Setelah tiga puluh menit perjalanan, sampailah mereka ke Mansion Biltmore. James dengan cepat membukakan pintu untuk Abigail dan membantunya keluar
“Auch…” Abigail dengan sengaja menyandung kaki kanannya dengan kaki kirinya sendiri saat melihat Chelsea tengah mengintip kedatangannya dari balik jendela. Lalu ia melingkarkan tangannya ke lengan berotot James agar tidak jatuh
Chelsea memekik marah namun ia tidak melakukan apapun. Waktu itu juga, saat Abigail melempar tumpukan baju kotor ke wajah gadis itu saat di meja makan. Chelsea juga hanya diam tak membalas perbuatannya
“Apa karena ada James ya?” gumam Abigail lirih
“Apa?” tanya James yang tidak terlalu mendengar apa yang di katakan Abigail
Gadis itu langsung tersenyum lebar. “Tidak!. Ah, maksudku… apa kau bisa mengantarku sampai ke dalam kamar? Sepertinya kakiku kelelahan karena berjalan terlalu jauh,” kata Abigail dengan ekspresi lemah dan langsung di jawab anggukan oleh pria itu
“Ya. Aku akan mengantarmu sampai ke dalam kamar,” jawabnya
Tanpa sengaja James melihat Chelsea yang tengah berdiri terpaku di balik jendela namun dengan cepat lelaki itu membuang muka. Terlihat sorot kebencian di mata James
Chelsea bertambah murung saat melihat James tidak peduli dengan kehadirannya dan Abigail malah dengan sengaja menaikkan alisnya lalu menyeringai membuat gadis itu semakin bertambah marah. Bahkan sampai muncul taring di kepalanya
“Aku mau mandi dulu. Kau pergi saja James,” ucap Abigail sesaat setelah sampai ke dalam kamar tidurnya
“Apa kau butuh bantuanku?” ucap James seolah enggan untuk pergi dari sisi Abigail membuat gadis itu menaikkan alis padanya
“Kau mau membantuku mandi? C*bul sekali,” tanyanya sembari menyipitkan matanya
Mendengar itu membuat James menggelengkan kepala panik. “Bu- Bukan. Bukan itu maksudku. Aduh, aku kenapa sih?” katanya sembari memukul mulut dan kepalanya secara bergantian. “Aku bukan orang yang seperti itu. Aku bukan orang c*bul,” jelasnya
Abigail terkekeh melihat tingkah James membuat lelaki itu turut menertawakan dirinya sendiri.
“Kamu seperti orang idi*t,” cela Abigail sembari menyentil pelan kening pria tampan di depannya
James menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum sangat manis. “Akan kubuatkan kau teh hangat,” katanya sembari berlari kecil menuju ke dapur. Sesekali ia menoleh kebelakang untuk memastikan jika Abigail masih berdiri di ambang pintu untuk melihatnya
Abigail menaikkan bahunya dan masuk ke dalam kamar. “Ck!. Sepertinya dia sangat menyukai Emily,” gumamnya
Sedang Chelsea melihat dari balik dinding dengan sedih. “Kapan James akan tersenyum seperti itu padaku?” gumamnya sembari mengingat kali terakhirnya melihat senyuman James
Sekitar tiga tahun yang lalu. Tepat sebelum pengumuman perjodohan mereka. James yang saat itu tengah bermain basket bersama Aaron terlihat begitu bahagia. Dan Chelsea tak pernah lagi melihat senyuman itu setelahnya. Bahkan di hari pernikahan mereka pun, James sama sekali tak menunjukkan senyumnya.
“Aku membencimu Emily,” gertak Chelsea sembari masuk ke dalam kamarnya
***
Tepat di tengah malam, kelima kakak perempuan Aaron menyelinap masuk ke dalam kamar Abigail yang tidak terkunci. Barbara memimpin paling depan. Perlahan ia mengambil bantal dan membekap wajah Abigail mencoba untuk memberinya pelajaran karena telah membuatnya tenggelam sore tadi.
Sama sekali tak ada perlawanan dan Barbara menjadi sangat terkejut saat tv yang berada di samping tempat tidur tiba- tiba menyala menampilkan sebuah video yang sangat apik untuk di tonton.
Dengan resolusi kamera yang sangat bagus, Barbara bisa melihat dirinya dan ke empat saudara perempuannya tengah menyiksa dan menenggelamkan Abigail ke dalam danau. Siksaan demi siksaan yang mereka lakukan petang tadi terekam sempurna dalam video itu
Kamera kecil yang Abigail tempatkan dalam keranjang piknik di bawah pohon besar itu dapat menjangkau semua area tempat ke lima kakak perempuan Aaron menyiksanya. Begitu sempurna!
Lalu sebuah tawa melengking terdengar dari bawah bantal. Abigail beranjak dan merapikan rambutnya yang berantakan. Lalu berjalan mengitari kelima kakak beradik yang terlihat panik itu
“Kira- kira apa yang akan terjadi dengan keluarga Anderson yang terhormat ini jika video itu tersebar ke media?” bisiknya di daun telinga Barbara
‘Cuih!’ gadis itu meludahi wajah Barbara dan kembali tertawa membuat kakak tertua Aaron itu marah bukan kepalang. Tangannya sudah siap untuk menampar paras cantik Abigail namun Jennifer segera menghentikannya
“Jangan gegabah,” bisik Jennifer
Abigail kembali tertawa dan menyandarkan dirinya ke pundak Camilla. “Kemana perginya kearoganan kalian petang tadi?” tanyanya dengan tawa mengejek
Perlahan gadis itu berpindah ke Chelsea dan memberikan sebilah pisau ke dalam genggaman gadis itu. “Ah, bagaimana ini. Sepertinya James benar- benar menyukaiku?!,” bisiknya lirih
Wajah Chelsea merah padam karena marah lalu ia mengarahkan pisau dalam genggamannya ke leher Abigail. “Apa kau pikir aku tidak bisa melakukannya?” gadis itu bersiap mengiris tenggorokan Abigail namun tiba- tiba ia lemparkan pisau itu ke lantai
“Apa maumu?” tanyanya dengan ketus. Ia tidak bisa mengorbankan nama baik keluarganya hanya karena harga dirinya
Abigail terkekeh melihat kelima kakak iparnya yang terlihat kebingungan.
“Tidak bisa membunuhku ya? Aku saja yang membunuh kalian kalau begitu,” Abigail mengambil pisau itu dan mengiris lengan Letichia
‘Arghhh!’ jerit gadis itu dengan panik.
Melihat darah mengucur dari lengan Letichia membuat Barbara dan Jennifer segera menyeret ketiga adik perempuan mereka itu keluar dari kamar Abigail
“Emily benar- benar sudah gila!”
“Ini semua salah kalian!. Sudah ku bilang kan, kalau ini sangat aneh. Bagaimana mungkin Emily hanya diam saat kita menyiksanya?” gerutu Chelsea yang mulai menangis sesenggukan. “Kita jadi tidak bisa mengganggunya lagi kan,”
“Jangan saling menyalahkan. Kita kembali ke kamar dulu untuk tidur. Kita pikirkan lagi cara untuk membalasnya besok pagi,” ucap Camilla menenangkan
Akhirnya kelima kakak beradik itu kembali ke kamar masing- masing dengan hati yang kesal.
Setelah melewati hari yang terasa sangat panjang itu. Akhirnya Abigail dapat tertidur dengan tubuh yang remuk redam. Rasa sakit di sekujur tubuh Abigail membuat gadis itu menangis dalam tidurnya.
‘Selama ini kau pasti sangat menderita ya Emily. Maaf karena tidak tau!’ gumam Abigail lirih di dalam tidurnya
***
Sinar mentari menerobos masuk menyinari paras cantik Abigail yang tengah terlelap seorang diri di atas ranjang mewahnya. Pagi ini terasa begitu damai. Kelima kakak perempuan Aaron sama sekali tak mengusiknya. Abigail bahkan sama sekali belum mendengar suara mereka sedari tadi
“Langit sangat cerah. Secerah hariku yang indah ini,” gumam Abigail sembari menyantap sarapan paginya di Paviliun kecil di taman belakang. Dari sana, ia bisa menikmati indahnya hamparan bunga yang tengah bermekaran di sekelilingnya.
James dengan senyum manisnya berlari menghampiri Abigail yang tengah menikmati kesendiriannya. “Feel better?” tanya lelaki itu sembari menyipitkan matanya saat sinar mentari pagi menerobos dedauan menerpa mata birunya
“I’m Good!. By the way, kau harus berhenti menemuiku James. Lihatlah,” ucap Abigail sembari menyeringai ke arah jendela dimana Chelsea berdiri memaku menatap mereka. Persis seperti semalam! Terdapat dua taring juga di atas kepalanya.
“Apa dia menyuruhmu tidur di lantai tadi malam?” tanya Abigail dengan tawa mengejek
“Its Okay. Toh aku tidak pernah menyentuhnya selama ini. Bukan masalah yang serius,” jawab James sembari merebahkan diri ke sofa di samping Abigail. Tangannya menyaut sepotong roti dan memakannya
“Astaga… Whatttttt?” Abigail beranjak dari duduknya membuat James menaikkan alis padanya. “Kenapa?” tanyanya
Abigail benar- benar ingin berteriak sekencang mungkin. “Apa maksudmu dengan ‘Kenapa?’. Maksudku ‘Are You Still Virgin?’ Atau kau bermain dengan wanita lain?” tanya Abigail dengan tidak sabar
Dengan ragu lelaki itu menjawab. “I’m Virgin!”
“HAH???!” gadis itu ternganga dan mulai menatap lekat tubuh James dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Tidak ada yang tampak salah pada lelaki itu. Dia bahkan memiliki paras yang sangat tampan dan tubuh berotot menggiurkan.
“Astaga James. Apa kau Gay?” tanyanya mendelik membuat lelaki itu tersentak kaget.
“Oh My God!. NO! Apa maksudmu?” tangannya mengepal seolah ingin mengeluarkan tinjunya
Abigail terdiam sejenak. “Wait. Apa kau pria suci dan ingin menjadi biksu?” tanyanya keheranan
“Gosh. NO!” gertak pria itu sekali lagi. “Aku hanya… tidak berselera untuk menyentuhnya,” jawabnya lirih
Abigail masih memandang dengan tidak percaya. Ini pertama kalinya ia melihat lelaki seperti James. Membuatnya bimbang untuk memanfaatkan lelaki suci itu.
Setelah keterkejutan Abigail itu, ia sudah tidak berselera untuk melanjutkan sarapan paginya dan malah menenggak segelas wine membuat James menaikkan alis padanya.
“Ini masih terlalu pagi untuk bermabuk- mabukkan,” ucapnya sembari mengambil botol wine di depan Abigail dan membuangnya ke bawah meja.
“Astaga… Dia benar- benar pria suci ternyata!,” ucapnya dalam hati sembari mengerutkan keningnya
“Bagaimana jika kita berkeliling Mansion James? Aku ingin sedikit melemaskan kakiku,” kelit Abigail di tengah percakapan mereka. Ini kesempatan untuknya agar bisa mencari ruangan tempat Emily di pukuli dalam mimpinya.
James beranjak dari duduknya dan kembali berjalan ke dalam Mansion. “Ayo,!” ajaknya
Abigail turut berlari mengekori James. Lelaki itu membawa Abigail ke bagian belakang Mansion melewati lorong panjang yang sangat sepi. Gadis itu sama sekali tak melihat para pelayan yang berlalu lalang disana. Tidak seperti di ruangan- ruangan utama.
James menjelaskan banyak hal tentang ruangan- ruangan disana. Ia juga mengajak Abigail masuk ke dalam beberapa ruangan yang tidak terkunci seperti ruang musik, ruang pertemuan, dan beberapa ruangan lain. Sedang beberapa ruangan lain terkunci rapat dan James tidak menjelaskan kenapa ruangan itu terkunci.
Setelah cukup lama berkeliling, sampailah mereka ke ruang perpustakaan di Mansion itu. Sangat luar biasa. Perpustakaan itu begitu luas. Bahkan lebih luas dari rumah Abigail di Alabama dan terdapat banyak sekali buku yang berjajar rapi di sana.
“Aku harus kesini kalau sedang tidak bisa tidur.” Ucap Abigail sembari mengambil beberapa buku dan membacanya.
‘Hoamm….!’ Gadis itu mendadak mengantuk dan ia mengembalikan buku itu ke rak.
James tiba- tiba berlari kearah Abigail dengan wajah senang. “Ini buku yang kau cari Emily. Aku sudah menemukannya seminggu yang lalu. Tepat sebelum kau pergi,” semangat dalam suara James mendadak hilang mengingat kepergian gadis itu.
Abigail menyaut buku itu dan mengembalikannya ke rak . “Membuatku mengantuk saja,” gumamnya lirih
Namun tangannya terhenti, matanya membulat dan perlahan ia mengambil kembali buku di depannya.
Buku berwarna coklat tua dengan sampul yang sedikit usang itu menarik perhatian Abigail. Bukan karna ketebalan bukunya, melainkan tertarik dengan apa yang tertulis di sampul depan buku itu.
‘SEJARAH KELUARGA ANDERSON’
Begitulah yang tertulis disana.
Abigail mengerutkan keningnya. “Apa ini? Kenapa Emily mencari tau sejarah keluarga Anderson?” ucapnya dalam hati
Gadis itu melirik James sekilas. “Kapan aku meminta buku ini?” tanyanya ragu
“Ternyata ucapanmu benar ya Emily. Kau memang sangat pelupa. Untung saja kau sudah memperingatkanku dulu. Jika tidak, aku pasti sudah berfikir jika kau bukanlah Emily yang ku kenal,” ucapnya terkekeh sembari mengelus lembut kepala Abigail
Gadis itu terkesiap. Tubuhnya mendingin seolah ada sebongkah es yang tiba- tiba masuk ke dalam tulang rusuknya. ‘Emily sudah memperkirakan kedatanganku kesini? Apa ini?’ ia memijat tangannya yang gemetar dan sedingin es
Lalu ia melipir pergi dengan tersenyum. “Aku memang sangat pelupa. Ini DNA terburuk yang ku dapat dari ibuku.” Abigail merebahkan dirinya keatas sofa dan meletakkan buku itu keatas meja.
“DNA terburuk? Lalu apa DNA terbaik yang kau dapat dari ibumu?”
“Tentu saja kecantikan wajah dan tubuhku. Apa lagi?” jawab Abigail sembari mencondongkan tubuhnya ke arah James membuat pria itu langsung menelan ludahnya kala melihat belahan d**a Abigail yang terlihat menggiurkan.
James melirik sekilas lalu menggelengkan kepalanya. “Ka- Kau sudah tidak ingin membaca buku itu lagi? Padahal aku sangat bersusah payah untuk menemukannya,” ujarnya sembari menunjuk buku coklat yang Abigail letakkan di atas meja.
Tersirat kekecewaan di wajah James kala mengingat usahanya yang sampai harus menaiki rak dan terjatuh dari tangga untuk mendapatkannya.
“Kata siapa?!. Aku malah semakin ingin membaca buku ini karena ada kau di sini.” Goda Abigail sembari menyaut buku itu dan membaca setiap lembarnya tanpa melewatkan satu katapun
Sedang James terus menatap paras cantik Abigail dari balik buku yang tengah dibacanya. ‘Emily cantik sekali saat serius membaca,’ ucapnya dalam hati dan wajahnya memerah tanpa alasan.
Abigail menyeringai di tengah keseriusannya dalam membaca buku saat sadar akan tatapan James padanya. “Berhenti menatapku James. Nanti kau jatuh cinta,” ucapnya membuat lelaki itu tersentak kaget
“A- Aku.. Aku hanya merindukanmu. Maksudku merindukan moment ini. Sudah lama sekali kita tidak membaca bersama seperti ini. Kau tiba- tiba saja menjauhkan diri dariku. Aku benar- benar minta maaf jika melakukan kesalahan,” ucapnya dengan lembut
Namun Abigail menggelengkan kepalanya. “Bukan salahmu. Aku menjauhimu karena Chelsea memarahiku,” jawab gadis itu dengan enteng sembari membalik lembar buku yang di bacanya
Raut kemarahan bersarang di wajah tampan lelaki itu. ‘Sudah kuduga. Ini semua karena Chelsea,’ gumamnya lirih membuat Abigail menyeringai saat mendengarnya
Gadis itu memutuskan untuk tetap mempertahankan James di sisinya karena lelaki itu sangat berguna. Ia bahkan bisa mendapatkan banyak informasi penting dari James karena lelaki itu dekat dengan Emily di masa lalu
“Apa kau tak merindukanku Emily? Maksudku merindukan kebersamaan kita,” tanya James tiba- tiba. Entah kenapa lelaki itu suka sekali mengoreksi kalimatnya
Abigail mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang di bacanya. “Tentu saja aku sangat merindukanmu James. Bukan kebersamaan kita. Tapi aku benar- benar merindukanmu,”
Ucapan Abigail membuat wajah James menjadi semerah tomat sampai ketelinganya. Lelaki itu mencoba menyembunyikan senyumannya tapi malah membuatnya tampak aneh. Lalu ia tiba- tiba bangkit. “Aku akan mengambilkanmu makanan. Kau mau apa?”
“Anggur dan Almond,” jawab Abigail sembari melirik lelaki yang tengah menyisir rambutnya dengan jari- jemari tangannya yang berotot itu.
“James memang sangat tampan. Pantas saja Chelsea begitu menyukainya,” gumamnya lirih
“Apa?” James menoleh karena gumaman Abigail
“Apa kau menyukaiku?” ucapnya yang langsung mengubah topik pembicaraan
Lelaki itu kembali memegang leher belakangnya dengan wajah memerah. “Apa maksudmu? Aku akan mengambil almond dan anggurmu sekarang,” jawabnya sembari berlari keluar perpustakaan.
Dan dalam sekejab ia sudah menghilang dari pandangan Abigail. “Ck! Padahal sudah jelas sekali dia menyukai Emily. Apa James tidak sadar jika dia menyukai Emily?” ucap gadis itu sembari menggaruk hidungnya