dan memilih opsi lain untuk tetap bertahan hidup. Setelah kebakaran yang melahap rumah beserta bapaknya Zena tak memiliki rumah dan kehilangan segalanya. Tapi sisi baiknya dia tak lagi menerima siksaan dari bapaknya. Polisi datang dan memintainya keterangan, namun saat tahu apa yang dia lakukan hanya membela diri Zena tak di kenai hukuman. Terlebih kesaksian warga sekitar yang membuat polisi semakin yakin membebaskannya. Tentu saja kejahatan bapaknya yang sering menyiksanya seringkali membuat tetangga kesal karena merasa kasihan. Tapi mereka tak berani melawan sebab Joko orang jahat yang akan melawan siapa saja yang membela Zena. Jadi saat Joko mati terbakar, mereka membela Zena karena melakukan hal benar. Zena di bebaskan namun saat itu dunia terasa berbeda, kuliahnya terhenti sebab dia menjadi bahan cemoohan dan Zena tak lagi sanggup bertahan, hingga mimpinya benar-benar terhenti dan Zena memilih pergi jauh dari kota itu. Beruntung Dia memiliki bakat lain yang bisa dia andalkan. Membuat kue. Dia yang dulu juga bekerja di sebuah toko kue di sela- sela kesibukan kuliahnya hingga dia bisa membuatnya sendiri dan terus mengasah kemampuannya. Awalnya Zena membuatnya lalu menjualnya ke warung- warung, dan itu cukup untuk setidaknya dia bertahan hidup. Di tengah rasa keputusasaan Zena terus mencoba bangkit. Keberuntungan lainnya adalah saat dia bertemu kembali dengan pemilik toko kue sebelumnya, Retno. Wanita tua itu menawarkannya untuk kembali bekerja di tokonya. Namun Zena tak ingin kembali ke kota itu sebab bagaimana pun terlalu banyak kenangan buruk disana. Hingga suatu hari seorang pria datang dan mengatakan Bu Retno telah meninggal dan menyerahkan kepemilikan toko kue padanya sebab anaknya tak memiliki keinginan untuk melanjutkan usahanya. Zena awalnya ragu, dan beberapa kali dia berpikir sebab sangat mungkin jika dia kembali kesana dia akan kembali bertemu dengan Rey. Namun saat dia teringat jika Rey hanya menjadikannya mainan, bahkan meski mereka bertemu maka itu tidaklah penting untuknya. Jadi dua tahun lalu Zena kembali dan memulai bisnis yang memang hampir bangkrut ini. ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD