Zena terdiam saat di depannya terpajang gaun pengantin indah. Gaun yang dominan warna putih itu membuatnya pusing. Setelah hal gila yang mereka lakukan di dalam bathub Rey mengajaknya ke sebuah butik gaun pengantin. Andai ini ada dalam kondisi normal seperti impiannya, pastilah Zena akan dengan senang hati memilih dengan hati antusias. Tapi, saat ini di sebelahnya Rey duduk dengan santai dengan ponsel di tangannya. Tak membiarkan fokusnya beralih, Rey hanya menatapnya sementara jarinya sibuk mengetik seolah telah terlatih tanpa takut akan ada kesalahan. Ini mimpi buruk. Pria itu berkata mereka akan menikah, dan Zena tak ingin seumur hidupnya terjebak dengan pria jahat ini. Zena membasahi bibirnya. Entah pemikiran dari mana hingga pria itu memutuskan menikah. Dia pikir pernikahan a

