Apa Mimpi Ini Pertanda Dari Emily?

1648 Words
Burung berkicauan dan angin pagi berhembus kencang membuat Abigail menggemeretakkan gigi karena dingin. Aaron benar- benar ingin melepas jaketnya untuk Abigail namun ia ingat jika ia sedang tidak membawa jaket sekarang “Kita harus cepat Emily, sebelum orang- orang bangun.” Aaron menarik tangan Abigail agar berjalan lebih cepat untuk kembali ke dalam Mansion Sayangnya semua anggota keluarga Anderson sudah bangun saat Aaron dan Abigail kembali. Bahkan para pelayan sudah sibuk menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah Barbara yang tengah membaca majalah di atas sofa memandang dengan tidak suka ke arah Abigail yang berjalan di depannya tanpa membungkuk memberi hormat “HEI! Kenapa tidak memberi hormat saat lewat di depanku?” tegurnya Perkataan itu sentak menghentikan langkah Abigail. Gadis itu menyeringai dan berbalik memandang Barbara. “Memangnya siapa kau?” “Aku kepala rumah tangga di Mansion ini. Kau lupa ingatan?” jawab Barbara dengan marah karena sikap kurang ajar Abigail “Peduli set*n! Kepala rumah tangga atau apapun itu aku tidak peduli!!” jawabnya dengan tatapan mengejek Abigail kembali melangkah pergi menuju ke kamarnya tanpa mempedulikan tatapan tajam Barbara padanya. Letichia yang baru keluar dari kamarnya memandang Abigail dengan rambut berantakannya. “Hei, dari mana kalian sepagi ini?” tanyanya “BEROLAHRAGA!” jawab Aaron cepat sembari mencoba menutupi kepanikan di wajahnya. Kedua kakak perempuannya itu pasti akan memarahinya jika tau apa yang ia lakukan semalam. Sungguh, itu menyalahi tradisi di rumah ini. Aaron membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju ke kamarnya BRAK! Ia menutup pintu kamar dengan tergesa membuat Letichia dan Barbara terlonjak kaget. Kedua orang itu memandang adik lelaki mereka dengan bingung. “Dia kenapa sih?” tanya mereka keheranan “Entahlah! Aaron kan memang aneh. Persis seperti kalian,” jawab Abigail sembari mengangkat kedua bahunya. Aaron kembali memeluk Abigail dengan erat sesaat setelah gadis itu memasuki kamar. Dan akhirnya mereka kembali bermain di dalam kamar mandi Aaron yang sangat luas itu. Lenguhan dan jeritan manja lelaki itu memenuhi ruangan hingga membuat Abigail harus beberapa kali memarahi Aaron karena berteriak terlalu kencang. “Diam Aaron! Atau ku gantung kau di langit- langit ruangan!” “Aku akan diam Emily. Jangan gantung aku. nanti kalau aku jatuh bagaimana?” jawab Aaron memelas *** Setelah menyelesaikan mandi paginya yang cukup lama, Aaron sekarang bersiap memakai blazer hitamnya. Sedang Abigail tengah bergelantungan di atas sofa. Kepalanya tergantung ke bawah membuat rambut panjangnya terjuntai ke lantai. Kakinya yang sudah memakai high heels berwarna merah terang tegak keatas menampilkan kakinya yang ramping dan sexy Dress sexynya tersingkap sampai ke pangkal paha membuat darah mengalir cepat ke ujung kepala Aaron saat ia tak sengaja melihat pemandangan indah itu “Duduk dengan benar Emily! Kau membuatku tidak ingin berangkat ke Inggris,” tegur Aaron yang tanpa sadar melonggarkan ikatan dasinya. Hari ini Aaron harus berangkat ke Inggris untuk urusan bisnis dan dia harus berada disana selama lima hari. Sungguh menyiksa untuknya yang tengah di mabuk asmara. “Cih!” decak Abigail tak mengindahkan perkataan Aaron “Beri aku uang dong. Aku harus pergi berbelanja.” Abigail beranjak dan melingkarkan tangannya ke tubuh berotot Aaron. Sesekali ia meremas p****t sintal lelaki itu dengan kedua tangannya. Hal itu membuat Aaron memijat kepalanya mencoba mempertahankan kewarasannya. Dia benar- benar harus pergi ke Inggris atau proyek bernilai milyaran dollarnya akan gagal “Ya. Kita akan berbelanja setelah aku pulang,” jawab Aaron sembari mengecup lembut kening Abigail “Hari ini! Aku mau berbelanja hari ini. Aku sudah tiga hari tidak berbelanja Aaron. Aku bisa mati karena bosan!” Abigail memalingkan mukanya kesal. “Berhenti mengurungku di Mansion sialan ini Aaron!” keluhnya lagi Aaron memandang tajam gadis dalam pelukannya. Dan Alisnya bertaut kesal, “Jangan mati. Aku bisa ikut mati kalau kau mati,” jawab lelaki itu sembari mengecup pipi Abigail. “Ya, kau bisa berbelanja sepuasmu hari ini,” tambahnya Perkataan Aaron mengingatkannya pada Jeff. Kekasihnya itu juga sangat tidak suka saat Abigail berkata akan kematian. Gadis itu memiringkan kepalanya dan berfikir. ‘Apa Aaron benar- benar sudah jatuh cinta padaku? Aku harus mencari waktu yang tepat untuk mematahkan hatinya,’ Sebelum berangkat ke bandara, Aaron memberikan salah satu Black Card miliknya untuk Abigail. Lelaki itu memeluk istrinya dengan erat seolah mereka tidak akan bertemu kembali. “Beli apapun yang kau mau. Tas, sepatu, berlian atau apapun itu. Beli saja semuanya,” ucap Aaron sembari melumat bibir sexy Abigail Aaron dengan berat hati masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya pada gadis yang membuatnya tergila- gila itu. “Bye Emy... Tunggu aku kembali,” “Ya pergi sana. Tidak usah kembali kalau bisa. Semoga pesawat yang kamu tumpangi meledak di jalan,” gumamnya lirih sembari melambaikan tangannya dengan senyuman semanis madu Perlahan mobil Aaron meninggalkan halaman dan pergi, membuat Abigail bisa bernafas lega. Setidaknya ia bisa lepas dari lelaki itu selama lima hari kedepan. Sungguh menyenangkan! . Ia segera kembali ke dalam kamarnya. Dan hal pertama yang ia lakukan adalah memakai lulur untuk mengembalikan kesehatan kulitnya. Ia menyetel alarm selama tiga puluh menit. Setelah itu ia akan berendam di air s**u yang telah di siapkan oleh Evelin. Lalu malam harinya ia akan meminum wine sampai mabuk dan tertidur di lantai. Itulah rencananya. Sayangnya, saat sedang melumuri wajah dan tubuhnya dengan lulur herbal. Tiba- tiba ke lima kakak perempuan Aaron masuk ke dalam kamarnya. Secara tiba- tiba, kelima orang itu mengajaknya berpiknik di samping danau di halaman kastil yang terbengkalai. “Bagaimana? Kau mau ikut kan?” tanya Barbara dengan suara sangat lembut. Sungguh jauh berbeda dengan suara saat memarahinya tadi pagi Jennifer yang kemarin menamparnya turut duduk disampingnya bahkan membantu Abigail memakai lulur. “Iya Emily. Ini untuk memperbaiki hubungan kita. Kau mau ikut kan? Petang ini, pukul lima sore,” Letichia turut mengangguk. “YA! Kita akan berangkat kesana bersama. Menggunakan mobilku,” serunya sembari memijat kaki Abigail Sedang Camilla dan Chealse hanya diam tak mengatakan apapun. Namun mereka terlihat mencoba tersenyum sebisa mungkin. Abigail menaikkan alisnya dan menggeleng. “Tidak! Aku sedang tidak ingin berpiknik sekarang,” jawabnya dengan tidak berselera tanpa menatap wajah kelima gadis itu. “Kalian pikir aku tidak tau apa rencana kalian sebenarnya?” gumam Abigail lirih “Ta- tapi danau di sana sangat cantik. Kau pasti menyukainya,” rayu Barbara “Tidak mau bodoh! Apa kau tuli? Pergi dari kamarku! atau kupotong lehermu!” gertaknya sembari mengarahkan pisau yang ia gunakan untuk memotong apel ke leher Barbara Gadis itu tersentak kebelakang karena kaget dan akhirnya ia beranjak keluar kamar di ikuti oleh ke- empat saudara perempuannya. Setelah kepergian lima serangga itu, Abigail meneruskan ritualnya untuk memanjakan diri. Ia bahkan menghabiskan sebotol wine dalam sekejab dan langsung berendam ke dalam air s**u di bathup kamar mandi lalu tertidur. Di dalam tidurnya itu ia bermimpi bertemu dengan Emily. Abigail mengejar Emily yang tengah berlari dengan tergesa. Adiknya itu terlihat sangat ketakutan. Namun tiba- tiba ada lima orang berjubah hitam yang datang untuk mengejar Emily lalu menyeret adiknya itu ke dalam sebuah ruangan gelap tanpa adanya cahaya sedikitpun. Disana, ke lima orang itu memukuli dan menginjak- injak Emily secara bergantian. Satu orang menghampiri Emily dan menjejalkan secangkir minuman di gelas perak ke dalam mulut adiknya itu. sedang empat lainnya memegangi tangan dan kaki Emily agar tidak bisa memberontak Setelah Emily tidak sadarkan diri, kelima orang itu kembali menyeret tubuh adiknya yang sudah penuh dengan luka ke tengah ruangan. Mereka menempatkan Emily di atas sebuah lambang pentagram lalu mulai meremas- remas perut buncit gadis itu. Abigail mencoba menolong Emily namun tangannya tak bisa meraih tubuh saudara yang sangat ia kasihi itu. Lalu seseorang tiba- tiba masuk ke dalam ruangan membuat kelima orang yang tengah menyiksa Emily itu terperanjat. Mereka menoleh hampir bersamaan ke orang yang berdiri terpaku di ambang pintu. Sama gelapnya. Abigail juga tidak bisa melihat wajah orang itu. tapi ia yakin jika seseorang di sana adalah seorang pria. Perlahan kelima orang itu menghampiri pria di ambang pintu dan membuka jubah mereka. Abigail memusatkan matanya untuk melihat wajah kelima orang itu di dalam kegelapan. “Hampir. Aku hampir melihat wajah mereka,” gumam Abigail dalam tidurnya Namun tiba- tiba ada yang menarik dan membangunkan Abigail tepat saat jubah kelima orang itu terbuka. Abigail terbangun dan luar biasa marah. “Sial! b******k! Kenapa kau membangunkanku bodoh?” gertaknya pada Letichia yang menariknya dari dalam bathup. Terlihat raut ketakutan dalam diri gadis itu saat melihat kemarahan yang teramat sangat di wajah Abigail. “Aa- aku... Aku di suruh membangunkanmu. Barbara dan yang lain sudah menunggu di ruang depan. Apa kau benar- benar tidak mau ikut?,” tanyanya sekali lagi “TIDAK! Apa kau tuli?” gertak Abigail sangat marah “Baiklah kalau begitu!” jawabnya tergesa sembari berjalan cepat meninggalkan kamar Abigail. “Kenapa dia sangat menyeramkan saat marah? Membuatku takut saja,” Abigail menyaut handuk di samping bathup dan memakainya. Dia sangat kesal sampai ingin memakan orang rasanya. Tenggorokannya tercekat, seolah ada batu besar yang mengganjal di sana. Dengan marah ia membanting Guci di samping meja rias membuat kelima kakak perempuan Aaron yang menunggu di depan pintu kamar Abigail terperanjat. Akhirnya Mereka bergegas pergi dari sana. Abigail memukul- mukul kepalanya untuk mengingat setiap detail dari mimpinya dan menuliskannya ke dalam sebuah buku catatan kecil. Matanya membesar saat mengingat detik- detik sebelum dirinya terbangun. Satu wanita yang menjejalkan minuman ke dalam mulut Emily. Abigail seolah melihat sesuatu di pergelangan tangannya. Seperti sebuah tatto. “Apa Ini adalah tanda dari Emily agar aku bisa menemukan pembunuhnya?!,” Karena orang dalam mimpinya berjumlah lima orang. Maka Abigail langsung mencurigai ke lima kakak perempuan Aaron. Ia akhirnya bergegas memakai pakaiannya dan mengambil keranjang pikniknya lalu berlari keluar kamar. “Aku ikut!” teriak Abigail membuat Barbara langsung menghentikan mobilnya Terlihat guratan senyuman menghiasi wajah cantik gadis itu. “Ku kira kau benar- benar tidak mau ikut. Syukurlah,” ucap Barbara dengan lega Tanpa mengatakan apapun Abigail langsung masuk ke dalam mobil. Dia harus mencari tau sendiri akan kecurigaannya tanpa tau bahaya yang tengah menunggunya di depan sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD