Kastil Terkutuk !

1892 Words
Di dalam mobil, Abigail hanya diam tak mengatakan sepatah katapun. Dia sibuk memikirkan cara untuk menyelamatkan diri dari kondisi ini. “Seperti dengan sengaja memasukkan diri ke kandang singa. Tapi aku harus melakukan ini,” ucapnya dalam hati Setelah tiga puluh menit perjalanan. Sampailah mereka kehalaman depan Kastil yang terbengkalai. Bangunan itu sangat megah dan di bangun di atas tanah yang sangat luas. Konon, seorang saudagar kaya di abad pertengahan sengaja membangun Kastil ini untuk istri mudanya yang sangat ia cintai. Namun lelaki itu membunuh istrinya sepulang dari berburu karena memergoki sang istri tengah tidur dengan seorang penjaga kuda Di artikel yang dibaca Abigail, saudagar kaya itu memenggal kepala istrinya dan membuangnya ke danau yang terletak di samping kastil. lalu menggantung tubuh istrinya di atas pohon hingga membusuk dan di makan burung gagak. Semenjak kejadian itu, si saudagar kaya menjadi gila. Konon karena di hantui arwah mendiang istrinya. Dan satu minggu kemudian lelaki itu di temukan meninggal dengan mata melotot. Terdapat bekas cekikan di lehernya. Mulai saat itulah, Kastil ini dikenal sebagai ‘Kastil Terkutuk’. ‘Semoga saja itu hanya cerita karangan yang ditulis oleh seorang penulis bodoh,’ gumam Abigail saat semilir angin berhembus menyambut kedatangannya membuat bulu romanya berdiri. Anehnya Barbara memiliki kunci pagar Kastil itu sehingga mereka bisa masuk dengan mudah. Sesungguhnya Abigail masih bisa merasakan kemegahan Kastil yang menjulang tinggi ke angkasa itu. Bangunan yang kokoh dengan pilar- pilar besar sebagai penyangga. Ia bisa membayangkan betapa indahnya Kastil itu di masa lalu. Perlahan ia duduk di bawah pohon beringin besar tempat saudagar kaya itu menggantung tubuh istrinya dan menaruh keranjang pikniknya di sana. Tempat yang sangat pas! Sedang kelima kakak perempuan Aaron tengah sibuk menggelar tikar piknik dan menata makanan serta payung- payung berenda mereka agar tampak aesthetik. Mereka sengaja duduk di samping danau agar bisa melihat matahari terbenam dengan jelas. Tak jauh dari tempat Abigail berada. “Emily!” panggil Barbara sembari melambaikan tangannya Gaun berenda gadis itu beterbangan terkena angin. Rambut panjangnya tergerai indah “Andai kelakuannya secantik wajahnya,” gumam Abigail sembari berlari ketempat Barbara. Namun Ia tak membawa keranjang pikniknya dan meninggalkannya di bawah pohon. Mereka memulai piknik dengan meminum secangkir teh berhias bunga mawar kecil di dalamnya. Sungguh anggun dan berkelas. Setelah acara minum teh, di lanjutkan dengan menyantap sepotong kue dengan selai strawberri yang sangat manis. Sungguh bukan selera Abigail Semua berjalan normal seperti acara piknik pada umumnya. Mereka bercengkrama dan bercanda gurau seperti biasa. Namun semua berubah tepat saat matahari tenggelam. Barbara tiba- tiba beranjak dari duduknya dan mengajak bermain petak umpet di dalam kastil. Anehnya semua orang setuju kecuali Abigail. seolah ini sudah di rencanakan sebelumnya Sebenarnya gadis itu takut. ‘Bagaimana jika nanti ia bertemu dengan hantu wanita tanpa kepala di dalam sana? Pasti sangat menakutkan!’ Namun desakan dari kelima kakak perempuan Aaron membuat Abigail tak memiliki pilihan lain selain menyetujuinya. “Kau yang berjaga Emily. Karena kau yang paling muda di sini,” ucap Chealsea dengan ketus. Entah kenapa gadis itu terlihat sangat membencinya. “Sial! Bagaimana jika hantu wanita tanpa kepala itu ikut berhitung saat aku menutup mataku?” ucap Abigail dalam hati. Namun ia mengangguk. “Ya. Aku akan berhitung,” jawabnya seolah tak peduli Kelima kakak perempuan Aaron senang bukan main saat mendengar persetujuan Abigail. Mereka bergegas mengambil lampu penerangan kecil di keranjang piknik mereka masing- masing. Begitu juga dengan Abigail. Ia berlari mengambil lampu penerangan kecil tanpa memindahkan atau menggeser keranjang pikniknya dari bawah pohon besar itu. “Mulailah berhitung Emily. Aku dan yang lain akan bersembunyi di dalam kastil,” ucap Jennifer dengan sangat bersemangat Perlahan Abigail menutup matanya dan mulai berhitung. Ia berdoa agar hantu wanita tanpa kepala itu tak ikut berhitung di belakangnya “Satu.… Dua... Tiga… Sepuluh…,” ucap Abigail yang dengan sengaja mempercepat hitunganya saking takutnya. “Kutangkap kalian!” teriak gadis itu sembari melangkah masuk ke dalam Kastil Abigail menyalakan lampu kecil dalam genggamannya sembari melihat ke segala arah untuk mencari kelima gadis nakal itu. Ia menelusuri setiap ruangan di lantai satu namun tak menemukan siapapun Klatak..! Terdengar seseorang melempar sebuah batu dari lantai dua. Dengan jantung yang berdegup sangat kencang Abigail mulai berjalan menaiki tangga “Semoga bukan hantu wanita tanpa kepala,” ucapnya berkali- kali sembari merapalkan doa. “Barbara! Jennifer!” teriaknya Namun ternyata lantai dua jauh lebih menakutkan di banding lantai satu. Cahaya bulan menerobos masuk melewati lubang- lubang di gorden yang terpasang di semua sisi jendela. Angin berhembus kencang membuat gorden itu beterbangan menimbulkan bayangan yang seolah bergerak kesana kemari dengan cepat. Abigail takut bukan kepalang dan memutuskan untuk kembali ke lantai satu. Namun saat ia tengah menuruni tangga tiba- tiba ada seseorang yang mencoba mendorongnya membuat Abigail langsung berpegangan pada railling tangga. Ia membalik tubuhnya perlahan dan menyinari orang itu dengan lampu kecil di tangannya. “Barbara?!” ucap Abigail yang tidak terlalu terkejut dengan hal yang di lakukan gadis itu padanya. sebenarnya ia sudah memperkirakan jika hal ini akan terjadi Tanpa mengatakan apapun, Barbara langsung menendang tubuh Abigail hingga gadis itu jatuh berguling dari tangga Terdengar suara tawa yang menggema seantero ruangan. Mereka benar- benar terlihat begitu puas melihat Abigail yang tergolek lemas di lantai dengan darah mengucur dari pelipisnya. Belum selesai sampai di situ. Kelima gadis itu berlari menuruni tangga dan menyeret tubuh Abigail keluar Kastil lalu melemparnya ke dalam danau ‘Jadi seperti ini cara gadis bangsawan bersenang- senang?’ gumam Abigail sembari menepis rasa sakit di sekujur tubuhnya Jennifer mengambil sebuah batu dan melemparnya ke dalam kolam tepat di tempat Abigail berada. “Kenapa kau mau ikut kesini Emily? Apa kau pikir kita benar- benar ingin memperbaiki hubungan denganmu?” ucapnya dengan tawa mengejek “Benar- benar bodoh!” cela Camilla sembari bersedekap dada Barbara mengambil sebilah kayu untuk memukuli Abigail yang mencoba naik ke daratan. “Pelajaran penting!. Jangan pernah mempercayai siapapun Emily. Bahkan bayanganmu sendiri akan meninggalmu di saat gelap,” ujar Barbara sembari menenggelamkan kepala Abigail ke dalam air dengan kedua tangannya Semua gadis itu kembali tertawa nyaring. Bahkan suara tawa mereka memenuhi halaman Kastil yang sunyi mengalahkan kicauan burung gagak yang beterbangan di angkasa. Tak seperti ke- empat kakaknya, tak ada senyuman di wajah Chealsea . Gadis itu malah terlihat tidak senang “Bukankah ini aneh? Kenapa dari tadi dia tidak melawan sama sekali?” tanyanya pada Barbara Namun ke empat kakaknya itu sama sekali tak mengindahkan perkataan Chealsea. Barbara bahkan mulai menendang- nendang kepala Abigail dengan kakinya. Sedang Jennifer, Camilla dan Letichia memukuli tubuh Abigail dengan sebilah kayu “Sepertinya ini sudah cukup.” Abigail meraih kaki Barbara dan menariknya ke dalam danau. Gadis itu mencengkram kuat kaki Barbara dan berenang ke tengah danau lalu menariknya hingga ke dasar. Abigail mengikat gaun berenda Barbara dengan ranting pohon besar yang ada di dalam sana membuat gadis itu tak bisa naik ke atas. Lalu perlahan Abigail berenang ke permukaan menggunakan tubuh Barbara sebagai pijakan. Ke- empat Anderson bersaudara berteriak panik melihat itu. Jennifer dan Letichia yang pandai berenang segera terjun ke danau untuk menyelamatkan Barbara yang mulai kehabisan nafas Abigail berenang ke sisi yang berlawanan dari tempat Chealsea berada dan Perlahan naik ke daratan lalu menyandarkan tubuhnya ke sebuah batu besar untuk beristirahat. Ia menyeringai melihat ketiga kakak iparnya yang kesusahan untuk naik ke daratan karena gaun besar yang mereka pakai menjadi sangat berat saat terkena air. “Tarik kita Chealsea … Camilla…,” teriak Jennifer yang hampir sampai ke tepi danau Setelah naik ke daratan dengan bersusah payah. Tanpa mempedulikan Abigail, kelima orang itu langsung masuk ke dalam mobil dan kembali ke Mansion karena Barbara sudah sangat kedinginan. Abigail hanya bisa menyeringai melihat kepergian kelima gadis itu sembari menunjukkan jari tengahnya ke mereka. Perlahan ia bangkit dan mengambil keranjang pikniknya di bawah pohon juga lampu kecilnya di dalam kastil. “Lima serangga sialan itu,” gertak Abigail dengan marah saat mendapati pintu gerbang yang terkunci rapat. Akhirnya dengan bersusah payah Abigail berhasil memanjat pagar dan keluar dari Kastil terkutuk itu. “Kau pasti mengalami kejadian yang lebih menyakitkan dari yang kualami hari ini kan?!,” gumam Abigail sembari membayangkan nasib tragis si hantu wanita tanpa kepala. Gadis itu berjalan tertatih menelusuri jalan kembali ke Mansion dengan tubuh yang basah dan kedinginan. Ia mencoba menghentikan beberapa mobil yang berlalu lalang untuk meminta tumpangan namun tak satupun dari mereka mau berhenti. Pasti karena penampilannya yang kacau. Seorang gadis berambut panjang dengan dress putih yang basah dan kotor. Sungguh pemandangan yang menakutkan. Apalagi Abigail keluar dari Kastil terkutuk itu. Orang- orang pasti mengiranya sebagai arwah penasaran si wanita tanpa kepala. Yang lebih sialnya lagi, Abigail tak bisa memesan taksi karena tak membawa uang sama sekali. Akhirnya gadis itu hanya bisa pasrah dan terus melanjutkan perjalanannya walau kakinya sudah sangat pegal. Ia memandang kemerlap lampu jalan di kota Orleans yang begitu indah di malam hari. Bruk! Kakinya tersandung sebuah batu dan ia tersungkur ke jalan. Abigail menunduk lalu tertawa dengan keras sembari meneteskan air matanya “Apa dulu kau sering mengalami ini Emily?” gumamnya sembari membayangkan tubuh adiknya yang terbujur kaku di dalam sebuah peti mati. “Maafkan kakakmu ini,” ucapnya lagi. Ia tak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri saat ingat hari- hari dimana ia mengabaikan panggilan telfon dari Emily. Pasti saat itu dia sangat menderita Gadis itu mendekap kedua kakinya dan memandang kosong ke depan. “Tunggu sampai ku balaskan dendammu pada mereka semua,” Perlahan Abigail bangkit dan melanjutkan perjalanannya yang masih sangat jauh. Tin…! Tin…! Sebuah mobil yang melaju kencang di depan Abigail tiba- tiba berhenti dan seorang pria tampan keluar dengan tergesa. “Are you okay?” James terlihat sangat cemas dan langsung memeluk lekat tubuh basah Abigail. Bahkan gadis itu sampai bisa merasakan detak jantung James yang sangat cepat. Sepertinya dia benar- benar khawatir. Dengan cepat James melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Abigail “Masuk ke dalam mobil dan Hangatkan tubuhmu di sana,” ucap James dengan tergesa Abigail menyeringai, “Semua pria memang sama saja,” ucapnya dalam hati Namun tak seperti dalam bayangannya. James menghidupkan pemanas dan memberikan secangkir kopi hangat padanya “Kukira dia akan menghangatkan tubuhku dengan cara yang lain,” gumam Abigail sembari menyeruput kopi dalam gelas Melihat tubuh penuh luka Abigail membuat James mendengus kesal. “Kenapa kau mau ikut mereka ke sini sih? Kan sudah sering ku ingatkan untuk menjauhi mereka!” ucapnya sembari memutar kemudi Abigail mengerutkan keningnya dan melirik sekilas, “Dari mana kau tau jika aku ada di sini?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari suami Chealsea yang sangat tampan itu “Aku tak sengaja mendengar omelan Barbara. Dia sangat marah karena kau menariknya ke dalam danau.” James menghentikan mobilnya lalu memandang ke luar jendela. Ia terlihat tengah mencoba meredam kemarahannya “Bagaimana jika mereka melakukan hal yang lebih parah padamu? Mereka itu mencoba membunuhmu Emily!” gertaknya lagi dengan marah sembari memukul kemudi Abigail memandang lekat dan menautkan alisnya. “Kau menghawatirkanku?” “YA!” “Kenapa menghawatirkanku?” tanya Abigail membuat alis James bertaut kebingungan. Lelaki itu mengusap bagian belakang lehernya. Persis seperti Jeff, kebanyakan pria akan melakukan itu jika akan mengatakan sebuah kebohongan. Seperti yang dilakukan James saat ini. “I- itu… itu karena aku tidak ingin Aaron khawatir,” jawabnya lirih. Perlahan ia kembali memutar kemudi dan mereka kembali ke Mansion. James terus menggigit gigit bibir bawahnya tanpa berani memandang Abigail Gadis itu menyeringai. “Jadi ini alasan kenapa Chealsea sangat membenci Emily?!,” ia terkekeh
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD